
Aku dan Devan disibukkan dengan berbagai persiapan pernikahan.
Mulai mencari gedung, souvenir, chatering, undangan, fitting gaun pengantin sampai daftar rangkaian acara. Meskipun sudah ada WO yang kami sewa tetap saja Devan menginginkan semuanya sempurna.
Sehingga ia rela bercapek-capek ria menemui pihak WO sebelum mereka mendealkan sesuatu.
Untung urusan rias pengantin Devan menyerahkan sepenuhnya padaku. Sehingga aku meminta pihak WO untuk menghubungi MUA yang aku idam-idamkan.
Kalau ditanya capek. Tentu, aku sangat capek. Selama mengurus persiapan pernikahan hampir tidak ada momen romantis antara aku dan Devan.
Semua seolah berjalan hambar tanpa ada rasa. Ada kejenuhan yang tak terkira. Berkali-kali sempat tercetus rasa penyesalan karena memutuskan sebuah pernikahan begitu cepat.
Meskipun selama ini aku merasa Devan yang terbaik diantara pria baik yang pernah mendekatiku. Namun, tetap saja aku merasakan ketidakpuasan menjelang pernikahan.
Entah apa yang ada di otakku? Atau setan mana yang sedang menggoda bagian hati dan imanku hingga terlalu lemah.
Devan pun jarang menampakkan diri di hadapanku. Rasa gelisah dan bimbang terus bergelayut dengan manja.
Padahal aku tahu dimana keberadaan dan posisi Devan setiap saat. Ia selalu memberiku kabar perkembangan proses persiapan pernikahan kami.
Namun, tetap saja hatiku tidak tenang. Seakan ada saja perkara yang membuatku ingin marah atau sekedar mengumpat tanpa kejelasan siapa yang aku maki.
Dalam hati kecilku berharap semua yang aku rasakan hanya karena hormon yang bersamaan datangnya dengan tamu bulanku. Bukan karena stress atau bridezille syndrom.
Entah pada siapa aku harus bercerita, sahabatku selama ini hanya Devan - calon suamiku. Sedangkan saat ini, ia terlalu sibuk.
Pulang kerja aku lebih sering berada di dalam kamar, tidak melakukan apapun hanya merenung.
Merenung segala hal saat hari pernikahan, setelah menikah hingga setelah dan setelahnya. Otakku sampai tidak sanggup diajak berpikir.
"De," panggil Derry pada malam setelah pulang kantor di hari ke dua puluh menjelang pernikahanku.
"Kak," sahutku menoleh sekilas ke arah pria yang selalu menjagaku setiap waktu.
"Lagi ngapain?" tanya Derry.
"Gak ngapa-ngapain. Capek," sahutku.
"Mau pijat?" tawar Derry.
Aku menggeleng karena sesungguhnya bukan tubuhku yang letih, tetapi otakku yang menerawang jauh ke angkasa.
Derry kulihat duduk di kursi rias menghadapku yang masih nyaman dengan posisi selonjor di atas karpet bulu kesayanganku.
"Ada apaan?" ulang Derry.
Aku menggeleng.
"Ceritain ke aku, biar sedikit lega." Derry pindah ke sampingku.
"Sini?" Derry membawa kepalaku menyandar ke pundaknya.
"Lagi ngerasain, apa sih?" selidik Derry.
Aku kembali menggeleng di pundaknya.
"Gak pa-pa," ucapku lirih.
"Devan?" tebak Derry yang langsung membuatku kicep.
"Udah gak usah boong. Karena Devan, kan?" ulang Derry seakan yakin dengan tebakannya.
Seketika aku menarik napas panjang dan membuangnya cepat.
"Iya," jawabku jujur.
"Devan kenapa? Nyakitin kamu?" tanya Derry mengelus rambutku.
Sekali lagi aku menggeleng.
"Lalu?" tanya Derry.
"Devan susah dihubungi akhir-akhir ini," jawabku sedih.
"Ooh, kangen, toh. Bilang aja kali atau samperin sono ke kantornya! Biasanya juga selonang selonong masuk ruangan Devan seenaknya," goda Derry.
"Auk ah," ucapku memindahkan kepala menyandar ke kasur.
"Hahaa, jadi berubah jaim nih, sekarang?" Derry terus menggodaku tanpa henti.
"Kak," sahutku sambil cemberut.
Kulihat Kak Derry malah terkekeh. Sebel, kan. Segera kupalingkan wajah, menatap ke jendela yang terbuka.
Sengaja sih, aku buka agar angin bisa masuk dengan leluasa. Walaupun angin malam terasa lebih kencang daripada pagi. Namun, kapan lagi aku bisa menikmati ciptaan Tuhan yang begitu menyenangkan ini.
Bagiku angin memberi sensasi tersendiri. Saat gundah begini, aku sering membiarkan tubuhku di alam terbuka. Menikmati apapun yang alam berikan. Terutama angin.
Karena angin, bisa menenangkan jiwaku. Aku merasa angin memberi inspirasi otakku yang tertekan atau lelah baik karena pekerjaan atau masalah lain.
Terkadang aku menyampaikan gelisahku saat angin berhembus. Seolah-olah angin juga merasakan apa yang kurasa.
Kesejukan semilirnya, membuaiku dalam ketenangan saat tak ada seseorang menemani.
Karena itulah aku selalu menutup jendela saat sudah larut dan mata mulai terkantuk.
