
“Hai cowok..!" sapaku dengan percaya diri pada seorang lelaki tampan yang duduk sendiri di sebuah cafe.
Aku bisa memastikan lelaki itu sedang menungguku dengan banyak alasan walaupun kadang tidak jelas.
Seperti kali ini ia hanya memintaku datang karena ingin ngopi di cafe butik dekat kantor. Anehnya aku langsung menyetujui tanpa berpikir dua kali.
Apa ada yang spesial dari cowok tampan ini? Iya, dia makhluk paling spesial di muka bumi ini selain Derry dan kedua orang tuaku.
Kok, bisa?
Bisalah. Karena makhluk bernama Devan inilah yang selalu berada di sampingku saat susah maupun suka.
Agung Devandra, sahabat sekaligus tetanggaku. Bahkan kantor kami pun satu gedung.
Bersahabat dengannya sejak kecil membuatku percaya apapun yang ia katakan. Bahkan memerintahku untuk patuh pada semua permintaannya.
Tanpa permisi aku langsung duduk dihadapannya. Menatap wajah kakunya yang datar.
Wajah yang akan membuat sebagian orang merasa ngeri atau grogi saat berhadapan dengannya. Namun tidak denganku. Aku malah merasa wajah cowok itu menggemaskan.
"Muka lo jelek kalo diem gitu," gerutuku kesal karena lelaki itu masih mendiamkanku, meskipun aku sudah duduk dan tersenyum manis.
"Sama muka elo juga jelek kalo menggerutu terus." Akhirnya lelaki itu bersuara.
Seketika tawaku pecah tanpa ada komentar apapun.
Seorang waitress keluar membawakan secangkir vanilla latte dan mocchacinon panas menghentikan tawaku.
"Makasii yaa," seruku kepada Mbak Waitressnya sembari membau vanilla latte favoritku.
"Ini luar bisa, Dev!" ucapku masih belum melepas indra pembauku dari cangkir vanilla latteku dengan suara heboh.
Namun, pria di depanku ini hanya menggeleng dengan muka datarnya melihat ekspresiku.
Menyebalkan. Seakan tak ada yang menarik dariku. Padahal tadi dia yang memintaku datang.
"Biasa aja kalee, De!" serunya masih dengan ekspresi dan intonasi datar.
Aku hanya menoleh sekilas tak mempedulikannya.
Ku letakkan vanilla latteku.
"Dev, mau gue ceritain sesuatu?" ucapku dengan riang.
Aku tahu walaupun Devan terlihat datar tanpa ekspresi ia cowok terbaik yang kukenal. Belum pernah ada tingkah laku atau perbuatannya yang menjurus ke arah yang tidak baik. Sebut saja pelecehan dan semacamnya.
Devan selalu menjagaku dengan baik, bahkan terlalu. Ia selalu berada di garis terdepan saat ada temannya yang menggodaku.
"Mau cerita apa?" tanya balik Devan membuyarkan lamunanku.
"Cerita nabi-nabi?" Sambungnya dengan nada meledek khasnya. Aku hanya tertawa tak mempedulikan ledekannya.
"Bukan. Dengerin dulu!" bantahku bersungut sebal.
"Hmm..." Hanya itu reaksi yang ku dengar dari Devan.
Tanpa mempedulikan jawaban Devan, aku mulai bersuara.
"Kamu tau gak dulu ada gadis cilik berambut ikal yang cantik dan imut. Waktu itu dia asyik bermain dengan teman-teman sebayanya. Tiba-tiba muncul seorang anak laki-laki mendatangi gadis cilik tadi. Entah setan apa yang merasuki anak laki-laki yang juga dikenal gadis itu tiba-tiba ia menggigit lengannya. Tentu saja anak perempuan itu menangis sejadi-jadinya...."
"Gak lucu!" potong Devan menyadari penggalan ceritaku.
Aku tergelak sendiri karena Devan yang memotong ceritaku. Lebih tepatnya kisah masa kecil kita berdua. Seketika senyum Devan mengembang walaupun tidak selebar senyumku.
Sebagai tetangga kami dikenal sangat dekat. Dia kakak kelasku mulai TK sampai SMA.
Tugas utamanya sejak dulu adalah mengantar dan menjemputku.
