My Bestie My Husband

My Bestie My Husband
Resign



Tiga hari kemudian aku sudah kembali aktif ke kantor.


Pagi-pagi Devan sudah ribut mengingatkan surat resign yang kemarin ia buatkan untukku. Tak ada honeymoon atau apapun yang berbau romantis karena pekerjaan sudah menunggu kami.


Andai diizinkan, aku membutuhkan sedikit waktu untuk sekedar istirahat karena tubuhku masih lelah setelah kemarin seharian membersihkan dan menata ulang apartemen Devan yang dibiarkan kosong dalam waktu lama.


“Jangan lupa, kasih ke Derry!” ingat Devan sambil memasukkan amplop berwarna coklat itu ke dalam tasku.


“Iya.. . iya,” jawabku tidak semangat.


Bahkan sejak kembali dari hotel Devan terus mengingatkan untuk segera memberitahu Derry tentang pengunduran diriku.


Tentu saja Dery sangat terkejut mendengar keputusanku. Alih-alih mencercaku, kakakku malah klarifikasi kepada suamiku.


“Memang gue yang nyuruh Dea resign! Emang ada masalah?” jawab suamiku kala itu.


Selanjutnya yang kudengar adalah percakapan ringan keduanya. Aku tidak bisa mendengar ucapan Dery karena Devan tidak meloadspeaker gawainya.


Entalah sampai sekarang aku masih awam tentang dunia kelelakian dan apa yang ada di otak mereka? Apa yang mereka impikan?


Saat ini yang aku inginkan menikmati saja masa-masa akhirku di dunia perkantoran dan perbisnisan. Dunia yang membuat kemampuanku merasa dihargai dan diakui baik oleh keluarga dan kolega lainnya.


“Der…!” panggilku begitu sampai di kantor.


Target utama hari ini memang Dery sebelum duduk di kursi kebesaranku. Kursi yang belum pernah digantikan siapapun selama lebih dari delapan tahun ini.


Derry menatapku sayu, ada gurat kesedihan terlihat jelas di netranya. Kupastikan kakakku itu juga merasakan kesedihan atas pengunduran diriku.


Dugaanku tidak salah, lelaki yang selalu membelaku itu langsung memelukku erat.


“Semoga pilihanmu ini adalah yang terbaik. Jadilah istri dan ibu yang baik untuk Devan dan anak-anak kalian. Lahirkanlah generasi yang kelak mewarisi kecantikan dan kepandaian ibunya,” bisik Derry.


“Aku dan papa tak mungkin mencegah keinginan Devan, sekarang dia suamimu. Mungkin kelak jika Kakak menikah akan melakukan hal yang sama. Sebagai lelaki, seorang istri merupakan tempatnya kembali.


Saat ia merasa ada beban, sakit dan lelah, harapannya adalah istri yang mampu memberikan dukungan terbaik.” Derry menuntunku duduk di sofa dan mulai memberi wejangan tentang sosok istri menurut versinya.


Versi yang aku nilai sebelas dua belas dengan Devan, suamiku.


“Jangan pernah lelah mendengarkan keluh kesah seorang suami. Karena kami kaum lelaki membutuhkan kenyamanan.” Derry membelai rambutku yang panjang.


“Kenyamanan terbaik kami adalah istri. Jangan buat kami menunggu terlalu lama. Kedengarannya egois, tapi kami menyayngi istri dengan cara kami masing-masing. Aku yakin Devan akan lebih bijaksana membimbingmu,” Derry menjeda kalimatnya menatapku, adik yang begitu ia sayangi.


“Selamat berjuang, Kakak mendoakan kamu dari jauh. Jadilah istri yang baik. Walaupun kalian sudah berteman sejak kecil tapi menjadi teman dan menjadi istri itu berbeda. Karena seorang istri itu complicated role.” Derry masih belum puas mengelus rambutku layaknya anak kecil.


“Ada saatnya kamu menjadikan dia sebagai teman. Ada saatnya kamu memposisikan sebagai istri yang melayani, mengagumi dan mendambanya. Bahkan mungkin kelak kalian akan menjadi lawan komentator nomer wahid atas apapun tentang pasangan.”


Kulihat netra Derry berkaca-kaca.


“Sekarang bersiaplah ke ruang meeting ikut aku dan Pak Wid mencari penggantimu. Aku mempercayakanmu mencari pengganti yang selevel dengan adikku ini. Aku tak ingin sekretarisku kelak adalah sosok yang lemah dan tidak profesional,” usir Derry secara halus.


Sekali lagi kupeluk Kakakku satu-satunya. Sesak sekali rasanya walaupun aku sudah ikhlas, tetapi tetap saja ada air mata yang mengiringinya.


