
Disinilah aku sekarang, di sekolah, duduk diam tidak mengharapkan apa-apa.
Aku tetap datang ke sekolah setelah apa yang terjadi kemarin, karena aku harus menghadapinya, sekarang atau tidak sama sekali. Aku juga ingin mendapatkan kembali persahabatan kita seperti dulu.
Bagaimana mungkin aku mempertaruhkan persahabatan kami hanya karena keegoisanku.
Abi benar, aku hanya temannya, seorang gadis yang tidak ada bakat sama sekali, aku juga memutuskan untuk menghindari ibu.
Bagaimanapun aku tidak ingin dia melihatku dalam keadaan seperti ini, aku baru saja mengirim sms ke ponselnya setelah aku meninggalkan rumah. Dia benar-benar lelah dan aku tidak ingin menjadi beban baginya saat itu, bel berbunyi dan aku bisa merasakan jantungku berdetak semakin kencang, dia ada di sini aku melihatnya bersama Sarah di lorong.
Mereka berpegangan tangan dan aku yakin mereka tidak memperhatikanku.
Mereka berciuman.
Untungnya kelas Sarah ada di ruang lain di sebelah kelas kami, setidaknya aku hanya perlu berurusan dengannya sendirian dan tidak dengan mereka berdua sekaligus.
Dia duduk di kursinya, di samping kursiku. Dia bahkan tidak repot-repot menatapku.
Hebat ... aku kehilangan sahabatku sekarang.
Makan siang
Aku duduk di meja biasa kami, meja "tempatku" di sudut terjauh, jauh dari konter kafetaria. Lalu aku melihatnya, duduk di meja tempat Sarah dan teman-temannya duduk, dia juga bercanda tawa dengan mereka.
Dan jelas seperti yang kalian ketahui, aku tidak punya teman dekat di sekolah selain Abi, jadi aku memutuskan untuk pergi dan makan di suatu tempat sendirian. Aku tidak biasa bersosialisasi dengan umat manusia.
"Hei kau sendirian? Boleh aku duduk disini?"
Saat aku berdiri dan hendak pergi, aku mendengar sebuah suara familiar.
"Tentu" Kataku masih bingung dan cukup gugup karena keakraban suaranya.
Dia adalah Nick Dylan : salah satu siswa paling populer di sekolah kami, total keren.
Aku tahu akan begini
********
Kemarin
Dengan itu, aku berdiri dan menghadapinya .........
Saat aku berdiri dan menghadapi orang asing itu, aku terdiam setelah aku menyadari dan mengenali siapa orang asing yang berdiri di depanku ini.
Dia tidak lain adalah Nick Dylan, salah satu idola sekolah. Dan terlebih lagi, aku bahkan menceritakan semua yang terjadi antara aku dan Abi kepadanya.
Aku menutup wajahku dengan telapak tangan karena sangat malu. Pikiranku membeku, yang kupikirkan sekarang hanyalah aku harus melarikan diri, aku harus lari secepat mungkin dan berharap dia melupakan wajahku, melupakan apa yang kukatakan padanya dan melupakanku.
"Tunggu!" dia memanggilku tapi aku tidak repot-repot untuk berhenti atau melihatnya, yang ada di benakku hanya melarikan diri.
*****
"Ah benar kau rupanya! Oh! Hai"
Dia berkata dengan canggung. Dia menahan tawanya. Aku bisa melihatnya dengan jelas.
"Bolehkah aku meminta saputanganku kembali?"
"Oh, ya! Sapu tangannya, uhmmm maaf tapi aku lupa membawanya hari ini" Tentu saja aku tidak akan membawanya. Aku berharap untuk tidak melibatkan diri atau berbicara denganmu lagi.
"Aku butuh itu hari ini, itu adalah hadiah ulang tahunku untuk nenekku hari ini"
"Apa?! Tapi aku masih belum mencucinya. Maaf!! Ini, ambil saputanganku, jangan khawatir ini bersih kok"
"Hahahahaha! Aku hanya bercanda maaf. Kau tidak perlu mengembalikannya kepadaku, jangan khawatir. Aku tidak pernah tahu jika seseorang seusiaku akan jatuh pada lelucon konyol itu"
Dia mempermainkanku.
Orang ini aneh, tentu saja dia baik dan mudah bergaul tapi tetap saja, bukankah terlalu cepat untuk berteman dengan orang asing yang belum pernah kau ajak bicara?
Aku hanya tahu beberapa hal tentang dia, dia hanya memiliki sedikit teman (walaupun dia populer) dia berasal dari keluarga kaya seperti Abi yang dapat kalian lihat dengan hanya melihat mobilnya.
Aku juga mendengar dia pernah ikut balapan liar, tetapi sepertinya dia sudah berhenti sekarang.
Aku tidak tahu alasannya, dia baik, atau mungkin playboy.
"Hai! Aku Nick Dylan senang bertemu denganmu"
"Aku ........ Patricia Monroe, senang bertemu denganmu juga" kataku ragu.
Kami kemudian saling tersenyum. Aku selalu berpikir bahwa semua anak populer adalah anak nakal yang sombong, menyebalkan, dan egois, tetapi dia benar-benar membuktikan bahwa aku salah.
