
Kudengar suara adzan entah darimana. Namun, aku tetap membuka mata. Karena sudah kewajiban menunaikan ibadah pagi sesuai agamaku.
Kusibak selimut tebal yang menutup tubuhku. Tak kuhiraukan hawa dingin dari pendingin ruangan yang menembus kulit.
Aku hampir terpekik menyadari ada seorang pria di sampingku, Devan. Ya Allah, aku ingat kemarin lelaki ini resmi menjadi suamiku. Bahkan semalam dia sudah mulai mengatur hidupku.
Astaga, menjadi istri lelaki ini memang cita-citaku tapi diatur dengan aturannya mana pernah terpikirkan. Menjadi ibu rumah tangga, itulah keinginannya untukku. Membantahnya tidak mungkin karena sekarang aku istrinya. Devan berjanji akan bertanggungjawab penuh atas diriku.
Kutatap Devan yang masih memejamkan matanya dengan tampan. Semalam aku pun berjanji akan segera menyelesaikan tugasku dalam waktu tiga bulan sampai Dery mendapatkan sekretaris baru.
Bahkan ruangan yang kutempati bukan kamarku, melainkan hotel. Hawa dingin yang menyentuh kulitku berasal dari temperature pendingin ruangan. Seperti sengaja diturunkan suhunya oleh Devan. Kulirik remote pengontrolnya menunjuk di angka paling rendah.
Suara azan kembali terdengar, kulihat tangan Devan seakan menggapai sesuatu. Anehnya mata suamiku itu masih terpejam. Sumpah, aku hampir mengeraskan suara tawa. Namun kutahan mengingat masih subuh.
Aku mencoba bangkit dari kasur, tidak ada yang berubah. Aku tidak merasakan sakit atau ngilu seperti yang pernah diceritakan salah satu temanku di kantor sewaktu pertama kali disentuh suaminya di malam pertama.
Kutatap wajah Devan dalam-dalam, memindainya ke hati, jantung dan otakku. Agar aku tak lupa bahwa sekarang lelaki cuek ini milikku dan aku juga berhak atasnya. Kita memiliki hak dan kewajiban yang sama, meskipun dalam porsi berbeda.
Anehnya sejak semalam dia berubah menjadi super romantis dan perhatian. Lebih tepatnya setelah menikahiku. Sungguh benar-benar pribadi yang tak bisa kutebak. Namun, aku harus mulai belajar memahaminya mulai sekarang. Walaupun sebelumnya kami tetangga dan sahabat.
Tentu akan beda rasanya menjadi sahabat dan suami. Entah dulu rasa strawberry sekarang berubah jadi coklat atau sebaliknya. Jiah, ngomong apaan sih aku ini. Ngelantur.
“Kenapa De?” tiba-tiba suara Devan menyentakku.
“Enggak … gak pa-pa kok,” jawabku sedikit gugup padahal suamiku itu masih
memejamkan kedua matanya. Tak bisa melihat wajahku yang merona merah karena pertanyaan konyolnya.
“Aku belum menyentuhmu, tenang saja. Kamu bisa langsung wudhu dan salat!” ucapnya dengan suara parau khas orang bangun tidur.
“Kalau kamu mau, habis subuhan kita bisa memulai!” Kali ini Devan membuka matanya lebar.
Aku buru-buru berbalik dan turun dari ranjang. Namun sebuah tangan mencekalku.
“Aku serius, setelah subuhan kita sudah bisa mencicil miniatur diri kita.” Devan mengedipkan satu mata padaku.
Buru-buru kukibaskan tangan Devan, tanpa menanggapi ucapannya yang membuat jantungnya memompa cepat. Wajahku menyiratkan rona kemerah mudaan, untung saja lampu masih remang-remang. Paling tidak bisa menyamarkan wajah canggungku.
Saat sarapan, kami bertemu keluarga lain yang juga sedang menikmati sarapan di resto Hotel.
“Idih yang pengantin baru. Mesra amit,” goda Derry melihat Devan menggandengku.
“Yang sekarang udah jadi suami. Semalam dikekepin dong,” olok Derry menatapku.
“Idiiih, gak usah pake iri!” balas Devan.
“Kampret! Inget lo, status gue sekarang kakak elo! Jangan jadi adik ipar durhaka,” Derry masih tidak mau kalah dengan Devan.
“Gak ada urusan! Mending kita jauh-jauh deh dari virus bernama Derry ini!” Devan menarik tanganku menajuhi Derry.
Kulirik kakaku itu malah tersenyum melihat kami.
