
Hari pernikahan kamipun tiba. Dimulai acara pengajian pada H-1.
Pengajian diadakan di masjid dengan mengundang warga sekitar.
Sengaja diletakkan di masjid karena kedua orang tua kami tidak ingin terjadi double kegiatan.
Sehingga pengajian dilakukan sekali atas nama dua keluarga.
Selesai pengajian acara dilanjutkan siraman dan adat Jawa lainnya karena tuntutan orang tua agar melakukan ritual adat tersebut.
Orang tua kami sama-sama berasal dari Jawa, mereka masih ingin melestarikan budaya yang hampir punah. Begitu alasan yang mereka ungkap saat aku tanya, mengapa?
Tanpa bisa membantah kami menyetujui semua permintaan kedua orang tua kami, walaupun membuat agenda lebih panjang.
****
Hari ini pelaksanaan akad nikah dan respsi.
Akad nikah dilakukan di hotel yang sama saat resepsi.
Tepat pukul 08.00 ijab qobul diucapkan Devan. Dengan memberikan mahar senilai dua puluh dua juta dua ratus dua puluh dua ribu dua ratus rupiah, Devan sah menjadi suamiku.
Akad nikah hanya dihadiri keluarga dan beberapa sesepuh warga.
Sedangkan kolega Devan, Derry, Orang tua dan mertuaku datang ketika resepsi malam harinya.
Ucapan selamat kami terima baik secara langsung maupun virtual. Sosmed kamipun tak luput dari ucapan selamat dan doa.
Senyum orang tua dan mertuaku tampak begitu semringah. Terpancar kebahagiaan di wajah masing-masing.
Maklumlah mereka baru kali ini menggelar perhelatan besar. Mengingat Devan anak tunggal sedangkan dari keluargaku, mama dan papa baru kali ini mengadakan hajatan.
Jadi, bisa dikatakan mereka menantikan undangan dari orang tua dan mertuaku.
Belum lagi nama tenar suami di dunia ekspor import dan orang tuaku yang hampir merajai dunia industri perlogaman.
Di mal resepsi, aku benar-benar tidak bisa mengkondisikan kaki.
Aku merasakan capek berdiri menyalamai tamu sambil tersenyum. Belum lagi high heels 5 centiku, membuat kaki ngilu. Sungguh aku benar-benar tidak tahan.
Harapanku waktu segera berlalu cepat dan aku bisa istirahat dengan tenang tanpa ada gangguan tamu.
Membayangkan bisa segera memejamkan mata tanpa ada suara yang membangunkan harus ini dan itu seperti sebelumnya. Karena ada beberapa tahapan acara yang harus ku lewati.
Ya, aku kelelahan mengikuti semua prosesi adat dan pernikahan.
Mulai sungkeman, siraman, dodol dawet , midodareni. Melelahkan. Namun, aku bersyukur semua berjalan dengan lancar.
Melalui prosesi panjang yang melelahkan membuatku merasa cukup dan ampun-ampun lelahnya. Cukup sekali saja menikah kalau caranya seperti ini. Tidak seperti yang ada dalam bayanganku, yang hanya cukup dengan kata sah. Selesai.
Harapanku pernikahanku ini sekali untuk selamanya dengan Devan menjadi pendampingku, sampai maut memisahkan kita.
Alunan suara penyanyi wedding yang merdu tidak sanggup mengalihkan rasa lelahku. Meskipun aku tersenyum. Semoga senyumku tidak terlihat seperti orang lelah.
Gak lucu banget, kan. Pas di foto, wajahku terlihat lelah. Padahal pengantin harus terlihat cerah dan bahagia.
Duh, begini amat jadi raja dan ratu sehari. Bayangkan kalo raja dan ratu ya seumur hidup, pasti lelah bersandiwara. Wkwkwkk. Auk ah, kagak jelas juga.
Akhirnya, tepat pukul sepuluh. Acara harus benar-benar selesai. Para tamu sudah habis dan keluarga masuk ke kamar masing-masing karena Devan juga menyewa beberapa kamar untuk keluargaku dan keluarganya.
Aku dan Devan masuk ke kamar yang sudah di reservasi sebelumnya. Lega rasanya. Ada senyum bahagia karena lelahku berujung.
Saatnya istirahat, pekikku dalam hati. Namun, hatiku kembali meragu, mengingat ada Devan yang menggandengku. Seketika ada rasa was-was melanda.
Aku sekarang istri Devan. Ada hak dan kewajiban yang harus aku penuhi. Itu, tuh yabg masih membuatku pusing.
Mendadak rasa canggung dan cemas mendera ketika Devan menempelkan key card di pintu kamar.
Setelah pintu terbuka, aku mengekori langkah Devan. Jantungku berdebar dengan kencang, apalagi saat memindai dekorasi kamar. Cahaya temaram, aroma ,mawar menyeruak begitu saja ke rongga hidungku.
Yang kulakukan pertama adalah melepas high heelsku lalu mataku menatap ke arah ranjang.
Tempat yang aku rindukan sejak tadi.
Aku yang sangat kelelahan segera merebahkan diri di atas Kasur, tak peduli ada mawar yang dihias cantik di atasnya.
