My Bestie My Husband

My Bestie My Husband
Back to Kantor



Happy Reading.


“Laki elo abis kehilangan tender 100 milyar,” bisik Devan.


“Terus keadaan dia sekarang bagaimana?” tanyaku dengan rasa sesak mendadak menyerang saat mendengar penuturan Devan.


Pasti proyek itu penting dan luar biasa bagi perusahaan, sampai suamiku down begini. Ada penyesalan di hatiku sempat mencurigai yang tidak-tidak.


“Dia ancur, De. Perusahaannya di ambang kehancuran dan nyaris bangkrut,” ucap Devan masih dalam pelukanku.


Aku kembali meraup oksigen sebanyak-banyaknya agar tidak kehabisan karena merasa sebentar lagi akan berubah menjadi hero wife.


“Apa elo bakal ninggalin laki elo kalo dia miskin, De?” tanya Devan dengan nada pilu.


“Gak bakalan. Gue udah cinta banget ama laki gue. Duit mah gampang nyarinya!” Tak kulepas pelukannya.


“Bucin, loe!” Astaga di tengah kepanikan masih sempat-sempatnya lelaki ini membalas ledekanku.


Namun, aku bersyukur ada sedikit tawa mengiringi ledekannya.


“Van, ceritain ada apa? Aku bantu. Aku gak akan ninggalin kamu hanya karena kamu miskin. Duit gue juga masih banyak, jadi kita gak akan miskin,” kutepuk-tepuk lembut punggungnya sembari mengolok jika dia benar-benar bangkrut.


Mendengar olokanku, Devan malah nyengir lalu tertawa lirih.


Bersyukur ocehanku yang unfaedah bisa membuatnya sedikit terhibur, walaupun aku bukan termasuk manusia yang pandai melucu.


Hidupku datar tanpa pernah ada hal-hal yang bisa membuat seseorang tertawa karena ocehanku. Namun, melihat Devan bisa tertawa karena celotehanku rasanya begitu menyenangkan.


Setelah sedikit tenang, Devan mulai menceritakan kronologinya. Aku menyimak dengan serius tanpa melepas genggaman kedua tangannya, menyalurkan enargi positifku untuknya.


“Van, kamu ngizinin aku turun tangan gak?” ucapku berusaha meyakinkan pengusaha kelas wahid ini.


“Maksud kamu?” Devan kulihat mengerutkan keningnya.


“Aku bantu usaha kamu bangkit!” ucapku penuh keyakinan.


Jiwa bisnisnya kembali tergugah mendengar kesulitan suamiku.


“Tapi De, tujuanku menyuruh resign adalah istirahat di rumah bukan malah membantuku di kantor,” cegah Devan.


“Gak akan lama, kok. Sampai perusahaan kamu kembali normal. Lagian, kan aku di sana sebagai nyonya Devan bukan sebagai karyawan biasa.” kukedipkan satu mata ke arahnya.


Astaga baru kali ini aku berlaku genit. Untung aku hanya berani melakukannya di depan Devan.


Kulihat Devan menatapku belingsatan salah tingkah gak karuan.


“Astaga, ini baru kerlingan mataku. Kalo yang lain bagaimana ya?” batinku sambil menepuk jidatku pelan dan berucap istighfar karena sudah berfantasi kemana-mana.


Auto travelling. Aish, dasar pengantin baru. Aku menahan senyum sendiri.


“Okay… baiklah Nyonya Devan, hanya sebentar saja. “ Akhirnya Devan bertekuk lutut.


“Baik Tuan Devan, tapi ingat bayaranku dua kali lipat dari gajiku sebagai sekretaris Derry ya!” ancamku mendadak sambil memberikan kecupan ringan di pipinya.


Astaga kalau ini sih bukan ancaman tapi rayuan maut Dea. Aku menertawakan diriku sendiri.


Malu sendiri dengan kelakuanku yang mendadak aneh, tetapi dalam hati khawatir kepergok Devan. Bisa habis diriku diledek dan dikerjai sampai tidak berdaya oleh lelaki tampan ini.


Tuh kan, baru juga aku ghibahin dalam hati. Sekarang keluar syarat dan ketentuannya, tapi lucu juga sih mendengarnya, auto ngakak deh. Tetap dalam hati.


Membayangkan wajah Devan yang aku pastikan memerah saat mengatakan syarat yang ia ajukan kepadaku.


***


Keesokan harinya, aku dan Devan sepakat berangkat lebih pagi agar apa yang kami rencanakan bisa berjalan dengan baik.


Kami tidak ingin rencana yang sudah kami susun matang gagal begitu saja karena kecerobohan kami sendiri.


Dengan senyum yang terus tersungging, Devan menggandengaku menuju ruangannya.


Sebuah ruangan yang tidak asing.


Karena sebelum menikah aku sudah sering keluar masuk tanpa izin pemiliknya. Bahkan sekretarisnya tak bisa menahanku.


Kegiatan pertama yang aku lakukan adalah menata menu sarapan yang tadi sudah aku siapkan, tapi belum sempat kami nikmati.


Kulihat suamiku sibuk merapikan mejanya.


Aku pun berinisiatif menyuapi, awalnya Devan menolak, tapi aku yakin lelaki ini sedang tidak tenang dan tidak berselera makan. Maka aku pun memaksa.


Setelah sukses membuat perutnya terisi, sekarang giliranku menghabiskan sisa sarapan bekal kami.


Atas izin Devan aku berkeliling area kantornya. Walaupun ini bukan pertama kalinya ke sini. Tapi tetap saja suasana di kantor Devan berbeda dengan kantorku dan Derry.


Aku hanya menyapa beberapa karyawan yang aku kenal selebihnya aku cueki. Waduh kalau yang ini Devan banget. Menikahi lelaki itu ternyata bisa menularkan virus karakter cuek padaku.


Sudahlah, yang penting dia bucin saja sama aku. Aku turun dua lantai dari kantor Devan. Menyapa Derry.


“Woi, kejutan nih dari nyonya Devan,” ledek Derry begitu aku masuk ke ruangannya.


“Bodoh amat. Kakak sehat?” tanyaku sambil duduk di sofa meskipun belum dipersilahkan.


“Sehat. Tumben ke sini?” tanya Derry keheranan.


“Nemenin tuan Devan tercinta biar sehat dan aman-aman saja di kantor,” jawabku asal karena tidak mungkin membeberkan kondisi perusahaan suamiku yang kemarin bermasalah dengan tendernya.


Kulihat Derry tertawa lebar sambil menyerahkan air mineral padaku.


“Ya udah deh, aku balik ke lantai 12. Tuan Devan lagi nyari nyonya Devan,” pamitku sembari menunjukkan panggilan Devan dari gawai yang kupegang.


Walaupun belum puas dengan pertemuan tersebut aku tetap harus pamit karena panggilan Devan lebih penting dari apapun.


***


Aku duduk manis di ruangan Devan. Sengaja aku memintanya mengunci dan memberi pesan kepada sekretarisnya agar tidak mengganggu kami.


Freya, sekretaris Devan hanya tersenyum mendengar permintaanku. Aku tidak peduli apa yang ia pikirkan. Bagiku suamiku lebih penting dari siapapun.


Di ruangan Devan aku membuka setiap file yang Devan serahkan padaku. Sesekali aku mengernyitkan dahi. Menangkap ada yang tidak beres.


***


Bersambung