“Jangan lupa buatin aku keponakan yang ganteng dan cantik, ya!” masih kudengar pekikannya yang tentu saja mengundang perhatian pengunjung resto lain.
“Duh, kakak gak ada akhlak!” makiku dalam hati menahan malu.
Bahkan saat kupelototi, Kak Derry semakin melebarkan senyumya penuh kepuasan. Sedangkan Mama, Papa dan mertuaku kulihat juga ikut tersenyum menyaksikan ulah Kak Derry.
“Menyebalkan,” batinku.
“Bukannya membela anaknya malah menertawakan. Sungguh aku tidak rela.”
“Awas lo, Kak. Gue balas entar kalo elo nikah!” janjiku dalam hati.
*****
Selesai sarapan aku menata kembali pakaian ke dalam koper, setahuku siang ini harus check out.
Darahku terkesiap mendengar Devan memanggilku dengan sayang, panggilan terbaru untukku.
Rasanya aneh. Jantungku sampai berdegub mendengarnya.
"Mau siap-siap balik. Siang ini bukannya kita check out, ya? jawabku dan sekaligus pertanyaan meyakinkan diriku.
"Kata siapa?" jawab Devan.
"Lalu?" kepoku.
"Yang check out mereka, bukan kita," sanggah Devan.
"Maksud kamu, kita masih menginap di sini?" tanyaku ulang memastikan pendengaranku masih normal.
"Iya," jawab Devan mengangguk.
Kuhembuskan napas dalam-dalam sembari mengembalikan pakaian ke dalam wardrobe hotel.
"Kita di sini sampai lusa," kata Devan.
"Hitung-hitung honeymoon," lanjutnya.
"Oh, ya nanti ada petugas WO yang mau ambil gaun pengantin kemarin," sambung Devan membuatku mengangguk.
Toh, gaun itu sejak semalam sudah tergantung rapi di wardrobe. Aku saja yang tidak tahu harus dikemanakan gaun semahal itu.
"Aku masih capek," ucap Devan merebahkan tubuhnya ke kasur. Tak lama kemudian matanya sudah terpejam.
Entah terpejam sungguhan atau hanya sekedar berbaring.
Sebetulnya, aku juga lelah. Sisa-sisa kelelahan kemarin masih terasa. Mataku juga sama beratnya dengan Devan, ingin melanjutkan tidur yang tertunda karena matahari sudah terbit
Malulah sama malaikat, masa pengantin baru malah molor.
Harusnya pengantin baru malah semangat karena sudah ada pendamping yang menemani beribadah.
Kulirik jam di ponselku. Pukul sepuluh pagi. Tapi rasanya masih seperti pukul delapan.
Seumur hidup, baru kali ini aku merasakan tidak terbebani oleh pekerjaan. Rasanya lega dan ringan.
Auto teringat permintaan Devan semalam. Ia memintaku segera resign dari perusahaan. Berat.
Permintaan itu membuatku kepalaku sedikit pusing. Semalam aku hampir saja tidak bisa tidur, memikirkan langkah apa yang harus aku lakukan jika benar-benar reseign.
Aku bahkan sudah memikirkan persiapan yang harus aku lakukan untuk Derry, agar penggantimu kelak bisa mengimbangi cara kerjanya yang super perfect.
Sekali lagi kuhembuskan napas dalam-dalam agar tenang dan tidak terburu-buru. Segera kuraih ponsel yang tergeletak di meja.
Kucari aplikasi yang biasa aku gunakan untuk mencatat. Semalam aku hanya berangan-angan belum sempat mencatatnya.
Aku mulai mengetik satu per satu huruf menyusunnya menjadi kata dan kalimat untuk memudahkanku saat mengatakannya pada Derry.
"Dea sayang, jangan terlalu dipikirkan. Kita hadapi bersama. Kamu ikuti saja alurnya seperti air yang mengalir," kata Devan yang tiba-tiba sudah bangkit dari rebahannya.
"Permintaanku bukan untuk memberatkanmu, tetapi untuk meringankan mu. Jadi, jangan sampai membuatmu berpikir terlalu jauh," ucap Devan menatapku.
"Derry juga memiliki banyak staff di kantornya. Dia masih bisa mengandalkan staff lain untuk keperluan itu," lanjut Devan seakan tahu apa yang aku pikirkan.
"Sini! Kita lanjutkan istirahat," Devan menepuk kasur sebelahnya yang kosong,"
****
Bersambung.
Tinggalkan jejak kalian ya gaess.