My Bestie My Husband

My Bestie My Husband
Kesalnya Devan



Devan masuk rumah dengan wajah ditekuk. Perasaannya dongkol setengah hidup. Gara-gara si Dea, yang menganggapnya bodyguard selama ini.


"Assalamualaikum," ucap Devan sebelum masuk rumah.


"Waalaikumsalam," sahut Mama Dian yang kebetulan sedang duduk santai di ruang tengah ditemani Papa Wisnu.


"Itu muka kenapa, Van?" tanya Papa menatap anak kesayangan datang dengan wajah super jutek.


"Ma, nanti siapin makanan yang banyak. Dea dan keluarganya mau datang," kata Devan sambil ngeluyur naik ke lantai dua menuju kamarnya.


Mengabaikan pertanyaan Wisnu.


"Nih anak, ditanya bukannya jawab malah ngomong yang lain," seru Papa jengkel karena pertanyaannya tidak dijawab Devan.


"Mirip, Papa," ledek Mama sambil nyengir.


"Bentar, biar Mama tanya kenapa dia," ucap Mama sambil tersenyum. Senyum yang selalu bikin teduh hati Wisnu.


Sebab hanya Dian yang mampu membuat hatinya tidak bisa berpaling kepada wanita manapun.


Baginya Dian adalah bidadari yang dikirim Tuhan padanya. Sudah hampir tiga puluh tahun, ia setia mendampinginya tanpa mengeluh.


Saat karir dan perusahaannya mulai menanjak dan sering ditinggal ke luar kota. Dian tidak pernah menentang.


Dian malah memberikan banyak support atas semua yang ia putuskan. Sehingga tidak salah ungkapa yang menyatakan, di belakang pria sukses ada wanita hebat yang siap mendukung.


Wanita yang tidak pernah lelah membuatnya tersenyum. Meskipun Wisnu sadar terkadang kurang memperhatikn Dian. Namun, Dian tidak pernah mempermasalahkan.


Wisnu menatap hangat langkah Dian yang menaiki anak tangga menyusul langkah Devan.


"Van, dalam rangka apa Dea dan keluarganya ke sini?" tanya Mama Dian dengan nada sedikit teriak karena Devan sudah hampir sampai di ujung tangga.


"Ngelamar Devan, Ma!" Seru Devan dari atas tanpa menoleh sedikitpun. Perasaannya masih jengkel dengan ucapan Dea. 


"Pa, Mama gak salah dengar, kan?" Mama Dian menoleh ke bawah menatap Papa Wisnu dengan wajah ragu-ragu.


"Enggak, Devan tadi ngomong katanya, Dea mau ngelamar. Tau deh, ngelamar siapa? Coba Mama ke atas! Tuh, anak lama-lama bikin hypertensi," ucap Papa Wisnu.


Tanpa banyak tanya, Mama Dian segera menyusul putranya naik ke lantai dua, menuju kamar Devan.


"Van, ada apa?" tanya Mama lirih saat membuka pintu kamar Devan. 


Beruntung kamar lnya tidak dikunci, sehingga Mama Dian bisa langsung masuk tanpa mengetuk pintu.


Terlihat Devan sedang duduk di sofa dengan kaki dinaikkan ke atas meja kecil di depannya. Wajah masih terlihat muram.


"Ada apa?" tanya ulang Mama Dian sambil duduk di sofa samping Devan.


"Siapin makanan untuk menyambut Dea dan keluarganya, Ma," seru Devan tanpa menoleh.


"Memangnya mereka, mau apa?" tanya Mama Dian.


"Mau ngelamar Devan, Mama," sahut Devan tanpa ada rasa bersalah.


"Apa, Van? Ngelamar kamu?" ulang Mama Dian tidak percaya.


"Iya, Mama sayang," jawab Devan tegas sambil menatap Mama Dian.


"Kamu ngaco, ya!" Sanggah Mama.


"Ngaco gimana?" tanya Devan.


"Dikeluarga kita gak ada ya, cowok di lamar cewek," ucap Mama.


"Enggak ah, Ma. Devan maunya Dea yang ke sini!" bantah Devan.


"Van," seru Mama.


"Memangnya kalian sudah jadian gitu?" tanya Mama Dian keheranan. Karena setahu beliau, anaknya dan Dea tidak pernah pacaran. Kalau dekat sih, iya.


"Barusan tadi siang," ucap Devan.


"Tadi siang? Terus langsung nyuruh lamaran?" Mama Dian melotot tidak percaya dengan permintaan anaknya.


