
"Apa yang sedang kau masak?!"
Aku melihat Abi mencoba memasak pasta dan tepat setelah dia mendengar suaraku, dia melihat ke arahku dan mulai memohon.
"Tolong aku Pat" Katanya, dan aku bisa lihat melalui matanya bahwa dia benar-benar menderita.
"Dengan satu syarat"
"Apa?"
"Bestie?" Kataku sambil tersenyum padanya.
"Kita masih bestie, tapi ya... ok"
Untuk memeluknya masih terasa canggung, tapi aku sangat merindukan senyumnya. Aku mulai membersihkan kekacauan yang dibuatnya dan menyuruhnya untuk menjaga Andin saja.
Aku membereskan semuanya selama hampir satu jam dan sekarang sudah jam 7 tepat. Membersihkan krim lengket ini benar-benar menyebalkan, setelah aku selesai, Tante Susan dan ibu masuk ke dapur.
"Wow! Kau benar-benar luar biasa Pat! Aku sangat berharap kaulah calon menantu perempuanku" Lalu Tante Susan menatap Abi.
"Tepat sekali, aku juga sangat menyukai ide itu" Ibuku ikut menimpali... apa mereka sedang menggodaku? Kemudian aku mulai berbicara.
"What the fu..."
Ibuku melihatku dengan tatapan mematikannya, untungnya tante Susan tidak menyadarinya karena dia sedang sibuk membuka makanan yang baru saja mereka beli... aku hampir mati....
Ibu kita tahu yang terbaik untuk kita........ tapi juga yang paling menakutkan.
"Kau boleh tinggalkan kami sekarang Sayang" Kata ibuku, dengan makna lain dia menyuruhku bergabung bersama Abi dan Andin.
"Kupikir aku akan membantu kalian?"
"Kita bisa menangani hal-hal kecil macam ini, jadi pergi dan bermainlah dengan Andin dan Abi" Lalu mereka mulai mengobrol.
"Aku suka kuemu Denise "
"Aku juga suka kuemu. Ingat ketika .... "
Akhirnya aku pergi ke tempat Andin dan Abi bermain.
"Hai Patrice, Apa kau mau bergabung dengan kami?" Kata Andin sambil terbang.
Abi melemparkan Andin seperti bantal lalu menangkapnya dan terus mengulangnya.
"Tidak, terima kasih ... Pastikan untuk menangkapnya atau Aku akan membunuhmu" Kataku pada Abi.
"Tidak perlu mengancam ku, aku pasti akan menangkapnya"
Dan kecelakaan pun terjadi. Dia gagal menangkap Andin dan menyebabkan gadis itu jatuh mendarat di lantai yang dingin.
"Andin kau baik-baik saja?!" Dia langsung bertanya padanya dengan gugup.
"Apa yang terjadi?!"
Tanya ibu kami khawatir dari arah dapur. Aku tidak tahu apakah dia gugup karena Andin jatuh atau dia gugup karena dia tahu aku pasti akan menghajarnya jika menyangkut Andin.
"Kau tidak apa-apa An?"
"Aku baik-baik saja, tidak harus membalas dendam pada saudaraku"
Ibu kami kemudian kembali ........ oh, mereka sudah pergi lagi ternyata.
"Aku akan membiayai pemakaman putramu jika dia dibunuh oleh putriku"
"Tidak perlu Denise, aku akan menyewa orkestra di pemakamannya jika kau mau"
"BUU!" Teriak Abi yang kesal pada ibunya, karena kami masih bisa mendengar percakapan mereka dari dapur.
"Kami hanya bercanda oke? Tenangkan dirimu anak muda" Teriak ibunya sambil menggoda Abi.
Persahabatan mereka berada pada level yang berbeda, apapun yang mereka ucapkan sepertinya tidak menyinggung satu sama lain, Andin lalu tertawa ... anak ini tidak pernah gagal membuat hatiku meleleh dengan senyum polosnya.
"Kau beruntung Andin tidak terluka atau kau akan berakhir di pemakaman" Aku melanjutkan ancamanku pada kakaknya itu.
"Apa kau benar-benar bisa membunuh orang yang kau nyatakan perasaanmu?"
Aku langsung melihat pada Abi dengan ekspresi kaget. Jelas dia hanya berniat untuk bergumam tapi tidak sengaja mengatakannya dengan keras karena dia langsung menatapku dengan ekspresi kaget juga sambil menutup mulutnya.
"Oh! Bakar!!" Aku mendengar jelas ibu berteriak menggodaku.
"Panggang!!"
"Sepertinya enakan dipanggang, Susan kau taruh diamana ayam yang tadi kita beli?"
"Ini..!! Ayo kita panggang"
Dan sebelumnya, dia sangat mengkhawatirkanku, tapi lihat sekarang, siapa yang membuat lelucon tentang aku dan Abi.
"Perasaan apa?" Serius? Anak ini pandai berpura-pura sambil menggodaku.
