
"Abi untuk kesekian kalinya aku memberitahumu, berhentilah makan cokelat Kitkat"
Aku berharap aku sekuat dia untuk mengangkat banyak barang hanya dengan satu tangan.
"Kau cemburu Pat! Iya kan dede Kitkat?"
Dia berkata pada cokelat itu seolah-olah dia sedang berbicara dengan seorang bayi.
"Aku membeli itu untuk kita! AKU dan IBU"
"Yah,dan aku salah satu dari KITA!" Katanya lalu menggigit lagi cokelatku.
“Bersyukurlah tanganku penuh dengan barang atau aku pasti akan merebutnya”
“Baiklah, terima kasih" Ucapnya sinis.
Aku menggigit bibirku tapi memutuskan untuk merelakannya saja. Aku selalu kalah saat dia menggodaku.
"Kitkat! Cokelat yang tak ada tandingannya!" Katanya melanjutkan serangan menggodanya padaku.
AKU TIDAK BISA TAHAN LAGI.
"Kembalikan cokelatku!" Aku kehilangan kesabaran jadi aku putuskan untuk minta bantuan ibuku.
"Bu, suruh Abi mengembalikan coklat ku."
Ibuku sibuk mencari lebih banyak barang untuk dibeli (gaun, makanan untuk stok di rumah kami, peralatan dapur , dll .. Khususnya saat itu sedang diskon).
Jadi dia tidak bisa membantuku untuk mendapatkan coklat ku kembali saat ini, sebelum kemudian, "Oke, berhenti berkelahi kalian berdua. Abi kau ingin makan dimana?"
"Bu! Aku ini anakmu, halo?"
"Kau yang ibu tanya minggu lalu sayang. Sekarang giliran Abi"
"Mc Donalds" Abi berkata dengan gembira OK , itu juga pilihanku jadi tidak ada masalah denganku.
"Ada yang keberatan?"
Lalu mereka menatapku dengan tatapan menggoda.
"Tidak ada" Kataku datar
***** .
Kami duduk di meja paling pinggir.
"Aku tunggu disini"
"Apa pesananmu bu?" kataku sambil berdiri
"Ibu cuma mau ss sundae"
"Ok"
******
Ketika kami berdiri di depan konter dan sementara Abi sibuk memberi tahu pesanan kami, aku mendengar dua orang berbicara di belakangku, suara seorang wanita tua dan seorang pria muda yang seumuran denganku, sepertinya, "Sebaiknya nenek mencari tempat duduk untuk kita. Tunggu aku disana, nanti nenek lelah kalau ikut mengantri"
"Jangan khawatirkan aku Nick. Toh tidak terlalu banyak orang di sini, kita bisa menemukan tempat duduk kita dengan mudah nanti. Aku hanya ingin lebih lama dengan cucuku yang manis"
"Nenekku yang manis! Sudah kubilang aku bukan bayi atau anak kecil lagi" Protes pria itu tetapi dengan sikap hormat.
Saat aku hendak melihat mereka, Abi berbicara, "Apa minuman kita?"
"Air mineral saja"
Kami berada di tempat parkir sekarang untuk kembali ke rumah ketika Abi berbicara. Dia lupa sesuatu.
"Ah aku hampir lupa! Tunggu saja aku di mobil. Aku mau membeli sesuatu, ini kuncinya Pat"
"Oke?" Kata mama dan aku serempak, lalu kembali ke tempat parkir tempat Abi memarkir mobilnya. Aku duduk didepan sedangkan ibuku duduk di kursi belakang.
"Sayang." Kata ibuku sesaat setelah dia memasuki mobil. Dia sedang mencari sesuatu di salah satu paper bag yang kita beli.
"Ada apa bu?"
"Kapan kau mau mengendarai mobil mu sendiri? Ibu bisa membelikan mu kalau kau mau, atau kau lebih suka memakai mobil ibu sewaktu waktu?"
Ya, kami mampu membeli satu lagi tapi aku masih berpikir ini bukan waktu yang tepat untuk itu. Sekolahku dekat dan bisa cukup dengan berjalan kaki. Dan yang lebih penting adalah biaya kuliah dan pengeluaran sehari-hari.
