My Bestie My Husband

My Bestie My Husband
Motor



Lelah bermonolog dengan diri sendiri, kuangkat satu kaki bertumpu pada paha kiri. Kutarik dan buang napas perlahan. Menurunkan kadar emosi karena ulah aneh Devan.


Meskipun ini bukan yang pertama, tetapi rasanya masih sama. Membuat otakku panas dan hati sebal.


Iseng-iseng kutengok cangkir milik Devan di depanku.


"Masih ada sisa. Benaran kok tuh cowok gak ada akhlak. Udah ninggalin aku begitu saja. Mana pesenan belum dibayar. Mochacinonya masih nyisa pula. Apa gue abisin yaa sekalian. Kan sayang banget. Harga dua cangkir kopi di sini lumayan mahal." Aku kembali melanjutkan mode menggerutu tentang Devan.


"Lagian dimana-mana tuh cowok yang ngelamar bukan cewek," gerutuku sambil memaki Devan.


"Siapa bilang Ada kok cewek yang ngelamar cowok?" sahut sebuah suara yang aku hafal dibelakangku.


"Waduuh ... Mati aku ...," Batinku sedikit salah tingkah.


Rasanya ingin ku tutupi wajahku dengan cadar super jumbo agar tidak tampak oleh Devan yang sudah kembali ke hadapanku.


Tubuh kekarnya berdiri tegap dengan satu tangan terletak di tepi meja.


“Tunggu di sini!” titah Devan begitu aku menatapnya.


Ya, yang barusan menyahut ucapanku adalah Devan. Cowok yang barusan  meninggalkan aku sendirian. Tapi balik lagi. Entahlah mau apa lagi? Aneh, bukan?


 “Nih ...!” Devan melempar jasnya kepadaku. Aku menangkap jas devan yang hampir terjatuh ke lantai dengan tergopoh-gopoh karena merasa tidak siap dilempari benda miliknya itu.


“Pakai!” titahnya.


Aku membolak balik jas navi itu dengan bingung, sedangkan Devan masuk begitu saja ke dalam café.


“Astaga … Deaaa,  pake jasku!” Devan menyambar jasnya dan memakaikannya padaku begitu keluar dari cafe dan melihatku masih membolak balik jasnya.


Aku masih terdiam speechless dengan ulahnya yang bisa kukatakan romantis abis. Padahal sebelumnya, gak pernah tuh sok-sok an perhatian, gitu.


“Besok lagi, kalau keluar rumah pakai baju yang lebih tertutup, gue gak mau tubuh calon istriku diumbar di depan banyak orang!” dengusnya lirih sambil mengancingkan jasnya  yang kebesaran di tubuhku seolah tak ingin orang lain memandangi tubuhku yang hanya terbungkus mini dress selutut tanpa lengan.


Deg. 


Apa tadi dia bilang? Calon istri?” gumamku dalam hati. 


Jujur aku ingin membantahnya lagi. Namun, aku tahan. Karena senyumnya yang mahal tercetak manis di wajahnya. Membuat hatiku meleleh melihatnya.


Senyum Devan mengembang sempurna, sangat pas dengan wajah gantengnya yang begitu perfect. Sungguh  tidak rela berbagi senyumannya.


So sweet, seketika jantungku berdenyut lebih kencang dari semula. Rasanya ingin mendekap saja jantung ini agar tidak terdengar Devan. Aku sampai tidak mampu berkata apapun. Hanya mematung, belum bisa mencerna semua ucapan dan perbuatan Devan padaku.


Deg.


“Apa gue gak salah dengar?” gumamku dalam hati mengira-kira makna ucapan Devan.


“Ayooo!” Devan menyeretku paksa, membuyarkan pikiranku yang kacau dan linglung, akibat ulah manisnya . 


“Mendadak diabetes diriku. Melting karenamu, Dev,” batinku.


Jantungku berdetak kencang, menyaksikan tangan lincah Devan bergerak tanpa sungkan, sedangkan aku berusaha sekuat tenaga menutupi debaran tersebut agar tidak dideteksi Devan.


Sukses? Entahlah. Yang kutahu selanjutnya bibir Devan tertarik simetris. Fokusku lenyap seketika.


Senyum Devan yang tiba-tiba mengembang sempurna terlihat sangat pas dengan wajah ganteng perfectnya.


