
Aku menatap langit-langit kamar. Jam dinding kamarku sudah menunjukkan dini hari. Namun, rasa kantuk tak kunjung menghampiri.
Yang ada, memoriku diterbangkan jauh melayang ke masa laluku dan Devan. Waktu aku kecilku. Masa menjadi sejarah sepanjang hidupku.
Masa itu, ketika aku berusia empat tahun.
Masih kuingat betul. Bagaimana sosok Devan yang begitu cuek dan tidak pernah menatapku, walaupun kita berada di satu area yang sama.
Dia selalu berada dan bermain di taman yang ada di kompleks rumah kami. Bermain dengan anak-anak sebaya lainnya.
Namun, aku tidak sendiri. Ada Derry yang membersamaiku. Karena Mama akan marah, jika salah satu dari kami bermain sendiri.
Menurut mama, lebih aman main dan perginya berdua. Nanti kalau ada sesuatu yang terjadi salah satu dari kalian bisa segera mengabari mama.
Alasan klasik, sebab menurutku mama juga menginginkan my time. Entah itu sekedar perawatan atau nonton drama kesukannnya tanpa kita ganggu.
Hahaa, tapi itu masa kecil kami. Masa yang selalu kami kenang hingga tua. Masa yang kelak akan kami ceritakan pada anak cucu. Masa yang tidak akan terulang kedua kalinya.
Saat di taman, tentu saja ada Devan yang notabene teman Derry. Aku pun mengikuti semua permainan yang dimainkan Derry. Tidak peduli itu permainan khusus anak laki-laki, aku selalu merengek untuk ikut.
Karena iba teman-teman Derry menyetujui. Karena aku satu-satunya perempuan, seringkali aku dapat dispensasi aturan. Betapa bahagianya aku jika mereka melakukannya.
Sedangkan bersama teman-teman perempuan aku tidak pernah dapat dispensasi peraturan permainan apapun.
Hehee, curang banget, kan. namun, aku suka diperlakukan istimewa. Seolah-olah aku putri raja.
Bisa jadi karena kebiasaan tersebut, aku sedikit tomboy waktu kecil. Namun, seiring waktu aku berubah jadi feminim.
Menyukai rok dan gaun pendek yang sedang trendy saat ini.
Hingga hari itu.
Saat itu, aku memilih duduk-duduk bersama beberapa teman perempuan dan laki-laki yang fokus mendengarkan cerita Tata.
Kebetulan kami kelelahan setelah berlari-larian mengelilingi taman. Sembari melepas lelah kami pun berkumpul dan mulai bercerita ngalir ngidul.
Hingga tercetus tema yang menegangkan. Namun, selalu membuat penasaran akan keberadaan dan kebenarannya menyebabkan ketakutan akut.
Apalagi bagi anak seusia kami. Sesuatu yang misterius itu patut dikepoin.
Sesekali diantara kami ada yang bergidik dan berkomentar, “Ngeri.”
Tema apalagi jika bukan tentang hantu. Kami saling melempar cerita tentang semua jenis hantu, mulai pocong, kuntilanak, genderuwo sampa kuyang.
Saat sedang fokus-fokusnya, Devan tiba-tiba menjajariku. Entah ia datang darimana karena sebelumnya ia asyik bermain tamiya bareng anak-anak cowok penggemar mobil-mobilan lainnya.
Aku yang tidak punya firasat apapun membiarkan, apalagi dia teman Derry. Aku pun sudah mengenalnya, walaupun tidak pernah bercakap-cakap dengannya.
Ternyata, kehadiran Devan adalah musibah.
Dengan teganya ia meraih tangan dan menggigit lenganku.
Tentu saja aku menjerit sekencang-kencangnya, efek kesakitan yang dihasilkan dari gigitan Devan.
Melihatku meraung-raung, gerombolan Tata bubar seketika. Gerombolan yang sedang membicarakan hantu itu, ketakutan sendiri. Khawatir dituduh melukaiku, sepertinya.
Aku tidak peduli teman-temanku bubar. Yang aku rasakan hanya rasa sakit di lenganku.
Derry datang setelah mendengar suara tangisanku.
Di hadapanku, Derry menatap tajam Devan. Seolah-olah dia meminta pertanggungjawaban. Namun, Devan malah berdiri dan meninggalkanku bersama Derry.
Namun, langkah Devan terhenti karena Derry membogem punggungnya sebelum jauh. Balasan atas perbuatannya yang menyakitiku.
Derry hanya membogem Devan sekali karena harus segera menolongku.
Ah, sungguh aku sangat berterima kasih kepada Tuhan karena memiliki Derry yang begitu menyayangiku. Aku pun pulang dengan dipapah Derry.
Sorenya, Devan dan mamanya ke rumahku. Tentu saja aku segera berlari sembunyi di balik tubuh mama yang menyambut kedatangan mereka.
Aku masih trauma dengan Devan yang tadi menyakitiku.
Kulihat Tante Dian – Mama Devan terus menatapku dengan tersenyum. Melihat keramahan Tante Dian aku ikut tersenyum. Ketakutanku runtuh seketika.
“Dea sayang!” panggil Tante Dian dengan lembut layaknya seorang ibu memanggil putrinya.
Nada yang sama seperti yang selalu mama pakai saat memanggilku.
“Dea, Devan mau minta maaf. Katanya tadi dia habis gigit Dea, ya?” aku mengangguk mengiyakan ucapan Tante Dian.
Kulihat Devan mengulurkan tangannya tanpa diminta siapapun. Aku dengan ragu menatapnya. Mencari kesungguhan dalam manik matanya.
“Maaf,” ucapnya lirih.
“De,” panggil mama lembut.
