My Bestie My Husband

My Bestie My Husband
Setelah dari Butik



“Tante, selain baju minim bahan gini ada gak?” seru Devan tidak sabar.


Tante Raisya ku lihat tertawa lebar, menertawakan Devan.


“Syukur!” batinku dalam hati mengumpat lelaki yang statusnya kini katanya calon suamiku. Hanya setelah aku mengatakan, kalau cita-citaku menjadi istrinya.


Tante Raisya membuka sebuah lemari. Di sana berjajar banyak gaun lain yang ternyata lebih indah. Mulutku membulat penuh. Takjub dengan pemandangan di hadapanku. Mataku kembali silau dengan gaun milik Tante Raisya.


Tangan Devan segera menyambar satu gaun tanpa persetujuanku. Dengan tatapan tajamnya, Devan menempelkan gaun dengan warna senada yang aku pakai.


“Cantik,” gumamnya pelan namun masih bisa aku dengar. 


Mendadak tubuhku menghangat hanya karena satu kata pujian, cantik. Ingin rasanya aku berlari dan menutupi wajahku yang kurasakan memerah bak tomat segar. Namun, tidak mungkin.


“Bungkus ini Tante!” kulihat Devan menyerahkan gaun yang ia ambil kepada Tante Raisya. Wanita itu segera meminta Rin membungkusnya.


Aku segera ke kamar pas mengganti pakaian. Syukurlah, aku percaya Devan tidak memperhatikan wajahku yang bersemu merah, akibat pujiannya. Pujian yang aku yakin tidak sengaja ia lontarkan. Namun, bagiku sudah luar biasa.


“Belom juga jadi suami sudah bikin aku kelimpungan. Nyebelin,” batinku kesal, tetapi ada rona bahagia di sudutnya.


Terbiasa menerima perlakuan arogan Devan seperti makanan sehari-hari bagiku. Aku tidak pernah merasa kaget atau terkejut. Hanya kesal tidak kira-kira.


Sejak kecil ia sudah terbiasa mengatur dan aku selalu patuh. Sifat bossy-nya sudah terbentuk sejak usia dini.  Sangat cocok dengan posisinya sebagai direktur utama saat ini.


Aku menahan napas sejenak mengingat salah satu kekurangan Devan. Namun, tetap saja aku menyukainya.


Kami kembali ke mobil, setelah Devan melakukan transaksi di kasir butik Tante Raisya.


“Nih, pake nanti malam!” titahnya sembari menyerahkan paper bag butik berlogo RR, milik tante Raisya.


Dengan wajah datar aku menerima pemberian Devan.


“Makasi,” ucapku masih mempertahankan wajah datar.


“De, senyumlah! Dapat pahala senyum itu,” ucap Devan sambil menyalakan mesin kendaraannya.


“Hi,” aku hanya meringis menatapnya.


Kulihat Devan malah terkekeh. Tangannya terulur mengacak rambutku yang tersisir rapi.


Tak tahu apa dia, kalau aku saat ini sedang bingung harus menempatkan posisiku seperti apa?


“Bukan gitu, De! Tapi senyum beneran!” tukasnya.


“Van, rambutku berantakan!” protesku mengabaikan permintaannya.


“Awwwwh!” pekikku keras. 


Kali ini pipi kiriku dicubit dengan gemasnya.


“Sakit, Devan!” protesku kembali.


“Gemes, tau gak! Kenapa sih gak dari dulu aja elo bilang kalo pengen jadi istri gue,” seru Devan.


Auto bengong.


“What? Maksud  lo?” Pelototku tidak percaya dengan pengakuan Devan.


Devan kembali terkekeh mendengarku terkejut.


Beneran deh, kali ini pengen mencakar Devan seenak hatiku. Menyebalkan. Kenapa dia yang nyuruh aku ngomong duluan?


Harusnya, kan dia. Duh, dasar cowok egois. Andai bukan sahabatku sudah aku gampar dan damprat. Untung saja aku masih punya hati dan tahan diri. 


“Gue udah nungguin elo seumur hidup, elonya aja yang gak ngerasa,” akunya.


“Lha kenapa juga elo gak ngomong?” bantahku.


“Haduuh, Dea! Kenapa sih elo lemot, gitu! Gue antar jemput elo. Nemenin elo. Ngusir semua cowok yang deket ama elo. Demi apa coba?” ketus Devan.


"Demi harga diri elo sebagai cowok yang ngelindungi sahabatnya dari singa lapar," balasku ketus.


