My Bestie My Husband

My Bestie My Husband
Sekarang Giliranku



"Sekarang giliranku,” bisiknya masih dengan napas yang semakin membuatku sesak. Karena sesi saling menghimpit kami yang terlalu dekat.


Tanpa permisi aku melepaskan pelukan dan duduk di samping Devan dengan kecanggunganku sendiri. Karena Devan terlihat sangat santai.


“De!” panggilnya dengan menggenggam tanganku. Aku hanya menoleh tanpa bersuara.


“Apa kamu keberatan jika kita sementara tinggal di apartemen?” tanyanya dengan hati-hati.


“Insya Allah, enggak.” jawabku.


"Astaga, aku kira mau ngomong apaan. Ternyata ...," gumamku dalam hati yang sudah parno duluan.


“Syukurlah, terima kasih honey.” Tanpa kuduga Devan mengecup punggung tanganku dengan lembut.


Ada senyum tercetak jelas di bibirnya.


Lagi-lagi aku hanya membisu dalam kebekuan dengan perlakuan Devan yang membuat wanita manapun melting.


Sisi lain Devan yang tak pernah aku temukan selama kita bersahabat.


Sosok dengan ekpresi datar dan super cuek yang tiba-tiba berubah menjadi pria paling romantis setelah berstatus suamiku.


“Dan untuk pekerjaan, aku berharap kamu bisa melayaniku seutuhnya tanpa ada pihak lain yang menganggu termasuk Dery!”


“Maksud elo? Gue elo suruh resign?” potongku cepat karena kaget.


Karena sebelumnya Devan tidak pernah menyinggung kerjaanku. Apalagi kantor tempatku bekerja milik papa. Atasanku juga Dery, kakak kandungku. Tidak mungkin aku berbuat aneh-aneh.


“Maaf honey, aku tidak ingin menyinggungmu. Tapi kamu sekarang tanggung jawabku. Sejak Papa kamu dan aku saling berjabat tangan lalu saling membalas ijab kabul. Sejak itu juga semua tanggung jawabnya beralih ke tanganku. Tak terkecuali,” ucapnya serius.


Baru kali ini juga aku menyaksikan wajah serius dari suamiku ini.


Perasanku, hatiku dan otakku rasanya saat ini sangat sulit untuk dijelaskan. Bahkan sebelum aku lulus kuliah aku sudah membantu Dery, Devanpun tahu itu. Namun, kenapa dengan mudahnya ia memintaku mengundurkan diri.


Begitu maksud yang aku tangkap dari ucapannya. Namun untuk kebenarannya aku masih harus menginterogasinya.


“Honey, aku memimpikan saat pulang kerja dan saat lelah ada seseorang yang special menungguku dengan senyum cantiknya.” aku menyimak semua penjelasan Devan tanpa membantah.


Inilah salah satu kekuranganku, tidak pernah bisa membantah Devan.


Menohok. Sampai berkali-kali menelan salivaku sendiri, mermbayangkan bagaimana menjadi seorang ibu rumah tangga. Sesuatu yang tidak pernah terlintas dalam otakku.


Sebulan ini kami terlalu sibuk dengan persiapan pernikahan sehingga belum terlintas pembicaraan mengenai bagaimana kehidupan kami setelah menikah.


Kuberanikan diri menatap wajah Devan, padahal sebelum ini aku sering melakukannya dengan senang hati bahkan menggodanya tanpa risih.


Namun, sekarang semuanya berubah begitu saja. Aku menjadi gadis tanpa ekspresi sedangkan Devan menjadi pemuda bar bar yang cerewetnya minta ampun.


Aku seperti tidak mengenalinya, seakan Devan yang ada di sebelahku ini adalah sosok lain dengan wajah mirip suamiku.


"Maksud elo, gue elo suruh jadi ibu rumah tangga aja. Gak usah kerja?" tanyaku.


“Lalu gue harus sendirian gitu di rumah?” lanjutku gemetar karena bagaimanapun hawa dingin bercampur romantis dan terkejut berbaur jadi satu ditambah aura menakutkan dari Devan dengan semua permintaannya.


“Aku akan membuatkanmu mainan yang lucu, agar kamu tidak kesepian,” bisiknya dengan lembut, di selipkannya rambutku yang menghalangi pandangannya ke belakang telinga.


“Dan satu lagi, stop pake sebutan elo gue!”


Aku kembali dibuatnya tidak mengerti.


Membuatkanku mainan? Apa dikira aku anak kecil apa? Otakku berpikir keras mencari makna kalimat yang diucapka Devan. Sedangkan untuk kalimat yang kedua aku bisa menerimanya dengan jelas.


