My Bestie My Husband

My Bestie My Husband
Hari Pertama



Selamat Membaca


Kulirik jam dinding yang terpasang di ruang tamu apartemen, sudah pukul lima sore. Aku duduk cantik di ruang tengah sembari memencet remote televisi sembarangan.


Sejak tadi aku ganti-ganti channel, karena merasa bosan dengan acara yang ditayangkan.


Sesekali kuhirup oksigen sedalam-dalamnya agar dadaku lebih leluasa berkolaborasi dengan seluruh organ di dalamnya.


Dengan senyum yang kubuat secantik mungkin, untuk pertama kalinya aku menyambut kepulangan suami pulang kerja.


Perasaanku sudah dag dig dug saja seolah menanti kedatangan seorang kekasih. Ada rasa kengen menyusup ke sela-sela hatiku.


“Ah, begini banget sih menunggu,” gerutuku dengan cemas. Karena pesan terakhir Devan hanya mengatakan bahwa. ia pulang.


Pesan yang terkirim lima belas menit yang lalu itu, benar-benar membuat hatiku berbunga-bunga, bahagia tanpa alasan.


Padahal setiap hari juga bertemu Devan. Entahlah hari ini rasanya berbeda.


Perkiraanku sepuluh menit atau seperempat jam lagi suamiku itu akan sampai apartemen.


Seharian di apartemen rasanya sangat membosankan. Tidak ada yang bisa aku kerjakan.


Sejak Devan berangkat aku hanya bermain gawai membuka tutup aplikasi tanpa tujuan.


Akhirnya gawai kuletakkan begitu saja. Memasak pun aku tidak mood. Rasanya semua bahan di dapur tidak lebih berarti dari seorang Devan


Jadi, kegiatanku seharian ini adalah memanjakan diri dengan memejamkan mata tanpa lelah alias rebahan cantik.


Aku hanya bangkit saat mendengar azan dari masjid terdekat. Setelah ritual curhat kepada Yang Maha Kuasa rampung aku kembali rebahan.


Ada keinginan menghubungi suami tampanku itu tapi aku khawatir mengganggunya. Karena aku sendiri sangat tidak menyukai panggilan dari siapapun saat sibuk.


Mengenakan kaos lengan pendek dengan celana levis di atas lutut, aku siap menunggu kedatangan Devan. Tak ada dandanan menor, hanya lipstik warna pink dan sedikit polesan bedak sesuai warna kulit kutaburkan ke wajahku agar terlihat lebih segar.


Aku tak mau saat membuka pintu, Devan melihatku dalam keadaan awut-awutan. Membayangkannya saja aku ngeri.


Tak lama kemudian terdengar suara seseorang menekan tombol password pintu, aku meramalkan bahwa itu Devan.


Ceklek.


Suara pintu terbuka.


“Assalamualaikum,” sapa suara hangat di pintu.


“Waalaikum salam.” Aku menghambur memeluk erat Devan.


“Ada apa, De?” terdengar suara panik Devan mendapatiku memeluknya tanpa berkata apapun.


Tangisku pecah seketika. Melihatku mendadak mewek Devan mendudukkanku di sofa, menenangkan dengan caranya. Mengecup dan membelai rambut dengan lembut.


“Sekarang ceritakan ada apa?” ucapnya setelah aku agak tenang, dihapusnya sisa-sisa hujan di sudut mataku.


"Kangen," jawabku manja.


Aku menduga Devan akan mengolok-olok dengan jawaban konyol yang kulontarkan padanya. Namun dugaan salah, suamiku itu malah memelukku kembali dengan lembut.


“Maafin aku ya…,” bisiknya.


Aku menggeleng dalam dekapan dada bidangnya yang semakin hangat dan nyaman.


Aku hanya tersenyum menatapnya.


“Kamu cantik, sore ini!” bisiknya.


Blush.


Dipuji begitu saja, dadaku sudah kembang kempis gak karuan. Wajahnya merona.


“Nanti kita kangen-kangenan lagi. Aku gerah banget nih. Bau asem, kan?” Devan mencium ketiaknya dengan menggerakkan hidungnya lucu.


Aku hanya tergelak menyaksikan kekonyolannya.


Sejenak kulonggarkan pelukan dan memberi kesempatan kepada Devan untuk membersihkan tubuhnya.


***


“Bagaimana hari ini di rumah?” tanyanya menjajariku duduk di ranjang sembari mengeringkan rambutnya yang basah.


Kualihkan pandanganku dari gawai ke wajah tampan Devan. Menatap dada bidang yang belum mengenakan apapun hanya berbalut handuk selutut. Aku meraih kaos, celana dan underwear yang sedari tadi kusiapkan untuknya lalu menyerahkan pada Devan.


“Bosan,” jawabku sembari menatapnya mengenakan kaos dan kawan-kawannya di hadapanku tanpa malu.


“De …!” panggilnya setelah meletakkan handuk ke jemuran.


Aku beruntung mendapatkan suami sebaik Devan yang tidak begitu menyusahkanku.


Lelakiku itu terbiasa membereskan sendiri barang-barang yang telah ia gunakan tanpa merepotkan orang lain.


Satu-satunya permintaan yang membuatku sesak hanya saat memintaku resign dari kantor. Satu permintaan, tetapi membuatku benar-benar terpaksa menerima, walaupun ikhlas.


Devan kembali duduk di sebelahku. Di rengkuh dan di dekapnya aku.


“Yuuk, kita kangen-kangenan lagi. Aku juga merindukanmu di kantor. Seharian ini aku terus memikirkanmu,” ucap Devan sungguh-sungguh.


“Apa kamu ingin pulang ke rumah Mama, Papa? Agar tidak bosan atau kesepian?” tawar Devan sambil membelai punggungku karena tidak ada satupun suara yang aku keluarkan.


“Aku di sini saja,” jawabku lirih Karena jika aku ke rumah Mama atau mertuaku yang ada aku pasti akan terus-terusan ditanya mengenai sejauh mana proses pembuatan cucunya.


Aku sudah jengah mendengarkan pertanyaan mereka. Bukan kami menunda, tapi Tuhan memang belum meniupkan ruh manusia kecil lain ke dalam rahimku. Usia pernikahanku juga baru tiga bulan.


Pernah terbersit kalau buru-buru punya bayi, kapan aku pacarannya?


Terbersit keinginan dalam hati, memadu kasih dengan orang yang kita cintai. Layaknya pasangan muda mudi yang sedang kasmaran.


Karena selama ini, meski dekat dan selalu bersama aku dan Devan tidak pernah pacaran. Status kami hanya sahabat.


“Aku akan pulang ke rumah Mama sama kamu, tidak sendirian.” Kuangkat kepalaku menatap Devan.


Suamiku itu tersenyum membawaku kembali ke pelukannya.


"Baiklah," jawab Devan.


***


bersambung