
Aku terbangun seorang diri di kasur Shopie. Aku masih ingat kalau semalam aku dan Shopie tidur disini, sedangkan Nick dan David tidur di kamar tamu.
"Kemana dia pergi?"
Aku bangun dan merapikan tempat tidur kemudian melakukan rutinitas pagi ku. Aku pergi ke ruang tamu untuk mencarinya,
"Sophie?" Aku memanggil namanya dengan suara yang tidak terlalu keras.
"Ada apa?"
Salah satu staf rumah tangga mereka bertanya kepadaku. Aku kemudian mengatakan kepadanya bahwa aku sedang mencari Sophie dan yang lainnya.
"Nona Sophie ada di dapur menunggu anda, sementara dua tamu lainnya masih tidur di kamar mereka." Ucap pegawai rumah tangga itu.
"Selamat pagiiii, ayo pergi ke dapur dan mempersiapkan sarapan kita." Aku melihatnya muncul entah dari mana, dan dia sudah memakai celemek.
Dapur mereka juga luar biasa! Seperti pulau kecil yang membentuk huruf L. Lemari kayunya sangat ugh! Aku menyukainya. Semoga aku bisa punya rumah seperti ini suatu saat nanti.
"Kau melamun lagi Patrice. Ayo cepat"
Begitu kami masuk dapur, Shopie langsung menunjuk ke tempat bahan - bahan yang sudah disiapkan.
"Bisakah kau mengajariku membuat pancake?" katanya dengan nada sedikit malu tapi bersemangat.
"Tentu saja, kenapa tidak" Kataku lalu mulai menyiapkan telur.
Aku senang jika aku bisa membuat temanku senang. Itulah salah satu moto favoritku dalam hidup.
"Aku sangat bersemangat! Ayo kita mulai sekarang"
Kami akan membuat pancake blueberry, aku mulai mengocok telur lalu menambahkan susu, sour krim, mentega yang setengah meleleh dan vanila lalu diaduk dan dikocok hingga rata, sambil aku menyuruh Shopie untuk mengayak tepung terigu, baking powder, baking soda dan garam dalam satu mangkok.
"Apa mereka berdua masih tidur?"
"Yup, aku ingin menyelesaikan ini sebelum mereka bangun."
Sambil melanjutkan langkah lainnya, dia benar-benar memperhatikan bagaimana aku melakukannya. Dia sungguh ingin belajar memasak sepertinya.
"Kenapa kau tidak minta ibumu untuk mengajarimu?"
"Tidak, ibuku jauh lebih buruk untuk urusan memasak, aku dan ibuku hanya bisa mengacak-acak dapur."
"Benarkah?" Ucapku sambil tersenyum.
"Aku bahkan ingat ketika kami memutuskan untuk memasak bersama, hanya aku dan ibu di dapur untuk memberi ayahku kejutan, kami akhirnya membakar wajan aluminium saat mencoba memasak telur goreng"
"Hah?? Aku tidak pernah mendengar gorengan aluminium panci di atas api tanpa anggur!"
"Itu sebabnya, jangan pernah.... sekalipun... meninggalkan aku atau ibu sendirian di dapur" Dia menghela nafas panjang sebelum melanjutkan "kau tahu, ibuku adalah tipe wanita kantoran. Dia sangat berbakat dalam menganalisis dan memimpin perusahaan kami. Tapi hal yang dia tidak pernah unggul adalah masalah dapur, memasak. Meskipun itu hal yang paling dia sukai tapi ya... kurasa inilah hidup. Kita hanya bisa unggul dalam beberapa hal tertentu tapi tidak dalam hal lainnya"
"Ngomong-ngomong, dimana orang tua dan pembantu mu?"
"Mereka ada di kebun, ibu menyuruh mereka membersihkannya sementara orang tuaku menghadiri reuni"
Aku membiarkan Sophie melakukan sebagian besar langkah memasak sementara aku mengawasinya.
Selesai Memasak
Tepat saat kami selesai memasak pancake, dua orang yang kelaparan keluar dari kamar.
"Hmmmm! pancake! aku lapar!" kata David.
"Aku juga!" Kata Nick.
Mereka berdua tertawa serempak, kemudian mereka berdua melihat Sophie mengenakan celemek dan memegang alat masak yang kami gunakan untuk membalik kue, ekspresi mereka tiba-tiba berubah dari "aku lapar" menjadi "aku kehilangan nafsu makan".
"Ngomong-ngomong, Nick dan aku memutuskan untuk makan di toko pancake. Aku akan mengambil kunci mobilku, aku akan kembali sebentar lagi." Kata David masih dengan wajah pokernya dan hendak kembali ke kamar mereka.
"Aku akan membantu David" Membantunya mengambil kunci. Ucap Nick kemudian mereka berdua berjalan kembali ke kamar mereka.
Yang benar saja
"Ugh! Kalian tidak perlu takut keracunan! Pat membantuku!"
Lalu ekspresi mereka berubah lagi menjadi "aku lapar". Kami mulai makan dan ketika aku melihat mereka, aku rasa sepertinya mereka menyukai pancake Sophie dan itu membuatnya terlihat sangat puas dan bahagia.
Meskipun itu resep yang mudah, tapi terlihat sangat berarti baginya, aku bisa tahu dari penampilannya dan aku puas karena aku membuatnya bahagia. Melihat senyumnya sudah cukup bagiku, aku mengucapkan selamat tinggal kepada mereka setelah kami selesai makan.
Ibu akan pulang sebelum makan siang jadi aku perlu menyiapkan makanan untuk ibu yang lelah.
