
“Bangun sayang! Nanti kamu telat kalau tidak cepat!” Kata ibuku sambil mengetuk pintu kamarku.
"Oke bu!" Ibu menjadi alarmku sejak saat aku mulai bersekolah dan menurutku itu merupakan hal yang paling manis karena tidak semua ibu melakukan itu untuk anak-anaknya dan ... ya ampun! Aku akan tamat jika aku tidak cepat-cepat.
Mata pelajaran pertamaku akan dimulai dalam 40 menit lagi. Otakku sejenak berhenti berfungsi mengingat bahwa aku bisa saja berakhir mengenaskan dalam 40 menit kedepan. Aku segera bangun dan merapikan tempat tidurku, mandi cepat kemudian meluncur pergi ke dapur untuk sarapan. "Selamat pagi Mah."
"Pagi sayang, cepat makan atau kamu akan terlambat di mata pelajaran pertamamu" Seperti biasa, dia memakan sarapan kombo favoritnya, roti asin dengan kopinya. Dan percaya atau tidak, dia mencelupkan rotinya ke kopinya sebelum kemudian memakannya.
Maksudku...jangan salah paham tapi menurutku itu sedikit...uhhh agak aneh. "Makasih mah" aku duduk di sampingnya dan mulai memakan sarapanku.
Aku mengambil sepotong roti dan mencelupkannya ke dalam cokelat panas yang dia siapkan. Aku selalu melakukan hal yang sama anehnya ini seperti dia jadi aku tidak punya hak untuk komplain dengan kebiasaan sarapan ibuku atau merasa aneh. Kalian harus mencobanya kapan-kapan. Tidak ada yang mati karena makan roti celup ke dalam cokelat panas kan?
Ngomong-ngomong, ibuku orang Filipina. Ya, saya seorang fil-am. Aku menghabiskan makanan ku dengan cepat tapi tidak sampai membuatku hampir tersedak. Setelah itu aku pamit padanya.
Aku beruntung karena rumah ku dekat dengan sekolah, sehingga aku bisa berjalan kaki ke sekolah. Aku tipikal orang yang suka "jalan penyendiri" dimana aku bisa memikirkan banyak hal terutama tentang masa depan disepanjang perjalanan ku ke sekolah.
Aku tiba di sekolah tepat pada waktunya. “Selamat pagi Pat!” sapa Abidzar sahabatku . Abi adalah sahabat masa kecilku dari semenjak kami berumur 10 tahun. Karena ibunya dan ibuku adalah teman dekat, jadi kami tumbuh bersama sangat dekat satu sama lain juga.
"Selamat pagi juga Tuan Kucing"
"Aduh! Patrick kasar sekali"
"Hei! Berhenti memanggilku seperti itu."
"Tapi kau benar-benar menyukai bintang laut bukan?"
"Lalu? Apanya yang salah dengan itu? Karakter kartun itu sangat lucu tau"
"Tidak, tidak ada salahnya...tapi kau menghabiskan sepanjang hari menonton Spongebob."
"Itu karena waktu itu kita masih anak-anak, ok!"
"Kau masih melakukan hal itu minggu lalu Pat"
"Oke anak-anak, kembali ke tempat duduk kalian masing-masing sekarang." Sebelum aku bisa menyelesaikan percakapan kekanak-kanakanku dengan sahabatku yang tidak kekanak-kanakan, guru kami memasuki ruangan.
Terkadang, aku hanya berpikir ada yang salah denganku, aku merasa bahwa aku tidak pandai dalam hal apa pun. Aku biasa saja, rata-rata dan tidak ada bakat sama sekali. Aku bahkan bukan gadis keren yang memiliki lingkar pinggang 26" atau 28", aku tidak istimewa .. aku hanya .... bukan siapa-siapa.
Aku juga perempuan, kau tahu. Tentu saja aku juga ingin memiliki kemampuan luar biasa tentang sesuatu, tetapi inilah hidup dan kita harus menerima diri kita apa adanya.
Aku sedang mematut diri di cermin kamar mandi terjauh, melamun ketika beberapa wanita masuk. Mereka adalah Sarah, salah satu cewek seksi di sekolah bersama teman-temannya. Sarah merupakan cewek saty satunya yang ditaksir Abi, dia menjadi berbeda setiap kali dia melihatnya atau jika kita berbicara tentang dia, dan aku iri padanya untuk itu.
"Hei! Cowok di luar itu terlihat lucu bukan?" Aku mendengar salah satu temannya berbicara, dan aku segera keluar ruangan untuk menemui Abi di luar.
"Hei ! Apakah kau ..... "
"Ya Abi aku melihatnya, kau ingat kalau kita memiliki kuis nanti bukan? Jadi berhentilah bermain-main dan fokus" Aku segera memotongnya untuk mengakhiri percakapan.
