
12:00PM
"Andin!!!"
Aku berlari bergegas memeluk malaikat kecil yang berdiri di depan pintu masuk rumahku itu.
"Patricia!!!"
"Ngomong-ngomong, di mana ibumu?"
Bibi Susan adalah ibu Abi dan Andin, teman dekat ibuku.
"Dia sudah pergi bekerja, dia bilang dia sedang terburu-buru dan akan kembali menjemputku malam ini"
Sayang sekali, sudah lama aku tidak bertemu bibi Susan, dan Andin merupakan satu-satunya saudara perempuan Abi. Dia sudah berusia 9 tahun sekarang dan akan berusia 10 tahun bulan depan.
"Ok Andin, apa yang ingin kau lakukan hari ini? pergi ke taman? berbelanja? atau makan masakan ku?" Aku sangat menyukai malaikat kecil ini sehingga sepertinya aku rela melakukan apa saja untuknya.
"Sungguh?! Aku ingin pergi ke taman hari ini dan makan es krim dan ow! ow! ayo kita bermain di sana juga!"
"Hei! kau itu sudah besar Andin, umurmu 9 tahun. Kau harus bertingkah lebih dewasa di usiamu sekarang "
Lihat siapa yang bicara.
"Satu hal lagi , kau juga harus berhenti menonton Barney kau tahu "
Satu kata lagi yang keluar dari mulutnya, aku pasti akan memukulnya sampai mati.
"Lupakan saudaramu An, mau pergi sekarang?"
"Hei!! Berhenti memanjakannya. Kau harus ...."
Dia memutuskan untuk berhenti bicara setelah dia melihat tatapan mematikanku. Kalian bisa bayangkan tatapan mematikan ibumu kalian saat berusia 6 tahun jika kalian berperilaku buruk, seperti itulah tatapan maut ku.
Sudah tidak terhitung lagi berapa kali aku mengeluarkan tatapan maut ku di minggu ini. Tapi menurutku tatapan maut jauh lebih baik daripada membunuh sahabatmu yg kekanak-kanakan bukan?
"Oke, tidak perlu mengancamku, apa boleh aku ikut juga?"
"Tentu saja" Kataku tanpa melihat kearahnya.
Dia benar-benar tahu batasku dan dia pasti tidak ingin melihat wujud super saiyanku.
"Ayo pergi sekarang, aku sangat bersemangat!"
Aku sangat menyukai gadis kecil ini karena dia sangat menggemaskan!
Mata jernihnya, rambut kecoklatannya yang semarak, dan suaranya yang imut, bukannya aku memanjakannya, tapi aku tidak bisa menahannya.
"Es krim!" Teriak makhluk kecil yang menggemaskan ini saat dia melihat truk es krim.
Dia bergegas menuju truk es krim dan melupakan kami.
Taman di kota ku, cukup besar dan terbilang luar biasa. Kami biasanya pergi ke sini setiap kali kami sedang down atau ingin bersantai.
Kalian akan melupakan semua masalah kalian untuk sesaat, kesehatan mental juga merupakan hal yang penting untuk kesehatan tubuh. Tempat yang bagus untuk bermeditasi memang.
"Kau mau rasa apa?"
"Aku mau cookies dan cream"
"Dan kau?"
"Aku?"
"Ya kau"
"Yang penting ada coklatnya"
"Aku mau 2 rasa coklat dan satu cookies dan cream pak" Kataku pada pedagang es krim.
Aku menatap Abi dan melihatnya sedang memandang seseorang tidak jauh dari sini, dan disana aku juga bisa melihat gadis itu
Ketika terasa ada sesuatu yang menusuk hatimu ... perasaan yang begitu melankolis.
Aku lebih suka dipukuli secara fisik daripada secara emosional.
Gadis itu sangat cantik, dia bisa mendapatkan pria manapun yang dia inginkan.
Apa dia baru saja tersenyum kearah kami?
"Ayo kita bermain, ya ya ya?" Andin memecahkannya keheningan.