Kecuali waktu jadi Mahasiswa kami beda kampus. Namun, tetap saja ia tak pernah absen mengantar jemputku.
Hehehe, serasa punya bodyguard gratisan. Senang pakai buanget, tetapi yang menyedihkan saat para cowok mendekatiku langsung lari terbirit-birit hanya mendengar suara Devan yang bertanya, siapa kamu? Mau ngapain sama Dea?
Reaksiku kala itu hanya tertawa ngakak. Senang aja melihat wajah minder mereka yang kupastikan kalah ganteng dengan Devan.
Devan satu-satunya lelaki yang paling tahu apa kesukaan dan kesirikanku pada sesuatu. Selain, kelebihan tampannya yang diatas rata-rata, sesuailah dengan sikap arogan dan dinginnya.
"Bukan cita-citaku," jawabku polos.
"Terus cita-citamu, apaan?" sahutnya datar. Namun, penuh penasaran karena selama ini kita berdua tidak pernah membahas tentang cita-cita.
"Menjadi istri kamu," jawabku nyeplos dengan entengnya seakan tanpa dosa.
Namun, saat menyadari kesalahan aku segera menutup mulutku dengan kedua telapak tangan.
"Oh ya?" komentarnya tanpa intonasi, suaranya pun terdengar datar-datar saja.
"Gue balik kantor dulu!" pamit Devan seketika.
Tak ada reaksi kaget atau apapun dari lelaki di depanku ini. Menyebalkan sekali. Padahal aku sudah dag dig dug mengatakannya.
"Bareng ...!" rengekku karena kebetulan kantor kami satu gedung.
"Elo tadi ke sini sendiri, kan?" Devan malah balik tanya.
Aku mengangguk.
"Jadi baliklah sendiri!" Lanjutnya seraya berbalik meninggalkanku.
"Oh ya, kalo elo mau jadi istri gue datang nanti malam ke rumah," ucapnya lagi berbalik menatapku setelah berjalan dua langkah.
"What?" batinku tidak percaya mendengar ucapan Devan yang aneh.
Aku menatap tubuh Devan yang bergeser menjauh kursi.
Aku berusaha mengkondisikan mulutku yang menganga lebar karena ucapannya.
"Apaan coba maksudnya?" gerutuku lirih, tentu saja setelah Devan meninggalkan meja beberapa langkah.
"Dasar cowok aneh dan gak jelas," gumamku masih dalam mode menggerutu.
"Apa salahku coba?" aku masih berada dalam mode mengomel.
"Salahku juga pake acara keceplosan. Harusnya aku gak perlu menyatakan perasaanku. Kalo endingnya kayak gini," gerutuku.
Aku terdiam merenungi kesalahan yang aku lakukan pada Devan karena tidak biasanya ia meninggalkanku sendiri di suatu tempat.
Entah apa yang ada di otaknya hari ini, hingga dengan teganya meninggalkanku sendiri di cafe butik.
Cafe yang baru buka beberapa minggu lalu. Devan yang pecinta kopi sengaja mengajakku karena penasaran dengan cita rasa kopinya.
Menurut cerita Devan, kopi di cafe ini memiliki rasa yang istimewa.
Sepeninggal Devan aku menoleh ke kanan dan kiri mencari sesuatu yang membuatku terkesan. Namun, tidak ada sesuatu pun yang menarik.
Kuraih ponsel yang tersimpan di dalam tas. Kubuka sebuah aplikasi dan mencoba memainkan sebuah game.
Aku kembali mengakhiri game terkenal yang ada di ponsel karena sudah sangat membosankan.
Aku masih berharap Devan kembali menjemputku untuk kembali ke kantor, walaupun tadi aku menemuinya sendiri.
Bukan salahku, tapi ini juga permintaan Tuan Devan terhormat yang membuatku stress hari ini.
Dimana-mana, tuh cewek yang baper. Lah, ini malah kebalik dia yang baper.
Aduh, sudah kayak cewek yang lagi PMS saja. Pakai acara ngambek.
Aku kembali mengedarkan pandangan mencari sesuatu yang menarik untuk dilakukan.
Jiwa-jiwa isengku seolah mulai memberontak.
****
To be continue
Komen dong biar bisa aku lanjutin ceritanya sampai end.
Tap like lalu