"Dev, ada yang kangen elo, nih. Elo gimana, sih? Gak peka banget." Kudengar tiba-tiba Derry menyebut nama Devan.
Saat kutoleh, ternyata kakakku itu sudah berada di mode panggilan dengan seseorang. Tentu saja orang itu Devan. Terlihat dari monitor ponselnya yang sengaja ia loadspeaker.
"Hahaaa," Suara tawa Derry memenuhi kamarku.
"Sini loe cepet! Dua menit nyampe! Awas telat sedetik gagal jadi ipar gue!" ancam Derry.
Entah apa yang dikatakan Devan karena Derry mematikan mode loudspeakernya.
"Kamu di sini aja! Gak usah kemana-mana!" ucap Derry sambil bangkit setelah mengakhiri panggilannya dengan Devan.
Aku hanya menatap kakakku tanpa ada niatan membalas atau membantah. Bad mood-ku menghancurkan segalanya.
****
"Hai!" sapa seseorang.
"Devan!" sahutku kaget.
Sosok yang aku rindukan itu sudah berdiri di ambang pintu kamarku. Menatapku dengan senyum hangatnya.
"Maafin aku," serunya mendekat ke arahku.
Pintu kamarku ia biarkan terbuka. Entah, apa yang ada dipikirannya membiarkan pintu terbuka.
Padahal biasanya saat masuk kamarku, ia langsung masuk bahkan tanpa menyapa. Devan sejak kecil sudah biasa keluar masuk area pribadiku tanpa izin.
Namun, hari ini aku merasa sedikit aneh dan ganjil. Tidak biasanya ia membiarkan pintu terbuka.
"Biarkan pintunya terbuka. Karena jika tertutup bisa menimbulkan fitnah. Apalagi sebentar lagi kita menikah. Tidak baik berduaan di kamar," oceh Devan tanpa kuminta.
"Oh," jawabku singkat setelah tahu alasan Devan.
"Mau jalan-jalan sebentar?" ajaknya.
Aku menggeleng. Enggan rasanya diajak seseorang yang jadi fokus bad mood-ku hari ini.
"Bener? Gak gak pengen jalan-jalan. Diujung jalan tadi aku lihat ada cafe yang baru dibuka hari ini. Aku pengen banget ke sana bareng elo," kata Devan dengan suara rendah.
Seketika aku menatapnya dengan wajah cerah. Terlupa sudah kalau aku sedang kesal dengan Devan.
Aku juga penasaran dengan cafe baru yang ada di ujung jalan dekat rumah kami.
"Yuk!" sahutku tanpa merasa dosa.
Devan menyambut senyumanku dengan bahagia, terlihat dari caranya membalas. (Auto ge-er).
"Uhuuiii, kayaknya ada yang auto melting, nih," kudengar Derry meledekku saat turun ke ruang tamu dan bertemu kunyuk ganteng kesayangan kedua orang tuaku.
"Wek," balasku sambil menjulurku lidah ke arahnya.
Aku tidak peduli apa kata Devan nanti. Toh, dia juga sudah terbiasa melihatku dan Derry saling olok, meskipun sudah segede ini.
"Derry, gak bisa apa kalo gak godain Dea!" seru Mama melihat Derry tertawa lebar melihatku yang mengoloknya.
"Dea mau diajak kemana, Dev?" tanya Mama menatap Devan yang menggandengku. Sepertinya tingkah Derry akan di skip untuk dibabat habis Mama saat aku tidak ada.
"Ke cafe depan, Ma. Cari angin sambil ngobrolin persiapan Minggu depan," jawab Devan.
"Oh, hati-hati, ya. Setelah ini kalian jangan bertemu dulu sampai hari pernikahan. Dea juga harus cuti dari kantor," pesan Mama.
"Masih ada gitu acara pingitan?" ucapku sedikit terhenyak karena Mama belum pernah menyampaiakan soal pingitan padaku.
"Iya, paling enggak 3 hari sebelum pernikahan, kalian harus dipingit," jelas Mama.
"Waduuh," seruku asal.
"Udah, nurut aja. Ntar kualat loh, kalo gak nurut!" sahut Derry dari tempatnya.
"Auk aah," ucapku menarik tangan Devan menjauh dari Derry.
"Ma, kita berangkat. Assalamualaikum," pamitku.
"Waalaikumsalam," jawab Mama yang masih bisa kudengar samar.
****
"De, maaf ya. Kalo aku terlalu sibuk mempersiapkan acara kita" ucap Devan begitu kita sudah duduk di dalam cafe yang interiornya terkesan natural.
Cafe tersebut menyiapkan ruangan out door dan in door. Dengan tata ruang yang benar-benar alami.
Aku dan Devan berasa piknik di sebuah taman yang dipenuhi aneka tanaman. Apalagi ada bermacam lentera menerangi suasana redup malam yang hangat.
Aku benar-benar terpesona suasananya. Bisa merubah suasana hatiku yang tadinya lagi buruk menjadi lebih baik.
"Iya, gue juga minta maaf kalo terlalu baper," kataku mendadak menyesal, setelah mendengar penuturan Devan tentang kesibukannya mempersiapkan acara kami.
"Terima kasih, ya," bisik Devan.
"I love you," sambung Devan.
Auto melting diriku untuk yang kesekian kalinya.
****
Ih, lebay banget ya?
wkwkkkk...
Terima kasih buat love dan hadiahnya ,😘