"Tentu, tapi kita mau bermain apa?" Aku bertanya padanya.
" Aku tidak tahu? Ayo tanya kakakku!" Katanya bersemangat lalu menuju ke tempat Abi duduk.
"Bergabunglah dengan kami juga ka" panggilnya dengan gembira berharap dia akan bergabung.
" Maaf An, tapi aku sedang tidak ingin bermain sekarang. Aku hanya akan duduk diam dan menonton kalian berdua"
"Kenapa? Kita selalu bermain setiap kali kita pergi ke sini bukan?" Kata Andin bingung.
"Aku sedang tidak ingin bermain"
Aku benci sisi Abi yang ini.
Dan aku tahu kenapa dia bertingkah seperti ini sekarang. Karena Sarah, aku mendengar dari beberapa kenalan dari sekolah kami bahwa Sarah menyukai pria dewasa.
Dan aku pikir inilah alasan kenapa dia malu untuk menunjukkan sisi kekanak-kanakannya, dan untuk itu dia bahkan rela mengecewakan adiknya.
Aku tahu ini bukan masalah besar, tapi jika dia sudah bertingkah seperti ini bahkan ketika mereka masih belum jadian, aku tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya jika mereka mulai berkencan.
"Tidak apa-apa An, ayo kita bermain tanpa dia"
"hump" Cemberut Andin.
Memikirkan dia berpura-pura membuatku mual atau dan ingin muntah. Menurut kalian siapa yang dibodohi disini? Jika kalian ingin dicintai oleh orang yang tepat, kalian harus menunjukkan diri Anda yang sebenarnya.
Kalian tahu, kalian tidak bisa membuat pertunjukan selamanya, kecuali jika hanya untuk sekedar menggoda, karena Hal itu tidak akan memberi kalian kebahagiaan sejati.
Dan hal itulah yang ingin aku katakan kepadanya sekarang.
"Kau menyukai kakakku bukan?" Andin berbisik di telingaku.
"Apa ???"
"Aku bisa melihat kau menyukai kakakku Pat, dari cara kau menatapnya...aku sudah tahu."
Anak ini sungguh peka
"Jangan katakan padanya."
Aku mengaku, ... Aku mengatakan rahasiaku kepada seorang anak berusia sembilan tahun, karena aku percaya dia seperti saudaraku sendiri,bitu sebabnya.
"Itu hidupmu Pat dan aku masih terlalu muda untuk mengerti apa yang kalian alami tapi apapun hasilnya itu terserah padamu, semua ada di tanganmu. Itu yang dikatakan ibuku."
Dia tersenyum sambil tetap menatapku.
"Tapi apapun yang terjadi, aku akan selalu ada untukmu " Lanjutnya.
Kami tidak sedarah tapi dia seperti adikku sendiri, aku memeluknya erat. Abi tidak memperhatikan kami karena dia terlalu sibuk mengirim pesan kepada seseorang.
Sarah juga pergi sekarang.
"Hei, apa kau menangis Patrice?"
"Huh? Tidak, ada yang masuk ke mataku." Aku berbohong.
Aku membayangkan, mungkinkah dia akan menyadarinya suatu saat nanti, bukan hanya sebatas sahabat.
-Di Rumah-
Kami kembali kerumah pada jam 5:30 sore (17:30), dan kami sudah makan malam dalam perjalanan pulang jadi aku tidak perlu repot-repot bertanya kepada dua bersaudara itu apakah mereka ingin makan sesuatu.
"Bolehkah aku tidur di sini?" Andin memberiku tatapan memelas.
Dia sangat tau apa kelemahanku, "Tanya kakak mu dulu"
"Please.." Kini dia menggunakan pesonanya kepada kakaknya.
"Ok ok, aku akan telepon ibu dan memberitahunya."
Aku senang melihatnya tersenyum senang, kelucuannya sudah melewati batas.
***
Aku harus menyatakan perasaanku kepadanya secepat mungkin, sebelum terlambat dan sebelum aku menyesalinya nanti.