
POV Orang Ketiga
Aku melihatnya menangis.
Patricia Monroe
Tapi kenapa dia menangis?
(10 Jam Sebelumnya)
POV Patricia
Sekolah 6:40 Pagi
"Kau tidak adil, kau tahu itu?"
"Kenapa?"
Tiba-tiba Abi muncul dari belakangku, kami sedang berada di kelas, dan saat itu hanya ada kami berdua.
"Jangan tanya kenapa padaku Patrick. Kau pergi meninggalkan kami pagi sekali bahkan tanpa membangunkan kami"
"Aku sudah menyiapkan sarapanmu dan aku juga meninggalkan pesan bahwa aku pergi lebih dulu. Aku menempelkannya di pintu kulkas."
Aku pergi ke sekolah lebih awal karena aku tidak cukup tidur tadi malam, aku terus memikirkan bagaimana cara untuk menyatakan perasaanku kepadanya dan apa yang akan menjadi jawabannya.
Dan karena itu aku ingin sendirian sekarang.
"Pat kau jadi aneh"
Katanya kecewa dengan jawabanku lalu mulai fokus pada ponselnya. Seseorang mengirim sms padanya. Dan seseorang itu bernama Sarah, atau itu hanya imajinasiku?
Aku hanya melihatnya sekilas ketika dia berbalik jadi aku sendiri tidak yakin, tapi itu cukup membuatku gelisah. Aku mempertaruhkan persahabatan kami untuk ini.
Makan Siang
Kami sudah membeli makan siang kami dan memutuskan untuk makan di meja terjauh dari keramaian di kafetaria seperti biasa.
Aku melihatnya lagi, rambut hitam panjang yang menari mengikuti gerak tubuhnya. Berjalan bak model membuat pria mana pun di sini bisa menjadi miliknya, Sarah Adams.
Aku langsung menatap sahabatku, dia pasti menyukainya dan aku tidak bisa menyalahkannya. Sarah benar-benar cantik dan feminim. Dibandingkan dengannya, aku hanya gadis yang aneh, agak gila, dan bukan siapa-siapa.
Air liurnya hampir jatuh dari mulutnya.
"Bagaimana menurutmu Pat?"
"Hmmm?"
"Menurutmu jika aku mulai mengejarnya, apa dia akan bilang 'ya' padaku?"
Aku harus kuat dan tetap terlihat tenang, tidak boleh menunjukkan bahwa ucapannya sangatlah menusuk hatiku.
"Tapi bukannya dia sudah punya pacar"
"Dia masih single bodoh. Jadi , apa menurutmu aku bisa menjadi pacarnya?"
Dia mengulangi pertanyaannya dengan mata yang masih terpaku pada gadis itu.
"Entahlah, perutku sakit, aku mau ke kamar mandi dulu."
Aku benar-benar ingin poop dan bukan sekedar membuat alasan. Aku juga tidak menangis, aku makan terlalu banyak pagi ini.
Seandainya aku jadi dia
Setelah aku meninggalkan kamar kecil, aku menyadari bahwa Abi tidak menungguku diluar.
Aku segera kembali ke tempat dimana aku meninggalkannya tadi, tapi dia sudah tidak ada.
Saat aku hendak mengirim pesan, baterai ponselku mati. Aku bahkan lupa mengisinya, betapa anehnya aku berkeliaran selama lebih dari sepuluh menit hanya untuk menemukannya, aku sendiri tidak mengerti, kenapa aku punya firasat buruk tentang ini?
Aku takut
Pada akhirnya, aku tidak menemukannya.
04:55 p.m (16:55)
Kami pulang lebih awal karena rapat guru (dan sejujurnya aku tidak peduli). Saat ini, pikiranku dipenuhi dengan pernyataan cintaku pada Abi. Aku masih cemas dari tadi.
"Abi bisa kita bicara?"
"Ya tentu "
Kami sekarang sedang dalam perjalanan pulang dan Abi membawa mobilnya bersamanya hari ini. Sangat tidak biasa.
Dia kemudian memutar setirnya untuk berbelok kembali ke taman yang biasa kami datangi bersama Andin. Kami akhirnya berhenti di pinggir jalan dekat taman.
Tepat setelah dia melepaskan tangannya dari setir mobil, aku mulai berbicara. Bisa aku bilang bahwa dia terlihat sangat bersemangat sekarang. Senyumnya terus mengembang, aku bisa tahu kalau suasana hatinya sedang sangat baik.
"Pat?" "Ace?"
Kami berdua bicara secara bersamaan.
"Kau duluan" Kataku
"Tidak, kau duluan" Katanya lalu tersenyum lagi.
"Tidak, kau saja" Kataku lagi.
Dia memutuskan untuk tidak memperdebatkan hal itu karena dia mengenalku dengan baik
"Aku berbohong saat aku bilang bahwa aku berencana untuk mengejar Sarah sore ini"
Aku sudah punya firasat, sepertinya aku sudah tahu apa yang akan dia katakan padaku. Aku mulai memahami petunjuknya sekarang.
"Eh? Apa maksudmu?"
Di sisi lain, aku masih berharap aku salah, bahwa dia hanya tertarik secara fisik padanya dan dia menyadari bahwa dia sebenarnya tidak benar benar tertarik padanya.
"Aku sudah mulai merayunya sejak minggu lalu"
Bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya?
Aku bisa bilang bahwa dia tersenyum dengan sepenuh hati. Senyumannya, yang paling kucintai darinya.
Aku menyadari bahwa seiring bertambahnya usia, jarak yang memisahkan kami semakin besar. Ini tidak terlihat pada awalnya tetapi seiring berjalannya waktu, perlahan kita bisa menyadarinya.