"Perasaan saat aku memukuli kakakmu jika dia gagal menangkapmu lagi"
"Ada yang mengetuk pintu" Kataku, tapi ini masih terlalu dini untuk tamu.
"Mungkin itu monster poop!" Kata Andin benar-benar ketakutan.
"Siapa yang memberitahumu tentang itu?" Aku bertanya padanya.
Abi kemudian bersiul seperti orang yang tidak bersalah sambil mengalihkan pandangannya.
"Jangan percaya apa yang dia katakan. Dia bohong, monster poop itu tidak ada"
"Benarkah?"
"Yup, tapi kalau peri gigi itu benar-benar ada."
Aku mencoba untuk menenangkan Andin yang ketakutan.
"Jangan berbohong padanya Patrice, kau tahu bahwa peri gigi tidak ada"
"Aku tahu peri gigi benar-benar ada! Ketika aku masih kecil, aku selalu mendapatkan koin setiap kali aku bangun setelah aku meletakkan gigi bungsuku di bawah bantal sebelum tidur"
"Ibumu yang melakukan itu!"
"Jangan merusak masa kecilku!"
Kemudian terdengar ketukan lain.
"Kalian, buka pintunya!"
Ibu kami berteriak serempak, Abi dan aku memainkan batu gunting kertas untuk memutuskan siapa yang akan membuka pintu.
..... Bagaimana mungkin aku kalah... aku sudah menguasai permainan seperti ini.
Setelah aku membuka pintu, aku melihat Nick dan .... seorang gadis kecil yang lucu berdiri di belakangnya.
"Natalie?!" Sapaku dengan nada riang.
"Hai? Namaku Natalie Dylan, senang bertemu denganmu Patrice. Andin dan kakakku selalu menceritakan banyak hal tentangmu"
Aku lalu memeluknya erat dan dia memelukku kembali, sikapnya tenang untuk anak seusianya, seperti seorang putri, begitu dewasa dan anggun.
"Natalie!" Andin bergegas ke tempat kami berdiri.
"Andin!" Natalie lalu berlari ke arah Andin untuk memeluknya. Keduanya lalu segera meninggalkan kami dan pergi ke kamar Andin di lantai dua.... lupakan perkataanku tadi...dia masih muda untuk menjadi dewasa.
"Ehem!"
"Ups maaf, aku lupa kehadiran mu Nick, kau tahulah kalau aku sangat menyukai anak - anak" kataku sambil tersenyum, "Ayo masuk."
Kami pergi ke ruang tamu dan melihat Abi duduk di salah satu sofa besar.
"Hei man" Nick lalu membuat salam menggunakan punggung tangannya dengan Abi.
"Kau tidak memberitahuku kalau kau akan membawa bff barumu Pat"
Abi kemudian melanjutkan menonton di sofa setelah lelucon sarkasmenya.
"Nick adalah teman dekat"
"Ayo pergi ke dapur, sapa Ibuku dulu" Aku hanya mengangkat bahu dan memberi isyarat pada Nick untuk mengikutiku menuju ke dapur.
"Abi kau mau ikut?" Aku melihat Abi dan aku bisa melihat bahwa dia ... kesal?
"Tidak! Aku sedang pewe"
Tok..tok...
"Akan kubuka" Kami menunggu ditempat untuk melihat siapa yang datang.
Sarah...
Tepat setelah Sarah memasuki ruangan, dia langsung mulai mesra dengan Abi....
"Yaa yaa maklumlah pasangan baru" Pikirku dalam hati.
"Sarah akan membantu kami memasak" Ucap Abi bangga.
"Yup! Mana Andin?"
"Andin ada di kamarnya sedang bermain dengan sahabatnya"
"Aku membawakan hadiah untuknya! Aku akan memberikannya padanya.. aku akan kembali sebentar lagi"
"Sarah memberitahuku bahwa dia bisa masak juga dan ini pertama kalinya aku mencicipinya, dan aku yakin pasti enak"
Entahlah tapi rasanya aku ingin sekali meninju keduanya.. entah kenapa.
Di Dapur
"Hai Sarah..ini Tante Denise, ibunya Patrice"
"Senang bertemu denganmu" katanya lalu mencium bibi Susan dan ibuku di pipi mereka.
"Abi memberitahuku bahwa kau adalah juru masak yang hebat seperti Patrice... Bukankah ini luar biasa? Kita memiliki banyak juru masak disini."
"Yup!" Ucapnya bangga tapi kemudian dia memberiku lirikan sinis, dan sepertinya tidak ada yang memperhatikannya selain aku.
Apakah dia baru saja bersikap sarkastik terhadapku? Atau bersikap sombong? Atau itu hanya imajinasiku saja?
"Kalau begitu ayo kita buat kontes. Kalian berdua akan memasak hidangan terbaik kalian, lalu Andin akan menilai hidangan siapa yang lebih enak"
Saran yang bagus bu. Dan Sarah, aku berutang wajah sinis padamu.