Dia selalu menungguku di luar toilet, itu menjadi rutinitas kami sehari-hari setiap kali dia tidak sibuk.
-Akhir Kelas-
Hariku berjalan dengan baik. Aku dan sahabatku tidak dapat dipisahkan (kecuali setiap kali aku menggunakan toilet tentunya) meskipun dia terkadang kasar, tidak peka, dan menyebalkan, itu tidak masalah karena aku tetap suka berada di dekatnya.
Aku suka dia, aku sangat suka sahabatku ini. Orang yang paling aku hargai, meskipun aku tidak yakin apakah ini termasuk perasaan romantis atau hanya cinta persaudaraan.
"Kau sangat suka pergi ke tempatku bukan?" Kami sedang dalam perjalanan ke rumahku sekarang, Abi selalu tidur di tempatku setiap malam jumat selama 2 tahun terakhir ini.
"Hah! Aku tidak pergi kerumah mu karena kau Patrick. Aku hanya pergi ke sana untuk kari ayam bibi Dennise"
"Coba katakan sekali lagi!! Kau tidak keberatan mati di trotoar ini sekarang kan?"
"Kau tahu? Terkadang kau membuat ku takut."
***
Aku melihat ke arah Abi dan mencermati salah satu kebodohannya yang cemerlang: dia sedang berbicara dengan seekor kucing.
"Apa? Kau tersesat? Di mana rumahmu? Apa kau punya rumah? Hah, kau tidak punya?"
"Kau benar-benar memiliki bakat imajinasi yang tinggi"
"Kau iri dengan bakatku kan Patrick"
"Baiklah kalau begitu, aku akan meninggalkanmu di sini, silahkan berbicara dengan kucing itu dan pulang sendirian, dan oh! Coba bicara dengan pohon juga"
" Hei tunggu!"
-Di Rumah-
"Aku pulang bu!"
"Aku juga bu!"
"Serius? Sejak kapan kau mengklaim ibuku jadi ibumu?"
"2 detik yang lalu,duh"
Apa dia baru saja memutar matanya ke arahku?! Di depan ibuku?
"Selamat datang sayang! Kau juga Abi!"
"Terima kasih bu" Katanya.Oh yang benar saja?!
Kemudian ibuku memeluknya dan si bodoh itu memeluknya kembali. Aku cemburu, ibu seperti bidadari setiap kali kita kedatangan tamu, tapi masalahnya yang datang ini Abi... Apa di bodoh ini bahkan termasuk tamu?
"What the fact man? Aku menyerah" Hanya itu yang bisa kuucapkan sambil mengangkat kedua tanganku seperti ada yang menyanderaku, menerima kekalahanku dan berjalan ke kamarku.
"Aku akan menyiapkan makan malam kita. Abi kau Pergi ke kamar tamu saja sana untuk ganti baju, aku juga mau ganti baju dulu"
Aku baru saja selesai berganti piyama dengan kaos putih bergambar spongebob ketika aku mendengar seseorang mengetuk pintu kamarku.
“Masuk!” Abi lalu masuk ke kamarku. Dia sudah berganti pakaian. Itu karena dia memiliki lemari pribadinya di ruang tamu kami dengan beberapa pakaiannya di dalamnya. Ia juga memakai piyama dengan kaos hitam polos.
Abi memiliki tubuh yang cukup bugar karena ia melakukan olahraga seperti sepak bola untuk bersenang-senang, ditambah matanya yang berwarna coklat hangat terlihat cukup menawan.
"Apakah aku boleh meminjam laptop mu Pat?"
"Ya tentu, aku mau pipis jadi bilang saja kalau kau butuh sesuatu, atau kau mau ikut ke kamar mandi denganku?" Aku mencoba menggodanya.
"Sialan kau, aku bukan homo Patrick."
"Maaf??"
------------
"Abi apa kamu melihat pons... " Aku menghentikan kalimatku setelah aku menyadari bahwa dia sudah pergi.
Mungkin ibu memanggilnya. Aku melihat laptopku dan melihat akun facebook Abi masih terbuka (dia lupa logout) dan di sana, aku melihat banyak sekali permintaan pertemanan dari para gadis.
Mereka mungkin ingin mencoba mendekatinya tapi dia hanya mengabaikan mereka. Abi juga cool, dan aku yakin dia bisa menjadi salah satu cowok populer di sekolah kita jika dia mau, tapi sayangnya, dia bukan tipe cowok seperti itu.
"Kau tahu itu namanya kebiasaan buruk kalau kau melihat barang pribadi orang lain bukan?"
Aku berbalik dan mendapati si bodoh itu sedang menyeringai kepadaku, "Kau tahu, tidak ada yang namanya barang pribadi diantara bestie."
"Sebelum aku lupa, makan malam kita sudah siap, dan ibu sudah menunggu kita."
Dia sungguh serius sudah mengklaim ibuku.