Bagaimanapun delapan tahun bukanlah waktu yang singkat Kami, aku dan Derry tak pernah lelah memberikan yang terbaik selama ini.


Bekerja hingga larut bahkan sampai rumah pun bahasan kami sama, jika proyek mengalami kesulitan. Sebagai adik kakak tentunya kami bisa membicarakan kesulitan kapan pun dan dimana pun.


Hari ini kami akan memulai sesuatu yang baru. Hal yang tak terpikirkan sebelumnya. Namun kami yakin segala hal yang diawali niat baik pastinya telah menunggu hal baik lainnya.


Tanpa suara aku keluar dari ruangan direktur setelah menyerahkan amplop coklat yang sudah kupersiapkan semalam.


****


Setelah melalui proses seleksi yang ketat, akhirnya pilihanku jatuh kepada seorang lelaki bernama Azka.


Sekilas aku menangkap lelaki berusia dua puluh lima tahun tersebut memiliki potensi yang cukup kuat untuk menggantikan posisiku.


Selain Azka ada sosok Namira, wanita cantik berusia dua puluh tiga tahun yang mengenakan jilbab. Kedua nama itu aku sodorkan kepada Derry untuk di ketok palu, sah.


“Kok ada dua, De?” Tanya Dery bingung.


“Emang elo mau kemana-kemana ditemani Azka terus kerjaan di kantor jadi keteteran, Elo pikir mereka gue yang bisa ngerjain tugas bareng elo di rumah sampai larut malam!” aku mengingatkan Derry bahwa, kami terkadang mengerjakan tugas bareng jika ada yang masih kurang atau setelah bertemu klien tanpa mengenal waktu.


“Terus maksud kamu?” tanya Derry.


“Mereka punya jam kerja, Kak. Jadi, aku lebih condong untuk Azka akan menemani Kakak ketika harus keluar kantor sedangkan untuk urusan dalam kantor, serahkan pada Namira. menurutku ia sangat telaten dan cocok menggantikanku.” Tuturku sok bijak.


“Apa harus dua, De?” cecar Derry seolah belum puas dengan jawabanku.


“Semua pilihan terserah elo, Bapak Derry Sanjaya. Aku sebagai adik hanya mengingatkan apa elo gak kasiyan kalo Azka gak pulang atau sampai menginap di rumah gara-gara elo yang selalu minta hasil perfect! Bahkan tengah malam elo bangunin gue!” omelku.


“Bisa-bisa kabur tuh orang!” lanjutku.


“Ya udah bawa mereka berdua kemari!” titah Pak Direktur yang akhirnya bisa membuatku tersenyum. Senyum tanpa paksa. Karena akhir-akhir ini aku masih menyesuaikan suasana hatiku.


Tak lama aku kembali bersama Azka dan Namira. Kuperhatikan Derry tampak terkejut dengan Namira.


“De, elo sengaja ngasih sekretaris yang gak bisa dilihat gitu!” protesnya sambil berbisik.


Segera kutoyor kepalanya.


“Sinting, maksud elo? Elo pengen sekretaris yang tiap hari pake baju kurang bahan kayak pelamar-pelamar kemarin!” jawabku sambil berbisik pula.


Kulirik Derry tengah tersenyum ke arahku.


“Apa bedanya ama elo, dodol!” balas Derry menoyorku balik.


“Bedalah! Elo kakak gue, gak bakalan berani macem-macem. Nah, entu kalo yang lain bisa-bisa elo abis diporotin cewek gak bener,” alibiku seenaknya.


Kebiasaanku memang mengenakan rok selutut tapi atasanku selalu tertutup, tidak pernah sekalipun aku memamerkan dadaku sembarangan. Kecuali di depan Devan suamiku.


Segera kutepis bayangan tampan suamiku. Bahkan dalam keadaan begini saja aku masih mengingat lelaki tampan dan segala ulah keromantisannya padaku.


Tuh kan, aku jadi kangen sama Devan, pengen di uyel-uyel kayak semalam.


Tawa Derry pecah, tentu saja hal ini membuat Azka dan namira yang ada dihadapan kami jadi kikuk.


“Kalian berdua, mulai sekarang belajarlah dengan baik kepada Bu Dea.” Derry menatapku dengan senyum mengejek.


Namun sengaja kuabaikan karena akhirnya aku lega, Derry menerima pilihanku.


“Ingat pelajari dengan baik dan benar. Karena dia hanya punya waktu dua bulan di sini!” ancam Derry dengan semua kekuatannya kepada kedua sekretaris barunya.


Mendengar Derry mengucapkan jumlah hariku yang semakin berkurang di kantor mendadak hatiku sakit.


Duniaku akan berubah.


To be continue