Panggilan seolah-olah kode agar aku segera menerima permintaan maaf Devan. Dengan ragu kuulurkan tanganku, “Iya, sama-sama.”
Kulihat Devan tersenyum padaku seakan ada rasa lega di matanya.
Sejak kejadian itu Devan tidak pernah jauh sedikit pun dariku. Pulang sekolah ia sudah di rumah. Sore ia juga kembali sampai Tante Dian menjemputnya.
setelah aku memasuki sekolah dasar, Devan terkadang menagajakku main ke rumahnya. Namun, aku sering menolak dengan alasan karena Devan tidak memiliki boneka.
Rupanya Devan menyampaikan penolakanku pada Tante Dian. Sehingga demi aku, Devan minta dibelikan boneka Barbie. Dengan harapan aku betah di rumahnya.
So sweet banget, kan. Mengingat kejadian tersebut membuatku semakin meleleh saat berada di dekatnya. Perlahan rasa sayang dan cinta tumbuh subur di hatiku.
Bahkan sampai sekarang boneka-bonekaku di rumah Devan masih tersimpan rapi di box mainan.
Mimpi yang membawaku terbang jauh ke langit dengan bidadari-bidadarinya.
***
Pagi-pagi aku sudah dibikin pusing dengan teriakan mama tentang sarapan.
Mama sejak tadi sudah memanggil namaku untuk segera turun dan sarapan.
Begitu turun, kulihat sudah ada Devan di ruang makan.
"Ngapain loe, pagi-pagi di sini!" ucapku seenaknya sambil duduk di samping Derry.
"Ya Allah, Dea sopan dikit napa?" seru Mama.
"Lah, memangnya ada apa? Ada yang salah, Ma?" tanyaku menatap Mama heran.
"Nih, anak. Devan udah baek hati mau jemput kamu. Eh, kamunya malah nanya seenaknya," ucap Mama.
"Tumben, rajin amat!" ujarku sambil menyendok nasi dari bakul.
"What! Somplak Lo, ya De!" ujar Derry memukul lenganku.
"Awh, sakit, Kakak!" sahutku marah.
"Kamu amnesia atau gimana?" tukas Derry.
"Lah, kalian kenapa sih!" ucapku meletakkan kembali sendok nasi ke tempatnya.
"Ingeet dodol! Semalam Devan udah ngelamar elo!" seru Dery.
"Astaga," sahutku baru inget semalam aku udah jadi calon bini cowok arogan yang sekarang sedang tersenyum menatapku.
Akunya malah santai, seakan tidak pernah terjadi apa-apa.
"Hai, calon suami!" sapaku melambai ke arah Devan, menyembunyikan rasa malu akibat melupakan lamarannya semalam.
"Somplak!" Derry kembali menoyor kepalaku.
"Kak, lama-lama aku bisa gegar otak deketan ama elo!" seruku sembari menggeser kursi sedikit jauh dari Derry.
Devan kulihat hanya tertawa lebar menyaksikan ulahku dan Derry, tidak ada rasa terganggu di wajahnya.
"Kalian berdua masih saja kayak anak kecil. Padahal yang satu udah mau nikah," pekik Mama mendekati kami.
"Kakak tuh, yang cari gara-gara," bantahku.
"Kalian sama saja," pungkas Mama sambil geleng kepala.
"Makanlah, kalau tidak ingin terlambat!" perintah Mama.
Serempak kami menatap ke jam dinding. Benar pukul tujuh lebih seper empat. Jika terus berdebat bisa kesiangan.
Tanpa perintah dua kali, kami fokus pada piring dan makanan masing-masing. Cukup lima menit, kami menyelesaikan makan.
Sarapan kilat ala pekerja, begitu selalu yang Mama ucapkan setiap kali kami menyelesaikan makan dalam sekejap.
"Bye, Ma! Assalamualaikum," salamku sambil mencium kedua pipi Mama yang ranum bak buah tomat.
"Waalaikumsalam. Van, bawa motornya hati-hati. Anak Mama belum kawin," ledek Mama melambai ke Devan. Membuat kikuk sejenak di samping calon suamiku.
"Siap, Ma!" Balas Devan sambil ngakak.
Entah apa yang ia pikirkan sampai tertawa segitu kencangnya. Lagian juga kenapa, nih cowok bawa motor.
"Yuk, De!" Devan menarik tanganku untuk segera naik di jok belakangnya
Untung kali ini aku pakai celana panjang, jadi tidak seribet kemarin.
Derry sudah berangkat lebih dulu, karena ada urusan yang harus ia kerjakan. Harusnya Derry mengerjakan bersamaku. Namun, karena Devan menjemputku Derry pun mengalah.
Kakakku itu rela mengerjakan sendiri sambil menungguku datang.
Itulah enaknya bekerja dengan keluarga. Tidak ada pemaksaan, Bullying dan kerja rodi, kami mengerjakannya bersama-sama.
Devan menarik tanganku agar memeluk pinggangnya, "Pegangan, De."
Aku dengan patuh memeluk pinggangnya lebih erat, bahkan kepalaku dengan nyamannya kusandarkan ke punggung Devan.
Namun, dengan kurang ajarnya Devan malah menambah kecepatan, menyalip kendaraan lain, melaju bak Valentino Rossi di area balap motor.
Sesekali kuhembuskan napas besar, agar nyaliku tetap sebesar dan sekuat tenaga Devan yang seenaknya membawaku melaju tanpa kira-kira.
"Sampai," ucap Devan menghentikan motornya di depan lobi.
Kutoleh kanan kiri. Masih sepi.
"Turun!" perintah Devan.
Hap!
Aku pun segera melompat berpijak ke tanah dengan leluasa.
***
Tap love dan komen, ya ... 😘😘😘
Lope you ...