
Flashback
Malam Natal 3 p.m
"Selamat natal!"
"Selamat natal juga Patrice!"
Aku sedang berbicara dengan Sophie jadi aku sekalian mengucapkan selamat natal padanya.
"Apa kau sudah memberi ucapan natal pada David, Abi dan NIck juga?" Dia bertanya padaku.
"Ya sudah, kecuali Nick" Jawabku.
"Kau harus mengundang dia untuk merayakan malam natal di tempatmu Pat!"
"Eh? Kenapa? Maksudku, pastinya dia akan merayakan malam natal di tempatnya bersama keluarganya kan?"
"Aku akan memberitahumu sesuatu Pat."
"Memberitahu apa?" Tanyaku penasaran.
"Orangtua Nick dan Nathalie selalu sibuk menangani bisnis keluarga mereka, karena jadwal mereka yang padat, mereka hampir tidak bisa merayakannya bersama keluarga mereka di beberapa kesempatan, termasuk natal tahun ini."
Aku merasa prihatin terhadap mereka, terutama untuk Nathalie.
"Terimakasih untuk infonya Shop"
"Yep, tidak masalah.... Aku pikir kau harus meneleponnya sekarang!"
"Yup! Tapi aku harus memberitahu ibu dulu, dah Shop, love you."
"Love you too, sistah."
Aku terkejut dengan apa yang diceritakan Sophie padaku...dan mengenai apa yang dikatakannya padaku, aku jadi teringat bahwa Nick tidak pernah menceritakan tentang orang tuanya atau mengundang kami ke rumahannya.
"Kau ingin mengundang Nick? Tentu saja tidak masalah sayang."
"Terima kasih bu"
Aku menceritakan kisah Nick pada ibu, dan seperti halnya aku, ibu juga merasa kasihan pada dua bersaudara itu.
"Telepon dia sekarang!"
"Siap laksanakan!"
Aku mengambil ponselku lalu mengetik nomornya.... setelah beberapa menit, seseorang menjawab teleponnya.
"Hei Nick! .... uhmmm apakah kau keberatan jika kau dan Nathalie merayakan malam natal bersamaku dan ibu?"
"Hei Pat!! Apa kau sedang memintaku untuk datang ke rumahmu malam ini?"
"Tepat sekali"
"Apa Sophie memberitahumu sesuatu?"
"Maaf Nick .... dia memberitahuku tentang orang tuamu"
"Tidak apa-apa Pat, tidak ada alasan untuk meminta maaf ... tapi pasti, kami akan datang dan terima kasih"
"Sampai jumpa... Aku perlu membantu ibuku"
*******
Kami selesai menyiapkan makan malam setelah 5 jam dan aku kelaparan dan kelelahan aku sudah ingin makan!
Jadi aku menelepon Nick dan Abi.... ibu berkata dia mengundang tante Susan jadi aku yang cerdas berpikir bahwa Abi pasti akan datang juga.
"Kami sedang dalam perjalanan sekarang kami akan berada di sana beberapa menit lagi" Kata Nick di jalur lain.
"Ok tapi cepatlah... aku sudah kelaparan"
Lalu aku mulai menghubungi nomor bff ku.
"Kita sedang dalam perjalanan Pat tidak perlu berteriak .... bye!"
Arggh dia sangat suka menggodaku.
"Susan akan membeli ayam kalkun, itu masakan andalannya" Ibu tiba-tiba muncul.
"Ayo selesaikan masaknya bu aku ingin makan secepatnya. Aku sudah hampir pingsan."
Aku mulai membuat kue, ibuku jauh lebih baik daripada aku dalam memasak. Aku masih perlu belajar lebih banyak dari ibu
"Ibu?"
"Ya sayang?" Ibu sedang mengupas kentang.
"Aku akan memasukkan ini ke dalam kueku" lalu aku menunjukkan padanya saus pedas tabasco.
"Ya ampun sayang! Apa yang sedang kau rencanakan?"
"Hmmm hanya sekedar candaan pembalasan dendam untuk teman bu"
"Dan kau berencana untuk memberikannya kepada?"
