
Sudah satu jam aku masih menatap tak percaya ke arah cermin. Menatap gaun yang diberikan Devan padaku tadi siang. Menatap wajah yang sudah kupoles dengan make up natural tipis.
Gaunnya pas di tubuhku. Pilihan Devan memang keren. Walaupun, aku sempat kesal karena dipilihkan gaun yang tertutup bagian dada dan panjangnya se-mata kaki.
Menurutku pilihan Devan lebih menyerupai gamis. Namun, setelah aku pakai nyaman dan tidak terkesan gamis biasa.
Melainkan, gaun malam. Duh, aku harus berterima kasih pada cowok itu.
Rambut keriting gantung panjangku tergerai ke bawah. Dengan jepitan kecil di belahan kanan. Anak poni aku ratakan ke dahi. Terkesan rapi dan girly.
Make up natural sengaja menjadi pilihanku, karena aku tidak menyukai make up yang terlalu tebal dan menor. Tidak percaya diri saja, jika harus bermake up tebal.
Aku juga tidak perlu memanggil make up artis seperti saran Mama karena menurutku acara hari ini adalah acara keluarga sederhana.
Tidak perlu tampil terlalu mewah. Cukup menjadi diriku sendiri. Ardelia Sanjaya.
Kembali kutatap cermin. Kurapikan bagian-bagian yang menurutku kurang pas.
“Cantik,” pujiku pada diri sendiri sambil tersenyum kecil.
Ada debaran halus menyerang dadaku. Rasanya begitu aneh.
Kuraba dadaku, mencoba menetralkan detaknya. Mensugesti bahwa semua akan baik-baik saja.
Sore tadi, mama mengatakan bahwa nanti malam keluarga Devan akan ke rumah untuk melamarku.
Antara percaya dan tidak sebab tadi siang Devan mengatakan bahwa aku yang harus ke rumahnya. Bahkan ia tampak memaksaku, sikap bossynya menuntut tidak boleh dibantah.
Usut punya usut, ternyata orang tua Devan mengintrogasi anaknya dengan berbagai wejangan. Alhasil, malam ini keluarga Devanlah yang akan melamarku.
Tentu saja dalam hati aku merasa menang dan bahagia. Senyum lebar kusunggingkan tanpa sungkan saat mendengar Mama mengatakan padaku.
Aku semakin percaya, saat Devan juga menelpon dan mengatakan padaku bahwa dirinya yang akan datang melamar. Saat itu senyumku semakin lebar.
Namun, sayangnya pria itu tidak bisa melihat langsung senyum penuh kemenanganku. Andai ia melihatnya tentu saja aku akan meledeknya dengan banyak kata di otakku.
Namun, aku harus menyiapkan sabar dengan banyak stok, tetapi suatu saat akan tetap kujadikan bahan olokan untuknya.
Begitulah jiwa-jiwa jahilku mulai menyerang l, jika itu berkaitan dengan Devan.
“Udah siap. De?” tanya Mama membuka pintu kamarku yang tertutup.
Aku menoleh ke arah Mama sambil tersenyum, mencoba menutupi rasa gugup dan deg-degan yang terus menyerangku.
"Sudah, Ma," jawabku.
Meskipun Devan adalah sahabat dan tetangga sekaligus cowok yang aku suka, tetapi aku tidak pernah berharap mimpiku menjadi istrinya bisa menjadi kenyataan. Mengingat hubungan kami yang tidak pernah saling mengatakan cinta.
Kami terlalu mengandalkan gengsi untuk menutupi sebuah kenyataan bahwa ada rasa ketertarikan satu sama lain.
Sejak dulu aku hanya berani memimpikan dan mengkhayalkannya bak Ariel si mermaid yang mencintai pangeran. Untung aku tidak hidup di negeri dongeng. Jadi, kisahku tidak se-tragis Ariel yang rela melakukan apa saja demi dekat dengan Prince Eric.
Aku berusaha ikhlas apapun yang akan terjadi antara kita. Melepas jika Devan sudah memilih cintanya.
Namun, taqdir berkehendak lain. Aku tiba-tiba keceplosan omong di hadapan Devan hingga terjadilah lamaran dadakan tanpa persiapan sewajarnya lamaran.
Dulu aku pernah menganggap Devan adalah seorang kakak, demi menyingkirkan rasa kagum yang akhirnya kutahu itu adalah cinta. Namun, nyatanya sulit sekali mengusir rasa kagumku padanya.