"Sophie! David! ....... di sini!" dia melambai kepada teman-temannya menyuruh mereka duduk di sini juga. Penduduk bumi yang lain itu datang ke meja kami, mereka memegang makan siang mereka.
Aku melihat gadis-gadis lain menatap kami dan menusukku melalui mata mereka.
"Jangan pedulikan mereka. Hai! namaku Sophia Alvaro tapi kau boleh memanggilku Sophie, senang bertemu denganmu"
"Senang bertemu denganmu juga. Namaku Patrice, Patricia Monroe"
Lalu kami saling tersenyum.
"Namaku David Greens, senang bertemu denganmu"
"Aku tahu apa yang kau pikirkan Patrice, dia memiliki nama belakang yang cukup lucu" Kata Sophie lalu menyeringai padanya. Dia benar-benar orang yang berani.
"Jujur,ya...maaf" "
"Kapan kau akan berhenti menggunakan nama belakangku untuk memulai harimu kentut?"
"Excuse me?? Kau baru saja memanggilku apa?"
"Haruskah kita menghentikan mereka sebelum mereka saling membunuh satu sama lain?"
"Tidak! Percayalah ini merupakan rutinitas harian mereka sebelum mereka memulai hari yang indah."
"Maaf untuk itu." Kata David padaku.
Kami kemudian saling tersenyum juga.
Nick memiliki rambut cokelat (dia tidak menggunakan pewarna atau gel rambut, aku yakin tentang itu) dengan matanya yang berwarna cokelat juga.
jika kau suka makan cokelat, kau harus menggoda pria ini.
David memeliki warna rambut hitam pekat (aku tidak repot-repot melihat matanya).
Sementara Sophie, rambut coklat juga (lebih ke perunggu) dia juga memiliki mata cokelat (sangat imut).
"jadi Nick? .. merupakan hal yang tidak biasa bagimu untuk berbicara dengan gadis lain, jadi di mana kau bertemu dengannya?" Kata Sophie sambil melihat ke arah Nick dengan tatapan yang seolah mengatakan "Aku-penasaran-kau-tahu".
Dia tidak seperti gadis-gadis lain. Tidak seperti mereka, dia hanya berbicara dengan santai dan terkesan biasa meskipun dia cantik.
"Tolong jangan ceritakan" Kataku, berharap mereka mau mendengarkanku.
"Kau dengar! So, maaf"
"Ugh! Aku penasaran!"
"Aku hanya merasa dia orang yang baik dengan kekuatan mata batinku dan juga, dia tidak berpikir untuk memakanku"
Kenapa aku selalu harus berurusan dengan orang yang kekanak kanakan? Bukan dalam artian yang salah, tapi aku kagum bisa terlibat dengan orang-orang yang kekanak-kanakan.
Dan aku baru saja berpikir untuk memakan rambutmu.
"Jadi dia tidak menggigit, kurasa?" Lanjut Shopie.
Tapi aku bisa memukul dengan sangat keras.
"Omong-omong Patrice, aku akan pergi ke ulang tahun Andin, sekedar memberitahu"
"Bagaimana kau mengenal Andin?"
"Dia sahabat adik perempuanku"
"Kau punya adik perempuan?!" Semua mata di kafetaria sekarang menatapku.
"Calm down Patrice!" Kata Sophie berusaha menahan tawanya yang terlihat jelas sementara kedua lelaki itu bahkan tidak perlu merasa untuk menahan tawa mereka.
"Maaf" Kataku dengan nada malu.
"Kau lucu Patrice, aku suka kamu" Sophie memujiku.
"Bolehkah aku tahu nama adikmu?"
"Tentu, namanya Nathalie, Nathalie Dylan."
"Ok guys, mau menginap di rumahku Juma't ini?" Tanya Shopie tiba tiba.
Aku merasa nostalgia, aku tidak bisa menyangkal bahwa aku merindukan sahabatku.
"Aku ikut."
"Aku juga "
"Bagaimana denganmu Patrice?"
"Apa aku diundang? "
"Akankah aku bertanya kepada mereka saat KAU masih di sini bersama kami jika kau tidak diundang?"
"Dia akan ikut" Nick tiba-tiba berbicara.
"???"
"Aku tahu kau dan Abi tidur di rumahmu setiap hari Jumat, jadi pastinya kau akan ikut"
Bagaimana dia tahu?
" ....... Tentu tapi" Aku ingat ibu tidak akan pulang lagi jumat malam ini, katanya dia dan bibi Susan akan pergi ke suatu tempat untuk mengunjungi teman mereka.
Aku kemudian teringat Abi. Aku melihat ke tempat Abi duduk dan melihatnya menatap kami. Dia kemudian mengalihkan pandangannya dengan cepat setelah aku melihatnya.
"Tidak ada tapi tapi" Sophie memotong pikiranku, kita menghabiskan sebagian besar hari kita bersama dengan berbincang untuk mengenal satu sama lain.
Sejujurnya, aku tidak tahu bagaimana aku bisa berakhir dengan tiga teman baru ini. Tapi ini adalah salah satu kenangan paling bahagia untuk diingat.