My BFF (Boy Friend Forever)

My BFF (Boy Friend Forever)
Chapter 2



"Bangun tukang tidur!! Jangan menyia-nyiakan harimu dengan tidur."


"Demi Spongebob!!! Abi sebaiknya kau cari orang lain untuk kau ganggu sana!! Ini hari Sabtu yang berarti tidur sepuasnya.


Dia membangunkan ku jam 6 pagi di hari Sabtu!! Yang benar saja!!!


Sama seperti ibuku, Abi juga selalu menjadi alarmku, tapi perbedaan di antara mereka adalah, Abi tidak tahu apa itu yang namanya mengetuk pintu.


"ZZZZZZZZ"


Aku masih pura-pura tidur Lalu tiba-tiba, "Aduh!" Dia menembakkan bola pingpong ke arahku menggunakan ketapel lamanya dan tepat mengenai wajahku.


Apa dia masih menyimpan ketapel itu selama bertahun-tahun?


Dan karena dia mengenalku dengan baik. Dia segera lari dari kamarku setelah apa yang dia lakukan sambil berteriak.


"Aku sudah menyuruhmu bangun!"


"Masukkan kembali kunci itu ke lemari ibuku!"


"Dimengerti!"


*Sumpah, sifat kekanakannya benar-benar s*udah diluar kendali.


Aku masih mencoba untuk kembali tidur tapi gagal total. Aku tidak punya pilihan selain bangun, berkat sahabatku, beauty sleep ku berakhir.


Aku dengan cepat membenahi diri dan berjalan ke dapur untuk melihat si bodoh yang kelaparan sedang menunggu di depan meja


"Di mana ibu?"


"Bibi sedang keluar kota, dia menyuruhku untuk tidak membangunkanmu dan katanya akan pergi selama dua hari."


Seperti biasa, perjalanan bisnis. Sejak ayahku meninggal, ibuku menjadi satu-satunya yang bekerja untuk masa depanku, dan aku bersyukur memiliki ibu seperti dia.


"Aku lapar.” Lamunanku terpotong oleh Abi.


"Jangan bilang kau membangunkanku hanya untuk menyiapkan sarapanmu?"


"Aku akan mati jika aku tidak membangunkanmu."


"Kau benar-benar tidak tertolong."


Aku membuka kulkas untuk mencari sesuatu yang bisa kami makan, "Mau ngapain hari ini? movie maraton?" Tanyaku padanya sambil mengambil beberapa bahan dari kulkas.


"Skip menonton, wastafel dapurmu yang kotor tersumbat, aku akan memperbaikinya. Aku juga melihat beberapa rumput liar di halaman rumahmu. Kotak suratmu di halaman juga rusak jadi aku akan memeriksanya juga. Dan selain itu, setiap kali kau mengajakku maraton nonton film bersamamu, pada akhirnya kita selalu menonton pertunjukan spons pencuci piring dan bintang laut sialan itu"


"Maaf, oke? Aku sangat suka kartun itu. Dan terimakasih untuk membantu kami ace"


Siapa yang tidak akan jatuh cinta pada pria ini, dia sangat dapat diandalkan dan bertanggung jawab. Jika dia bukan sahabatku, aku sudah berkencan dengannya sejak lama. Tapi tentu saja itu tidak akan terjadi, dia selalu memperlakukanku seperti anak laki-laki.


"Aku tidak butuh rasa terima kasihmu, hei pelayan, cepat beri aku makan"


Aku tarik kembali ucapanku.


Ya ya dia itu cukup kasar


Aku memutuskan untuk menggoreng telur dan daging asap dan memanggang roti juga.


"Kau tidak akan makan?" Tanyanya bingung.


Itu karena aku memutuskan untuk melanjutkan beauty sleep ku yang tertunda.


"Ya aku makan nanti saja, aku lupa meng-email PR ku ke Bu Laura kemarin"


"Oh, oke" Katanya polos dan aku mulai berjalan pergi.