“Ayo keluar!” ajak Mama membuyarkan lamunanku tentang Devan.
“Keluarga Devan sudah datang,” sambung Mama menuntunku, menemui keluarga Devan.
Keluarga Devan memang sudah tidak asing bagiku. Namun, kali ini terasa berbeda karena tujuan mereka melamarku.
Aku pun melangkah keluar, mengekor di belakang Mama. Aku sengaja memilih posisi di belakang Mama untuk mengalihkan rasa yang tidak aku pahami namanya.
Dadaku berdenyut kencang. Detak jantungku terus memacu, seiring langkahku menemui keluarga calon suami.
Bagaimana tidak berdag Dig dug, mengingat tujuan mereka.
Puluhan tahun bertetangga membuat kami dekat. Tante Dian sudah kuanggap mama sendiri.
Sejak kecil aku sering bermanja dengan beliau. Menemani Tante Dian, saat Om Wisnu – Papa Devan melakukan perjalanan bisnis ke luar kota atau luar negeri.
Tante Dian dan Om Wisnu hanya memiliki Devan, sebagai anak tunggal. Karena itu kedatanganku di rumahnya sangat ditunggu.
“Wah, Dea cantik sekali!” puji Tante Dian menatapku, begitu aku duduk di samping Mama.
Sedangkan Tante Dian duduk di sofa tepat di hadapanku, membuat pandangan matanya langsung mengarah padaku.
Aku tersenyum membalas ucapan calon mama mertuaku. Terasa canggung, padahal biasanya aku langsung main peluk tanpa basa basi.
“Lama gak ketemu. Eh, begitu ketemu mau jadi calon mantu, aja,” goda Tante Dian membuatku kikuk.
Iseng-iseng aku mencoba mengingat sudah berapa bulan aku tidak mengunjungi rumah Devan, karena kesibukan.
"Enam bulanan, aku sudah jarang nongol ke sana. Terakhir saat ulang tahun pernikahan Tante Dian dan Om Wisnu," gumamku dalam hati.
"Heheeh, iya, Tan. Maaf, Dea sekarang makin sibuk," jawabku lirih.
"Iya, Mama ngerti, kok. Tapi, setelah kalian menikah harus sering-sering nengok, Mama." Tante Dian mulai membiasakan panggilan mama padaku.
Seketika aku benar-benar berada di posisi super ambigu, tidak tahu harus berkata dan berbuat apa.
“Bagaimana, Van? Kamu yakin mau menikah dengan Dea?” Terdengar Papaku bertanya sambil menatap Devan intens.
Aku sedikit lega karena ucapan Papa mengalihkan fokus Tante Dian yang tidak berhenti menggoda dan menatapku.
“Iya, Om. Saya yakin.” jawaban Devan terdengar tegas menatap Papaku dengan serius.
“Mantap, saya suka pria sepertimu.” Papa memberikan jempolnya.
"Mas, didikanmu luar biasa," puji Papa kepada Om Wisnu. Seketika Om Wisnu dan Tante Dian terkekeh lebar.
"Jangan dipuji terus, Mas. Nanti saya melayang tidak bisa balik, bagaimana?" Sangkal Om Dewa kocak.
Papaku tertawa mendengarnya.
"Saya yakin yang bakalan nyari Jeng Dian. Bisa nangis dia semalaman," gurau Papaku.
Eit da, baru kali ini aku mendengar kedua pria paruh baya ini saling melempar candaan. Ternyata, gak kalah kocak sama yang muda.
“Untuk tanggal pernikahan bagaimana?” Mama bertanya kepada Devan dan keluarganya, membuatku dan para Papa kembali fokus.
“Bulan depan, bagaimana !” ucap Devan membuatku terkejut.
“Secepat inikah? Satu bulan?” gumamku dalam hati.
Aku menunduk menyimak pembicaraan para orang tua dan Devan tanpa menyela.
"Dea, bagaimana? Setuju, tidak?" tanya Mama menatapku.
Saat kuangkat wajah, terlihat semua mata memandang ke arahku.
"Duh, bagaimana ini?" batinku.
"De-Dea," ulang Mama sambil menepuk pahaku.
"Terserah kalian, deh. Aku nurut, aja." Kembali kudengar riuh suara tawa di ruangan tersebut.
****
Komen yaa, gaees.
Tap love.
Terima kasih. Selamat Membaca.