“Van …!” panggilku menatap lurus wajahnya.


“Aku bukan anak kecil.” Kuganti pangggilan menjadi aku dan kamu, seperti permintaannya.


“Untuk apa aku kamu buatkan mainan?” sambungku tanpa berkedip.


Kulihat Devan tertawa lebar, entah menertawakanku atau kebodohanku.


“Terima kasih Tuhan karena istriku ini benar-benar polos meskipun bar-barnya gak ketulungan,” ucap Devan tanpa emosi malah tersenyum dan mengecup pipiku berkali-kali.


“kita bikin miniature Devan dan Dea sebanyak-banyaknya,” ucapnya dengan mengelus rambutku.


“What? Jadi ,maksudnya mainan itu anak. Kok aku gak ngeh sama sekali ya. Oh may god. Ya Allah, kenapa aku jadi kudet gini. Ternyata jadi istrinya Devan malah bikin aku lemot,” ucapku dalam hati.


“Gimana kamu gak keberatan, kan?” Devan mengecup keningku.


“Aku keberatan,” bantahku untuk pertama kalinya.


“Enak saja nyuruh aku hamil terusan, emang dia kira enak apa hamil,” gerutuku dalam hati padahal punya anak saja belum. Sungguh aku ingin tertawa lebar saat ini.


“Tugasku bukan untuk produksi anak,” ucapku tegas setelah mengumpulkan keberanian dari banyak unsur.


Devan menatapku dengan senyumnya yang meneduhkanku.


“Lalu kamu sanggup sampai berapa?” tawarnya.


Jujur saja aku paling tidak suka tawar menawar begini, dikira aku penjual apa? Sampai ditawar begitu.


Untuk pertama kalinya kupalingkan wajahku dengan sebal dari Devan.


“De .., apa kamu marah?” Devan membawa wajahku untuk menatapnya kembali dengan kedua tangannya.


“De, maaf!” bisiknya.


Tapi aku masih mendiamkannya.


“De …, okay aku gak akan maksa soal anak. Berapapun yang Tuhan anugerahkan pada kita aku terima. Laki-laki atau perempuan sama saja,”


“Benarkah?” aku langsung menatapnya dengan senyum terpesona karena ucapan Devan barusan.


“Serius?” ucap Devan.


“Tapi ….” Devan menjeda kalimatnya, lelaki itu menatapku dengan lekat.


“Tapi kenapa?” penasaranku.


“Cepat selesaikan pekerjaanmu di kantor. Aku beri waktu tiga bulan!”


"Dan terima kasih untuk mengubah kata elo gue karena aku yakin pasti sangat susah buat kamu," bisik Devan dengan suara terdengar lebih menggoda.


"O Mai gad, otakku kemana? Apa aku masih waras dengan semua yang aku rasakan?" batinku seraya menggenggam erat jariku.


"Sekarang aku ke kamar mandi dulu, gerah. Mau ganti baju. Ngantuk." Devan menatapku dengan senyumnya.


"Ais." Segera kualihkan pandanganku ke arah lain agar Devan segera melakukan hajatnya ke kamar mandi.


Selang sepuluh menit, Devan keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang dibelik dari pusar sampai lutut.


Aku yang tidak sengaja menatap, seperti terhipnotis bentuknya yang berkotak-kotak.


"Kenapa otakku jadi Travelling gini, suara Devan. Body Devan," gumamku dalam hati memperhatikan gerak geriknya mengeluarkan baju ganti dari koper.


Saat beranjak remaja, baik aku maupun Devan diajarkan untuk saling menjaga bagian tubuh pribadi kami.


Kami sudah tidak lagi saling mengekspos bagian tubuh sembarang karena larangan orang tua masing-masing.


Bukan karena apa-apa hanya untuk menjaga diri, begitu kata mereka waktu itu. Lagi, menurut mereka masa remaja itu masa paling ingin tahu dan mencoba segala hal.


Jadi, meskipun bersahabat kami dilarang melakukan kebiasaan waktu kecil dulu, misalnya buka baju sembarangan, tidur seranjang bahkan kamar mandiku tidak diizinkan lagi digunakan Devan begitupun sebaliknya.


Jadi, setelah remaja jika Devan ke kamar mandi , ia memilih ke kamar Derry atau kamar mandi belakang.


Begitupun aku. Jika terpaksa harus ke kamar mandi aku memilih ke kamar mani lain di rumah Devan.


Sehingga aku tidak banyak tahu perubahan bentuk tubuh milik Devan, yang ternyata membuat mataku terpesona.


***