Dia mengambil ponselnya lalu menekan nomor seseorang, "Hey bro, apa Bu Laura memberimu PR di kelas Seni kemarin?"


Oke , aku ketahuan.


"Oke bro terima kasih"


Aku mencoba pergi secepat mungkin tapi beberapa detik kemudian aku mendengarnya berteriak.


"Berhentilah bermain - main Patricia, kau tidak punya PR seni, kau hanya akan melanjutkan tidurmu kan? Dan selain itu, kita tidak ke sekolah hari Senin ini"


"Sial!"


Aku memandangnya dengan mata memelas seolah berkata: "Tolong, hanya 30 menit lagi?"


"TIDAK"


"Oke!" kataku sambil memutar mataku dengan kecewa.


Pagi itu, Abi sedang memperbaiki kotak surat kami ketika aku melihat ponselnya tergeletak di sofa.


Dia mungkin lupa membawanya, tapi ketika aku hendak mengambilnya, teleponnya bergetar dan aku melihat ada pesan masuk. Aku melihat pesan yang baru masuk itu jadi aku bisa membaca apa isinya tanpa membuka kunci teleponnya.


Pesannya singkat tapi mampu membuatku merasa cemas, "Hei! mau nongkrong malam ini disini?"


Aku gugup tapi mungkin itu hanya pesan dari salah satu temannya tapi aku masih berharap itu bukan dari seorang gadis dan membuatku berhenti berpikir berlebihan. Dan seketika aku tersadar, aku bukan pacarnya.


Aku hanya temannya, hanya teman masa kecil. Itu tidak memberiku hak untuk mencampuri kehidupan pribadinya.


Kenapa aku jadi menjengkelkan dan menjadi tidak peka sekarang, aku membenci diriku yang seperti ini. Aku harus ikut bahagia untuknya, cepat atau lambat dia akan mendapatkan pacar.


*** ***


Jam berlalu dan Abi sekarang duduk di sofa. Dia baru saja selesai membetulkan wastafel dan sekarang sedang menikmati istirahatnya.


"Aku meletakkan ponselmu di atas meja" Kataku sambil menunjuk meja tengah ruang tamu.


"Oke, jadi haruskah kita mulai nonton maraton sekarang? Hmmmmm, bau apa ini."


Sumpah,orang ini calon suami idaman banget, "Aku masak daging sapi dengan brokoli."


"Yeah yeah masakan Asia, biar aku cicipi."


"Hei Abi"


"Apa?"


"Apa kau serius dengan Sarah? Maksudku, apa kau sudah tahu banyak tentang dia?"


"Kau sedang meremehkan pria tampan ini?" Katanya sambil menyeringai seperti orang bodoh sebelum kemudian memasukkan satu sendok lagi ke mulutnya.


Dia menyukai makanan yang aku masak, itu cukup memuaskan, "Aku lebih memilih menonton pertunjukan CoCoMelon atau Upin Ipin setiap hari daripada harus melihat senyum menyeramkanmu itu."


"Ben 10 setidaknya lebih bagus, kau tahu?"


"Apa kau bahkan mengerti apa yang aku maksudkan?"


"Dan apa kau akan memakan potongan terakhir daging sapi itu? Jika tidak, maka biar aku yang habiskan."


Aku seorang gadis tapi aku tidak pernah menang argumen dengan si bodoh ini.


Kami memutuskan untuk menonton tiga film: Rise of the Guardians Planes, Fire and Rescue dan Sinister. Ya, film horor. Dan aku ingat setiap kali iblis itu muncul, aku selalu memergoki Abi menutup matanya.


"Film ini membosankan" Kataku sambil menahan tawa sambil memakan popcorn.


"Ya, ini bahkan tidak sepadan dengan waktu yang kita habiskan, mau ganti filmnya?"


"Sudahlah, kita lanjutkan saja, tanggung filmnya sudah setengah jalan."


Dia pikir aku tidak memperhatikannya karena gelap, tapi dia salah hahaha.


*****


"Hei An!"