"Sebentar. Papa harus tahu juga masalah ini." Mama Dian segera memanggil Papa Wisnu.


****


Papa Wisnu menatap tajam ke arah Devan, setelah mendengar secara rinci cerita dan prahara putranya dan Dea.


Wisnu benar-benar tidak menyangka, putra kesayangannya ini memiliki gengsi tingkat dewa.


Selalu ingin jadi yang pertama. Tidak ingin miliknya disentuh siapapun. Entahlah watak siapa yang menurun pada Devan.


Seingat Wisnu, dirinya bukan tipikal cowok gengsian kayak Devan.


(Nah, pusinglah Om Wisnu)


"Van, turunin gengsi. Gak ada ceritanya turunan lelaki keluarga kita yang dilamar, ya!" Komentar Papa Wisnu.


"Tapi, Pa ...." 


"Papa gak nyalahin Dea yang nganggep kamu bodyguard. Sekarang salah siapa? Kamu gak pernah ngomong suka atau cinta ke Dea, kan? Tapi malah nemenin, antar jemput kemana-mana?" potong Papa Wisnu cepat saat Devan hendak membantah.


"Kamu bahkan selalu ada untuk Dea. Salah sendiri. Udah gitu, kamu gak pernah nembak, dia kan?" lanjut Papa Wisnu kesal.


"Gini ya, Van. Pria itu di keluarga adalah pimpinan, kepala keluarga." Papa Wisnu menjeda kalimatnya pria itu duduk di samping putranya.


"Jika kelak kalian menikah kamulah kepala rumah tangga. Karena itulah pria yang mengkhitbah. Lalu apa kamu bersedia jika kepala rumah tangganya Dea karena dia yang melamar kamu?" ucap Papa Wisnu tanpa maksud menginvestigasi.


"Harusnya kamu yang bertanggungjawab atas dia. Mengkhitbah dia baik-baik. Bukan Seperti sekarang? Apalagi kamu masih gondok sama Dea. Ih, gak banget," ledek Papa Wisnu diakhir wejangannya.


"Tapi kan, ada cowok yang dilamar. Nabi Muhammad aja dilamar Khadijah," bantah Devan.


Plak.


"Aduuh," pekik Devan karena Papa Wisnu menjitak kepalanya.


"Itu mereka, tapi setelah itu tetap saja Nabi Muhammad yang mendatangi Khadijah. Mengkhitbah baik-baik." Mama manimpali ucapan Devan.


"Uuuh," dengkus Devan kesal tidak terima kepalanya dijitak sang papa.


"Van, sebagai lelaki jangan mudah baper, tau gak, sih! Kalo kayak gini, kira-kira keluarga si Dea mau gak ngelanjutiin besanannya sama kita?" olok Papa Wisnu menatap genit ke arah Mama Dian.


Mama Dian tersenyum tipis membalas kode dari Papa Wisnu.


"Jadi laki itu harus ikhlas menerima jika disalahkan wanitanya karena wanita itu tidak pernah salah. Kalau dia salah berarti yang salah lakinya. Kamu harus tetap yang minta maaf," nasehat Papa Wisnu sambil melirik istrinya yang tersipu.


"Terus, Devan harus gimana?" Akhirnya Devan mengeluarkan jimat ajaibnya, mengalah.


"Telpon Om Sanjaya sekarang juga. Katakan kita akan ke sana. Ngelamar Dea," titah sang Papa tanpa boleh dibantah siapa pun.


"Akhirnya Mama punya mantu Dea juga," seru Mama Dian memeluk Devan.


"Betewe, yang nembak Dea atau kamu?" Kepo Mama Dian menjeda pelukannya untuk Devan.


"Dea," ucap Devan sembari membuka ponselnya, mencari nomer Papa Dea.


"Astaghfirullah," ucap Mama menepuk jidatnya.


"Duh Gusti, ini anak beneran gengsinya tingkat langit. Langitnya langit ketujuh pula. Mudah-mudahan Dea betah jadi istrinya. Aku gak mau ganti menantu," ucap Mama Dian dalam hati.


Papa Wisnu kembali terkekeh mendengar jawaban polos anaknya.


****


Devan bener-bener makan ati, kok ya. Pengen kujitak saja. Kelakuannya duh, ngeselin.


Yang se server komen.


Oh, ya kalian bole add FB aku


http://www.facebook.com/ursula.maria.167527


atau follow Instagram http://www.instagram.com/maria\_suzan