
Kau tak sendirian kau masih memilikiku
- Jung Yejun
____________________________________________
Grep...
"Eoh?" Yeseul terkaget saat sebuah jaket mendarat tepat diatas kepalanya
"Kau ini terlampau bodoh tau tidak, diluar malam malam, sendirian, tdk memakai jaket pula, ingat tdk tadi siang kau ada dimana? Mau kesana lagi eoh" Ceramah Yejun
"Kau mengganggu ketenanganku, Jung"
"Apa? Kau memanggilku 'Jung'?"
"Kenapa? Itu nama depanmu kan"
"Tdk bisanya kau memanggilku begitu"
"Hanya sedang ingin saja"
"Ini pakai jaketmu, aku tdk memerlukannya" Ucap Yeseul lagi
"Kau saja yg pakai, kau bisa masuk rumah sakit lagi besok krn masuk angin"
"Disini yg sebenarnya bodoh itu kau, aku memakai sweater kau tdk lihat"
"Lalu? Pakai saja, kau masih kedinginan"
"Kata siapa"
"Kau tuli? Jelas-jelas aku yg bilang, masih saja bertanya"
"Aku tdk kedinginan"
"Bohong"
"Ani"
"Tanganmu sangat dingin bodoh"
"Ishh itu krn aku tdk memasukannya ke bajuku"
Lalu Yeseul memasukkan tangannya ke dlm saku sweaternya "lihat ini, tanganku sdh tdk kedinginan lagi"
"Sekarang pakei jaketmu atau besok kau yg akan masuk rumah sakit krn demam" Ucap Yeseul menjatuhkan jaket tadi dikepala Yejun yg duduk disampingnya
"Iya iya" Ucap Yejun mengalah
"Ini makan" Yejun menaruh sebuah roti isi dipangkuan Yeseul
"Dapat dari mana"
"Tadi saat aku berjalan tiba-tiba rotinya jatuh dr langit ke kepalaku"
"Ha ha ha kau lucu sekali" Yeseul tertawa garing
"Sudah makan saja atau..."
"Kau mau masuk rumah sakit lagi" Sela Yeseul
"Hmmm" Yejun hanya berdeham
"Jun"
"Hmmm"
"Kenapa kau peduli pdku?"
"Apa maksudmu?" Tanya Yejun bingung
"Yah kenapa kau peduli pdku saat yg lain sangat membenciku" Ulang Yeseul
"Krn kau saudaraku"
"Mereka...juga saudaraku kan?" Ucap Yeseul menatap nanar roti ditangannya
"Itu... Kenapa kau tiba-tiba bertahan begitu"
"Tdk, aku hanya lelah" Gumam Yeseul
Yejun menarik kepala Yeseul ke bahunya utk bersandar "heh bodoh, kau tau kan kau bisa bercerita apa saja pdku"
"Arraseo"
"Kalau begitu ceritalah, akan aku dengarkan atau kau bisa bercerita dan aku akan ttp diam seolah aku tdk mendengar apapun"
"Hey Jun kau tau, aku lelah dg semua ini, aku iri dg semua yg kau dan Yena dapatkan, aku juga ingin mendapatkannya kau tau"
"Aku ingin bermain dg kalian semua, aku ingin makan bersama dg kalian semua, aku ingin mengobrol dan tertawa bersama kalian semua, aku ingin mendapatkan kasih sayang dan pelukan kalian, aku ingin Jun aku ingin"
"Tp yg kudapat hanyalah rasa benci dr mereka, saat kalian bermain kalian mengabaikanku sendirian, kalian selalu mengobrol dan bercanda bersama seolah aku tdk ada, kalian melakukan segalanya bersama ya bersama kecuali aku, kau tau betapa sakitnya aku saat melihat kalian bersenang-senang tanpa aku? Rasa sakitnya saat kau dan Yena mendapat pelukan dan aku mendapat pukulan? Rasa sakitnya saat kau dan Yena mendapat kasih sayang dan aku mendapat cacian dan makian? Saat kalian mendapat tatapan lembut penuh kasih sayang dan aku hanya mendapat tatapan mata tajam, datar dan dingin yg penuh kebencian? Taukan kau"
"Jun aku lelah Jun aku lelah hiks... Aku lelah selalu diabaikan, aku lelah selalu tdk dianggap, aku lelah dibenci oleh kalian"
"Jun yg kuinginkan bukanlah sesuatu yg besar, yg kuingin hanya kasih sayang dr kalian, aku ingin bahagia bersama kalian"
"Apakah sesulit itu Jun utk memenuhi keinginanku? Apakah keinginanku terlalu banyak? Terlalu mewah? Tdk bukan"
"Sungguh, yg kuinginkan hanya pelukan kalian hanya satu pelukan juga tak apa"
"Kau tau betapa aku menginginkan sebuah pelukan dr kalian? Dari kecil hiks bukan dari kecil tp dari aku baru terlahir apakah ada salah satu dari kalian yg memelukku? Pernahkah?"
"Kau tau disini rasanya sakit Jun, sakit hiks melihat kalian berdua mendapat pelukan dadaku rasanya sesak hiks"
"Aku tak pernah mendapat pelukan dr seorang ibu, dan sekarang aku juga tak pernah mendapat pelukan dr kakak-kakakku? Kenapa hidupku begitu menyediakan Jun, kenapa? Apa yg aku lakukan?! Apa yg aku lakukan hingga mendapat hukuman seperti ini Jun apa hiks"
"Hiks Jun hiks aku hanya ingin satu pelukan dr kalian hiks aku bahkan mau jika harus menukar satu pelukan itu dg nyawaku hiks hiks, Jun"
"Kenapa, kenapa eomma tdk membawaku pergi saja dulu, kenapa appa juga pergi hanya utk menyelamatkanku hiks kenapaaaa? Kenapa bukan aku saja yg pergi, aku pasti akan bahagia disana hiks kalian juga pasti akan sangat bahagia bukan kalau aku pergi hiks... Itu yg kalian inginkan bukan? Kalian ingin aku mati kan hiks katakannnn" Tangis Yeseul semakin keras, terdapat rasa pedih disetiap air matanya
Yejun sudah tak tahan, dia menarik kepala Yeseul ke dadanya lalu memeluk tubuh mungilnya "jangan katakan itu.. Jangan"
"Jangan pergi Yeseul jangan, kau masih memilikiku disini jadi kumohon jangan katanya itu oke? hiks"
"Kumohon jangan pergi Yeseul jangan, kau tak sendirian aku akan selalu ada untukmu, selalu" Yejun mengeratkan pelukannya, dia ingin mengikat Yeseul disampingnya dia tdk akan rela jika Yeseul pergi meninggalkannya
Sedangkan yg dipeluk masih saja menangis dan meremas jaket Yejun dg sangat erat, ia sudah lama tak menangis seperti ini sudah lama ia terus menangis sendirian dlm keheningan
Mereka berdua kalut dg kesediaanya masing-masing dan melepaskannya dg pelukan serta mengungkapkan rasa pedihnya lewat tetes demi tetes air matanya