"Apa itu Andin?!"


Andin adalah adik perempuan Abi, satu-satunya saudara kandungnya.


"Sini kan teleponnya, aku ingin bicara dengannya"


"Ini masalah keluarga Patrick jadi menjauhlah."


"Abi!!"


Dia dengan enggan memberiku teleponnya setelah dia melihat tatapan mematikan ku.


"Hei An, apa kabar?"


"Pat!"


"Annn"


"Paaatt!"


"Aaannn!"


"Apa percakapan aneh kalian sudah selesai? Aku lapar sekarang" Dia berhenti bicara setelah aku memberinya tatapan maut yang lain.


Aku menahan sifat kekanak-kanakannya setiap hari dan aku bersumpah, jika dia mengganggu pembicaraan dengan Andin, dia akan merasakan kepalan tanganku.


"An, kenapa kau menelpon?"


"Aku hanya ingin bertanya apa aku bisa datang ke sana besok untuk bermain denganmu"


"Dasar bodoh, untuk apa bertanya, kau bisa datang ke sini kapan saja selama aku atau ibu ada di sini"


"Makasihhhh"


"Masamaaa An! Kapan saja untukmu"


.. panggilan berakhir..


"Aku lapar" Katanya sambil mengusap perutnya aku menatapnya dan aku tahu dia benar-benar lapar, Ini sudah jam 9:00 malam (21:00) dan sama halnya dengannya, aku juga kelaparan.


Aku membuka lemari es dan melihat ke dalam untuk memutuskan apa yang akan aku masak untuk makan malam kami.


"Aku akan memasak roti ikan."


"Keren"


Seperti ibuku, aku juga pandai memasak. Dia mengajariku cara memasak sambil berkata: Kau itu seorang wanita, dan sebagai wanita kau harus tahu cara memasak untuk keluargamu nanti.


Percaya atau tidak, dia sangat ketat. Sambil memasak, aku memasukkan roti ke dalam oven dan mulai mengiris kentang. Aku selalu berpikir bagaimana jika aku memberitahu Abi tentang perasaanku padanya, apakah dia akan menerimanya atau... menolaknya?


Membayangkan seperti apa reaksinya dan apa jawabannya saja sudah membuatku takut, atau bagaimana jika dia sudah mencintai orang lain? Sarah?


Di sisi lain, aku juga tidak ingin mempertaruhkan persahabatan kami. Aku sedang menggoreng ikan ketika aku mendengar dia tertawa.


"Hahahahahaha!" Aku melihat dia duduk di sofa dan melihat dia menonton Spongebob . Siapa pecinta Spongebob sekarang eh?


Kembali ke apa yang sedang aku lakukan: Mahakarya ku akan segera selesai jadi aku memanggilnya.


"Makan malam hampir siap! Siapkan meja sekarang."


"Siap laksanakan!"


Aku meletakkan kacang polong, saus tartare, cress dan terakhir irisan lemon.


Orang berkata bahwa jika kalian mencintai orang yang akan memakan hidangan kalian, hidangan itu akan menjadi lezat karena usaha dan cinta yang kalian curahkan saat memasaknya.


"Kau benar-benar bisa memasak hidangan yang enak seperti bibi Dennise"


"Tentu saja aku bisa. Ibuku mengajariku dengan baik"


Sisa hari kami berjalan dengan baik, kami baru saja menyelesaikan film terakhir ketika aku memutuskan untuk berbaring di tempat tidurku dan tidur lebih awal, jika bukan karena Abi datang ke rumahku setiap akhir pekan, aku akan selalu berakhir seorang diri, aku teringat pesan yang diterima Abi pagi ini, aku bertanya-tanya siapa itu, dan dia akan menjawab apa?.


Gadis yang disukainya sangat beruntung. Dia orang yang bisa di andalkan, mereka bisa bersenang-senang dan mungkin terkadang bertengkar, menjadi tua bersama dll. Aku memikirkan banyak hal dan tanpa sadar aku tertidur.