
Devan menatap calon istrinya dalam-dalam. Ada setumpuk penyesalan karena sudah membuat Dea merindukannya.
Mungkin ia tidak akan pernah tahu apa yang Dea rasakan, jika Derry tidak menelpon dan menyuruhnya datang ke rumah calon istrinya.
Rumah mereka memang bertetangga. Namun, karena kesibukan mempersiapkan pesta pernikahan, membuat Devan melupakan gadisnya.
Devan lupa tidak memberi kabar apapun pada Dea. Ia merasa bahwa Dea sudah cukup mengerti dan paham kesibukannya. Namun, memahami seorang wanita tidak sesimpel yang ia pikirkan.
Wanita menginginkan bentuk perhatian dalam berbagai mode. Tidak salah jika ada yang mengatakan wanita adalah makhluk paling ribet di dunia.
Wanita adalah makhluk membingungkan untuk pria. Terkadang saat pria terlalu jujur, salah. Berdua tambah salah.
Yang dibutuhkan makhluk indah ciptaan Tuhan tersebut hanya kepekaan dari pasangannya.
Wanita menginginkan pasangannya peka terhadap semua keinginannya. Namun, mereka seakan lupa pria itu manusia bukan malaikat apalagi paranormal yang langsung bisa tahu keinginan seseorang tanpa harus diucapkan.
Padahal dengan meminta secara baik-baik, seorang pria yang bertanggung jawab akan meluluskan permintaan wanitanya.
Karena itu tidak sedikit pasangan yang salah paham sampai memutuskan berpisah dalam sebuah hubungan karena kurang peka pasangannya.
Bukan hanya pria yang harus peka terhadap pasangannya. Sebaliknya, wanita pun harus timbal balik.
Saat pasangannya sudah memberikan yang terbaik maka responlah dengan pelayanan setimpal.
"De, mau pesan apa?"tanya Devan dengan lembut membujuk Dea agar tersenyum.
Baru kali ini Devan melihat Dea manyun, membuatnya sedikit canggung.
Sungguh ia belum pernah berlaku selembut ini pada Dea. Biasanya ia selalu berlaku semena-mena dan seenaknya pada Dea.
Bukan karena untuk memperlihatkan sisi arogannya pada Dea, tetapi ia merasa lucu saja saat sahabatnya merasa kesal karena ulahnya.
Sejak kecil, ia merasa Dea harus patuh dan menurut padanya. Ia bermodal fix, no debat. Namun, hari ini ia harus menyingkarkan jauh-jauh semboyan abadinya itu.
Mau tak mau, suka tak suka, ia harus mulai memahami Dea secara utuh. Menerima kekurangan dan kelebihannya. Tanpa harus membuatnya lemah.
Bagaimanapun, Devan ingin jadi suami yang mengerti kemauan istri tanpa harus menjadi sosok yang takut istri.
(Wkwkkk, gak jelas nih, cowok)
"Brown sugar milk, aja,"jawab Dea sambil membaca buku menu di tangannya.
"Mau makan apa?"lanjut Devan.
"Nasi goreng, aja,"kata Dea.
"Oke, brown sugar milk dua. Nasi goreng telor satu, nasi goreng sosis satu, ya mbak,"pinta Devan kepada seorang waitress.
"Baik, kak. Saya ulang kembali pesanannya. Brown sugar milknya dua. Nasi goreng telor satu dan nasi goreng sosis satu. Ada tambahan lain?"tanya waitress tersebut sebelum meninggalkan meja Devan dan Dea.
"Cukup itu dulu, ya. Nanti kalo ada tambahan saya panggil,"kata Devan.
"Baik, silahkan ditunggu pesanannya,"balas Mbak waitressnya sambil pamit.
"De, lihat!"Devan menunjukkan galeri fotonya kepada Dea.
Seketika pandangan Dea tertuju pada ponsel Devan.
Di galeri tersebut, ada berbagai macam dekorasi, gaun pengantin dan souvenir.
"Kamu suka yang mana?"tanya Devan.
Dea mengamati kembali gambar yang Devan tunjukkan.
"Elo kenapa, sih capek sendiri?"tanya Dea tetap fokus ke ponsel Devan.
"Aku takut ganggu kamu. Jadi, aku temuin sendiri WO-nya,"jawab Devan.
"Van, ini pernikahan kita berdua. Bukan elo saja. Gue juga berhak tahu dong sampai dimana persiapannya,"tutur Dea ketus.
Ia seolah-olah sedang mengungkapkan kemarahan isi hatinya. Padahal itu benar. Seper empat kekesalannya sudah tersampaikan pada Devan saat ini.
Devan terdiam mendengar keluh kesah Dea. Yang disampaikan Dea tidak salah. Devan saja yang berusaha membuat Dea tidak capek.
Beranggapan bahwa cukup dia yang ribet, biarkan Dea cukup menikmati hasilnya.
Namun, yang terjadi sebaliknya. Dea malah merasa tidak dihargai sebagai calon istri.
"De, maafin aku,"ucap Devan masih dalam mode menyesal.
"Aku gak bakal ngulangin lagi. Setelah ini kita diskusikan bersama apapun persiapan pernikahan kita,"sambung Devan.