"Saya akan menyajikan kue ini untuk..."
"Ada orang di rumah?!"
"Ya, apa ada orang?!"
Abi dan Andin berteriak di luar.
"Masuk!" Kataku.
Tepat setelah aku membuka pintu, Abi sedang memegang kalkun sementara tante Susan memegang salad sepertinya.
"Patty!" Kami selalu berpelukan di depan pintu masuk utama rumah.
"Ayo tan, ibu sudah hampir selesai memasak"
"Aku akan membantunya.... Dan Pat tolong urus dua anak di sana" Tante Susan menunjuk jarinya ke tempat Abi dan Andin sedang bermain setelah kita meletakkan makanan di atas meja.
Seriusan?! Aku harus menjadi babysitter sahabatku dan adiknya?
"Berhenti menggelitikku!" Andin...memohon.
"Berhenti tertawa dulu baru aku akan berhenti menggelitik mu." Andin terlihat sangat menyedihkan... rambutnya berantakan.
Arrgggh Abi kau seharusnya menjadi sosok kakak yang dewasa sekarang!
"Hentikan Abi!" Kataku mencoba yang terbaik untuk tidak tertawa atau tersenyum... wajah poker Andin terlihat sangat menggemaskan tapi aku harus melakukan ini demi dia.
"Ok." Kata Abi dengan wajah yang terlihat seperti anak kucing.
"Kau baik-baik saja An?"
"Aku baik-baik saja, terima kasih" Dia masih tersenyum.
Tok tok!
"Kau punya tamu lain?"
"Yup" Nick
"Masuk Nick, kau juga Nath."
"Terima kasih...hai kak dimana Andin?"
"Dia di ruang tamu sedang berjuang melawan kakaknya, ayo pergi?" Ajak ku pada mereka.
Kami duduk di sofa sambil merencanakan apa yang akan kami lakukan, kami masih memiliki banyak waktu untuk melakukan hal-hal menyenangkan.
"Spin Battle?" Saranku, "Tapi kita rubah aturannya ... kita akan mengikuti aturan kue atau dare."
"Kue?" Tanya mereka bingung dan aku tidak bisa menyalahkan mereka.
"Yup ... kue" Kataku lagi.
"Apa yang kau masukkan ke dalam kuenya?" Sahabatku mengenalku dengan baik.
"Cicipi saja kalau mau!"
"Noooooo!"
"Mari kita mulai permainan yang menegangkan ini!"
Putar putar putar
Giliran Andin: dia memilih kue
"Jangan pilih kue An!" Aku setengah berteriak tapi dia benar-benar ingin mencicipinya.
"Jangan khawatir Pat, dia selalu mengatakan bahwa dia sudah besar sekarang jadi kupikir dia ingin membuktikannya" Kata Nathalie sambil bersorak menyemangati Andin atau bisa kita katakan.... menyuruhnya untuk cepat makan kue itu.
Lalu sesaat kemudian: "Lidahku terbakar!! Aku butuh susu!" Dia berlari ke dapur dengan cepat diikuti nathalie.
"Apa yang terjadi?!" Tanya tante Susan.
"Sepertinya aku tahu apa yang terjadi" Jawab ibuku.
Kami bisa mendengar mereka berbicara dari dapur.
"Menakutkan"
"Ya"
Abi dan Nick berbisik, Andin memutuskan untuk tidak bergabung lagi. Ini menjadi pertarungan maut antara kami bertiga sekarang.
Putar putar putar
Dare
Giliran Abi kali ini dan aku akan memberinya tantangannya.
"Makan 5 kue!"
"Hah?! Apa kau serius?! Aku memilih tantangan untuk menghindari racun itu kau tahu!"
"Ayo makan saja, harus sportif." Aku menggodanya.
"Fuc*!"
Dia merentang untuk menyelamatkan lidahnya, dia memakan semua kue sekaligus, ide yang brilian, sepertinya aku menaruh terlalu banyak sambal di setiap kue.
Setelah pertempuran kue kematian kami, aku menunjukkan kepada Nick kue rasa maple buatan ku .. aku hanya memasak sedikit karena aku tahu Nick lah satu-satunya yang akan memakan kue itu.
