
Kusandarkan kepala dan tubuh ke punggung Devan. Punggungnya begitu kokoh membuatku betah.
Pilihanku tidak salah, semoga pungggung kokoh ini sanggup menyangga kehidupanku ke depannya.
Hidup yang kelak kita jalani. (Sejak kapan ada kata kita diantara aku dan Devan).
Namun, jantungku tetap saja tak bisa diajak kompromi. Ia terus meronta semakin kencang di tempatnya.
“Pegangan, entar elo jatuh!” seru Devan dengan lembut menyadarkan otakku yang sedikit gesrek karena perlakuan manisnya yang di luar kebiasaaan.
Perlakuan manis benar-benar bikin melting dan menaikkan kadar gulaku, entah sudah berapa mg/dl. Jantungku sampai terkena imbasnya memompa tak teratur.
"Semoga saja tidak komplikasi," batinku.
“Lo kenapa sih Van, cerewet banget?” protesku karena memang aku sudah biasa pakai rok sepan selutut bahkan terkadang lebih pendek dari ini.
Selain itu Devan yang kukenal tidak pernah sok ngatur atau main perintah saja.
Selama ini ia tidak pernah protes atau mempermasalahkan cara berpakaianku. Namun, hari ini terasa aneh.
Devan seakan memprotek diriku sesuai kehendaknya.
Devan terdiam, bahkan sampai beberapa menit dia masih bergeming. Aku masih menunggu jawaban Devan. Namun, tak kunjung ada suara.
Hanya hembusan napas berat dan panjang Devan yang kudengar berkali-kali sepanjang perjalanan.
Motor Devan berhenti tepat di basemant kantor, buru-buru aku turun karena pinggang dan tanganku sudah pegal.
Eh, bukan ding. Bukan karena pegal. Namun. karena jantungku yang tidak terkontrol, takut Devan mendengar detakku yang semakin kencang.
Bisa-bisa aku malu dan tengsin karena diolok cowok cuek, yang tadi aku tembak. Hahaha, iya masih ingat kan kalo tadi aku keceplosan mengatakan, kalau aku bercita-cita jadi suaminya.
Aku melangkah lebar hendak kembali ke kantor. Namun, sebuah tangan mencekal dan menarikku.
“Mau kemana?” ucap Devan dengan mendekapku.
Tangkapan yang sempurna karena bisa dipastikan aku akan jatuh jika saja Devan tidak segera mendekapku, akibat perbuatannya yang mencekal dan menarikku.
“Ke kantorlah, pamit sama bos,” jawabku dengan menahan napas karena badanku terasa lemas dan jantungku yang cenat cenut dibuatnya.
“Gak perlu.” Devan menekan tombol di kunci otomatis.
Sebuah mobil berkedip menunggu pemiliknya. Devan dengan pongah menarikku lembut ke mobil.
Membukakan pintu untukku bak seorang pangeran yang melayani putri, entah mengapa aku menurut saja bahkan tanpa membantah duduk di jok yang sudah disediakan pria itu.
“Der!” suara Devan menggelegar di sebelahku.
“Sekretaris elo, gue bawa dan gak usah tanya kapan dia balik. Elo handel sendiri kantor!” Devan dengan nada bossynya kudengar menghubungi Derry atasan sekaligus kakakku.
Aku yang di sampingnya auto tertawa lebar. Karena setahuku sejak kecil kakakku itu tidak pernah menolak permintaan Devan.
Meskipun awalnya sempat terjadi perselisihan kecil karena kejahilan kecil yang pernah Devan lakukan padaku.
Derry khawatir Devan akan mengulangi kembali. Namun, sebuah jawaban meyakinkan Devan membuat Derry mempercayainya.
“Udah, beres. Sekarang kita jalan!” Devan menyalakan mesin mobilnya dan melaju dengan tenang.
***
Devan menghentikan kendaraan di sebuah butik.
“Lha kalau memang tujuannya butik kenapa gak di tempat tadi kita ngopi, sih?” protesku.
“Diem deh, kalau gak ngerti apa-apa,” balas Devan.