Dea menatap tajam, mencari kebenaran dari ucapan Devan.
Tulus. Dea tidak melihat ada kebohongan dibaliknya.
"Van,"seru Dea.
"Bener ya, tidak diulangi. Aku juga ingin dilibatkan,"gumam Dea lirih.
"Oke,"jawab Devan merasa bersalah.
"Besok kita tanyakan proses terakhir progress persiapan acara kita,"ungkap Devan menunjukkan keseriusannya mengurangi rasa berdosanya.
"Baiklah,"sahut Dea antusias.
Devan tersenyum lebar menyaksikan Dea kembali ke mode ceria.
"Bukan sekarang, tapi sampai nanti kelak setelah kita sah sebagai suami istri,"kata Dea mengingatkan Devan.
Dea tidak ingin kesalahan yang terulang saat mereka sudah berstatus suami istri.
"Aku akan mengingatnya,"janji Devan.
"Terima kasih,"sahut Dea.
Bersamaan pesanan makanan mereka datang. Auto rasa lapar kembali menyerang. Padahal Dea tadi sudah makan malam.
Namun, food plaating nasi goreng cafe tersebut membuat perutnya kembali meronta.
Fix lapar, no debat.
Bagi Devan, senyum dan kebahagian Dea adalah fix miliknya, no debat.
Bukan hanya makanan, tetapi apapun yang akan membuat Dea tersenyum dan bahagia akan Devan lakukan.
***
Devan masuk rumah sambil bersenandung dan tersenyum bahagia.
Aura kebahagiaan terus menyelimuti hatinya yang dimabuk cinta.
Bagaimana tidak bahagia, gadis yang ia idam-idamkan sebentar lagi akan menjadi pendamping hidupnya.
Devan tidak mengira mimpinya akan menjadi nyata. Ia terus berdoa kepada Ilahi agar pernikahan mereka diberkati dan diberi anugerah kelanggengan, sakinah, mawaddah, warohma.
Dulu, Devan merasa memiliki Dea adalah mustahil. Cewek itu begitu susah ditebak maunya.
Karena itu, Devan menjadi sosok arogan yang merasa tidak perlu tahu perasaan orang lain. Devan menjadi sosok seenaknya kepada semua orang, termasuk bawahannya.
Ucapannya adalah kebijakan. Totalitas otoriter, tidak ada karyawannya yang berani membantah kemauan Devan. Kecuali, Dea.
Sahabat dan tetangganya sejak kecil itu, paling sering membantahnya, walaupun akhirnya tetap Devan yang menang.
"Seneng banget, hayooo habis ngapain sama Dea?"goda Mama nelihat anaknya datang sambil senyum-senyum sendiri.
"Nggak ngapa-ngapainlah. Orang kita cuma duduk dan makan doang,"jawab Devan mencium kedua pipi mamanya.
"Duduk-duduk doang? Gak ngegombalin Dea? Peluk-peluk Dea?"celoteh Mama dengan nada kepo.
Memang kepo sih, Mama Dian ingin tahu sampai seberapa jauh hubungan anak dan calon menantunya. Sampai harus menentukan tanggal pernikahan secepat kilat.
"Ya, enggaklah, Ma. Di tempat umum juga."Devan meninggalkan Mamanya masuk ke kamar.
Teriakan Mama yang masih kepo tentang dirinya dan Dea, sengaja tidak Devan sampaikan.
Karena sejak ia memutuskan melamar Dea, setiap hari Mama selalu bertanya tentang hubungan dirinya dan Dea.
Jangankan memeluk, menggandeng Dea di tempat umum saja saat ini ia masih pikir-pikir.
Belum sah.
Itu yang tertanam dalam hatinya, kecuali saat kepepet ingin menjahili Dea.
Fix, kali ini aku yang ingin menjitak Devan. No debat, ya.
Kelakuan Devan, memang begitu. Sejak dulu tiada hari tanpa menjahili Dea.
Kira-kira kalau mereka serumah bakal sering perang, tidak?
Auto kepo dan ingin segera lanjut ke pernikahan mereka.
Wait, mereka masih persiapan.
Nah, sekarang keduanya sedang berhadapan dengan wedding organizer-nya membahasa dekorasi ruangan dan acara.
Devan dan Dea sedang menunggu pihak WO yang mereka sewa untuk acara besar keduanya di restoran Jepang.
Sebetulnya mama Dea tidak mengizinkan anaknya datang bersama Devan menemui orang WO tersebut. Namun, Dea ngotot ingin tahu perkembangan persiapan acaranya sehingga mama mengizinkan.
"Siang Mas Devan,"Seorang pria dan wanita menyapa Devan.
"Eh, Mas Surya, Mbak Ela, siang,"sahut Devan.
"Duduk, Mbak, Mas. Ini Dea calon istri saya. Maaf saya baru mengenalkan hari ini,"ucap Devan.
"Hai, Mbak Dea,"sapa Surya dan Ela.
Dea dan Devan terlibat perbincangan yang serius dengan Surya dan Ela.
Dengan harapan ketika pelaksanaan acara akad nikah dan resepsi berjalan dengan lancar.
***
Bersambung
Gaess, maaf yaa kalo babnya dobel-dobel gitu. Aku gak bisa setting. itu auto dari aplikasi