So sweet, jantungku memompa lebih kencang seketika. Rasanya ingin mendekap saja jantung ini agar tidak terdengar Devan. Aku sampai tidak mampu berkata apapun. Hanya mematung belum bisa mencerna semua ucapan dan perbuatan Devan padaku.


"Tuhan, kenapa baru sekarang Devan menampakkan senyumnya?" runtukku dalam hati, mengenang wajah ketus milik Devan yang selalu ia suguhkan padaku.


“Ayoo!” Devan menyeretku paksa, membuyarkan pikiranku yang kacau dan linglung, akibat ulah manisnya . 


Auto Travelling otakku.


Dengan kode tangannya, Devan menyuruhku segera naik.


“ Naik!” perintahnya sembari menyerahkan helm yang tadi tercantol di jok belakang.


Aku terbelalak dan bingung, “Van, gue pake rok,” ucapku sambil menunjuk rok sepan yang hanya sebatas lutut.


Devan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Duduk miring, kita ambil mobil di kantor!” pungkas Devan dengan senyum memaksa sambil mengklik helmku yang talinya masih menjuntai.


“Duh, manisnya. Tuh kan, aku bisa mendadak diabetes karena manisnya sikap Devan,” runtukku dalam hati.


Sikap yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun termasuk padaku. Meskipun cukup dekat, Devan termasuk tipe pria yang cuek dan semaunya sendiri. 


Senyumnya begitu mahal. Entah berapa harga yang harus dibayar untuk sebuah senyumannya. Bahkan dua puluh satu tahun bersahabat dengannya baru kali ini, aku melihat senyumnya yang so sweet.


Saat masih SMP dan SMA, setiap gadis yang mendekati Devan selalu menyerah karena sikap dingin, cuek dan arogannya. Mereka menjauh tanpa dipaksa, tetapi karena tidak direspon Devan. 


Jadi, jangankan salahkan aku yang bisa mendadak kena serangan diabetes. 


Mata kami beradu sejenak. Buru-buru kami saling buang muka. Entah apa yang ada di otak Devan, sedangkan di otakku merasa canggung dengan sikap manis Devan.


"Naek, gih!" titahnya kembali.


Aku melompat sedikit agar bisa naik jok.


Aku mengikuti saran Devan, duduk miring di belakang.


Aku naik dengan sedikit kewalahan karena tinggi jok dah heels yang kupaia.


Kudengar  suara tawa geli milik Devan menatapku dari spion. Spontan kupukul lengannya, sebagai tanda aku kesal.


“Besok lagi pake celana, Untung  jasku bisa nutup paha kamu,” celoteh Devan.


Reflek aku menatap jas Devan yang memang menutup tubuhku hingga ke lutut. Bahkan aku merasakan hangat, serasa mengenakan jaket karena jas Devan.


Devan menarik tanganku agar melingkar ke pinggangnya. Lebih  hangat dan nyaman melebihi jas yang kukenakan. 


Kurasakan hembusan angin begitu sejuk menyapa kulit wajahku.


Kucoba menikmati kebersamaanku bersama Devan. Pria aneh yang selalu ada buatku.


Pria yang baru saja menyebutku calon istri. Padahal mengakui cinta padaku saja, tidak. Aku benar-benar tidak paham apa yang ada di otaknya.


Aku kembali menyamankan posisi dudukku. Kugeser pantatku sedikit ke belakang, tanpa melepas peganganku pada pinggang Devan.


Kuperhatikan Devan memahami posisiku yang kurang nyaman di jok belakangnya.


Kurasakan Devan sedikit mengurangi kecepatannya. Dengan kecepatan yang relatif pelan Devan mengemudikan motornya menuju gedung kantor kami.


"De, pegangan yang kuat. Aku ingin kita sampai dengan cepat!" suara Devan terdengar samar di telingaku.


"Apa?" tanyaku mendekat ke telinganya.


"Pegangan yang kuat!" ulangnya.


Kali ini aku bisa mendengarnya dengan baik, dengan canggung aku mencengkeram kemeja Devan.


Benar saja, dalam hitung detik Devan mempercepat laju motornya. Auto aku sedikit tersentak, beruntung cekalanku sudah kuat


Coba tadi Devan tidak mengaba-aba, entah apa jadinya aku?


***