"Ini masih terlalu pagi Pat" Ucap Sophie bingung.
"Ibunya sendirian di rumah mereka"
Aku tidak mengerti kenapa Nick bisa tahu banyak hal tentangku.
"Ya" Hanya itu yang aku katakan lalu berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada mereka.
Di perjalanan pulang
"Nick, aku penasaran"
"Bagaimana bisa kau tahu banyak hal tentang ku?"
"Rumahku hanya beberapa blok jauhnya dari rumahmu"
"Wow! Aku tidak tahu tentang itu. Sepertinya aku harus mengunjungimu kapan-kapan"
Aku sangat bersemangat untuk bertemu dengan adik perempuannya, "Aku ingin bertemu dengan adikmu"
"Kau akan bertemu dengannya di hari ulang tahun Andin jadi jangan khawatir, tunggu saja"
"Baiklah kalau begitu" Kataku, dan kemudian dia tersenyum.
Di Rumah
"Terima kasih Nick! Apa kau mau masuk dan menyapa ibuku dulu?"
"Tidak perlu Pat, mungkin lain kali, aku tidak sabar untuk bertemu dengan ibumu lagi di hari ulang tahun Andin"
Ibu sudah ada di dalam lalu memelukku dengan erat begitu aku memasuki rumah.
"Bagaimana tidurmu?" Ekspresinya saat menatapku seolah dia sedang melihat idolanya The Beatles .... itu bukan dari masanya tapi dia masih memujanya.
Aku kira musik tidak harus sesuai dengan jaman kita agar kita dapat menghargainya. Percaya atau tidak, ibuku jauh lebih energik daripada aku. Terkadang bahkan ibu lupa bahwa dia bukan remaja lagi.
Aku memberi tahu dia apa yang kami lakukan sepanjang malam dan tentang bencana dapur Sophie dan ibunya. Aku suka melihatnya tertawa.
Sekarang aku sudah move on. Dengan teman-temanku dan ibuku, mudah untuk melupakan perasaanku padamu .... Abi.
*********
Abi berhenti datang ke rumah kami. Aku tidak yakin apa alasan dia sebenarnya tapi, jika dia bahagia dengan Sarah maka aku juga bahagia untuknya dan selain itu, aku juga mulai beradaptasi dengan kehidupan baru kami sekarang.
Aku bahkan sering melihat mereka bermesraan. Aku mulai membaik sekarang. Aku mulai menerima bahwa inilah kita sekarang. Apa pun yang terjadi, jika dia memutuskan untuk melupakanku selamanya atau mendekatiku suatu hari nanti, aku masih di sini, siap menyambutnya, satu-satunya sahabat masa kecilku dengan tangan terbuka.
Persahabatan ku dengan ketiga orang baik ini semakin dalam. Sudah hampir tiga minggu sejak terakhir kali aku berbicara dengannya. Dari semenjak aku menyatakan perasaanku....
"Hari ini adalah hari ulang tahun Andin.. Susan ingin kita pergi ke sana lebih awal dari yang lain... bisakah kau menghadapinya sekarang?" Tanya ibuku khawatir.
Dia tidak pantas untuk khawatir tentang masalah kecil yang tidak masuk akal ini. Aku perlu melakukan ini untuk membuat ibuku berhenti terlalu khawatir.
"Aku sudah melupakan apa yang terjadi Bu. Yang aku inginkan sekarang adalah memulihkan persahabatan kami dan merayakan ulang tahun Andin"
Dengan itu, kami pun pergi ke rumah bibi Susan.
"Denise!"
"Susan!!"
Kata mereka sambil berpelukan seperti anak usia 6 tahun.
"Denise! Kau sudah lama tidak mengunjungi kami, kenapa hem?"
Sepertinya Abi tidak memberi tahu tante Susan apa yang terjadi.
"Oh ya! Denise, temani aku membeli beberapa bahan di toko,ok?"
Ibuku menatapku dengan ekspresi khawatir, aku menatapnya dan tersenyum dan mengacungkan jempol.
"Pergilah Bu."
*********
Aku melihat makhluk menggemaskan berlari ke arahku " Patrice! kau disini!” Katanya sambil memelukku tapi dengan nada setengah marah.. so cute!!
"Kenapa kau tidak kesini lagi?! Dan kenapa aku tidak boleh ke rumahmu lagi?!"
"Maaf An, untuk mengobati rasa rindumu, aku membeli sesuatu untukmu!"
"Es krim?"
"Masa es krim??" Kataku sambil tertawa.
"Aku membelikanmu album foto! Sekarang kau bisa menaruh foto-foto kenanganmu disini"
Setelah dia melihat hadiahku, dia melompat berulang kali sangat kegirangan.
"Kakakku sedang memasak di dapur dan sepertinya dia akan berakhir meracuni tamu undangan jika kau tidak mau membantunya" Dia berhenti sebentar untuk memberi tahuku, lalu berlari kembali ke kamarnya meninggalkanku sendiri.
Aku tahu aku bisa melakukan ini... hadapi saja dia....
Lalu aku mencium bau terbakar.... terbakar?! Sesuatu ..... terbakar, aku bergegas ke arah bau itu berasal lalu aku melihat Abi sedang memasak ...... atau membakar dapur?
"Sialan, apa kau ingin membakar rumahmu?!" Kataku padanya ...
Aku sangat marah karena dia pasti akan merusak ulang tahun Andin jika dia terus memasak jadi aku mengambil alih, dan sekarang aku tahu kenapa tante Susan harus pergi ke toko kelontong lagi.
(Mereka tidak punya pembantu dan paman Wilson ada di luar kota.....bekerja)