"Terima kasih Pat! Tapi bagaimana aku bisa membuat rasa maple? ah lupakan, aku tidak peduli, yang jelas aku akan memakan kue ku." Katanya tersenyum seperti anak kecil, tapi jujur saja dia terlihat imut.
"Hei! Bagaimana denganku?!" Protes Abi setelah dia mendengar percakapan ku dengan Nick.
"Bagaimana denganmu?"
"Ya!" katanya lagi sambil menunjuk jarinya ke mulutnya yang terbuka.
"Cuci piring!"
"Tidak adil!"
"Halo anak anak!" Ibuku muncul.
"Ibu coba tebak."
"Apa sayang?"
"Abi menawarkan diri untuk mencuci piring, iya kan?" Aku melihat ke arah Abi sambil menahan tawa.
"Tentu saja hehehe .....ingat ini baik baik Patrice!" Bisiknya sambil melewatiku.
"Aku akan pergi keluar Nick, malam ini bintangnya terlihat indah"
"Ok" Katanya sambil memakan makanannya.
------
Aku melihat ke langit berbintang, mau tak mau aku tersenyum.. aku dan ayahku selalu melakukan ini ketika dia masih hidup.
"Hei!"
"Hai!"
"Menikmati melihat langit?" Nick mengikuti keluar setelah beberapa saat.
"Ya, sejak kecil aku selalu melakukan ini"
Kami berdua sekarang menatap langit dan aku rasa menjadi salah satu kesamaan kami.
11 menit kemudian
"Pat? Ada sesuata yang ingin kukatakan kepadamu .......TIDAK! Lebih tepatnya ada sesuatu yang ingin aku akui padamu"
"Ok...dan itu adalah?"
"Aku tidak tahu bagaimana cara untuk memberitahumu."
"Beri tahu aku! Aku tidak suka spoiler kau tahu"
"Lebih mudah untuk menunjukkannya melalui tindakan daripada diucapkan."
"Katakan sekarang Nick, kau bisa memberi tahuku apa saja."
"Bukan seperti itu Pat, aku selalu menunjukkannya padamu setiap hari tapi aku pikir kau bukan sekedar aneh saja, tapi kau juga mati rasa."
"Bersyukurlah malam ini adalah malam natal karena jika tidak, aku pasti sudah memukul mu. Tapi mati rasa? Kenapa?"
"Aku tidak tahu bagaimana mengatakannya"
Dia memegang tanganku sekarang tapi aku secara refleks melangkah mundur sedikit darinya.
"Patricia" Dia bergerak maju lalu memegang pundakku, dan kemudian dia melanjutkan apa yang ingin dia katakan .... atau lakukan.
"Kau membuatku takut Nick, katakan padaku apa yang ingin kamu katakan."
"Aku tidak bisa mengatakannya tapi ..."
Dia bergeak perlahan, wajahnya menghadap ke arahku untuk .... untuk .... menciumku.
Itu adalah momen ajaib yang jelas pertama kali aku rasakan, aku tidak tahu tapi aku bisa merasakannya, perasaan campur aduk di dalam diriku... deg-degan, gugup, gembira dan takut?
Aku merasa berubah menjadi batu. Aku tidak bisa bergerak atau protes tapi ada satu hal yang sangat membingungkanku... apakah aku mencintainya?
Karena bagiku, kita hanya mencium orang yang sangat kita cintai saja.
Bibir kita hanya satu inci sebelum menempel ..... lalu seseorang berbicara keras dari pintu utama. Abi?
Aku tidak mendengar apa yang dia katakan tetapi aku mengalihkan badanku dari Nick.
"Ow ... mungkin kita harus melanjutkan ini kapan-kapan"
"Mungkin" Hanya itu yang bisa aku katakan saat itu.
"Atau mungkin tidak. Tante Dennise sedang menunggu kalian berdua"
Kami bertiga berjalan kembali ke dalam tapi sebelum kami melakukannya, aku melihat wajah Abi dan aku bisa melihat ekspresi lain dari wajahnya yang sangat jarang terlihat.