“Peduli amit, aku capek,” gerutuku.
“De…!” panggil Devan yang kini sudah resmi menjadi suamiku.
Aku menoleh dengan malas ke arahnya tanpa suara. Seakan suaraku pun ikut enggan keluar saking capeknya.
“Gantilah baju, dulu!” titah Devan.
“Gue capek banget!” bantahku.
“Sama. Aku juga capek. Apa mau aku bantuin ganti bajunya?” Sontak aku langsung berdiri, ngibrit ke arah toilet.
Sedangkan Devan kudengar terkekeh melihatku ketakutan.
Untung orang tuaku atau Devan tidak menjahiliku dengan meletakkan lingeri di koper seperti yang sering aku baca di novel-novel.
Kalau itu benar-benar terjadi padaku, ngeri. Gak bisa bayangin tidur hanya mengenakan lingeri tipis. Auto tutup mata. Tengsin. Auk ah, bodoh amat.
Tiba-tiba otakku travelling jauh. Segera kujauhkan pikiranku yang mulai oleng. Beralih ke arah Devan yang masih duduk di sofa kamar.
Devan menatapku geli, begitu aku keluar dari toilet, masih ada sisa-sisa tawanya tadi.
“Sini!” Devan menepuk-nepuk sofa di sebelahnya. Memintaku duduk.
Setelah menggantung gaun putih menjuntai sampai lantai yang tadi aku kenakan. Aku segera memenuhi permintaan suamiku. Sebuah pencapaian level baru untuk Devan.
Duduk di sampingnya.
“Dev!”
“De!”
Kami saling memanggil bersamaan. Mendadak ada rasa canggung tidak terkira menghadapi suasana yang berbeda.
Jika saat menjadi sahabatnya aku terbiasa dengan tingkah yang absurd, apakah saat menjadi istri aku harus berubah?
Satu pertanyaan yang beberapa hari ini terus bergaung di telingaku. Namun, sengaja aku simpan karena berharap Devan bisa menjelaskannya.
“Kamu aja dulu! Nyonya Devan tercinta,” godanya sembari menyentuh hidungku yang mancung.
Diperlakukan begitu, seketika tubuhku terkesiap. Darahku seolah berhenti mengalir. Gemetar tidak karuan. Jantungku pun seakan sudah siap melompat dari tempatnya.
Aku akui Devan memang lelaki pertama yang menyentuhku, selain ayah dan Derry. Karena persahabatan kami tentunya.
Keringat dingin mulai menyerang tubuhku.
Telapak tanganku sudah panas dingin. Tubuhku sudah bergetar tidak jelas. Aku sampai mengacuhkan status baru yang Devan sematkan padaku. Nyonya Devan.
“Masih mau melamun atau curhat?” tegur Devan karena aku masih mematung terkesiap tingkahnya.
Aku menoleh menatap ke arah Devan yang sepertinya sudah siap menjadi pendengar.
"Ah," gumamku lega dalam hati karena Devan memberi pilihan untuk curhat. Bukan untuk uwu-uwu yang belum siap aku berikan.
Ternyata di otakku terlintas banyak pertanyaan tentang hubungan kita. Aku ingin mengurainya satu per satu.
“Dev, elo denger gak cibiran rekan-rekan bisnis kamu dan papa tadi?” tanyaku lirih.
Mengingat apa yang kudengar di acara resepsi tadi. Kusandarkan kepala ke dada bidang Devan.
Ah, entah mengapa aku jadi melow gini dengan Devan. Biasanya juga aku duduk tanpa perlu bersandar.
Beneran, deh. Status merubah segalanya. Aku pun sudah tidak canggung menyandarkan tubuhku ke Devan.
Pencapaian yang luar biasa, bukan?
Aku merasakan tangan kekar Devan melingkar memeluk pinggangku dari belakang.
"Duh, nyaman banget rasanya," batinku.
“Kamu mau kita membuktikan pernikahan kita ini tulus?” tanya Devan.
Aku mengangguk tanpa melepas sandaran di dadanya. Hobbi baru setelah resmi menjadi istri Devan.
“Aku bisa menyelesaikannya!” bisik Devan.
“Benarkah?” Tanpa sadar aku memeluk leher Devan dengan gembira, padahal perasaanku tadi sudah tidak karuan dan benar-benar insecure.
“Aku janji!” Devan mencium keningku.
Blush.
Aku merasakan perubahan wajahku yang mulai merona karena kecupan Devan. Kecupan pertamanya, saat kami hanya berdua.
Sedangkan tadi saat akad nikah, ada keluarga dan aku hanya merasakan detak jantungku yang abnormal berirama membersamai kecupan Devan.
Perlahan kulonggarkan pelukan luapan kegembiraan tersebut. Namun, Devan kembali menautkannya.
“Jangan dilepas!” titahnya dengan napas menderu.
Aku merasakan hangatnya hembusan napas milik Devan dengan perasaan semakin tidak karuan. Jantungku kembali memacu lebih kencang. Seakan aku tengah menaiki rollcoaster yang memacu adrenalin. Diguncang, dibolak balik dan diputar tanpa bisa aku memprediksi gerakan berikutnya.
“Sekarang giliranku."
****
Bersambung ....
tap love-nya