“Dan demi jadi bodyguard gue,” jawabku selanjutnya  dengan entengnya tanpa merasa bersalah.


“What?” Devan melotot ke arahku seketika.


“Awwwwwh.” pekikku.


Mobil Devan berhenti mendadak. Gesekan antara ban dan aspal menimbulkan bunyi decitan yang lumayan keras.


Kepalaku sampai hampir terpentok dashboard mobilnya. Untung jalanan sepi, sehingga tidak terlalu membahayakan kendaraan lain saat Devan menghentikan mendadak mobilnya.


"Van, bahaya. Kenapa sih, harus mendadak berhenti, gini!" omelku tanpa merasa bersalah.


"Diem lo, gak usah mengalihkan perhatian," sahut Devan.


"Lah, emangnya ada apa?" Aku pasang mimik sok polos karena tidak paham dengan Devan.


“Yang lo bilang barusan? Bodyguard?” Devan menatapku.


"Emangnya ada yang salah?" tanyaku khawatir.


"Pikir sendiri," jawabnya ketus. 


"Devan, kalo gue elo suruh mikir sendiri. Mana ketemu, gelay," omelku masih mempertahankan ketidaktahuanku.


"Hadeeh, De. Jadi, elo nganggap gue bodyguard gitu selama ini?" Wajah Devan terlihat memerah menahan seringaian jahatnya.


Ih, serem banget, kalo dia udah kayak gitu. Mending aku tutup mata dan tidur. Namun, jiwaku bukanlah jiwa pengecut begitu. 


Aku tetap mengangguk, walaupun dengan lemah. Ada rasa khawatir dan cemas menantiku. Mengingat bagaimana perilaku Devan yang selalu diluar prediksiku.


"Kan, elo selalu ada buat gue," ucapku tanpa maksud membujuk. 


Karena percuma juga membujuk, tampang cowok kayak Devan gak bakalan mempan kena rayuan maut dan gombal receh ala aku.


Apalagi aku bukan manusia penggombal sejati. Aku bukan peng-hoax yang sering modus gak jelas.


Aku terlalu lurus dijalanku. Kanan kiri jarang aku tengok. 


Sebetulnya di sini yang manusia egois itu aku. Karena kesibukan jarang berinteraksi sosial dengan sekitar. Jika bukan Devan yang mengajak aku tetap setia di rumah bareng Derry.


Sedangkan Devan beda. Meskipun, ia terlihat arogan, cuek dan gak mau ambil pusing suatu urusan. Cowok itu masih memiliki waktu unutk sekedar berkunjung ke tetangga, begitu yang aku dengar dari Mama.


Hahahaha, iya dari Mama. Karena Devan seringkali dijadiin bahan obrolan saat arisan ibu-ibu komplek karena sifatnya yang hambel dan ramah.


“Gue tunggu nanti malam di rumah!” ucapnya tegas tanpa melanjutkan keterkejutannya tadi.


Aku mematung tanpa mejawab apapun. Membiarkan pria itu dengan kearoganannya. Malas berdebat lagi.


Lebih baik membiarkan Devan dengan kemauannya, karena saat dia menyadari kesalahannya dia sendiri yang akan datang padaku.


Kaki Devan kembali menginjak gas, membawaku ke arah komplek rumah kita. Tanpa ada obrolan atau candaan mengiringi perjalanan.


Devan lagi dalam mode ngambek, super berat. Jadi, ia sedang irit suara.


Jangan kaget, rumah kita itu tentu saja rumahku dan rumah Devan. Kan, kita bertetangga.


Jadi, kalau pulang searah. 


Coba bayangin, rumah bertetangga. Kantor satu atap. Namun, lebih dari dua puluh tahun bersama tidak serta merta membuat kami bisa menyampaikan keinginan hati.


Beruntung ada hari ini atau karena aku yang keceplosan bicara jadi beruntung. Beruntung langsung dilamar Devan. Lebih tepatnya dia yang nyuruh aku ngelamar.


Dasar cowok, gak jelas dan tak tahu diri.


Eits, tapi aku belum tahu nih, beruntung atau tidaknya diriku hari ini. Setelah seharian dibawa Devan sesuka hatinya.


****


Temans, klik tombol hati, ya ..... 


Klik tombol hatinya, ya ....


Yang mau info tentang novel aku bisa ke FB : Ursula Maria 


Atau di Ig : @maria_suzan


Aku tungguin, yaa.. 


Komentar kalian adalah yang terbaik.


***