Lelaki itu selalu saja tak pernah mau aku bantah, tetapi apalah daya. Aku selalu kicep di hadapannya.
“Siang, Tante!” sapa Devan kepada seorang wanita setengah baya dengan senyum datarnya.
“Hai, Devan!” balas wanita tersebut.
“Ardelia Sanjaya,” ucapku memperkenalkan diri.
Kuulurkan tangan kanan kepada wanita cantik di hadapanku.
“Raisya,” balas wanita itu dengan ramah.
“Tante, carikan gaun tertutup untuk Dea!” titah Devan tanpa tending aling-aling. Seolah-olah tidak rela ada orang lain berbasa basi atau sekedar menyapaku.
Aku hanya mendengus lirih mendengar ucapan Devan yang seperti over protektif sekali.
Entahlah, setelah ini apa lagi yang ia lakukan padaku.
"Yo wislah, pasrah wae," batinku. Karena aku masih yakin Devan tidak ada niat menyakitiku. Walaupun kadang ucapannya bikin aku kesal, tapi tetap saja perlakuan manisnya mengalahkan segalanya.
Aduuh, kayaknya aku lagi bucin berat, nih.
Tante Raisya kulihat menoleh ke arah Devan lalu kembali menatapku. Mata beningnya seolah memindai seluruh lekuk tubuhku.
“Buka jas kamu anak cantik!” titah Tante Raisya.
Aku menatap Devan seakan meminta persetujuan cowok garang itu. Bukannya menjawab, ia malah membuka jasnya tanpa aba-aba.
Kulirik Tante Raisya malah tersenyum terkekeh melihat kelakuan Devan.
“Rin, kamu ajak nona cantik ini mencari gaun yang ada di dalam!” titah Tante Raisya kepada seorang gadis yang aku perkirakan adalah karyawannya.
Dengan patuh Rin mengangguk dan mengajakku ke sebuah ruangan.
Aku mengekori Rin, di sana berjajar berbagai macam gaun aneka model dan warna.
Sebuah gaun cantik berwarna biru laut mengusik mataku. Tanpa diperintah aku meraihnya. Menempelkan di tubuhku.
“Pas,” batinku.
“Cantik, Mbak!” sahut Rin sambil tersenyum ramah.
“Dicoba dulu!” Rin menunjukkan sebuah ruang pas kepadaku.
Tanpa komando aku segera masuk dan mencoba gaun yang menarik hatiku.
“Van, bagaimana?” ucapku memperlihatkan gaun warna biru selutut dengan belahan dada rendah dan berlengan pendek di depan Devan. Begitu keluar dari ruangan yang tidak aku tahu namanya.
Kulihat Devan membuka mulutnya lebar-lebar lalu berdiri dengan tegang.
“De, baju apaan ini! Ayo ganti!” Devan menyeretku kembali ke ruangan yang tadi aku masuki bersama Rin.
Bibirku hanya bisa maju lima centi melihat reaksi Devan yang tidak kuduga.
“Menyebalkan,” sungutku dalam hati.
Padahal aku sudah kesengsem berat dengan model dan warnanya.
Laki-laki itu membiarkanku berdiri seperti patung di depan gantungan baju milik Tante Raisya, sementara tangan dan matanya bergerak ke sana ke mari mencari gaun sesuai seleranya.
“Ya Tuhan, Tante Raisya ini! Gimana sih? Kenapa semua koleksi bajunya minim bahan kayak gini!” kudengar Devan mengoceh sendiri, memaki Tante Raisya. Aku hanya diam membiarkan lelaki itu melakukan semua keinginannya.
“Kamu nyari apa, Van?” tiba-tiba Tante Raisya masuk dan bergabung.
“Tante, selain baju minim bahan gini ada gak?” seru Devan tidak sabar.
Tante Raisya ku lihat tertawa lebar, menertawakan Devan.
“Syukur!” batinku dalam hati mengumpat lelaki yang statusnya kini katanya calon suamiku. Hanya setelah aku mengatakan, kalau cita-citaku menjadi istrinya.
****
Aku butuh dukungan kalian.