My BFF (Boy Friend Forever)

My BFF (Boy Friend Forever)
Chapter 17



Februari


"Hai Ayah, aku merindukanmu..... Aku harap kau masih ada disini bersama kami."


Air mataku mulai mengalir perlahan, lalu ibuku memelukku dari belakang. Aku dan ibuku sedang berdiri di depan makam ayahku sekarang.


"Tidak apa-apa sayang, ibu yakin ayahmu menjaga kita setiap hari" Ucap ibuku sambil mengarahkan jarinya ke langit.


"Terima kasih ibu" Aku kemudian memeluknya.


"Ngomong - ngomong sayang, apa rencanamu?" Tanya ibuku.


"Rencana untuk apa?" Aku balik bertanya dengan wajah bingung.


"Tentang pesta prom, ibu tahu kau mengerti apa yang ibu maksud."


"Ow, itu ya."


"Entahlah, aku tidak tahu bu. Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah Nick ...."


"Kau bisa menceritakan apa yang terjadi pada ibu Patricia."


Dia serius jika sudah memanggil ku dengan namaku, dan aku tidak bisa mengelak.


"Ini tentang kehidupan percintaan bu." Kataku canggung.


Ugh- rasanya canggung bercerita pada ibu atau ayahmu tentang kehidupan remajamu kan?


"Ibu mengalami situasi macam itu juga ketika ibu masih muda sayang, jadi ceritakan saja"


Ibu mencoba meyakinkanku agar aku mau menceritakan kehidupan percintaan ku padanya.


"Ceritakan padaku apa yang ibu alami" Aku masih mencoba mengelak dengan mengalihkan subjek pembicaraan.


"Ok tapi setelah ibu menceritakan kisah ibu, berjanjilah kalau kau juga akan memberitahuku ceritamu, ok?"


"Tentu!! Setuju!"


Tidak bisa ku pungkiri kalau aku sangat penasaran dengan cerita ibuku. Lalu ibu memulai ceritanya, aku sangat bersemangat dan kamipun melakukan pembicaraan ibu dan anak.


"Itu terjadi ketika ayahmu Dean dan ibu mulai berkencan"


"Berapa lama ayah merayumu bu?"


"Biar ibu menyelesaikan cerita ibu dulu."


"Ups, maaf!"


"Dean sangat tampan ketika dia masih muda."


Ibuku kemudian menutup matanya dan melanjutkan ceritanya.


Terkadang aku tidak bisa mengerti ibuku...dan terkadang dia terlihat emosional.


"Banyak gadis yang mengidamkannya dan mencoba menggoda dia"


"Lalu apa yang terjadi? Apa ayah selingkuh darimu bu?"


"Ibu bilang biar ibu menyelesaikan ceritanya dulu"


"Hehe, maaf lagi."


Dia menarik napas dalam-dalam ... itu pertanda bahwa kenangan ini sungguh serius.


"Suatu kali, seorang gadis mencoba menggodanya"


…… ...


"Gadis itu adalah salah satu temannya .... mereka merayakan ulang tahun Wilson (ayah Abi) di rumahnya. Ayahmu mengatakan bahwa itu hanya pesta biasa bersama teman sekelasnya."


"Woah! Dia selingkuh darimu bu?! Jadi ibu dan ayah mengenal paman Wilson sejak kalian berdua masih remaja?! ........ maaf ... tidak akan menyela cerita ibu lagi, janji"


"Dia menyuruhku untuk tidak ikut ke pestanya tapi kau tahu bagaimana ibu kan? Ibu tidak menuruti ucapan ayahmu dan ibu mengikutinya ke acara pesta mereka."


Salah satu kesamaanku dengan ibuku.. aku menyukai karakternya.


"Sesaat sebelum ibu bisa mendekati gerbang masuk rumah, ibu melihat Dean.... sedang bersama dengan gadis itu"


Aku tidak percaya ini!!


"Gadis itu mencoba untuk mencium ayahmu"


"Aku yakin ayah tidak menciumnya kan?" Rasa ingin tahuku mengalahkanku.


"Gadis itu menciumnya dan ... ayahmu membalas ciumannya"


Aku sedikit syok saat mendengarnya, tapi ibuku masih tersenyum.... tapi kenapa?


"Tetapi setelah beberapa detik, dia mendorongnya ke belakang ... ibu sedang bersembunyi di dekatnya pada saat itu sehingga ibu bisa mendengar apa yang mereka katakan"


"Lalu ayahmu, Dean .... berkata: Aku menyukai Dennise dan aku tidak ingin menyakitinya"


"Tapi gadis itu masih mencoba untuk menciumnya dan ayahmu terus menjauhkan bibirnya"


"Waahhh, tepuk tangan untuk ayah" Kataku.


"Saat itulah ibu keluar dari persembunyian dan memasuki tempat kejadian. Mereka berdua terlihat sangat terkejut"


Ibu menarik napas lagi.


"Aku tahu bahwa Dina sangat menyukai Dean dan insecure karena fakta bahwa aku adalah satu-satunya yang sangat dicintai Dean"


"Lalu Dina menatapku dengan tatapan mautnya.. siap menyerang. Dia tidak bisa menyembunyikan amarahnya lagi tapi ibu juga marah padanya"


"Apa yang terjadi selanjutnya?"


"Dia menyerang ibu, dia melancarkan pukulan tapi ibu berhasil menghindari pukulannya dan balas memukulnya di perutnya lalu menampar wajahnya dengan sangat keras hingga membuatnya tertidur di trotoar"


"Woah! Ibu menyeramkan... " Aku menghentikan kalimatku ketika aku melihat tatapan mautnya kearah ku seolah berkata:


Apa kau ingin merasakan pukulan mautku juga?


"Saat itulah ayahmu memelukku dari belakang"


"Dia kemudian memberitahuku bahwa dia tahu bahwa aku akan melakukannya, mengikuti dia ... seperti yang dia perkirakan."


"Jadi ayah sudah memperkirakan semua itu?"


"Kecuali adegan ciuman, dia tidak memperkirakannya"


Kami berdua tertawa.


"Patrice, ceritakan pada ibu apa yang terjadi saat malam natal?"


"Aku lupa ibu, maaf"


"Apa kau yakin bahwa kau sudah lupa, Patricia?"


"Ok ok, baiklah!"


"Ketika kalian sedang mengobrol di ruang tengah, aku keluar untuk menatap bintang...."


"Lalu Nick mengikutimu?" Ibu memotong ucapanku.


"Biarkan aku menyelesaikan ceritaku dulu bu"


"Ups, maaf"


"Awalnya kami hanya membicarakan hal-hal lucu yang terjadi, tapi lama kelamaan percakapan kami…………