Dan selain itu, dalam hal mengemudi, aku malas semalas hewan sloth. Untungnya sahabatku cukup baik untuk mengantarku setiap kali ibu tidak ada, meskipun aku harus bersabar dengan lelucon kekanakan kanakannya sepanjang waktu.
"Aku pikir ini bukan waktu yang tepat untuk itu bu"
"Jangan khawatir dengan keuangan sayang" Katanya lalu tersenyum.
Aku pikir jika percakapan ini berlanjut, aku akan menjadi emosional. Mungkin aku harus mulai mencari pekerjaan sebelum masuk perguruan tinggi untuk melakukan lebih banyak penghematan.
"Kau beli apa?" Tanyaku sambil melihat paper bag di tangannya.
"Ini? .... Susu segar"
"Untuk Andin?"
"Bukan"
"Untuk siapa?"
"Untuk Kimmy. Ingat kucing yang kita jumpai waktu itu? dia bilang dia tidak punya rumah jadi aku membawanya pulang saat kau ada kelas seni"
Jadi dia benar-benar bisa berbicara dengan kucing itu?
"Hei! Itu sebabnya aku tidak melihatnya lagi! Aku berencana untuk membawanya pulang juga! "
"Siapa cepat dia dapat" Ucapnya main - main lalu mengedipkan mata padaku.
"Hentikan. Menjijikkan" Meskipun sebenarnya dia terlihat lucu.
"Kau sangat kejam pada sahabatmu, kau tahu itu?" Katanya sambil mulai mengemudi, "Apa yang kamu beli pat?"
"Aku membeli coklat untuk Andin"
"Kau pasti lebih mencintainya daripada aku" Kata Abi, jelas hanya menggodaku.
"Terima kasih sudah mengantar kami. Ngomong-ngomong, bulan depan ulang tahun Andin kan? Mungkin aku harus sudah mulai memikirkan kado apa yang harus aku berikan untuknya nanti"
"Terlalu dini untuk itu Bu. Andin bukan gadis yang pilih-pilih. Dia sudah dewasa untuk usianya"
"Tidak seperti kakaknya" Gumamku.
"Aku mendengar itu Pat" Katanya lalu melanjutkan pembicaraannya dengan ibu.
Aku terjaga sepanjang perjalanan tadi. Aku mulai merasa ngantuk, Ini sudah jam 6:30 malam (18:30) ketika kami kembali ke rumah
.
.
.
.
.
"Andin!" Kataku, sebenarnya aku berteriak sambil bergegas memeluknya "Apa kau sudah makan malam An?"
"Yup. Uhmmm Pat? Bolehkah aku tidur lagi di sini malam ini?"
"Tentu saja! Kau selalu diterima di sini"
"Anda bisa pulang sekarang Ana, terima kasih" Kata Abi pada wanita di pertengahan 50-an itu, salah satu staf rumah tangga di sani.
"An! Aku membelikanmu cokelat! Ayo kita makan di kamarku! Tapi berjanjilah untuk menyikat gigimu sebelum kau tidur"
"Janji!" Dia berkata dengan gembira," Terima kasih! Ayo makan sekarang!" Kami kemudian kami mengaitkan kelingking kami.
"Sebelumnya, aku ingin kau memakai pakaian yang aku beli untukmu Andin , ayo ke kamar tante" Kami akan pergi ke kamarku ketika ibu mulai berbicara dan membawa Andin pergi.
.
.
.
.
.
Saat aku membuka pintu kamarku, cokelat sudah ada di tempat tidurku. Dan bersama coklatku yang berharga untuk Andin, Abi juga disana...... Memakannya.
"Keluar" Kataku dengan muka datar, mencoba sekuat tenaga untuk tidak membunuhnya dan melemparnya keluar jendela.
"Tapi...."
"Keluar ........ Keluar ....... " Kataku masih poker face.
"Baiklah ..... aku akan keluar "
Tepat setelah dia pergi, Andin masuk ke kamar, "Apa yang terjadi?"
"Jangan pedulikan dia An, dia sudah mendapatkan bagiannya saat kita masih di mal. Ini semua untukmu."
Kami pun duduk diatas kasur dan aku memandangi betapa imutnya malaikat kecil ini sedang memakan coklat pemberianku.