My BFF (Boy Friend Forever)

My BFF (Boy Friend Forever)
Chapter 7



Aku dan Ibu berencana untuk pergi shopping hari ini karena aku tidak memiliki kelas lagi hari ini (guru memberi tahu kami bahwa minggu ini tidak akan ada banyak kelas agar kami memiliki lebih banyak waktu untuk meninjau pekan kuis yang akan segera diadakan). Bagi aku dan ibu shopping memiliki definisi yang berbeda. Kita akan pergi ke mal tapi bukan untuk membeli asesoris atau barang-barang semacam itu, melainkan untuk membeli beberapa peralatan rumah tangga yang berguna. Tapi sebagai seorang wanita, terkadang kami masih membeli pakaian atau sepatu atau dompet, dan untuk sepatu..... sepatu kets adalah pilihanku. Aku tidak suka heels makanya aku benci menghadiri acara formal.


Dengan begini, aku bisa melupakan kejadian canggung di antara kami... meskipun hanya sedikit. Aku sudah memberi tahu ibu apa yang terjadi dan seperti yang aku perkirakan, dia menjadi sangat khawatir, dan hal itu yang ingin aku hindari, tapi aku tetap memutuskan untuk memberi tahu Ibu.


Ibuku hendak menyalakan mesin mobil ketika ponselku berbunyi. Pesan dari Nick, kami sudah bertukar nomor saat makan siang di kafetaria kemarin.


Hai nick apa kabar ?


Apa kau punya rencana hari ini?


Tidak! Kenapa? (Sebenarnya aku dan ibu berencana untuk pergi berbelanja hari ini dan akan segera berangkat menuju mal)


Boleh aku ke rumahmu?


Aku berhenti beberapa detik dan melihat ke arah ibuku, dia dengan cepat mengerti maksud dari tatapanku dan kemudian mengangguk seolah berkata "tidak apa-apa ibu mengerti".


Tentu kenapa tidak.


Ok kalau begitu aku akan membawa mobilku.


*****


Beberapa menit kemudian Nick datang dengan mengendarai mobilnya.


"Pagi maam, biar aku saja yang menjadi sopir kalian".


"Sshh jangan panggil maam, panggil saja tante Denise"


Ibuku tidak suka dipanggil seperti itu.


"Oke Mam, maksudku Tante!"


Dia menawarkan kami tumpangan.


Damn! Aku masih bisa merasakan nostalgia, aku benar-benar merindukannya. Aku merasa tidak biasa bahwa Abi tidak bersama kami melainkan Nick.


Seorang pria yang secara sukarela menjadi pengawal bagi teman dan ibunya, sepertinya dia bermaksud untuk merayuku. Tapi aku bukan tipe orang yang membuat asumsi terlebih dahulu dan selain itu, hal semacam ini sudah pernah terjadi sebelumnya.


Aku tidak ingin melakukan kesalahan yang sama lagi, aku tidak ingin kehilangan temanku lagi, tidak lagi.


"Kau anak yang baik tapi maaf Nick, aku akan menyetir mobilku. Dan kau sayang, kau harus ikut naik ke mobilnya"


Aku tidak merasa tidak ada yang salah dengan itu jadi semuanya sudah diputuskan.


Dia bahkan membukakan pintu untukku. Berbeda dengan sahabatku.............. ugh! Aku mengingatnya lagi.


"Nick?"


"Ya?? Kenapa?"


Kami sekarang sedang dalam perjalanan ke mall dan hanya berbincang tentang ini dan itu. Aku merasa nyaman berbicara dengannya, aku merasa aman dan... dihargai.


Merasa aman bahwa kita tidak melewati batas dan pada saat yang sama, aku merasa dihargai, aku bisa merasakan bahwa seseorang ada di sana, mendengarkanku dan juga sebaliknya.


"Terima kasih sudah datang"


"Konyol, aku yang bersikeras untuk ikut denganmu"


"Maksudku, terima kasih karena sudah menemaniku"


"Tidak masalah....Kalau saja kau tahu"


"Apa kau mengatakan sesuatu?"


Sumpah, aku mendengar dia menggumamkan sesuatu Aku tahu dia menggumamkan sesuatu tapi aku tidak repot-repot menanyakannya lagi.


"Bukan apa-apa"


Akhirnya aku mengabaikannya.


**** *****


"Kita sudah sampai" Ucapnya sesaat setelah dia memarkirkan mobilnya.


"Ayo pergi?"


Dia langsung menuju pintu mobil dan membukakannya untukku. Dia bahkan mengulurkan tangannya untuk menuntunku keluar, layaknya seorang gentleman yang ada di dalam film film romantis.


"Wow! Seriusan?" Aku tidak bisa menyembunyikan tawaku.


Maksudku, jaman sekarang masih ada pria yang melakukan hal - hal semacam ini? Melihat pria macam Nick cukup langka saat ini.


