
Sore yang indah. Ditemani cahaya langit yang mereka jingga kemerah-merahan. Lebih tepatnya seminggu kemudian.
Pulang kerja, Devan menyerahkan proposal yang akan ia presentasikan besok padaku.
Tanpa ragu aku menerimanya dengan suka cita. Tidak perlu menunggu lama aku membaca dan mempelajarinya.
Tidak sulit bagiku memahami setiap kalimat yang tertulis di sana karena bukan suatu pekerjaan baru bagiku.
Tanpa persetujuan si empunya, aku langsung menduplikat file yang ada di flasdisk
Devan.
Dengan keahlianku, kuubah semua isinya.
Kami lebih tepatmya, aku dan Devan menyepakati membuat second plain dari semua proyek proposal yang telah dipersiapkan tim Devan.
Tujuan kami adalah sebagai opsion kedua jika proposal dari tim Devan bocor seperti
yang telah terjadi sebelum-sebelumnya.
Selain memberi efek jera, kami juga ingin menangkap dalang di balik kebocoran rahasia
perusahaan.
Belum lagi adanya tawaran kecurangan dari banyak pihak terkait isu kebangkrutan
perusahaan Devan. Tentu saja, aku sebagai istri tak ingin usaha suamiku
bangkrut begitu saja. Apalagi aku juga mumpuni dibidang yang digeluti Devan.
Beruntung,suamiku ini bersedia menerima bantuan istrinya yang baik hati dan cerewet ini. Setelah
aku save. Kupresentasikan hasil kerja keras otakku di hadapan Devan. Kulihat
Devan tersenyum puas mendengar presentasiku.
“De, hebat. Aku beruntung memiliki istri seperti kamu,” Devan menghadiahkan sebuah
ciuman kecil di pucuk kepalaku.
“Aku juga beruntung memiliki suami sebaik kamu,” balasku dengan ciuman pula.
Kami saling berhigh five setelah merampungkan proposal milik suamiku. Tinggal
menunggu hasilnya besok. Tentunya dengan ikhtiar doa kepada Allah.
***
Dua hari sebelumnya, atas izin Devan aku berkunjung ke rumah orang tuaku dan orang
tua Devan.
Pagi-pagi sebelum berangkat ke kantor, Devan mengantarku.
“De, ntar di sana jangan bikin repot Mama Lala dan Mama Dian,” ingat Devan kepada
dengan menyeburt nama mama-mama kami.
Aku menoleh dan tersenyum padanya.
“Enggak kok gak akan merepotkan, paling-paling Cuma bikin rusuh Mama aja,” jawabku
dengan meledek. Devan paham sekali bagaimana mamaku dan mamanya begitu
memanjakanku. Bahkan semua yang aku minta akan datang dalam sekejap tanpa repot.
“Kamu inget kan, kita baru merasakan bagaimana ngedate setelah kamu resmi menjadi
calon istriku. Itupun hanya dua kali.” Devan menjeda kalimatnya.
Pria itu mengangkat daguku lembut.
“Kata Tuhan, puas-puasin dulu ngerasin pacaran. Karena kalau kalian memiliki anak,
pasti sudah repot dengan anak-anak. Be positif thingking, De. Kita khusnudzon
aja dengan Allah,” Kembali suara Devan bisa menenangkanku.
Akupun membalas senyumnya yang sedari tadi menemani bibirnya bersuara.
“I love you,” ucapku
“Love you too,” jawab Devan.
Devan kembali mengemudikan mobilnya ke tujuan semula. Rumah kedua orang tua kami.
***
“Mau kemana dulu?” Tanya Devan begitu kendaraannya masuk komplek rumah Mama.
“Lihat dulu pintu rumah siapa yang tertutup?” jawabku.
Aku hanya terkekeh mendengar pertanyaan Devan.
“Udah kesepakatan aku dan mama,” jawabku. Karena memang hanya aku dan para mama yang
tahu jawabannya.
Saat di depan rumah Mama Dian, tampak pintu depan terbuka. Akhirnya aku menatap rumah
mamaku, pintunya tertutup. Aku pun meminta devan masuk ke rumah Mamaku, karena pagarnya sudah terbuka.
Devan menyempatkan menyapa mamaku sebentar sebelum berangkat.
***
Setelah Devan berangkat aku dan mama duduk di ruang tengah.
“Ma …! “ panggilku sambil bergelayut manja di lengan Mama.
“Idih, udah punya suami juga masih manja gini sama Mama,” ledek Mama.
“Biarin, mumpung masih bisa manja-manja. Ntar kalo udah punya beby mana bisa,” sanggahku.
Mama hanya tersenyum mengacak rambutku.
“Ma…” panggilku dengan suara mode memelas.
“Hmm… kenapa nih anak Mama? Kok merajuk gini?”
“Ma, aku minta doanya. Semoga semua usaha Devan dan usahaku bisa berjalan lancar,”
Kemudian dari bibirku meluncurlah cerita dibalik perusahaan Devan.
Mama mengecup keningku, “Mama selalu mendoakan kalian. Kamu, Derry dan Devan.”
“Mama doakan semua yang kalian harapkan tercapai. Pelakunya tertangkap. Misi kalian membwa berkah,”
“Kalau berhasil, jangan lupa sedekah!” ingat Mama.
“Karena di dalam rizky kalian terselip rizky para fakir miskin,” lanjut Mama.
Setelah berbincang dengan Mama aku pamit, berkunjung ke rumah orang tua Devan. Kebetulan
di rumah hanya ada Mama sendiri, sedangkan Papa sedang ke kantor cabang.
Sebelum berangkat tadi aku menyempatkan mampir ke toko kue langgananku.
Kubeli sekardus brownies coklat untuk mamaku dan sekardus bolu keju kesukaan Mama
Devan.
Setelah cipika cipiki aku menyerahkan kresek dari toko roti yang kubawa.
“Wah, bolu kesukaan Mama ya?” sorak Mama kegirangan. Aku hanya mengangguk.
Tanpa izinpun wanita setengah baya itu langung mencomot kue pemberianku.
Rasanya bersyukur sekali, mama menyukai oleh-olehku. Walaupun bukan barang yang mewah.
Paling tidak ia menghargai menantunya.
“Ma…” panggilku setelah Mama terlihat santai.
Kurebahkan kepala ke pahanya, layaknya seorang anak kecil yang merajuk.
“Ma…“ panggilku ulang. Mama mengelus kepalaku.
“Ma … bantuin doa untukku dan Devan.” Ucapku memelas.
“Kalian kenapa?”
“Kami tidak apa-apa, Ma. Tapi….”
“Tapi kenapa?”
“Perusahaan Devan, Ma.”
Kembali bibir mungilku bercerita. Mama hanya melenguh membuang napas kasar.
“Maafin anak mama ya, De.” Wajah mama terlihat muram.
“Devan gak salah kok, Ma.”
Mama Dian memelukku.
“Doa mama selalu menyertai kalian. “
***