Kita tidak muda selamanya, kita tidak akan berada di SMA selamanya, kita tidak akan selalu menempuh jalan yang sama selamanya, dan suatu hari nanti, kita tidak akan bisa bertemu setiap hari, karena kita tidak akan bersama selamanya.
Dan akulah satu-satunya pihak yang memikirkan dan merasakan hal ini, dan aku membencinya. Itu bukan salah Abi, itu salahku sendiri karena jatuh cinta pada seseorang yang tidak seharusnya kumiliki.
"......"
"Jadi aku mau minta saran darimu" Ucapnya lagi dengan percaya diri dan senyum penuh kegirangan.
"......."
"Jadi apa yang tadi ingin kau katakan?"
"Aku menyukaimu." kataku hampir berbisik.
Dia terlalu sibuk mengirim pesan sehingga dia tidak mendengarku dengan jelas.
"Huh?"
"Aku menyukaimu" Ulangku.
Dia berhenti mengirim pesan dan berhenti sejenak, tapi sesaat kemudian dia mulai tersadar. Dia melihat ku dengan tatapan aneh dan bingung.
"Berhentilah bercanda Patrick hahaha tapi itu benar benar...wah...hahaha"
"Aku....bersungguh-sungguh...... aku suka... kamu" Air mataku mulai mengalir sekarang
"Hentikan Patrice, itu tidak lucu" Abi berkata dengan bingung.
"Aku tidak bercanda! Aku benar-benar menyukaimu sejak kita masih kecil"
"......."
"Katakan sesuatu"
"Maaf" Katanya dengan suara yang sangat rendah, hampir berbisik.
"Maaf" dia mengulangi ucapannya, "Kau bukan tipeku"
Dan dengan itu, air mataku mulai mengalir deras, sampai sampai aku bahkan tidak bisa menatap matanya
"Karena kita sahabat? Abi hentikan omong kosong itu! Aku mempertaruhkan persahabatan kita hanya untuk memberitahumu ..."
Aku benar-benar telah melakukannya.
"Cukup! Kita hanya menjadi sahabat karena ibu kita! Tanpa ikatan dekat mereka, atau jika ibu adalah teman dekat ibunya Sarah? Lantas..."
"Lantas apa?! Dia yang menjadi sahabatmu sekarang dan bukan aku? Kau bisa dekat dengan dia lebih cepat?"
"Itu bukan yang ku maksud Pat, maaf..."
Aku langsung membuka pintu mobilnya dan keluar meninggalkannya.
"Pat!!"
"Jangan....ikuti aku"
Aku menyuruhnya untuk tidak mengikutiku tapi sebagian dari diriku masih berharap dia tetap mengikutiku. Beberapa detik berlalu dan dia masih tidak mengikutiku atau memanggil namaku lagi.
Aku melihat kembali ke tempat Abi berada dan melihatnya berbicara dengan seseorang di teleponnya. Dia tidak repot-repot menatapku dan segera meninggalkanku tanpa berpikir dua kali.
Untungnya ibuku akan kembali besok pagi tidak malam ini, seperti yang dia katakan bahwa perjalanan bisnisnya diperpanjang.
Aku duduk di bangku taman dan mulai menangis diam-diam, dia menolakku, dia benar-benar menolakku dan di atas itu, aku mungkin kehilangan dia, sahabatku.
Jadi begini rasanya ditolak? Betapa lucunya, aku mempertaruhkan persahabatan kami untuk ini. Karena aku tidak begitu memperhatikan sekitar, aku mendengar suara seseorang dari belakangku.
"Apakah kau baik-baik saja?"
"Apakah aku terlihat baik-baik saja?" Kataku kesal.
Saya merasa dirugikan dan terhina.
Menumpahkan kemarahan dan kekecewaanku pada orang lain, pada orang asing yang baru saja mengkhawatirkan seorang gadis yang menangis di taman di tengah malam.
"Bolehkah aku duduk bersamamu?"
"Tidak, tolong jangan. Aku tidak ingin siapapun melihatku menangis sekarang"
"Oke, tapi kenapa kau menangis? Apa aku boleh tahu?"
Dia kemudian memberi ku saputangan putih dari belakangku, aku pikir tidak masalah memberitahunya, dia hanya orang asing dan kita mungkin tidak akan bertemu lagi.
Selain itu, pikiranku sedang kacau jadi aku mengatakan kepadanya apa yang terjadi beberapa menit yang lalu, aku bercerita tentang aku dan sahabatku.
Dia hanya mendengarkan kata-kata kasar yang keluar dari mulutku dan juga beberapa kesalahanku. Dia hanya diam disana, mendengarkan.
"Aku merasa lebih baik sekarang, terima kasih, maaf telah menyia-nyiakan waktumu dan membuatmu menunggu dan hanya berdiri di sana"
"Aku mungkin tidak dalam posisi untuk memberitahumu ini, tapi, Ini bukan salahmu. Bukan salahmu jika kau jatuh cinta pada sahabatmu. Tidak ada yang bisa menyalahkanmu, kalian berdua tumbuh bersama dan terlebih lagi, kau adalah perempuan dan sahabatmu adalah laki-laki, bukankah itu hal yang normal? Jangan terlalu keras terhadap dirimu sendiri, jatuh cinta merupakan hal yang wajar dan merupakan bagian dari hidup kita. Move on, dan jadilah lebih kuat."
"Terimakasih."
"Tidak usah sungkan."
Dengan itu aku berdiri dan berbalik menghadapnya.....