Aku hanya tersenyum dengan tindakannya, aku sedikit memukul lengannya terlebih dulu sebelum akhirnya menerima uluran tangannya dan menggenggamnya.


"Kau mempermalukanku Tuan Gentleman"


"Dengan senang hati aku akan mempermalukanmu, my lady"


Kami berdua tertawa seperti orang bodoh di tempat parkir.


Toko peralatan dapur berada di lantai dua jadi kami menaiki eskalator untuk menuju ke sana.


"Ya, kami tahu"Aku dan ibu menjawabnya secara bersamaan.


Saat kami memasuki toko pertama, aku langsung menjelaskan pada Nick apa yang kami maksud tentang "berbelanja".


Awalnya, dia terlihat ingin tertawa geli tapi masih bisa menahannya, namun sebaliknya dia malah menyeringai.


"Apa? Apa ada yang salah?" Tanyaku padanya.


Aku tidak mengerti kenapa dia terus menyeringai tepat setelah aku menjelaskan maksud kami berbelanja.


"Tidak! Hanya saja .... aku jarang melihat gadis sepertimu. Kau tidak peduli dengan pakaian atau kosmetik atau outfit lain yang biasanya para gadis "butuhkan"."


"Apa itu sebuah pujian?"


"Tergantung bagaimana kau menanggapinya, tapi kau terlihat bagus seperti ini"


"Ok, pujian diterima" Aku merasa pipiku memerah jadi aku segera berpaling darinya lalu mengganti topik, "Terima kasih" Gumamku.


............


Kami sedang berjalan untuk makan pizza saat sosoknya menarik perhatianku. Mereka berjalan mendekat dan semakin dekat ke arah kami, sambil berpegangan tangan.


Abi dan Sarah, kurasa Nick menyadarinya. Dia meletakkan lengannya di bahuku seolah kami teman dekat..... dan terlihat sangat akrab.


"Tante ! " Abi menyapa ibu


"Halo Abi dan .... ?"


"Sarah ! Sarah Adams"


"Senang bertemu denganmu Sarah"


"Saya juga senang bertemu dengan anda Tante"


"Jadi , apa kalian sudah makan siang?"


"Ya , kami sudah makan siang Tante, terima kasih sudah bertanya"


Ibuku bertanya kepada mereka tapi melihat ekspresi Abi, dia terlihat memaksakan senyumnya didepan ibuku. Aku bisa melihatnya, karena aku mengenalnya sejak kami masih kecil.


Apa dia marah? Ya, kurasa dia masih marah padaku.


"kita akan pergi sekarang kalau begitu"


"Cheesy" (cheesy bisa juga diartikan lebay)


Bahkan sebelum kita melanjutkan berjalan, Nick tiba-tiba berbicara.


Dia berbicara kepadaku "Apa?"


Dan aku bisa melihat Abi dan Sarah bahkan berhenti sejenak.


"Aku ingin makan pizza Cheesy Frank"


"Tidak ! Kita akan memesan Beef BBQ"


"Cheesy Frank!"


"Beef BBQ !"


"Kalian berdua ! Cepat kemari !" Teriak ibuku.


"Sekali lagi, kami pergi dulu ya, kalian berdua hati-hati dijalan" Ibu mengucapkan selamat tinggal kepada Abi dan Sarah sebelum membawa kami ke cabang pizza hut.


Untung Nick sudah tahu situasinya dan aku sudah memberi tahu ibu apa yang terjadi jadi semuanya baik baik saja dan tidak jadi canggung.


"Cheesy Frank!"


Aku melihat lagi ke arah pasangan itu dan melihat Abi sendirian bersandar di cermin penghalang memandangi kami, sepertinya Sarah sedang memasuki sebuah toko.


"Ayo pergi!" Nick lalu menarik ku.


*******


Ini membuatku stress, dia masih belum mau berbicara padaku.


Ketika kami duduk di meja kami setelah memesan, aku rasa ibuku memperhatikannya dan dia mulai memecah kesunyian.


"Kita juga akan belanja makanan untuk ditumpuk di rumah sayang. Buat daftar makanan yang ingin kau beli"


"Dan juga hadiah untuk Andin" Kataku, dan kemudian aku memberi tahu ibu tentang adik perempuan Nick.


"Apa hadiahnya?" Aku bertanya pada Nick saat pesanan kami datang.


"Jangan beri tahu Andin, oke? Nathalie akan memberinya boneka Barney"


Percakapan kami selanjutnya berjalan lancar. Kebanyakan ibuku bertanya tentang kehidupan Nick.


Ngomong-omong, kami akhirnya memesan pizza beef bbq. Hari kami berjalan dengan baik, itu adalah pengalaman yang menyenangkan dengan Nick bersama kami.