
Devan membawaku keluar rumah. Setelah menentukan kesepakatan tanggal pernikahan.
Kini kami duduk bersebelahan di bangku taman halaman depan. Pandanganku fokus ke bawah. Untuk menatap Devan seperti kemarin-kemarin rasanya tidak sanggup.
Aku masih merasakan canggung atas perubahan status kami. Dari sahabat menjadi calon suami. Rasanya aneh.
Kalau biasanya aku langung dengan santainya menggoda atau mengatainya. Sekarang rasanya sudah tidak sanggup lagi.
Ada getaran aneh yang aku sendiri tidak tahu apa namanya. Aku hanya bingung harus mengatakan apa pada Devan.
“De!” panggil Devan.
Aku mengangkat kepala dan menoleh ke arah lelaki yang barusan melamarku.
“kenapa, Dev?” sahutku, berusaha meredam semua gejolak yang terus bergemuruh di dada
“Maaf ya, mendadak sebulan? Apa elo ingin pernikahan kita mundur?” kudengar ada keraguan dalam ucapan Devan.
Aku menggelang pelan, entah Devan melihatnya atau tidak.
“Bukan itu Van, yang menggangguku?” ucapku lirih kembali menunduk tanpa berani menatapnya.
“Lalu, apa?” tangan Devan kurasakan sudah menggengam erat jemariku.
“Tujuan kita menikah apa coba?” tanyaku masih dengan menunduk.
“Menjadikanmu istriku!” jawab Devan.
“Terus kalo aku udah jadi istri kamu? Mau kamu apain?” aku masih mencercanya demi memuaskan rasa keingintahuanku.
Sebenarnya pertanyaankun sedikit nyeleneh dan aneh. Namun, aku tak mau dirundung perasaan bersalah.
Sebab aku juga berhak tahu tujuan Devan menikahiku. Apakah hanya untuk sekedar mengabulkan cita-cita haluku atau ia benar-benar mencintaiku atau mungkin yang lebih ekstrim Devan hanya menginginkan tubuhku.
Namun, untuk opsi yang terakhir aku tidak yakin. Aku masih ingat betul bagaimana Devan memperlakukanku. Jika ia hanya menginginkan tubuhku mengapa ia malah menjagaku?
Harapanku kini hanyalah jawaban jujur darinya.
“Terus kalo aku udah jadi istri kamu? Mau kamu apain?” ulangku memberanikan diri menatap Devan yang masih terdiam di sebelahku.
“Ya, jalani status baru kamu jadi istriku. Nurut sama aku,” jelasnya.
“Dev!” Kali ini aku menatapnya tegas.
“Dev, tatap aku!” titahku tanpa rasa takut. Aku sudah tidak peduli bagaimana nanti tanggapan Devan.
“Dev, apa kamu mencintaiku?” ucapku ke intinya. Devan terlihat sedikit gugup dan canggung dengan pertanyaanku yang langsung ke inti.
“De!” balas Devan dengan suara lirih, tetapi terdengar tegas.
“Apa yang selama ini aku lakukan ke kamu masih kurang jelas?” ungkapnya.
“Maksud kamu?” aku masih belum paham maksudnya.
Padahal tadi siang, kami sudah debat soal perasaan. Namun, aku masih belum lega selama Devan belum mengatakan kalau dia mencintaiku.
Percuma dong kalau hanya aku saja yang mencintai dan mengaguminya. Sedangkan Devan, tidak.
No, aku tidak mau hubungan semacam itu. Aku menginginkan pernikahan karena rasa yang sama dan sefrekuensi.
Aku menatap Devan dengan perasaan tidak menentu, berharap yang keluar dari bibirnya adalah sesuatu yang membuatku bahagia.
“Aku menyukai kamu sejak dulu. Bahkan sejak kita kecil.” Devan menunjukkan keseriusannya.
“Daebak,” seruku kegirangan tanpa menunggu kelanjutan kalimatnya.
Aku segera menubruk tubuh Devan lalu memeluknya tanpa alasan.
“Woi ..., belum sah!” Sebuah suara tiba-tiba memisahkan kami.
“Der, ganggu aja elo!” omel Devan menyingkirkan tubuh Derry paksa yang menyusup diantara aku dan Devan
“Kakak!” seruku bersamaan dengan Devan.
Kakakku – Derry memaksa duduk di antara kami berdua.
“Selama kalian belum sah, kakak akan menjadi orang ketiganya!” ketus Derry.
“Huuu, kami juga bukan anak kecil kali. Kami udah bisa membedakan mana yang bole dan mana yang tidak!” sungutku kesal.
“Terus yang tadi itu apaan?” Sungut Derri kesal.
“Cuma peluk doang, Der!” bela Devan.
“Aish, apapun itu. Tunggu sebulan lagi!” omel Derry.
“Bomat, salah sendiri mengiyakan permintaan Devan sebulan. Coba elu bilang seminggu, pasti diiyain juga,” goda Dery.
“Der, elu kalo pengin nikah juga, kasih tuh deh ke Om Sanjaya dan Tante Mira.”
Sontak Dery menatap tajam ke arah Devan, tapi tentu saja calon suamiku itu hanya terkekeh. Entah apa yang mereka berdua sembunyikan.
"Serah elo, dah Van. Posisi gue ntar lebih tinggi dari elo. Gue bakal jadi kakak elo. Inget, itu!" Ledek Derry ke Devan.
Devan kulihat hanya nyengir, tidak peduli dengan ucapan Derry.
"De, selama belom nikah. Jangan mau diapa-apain ama nih, cowok!" ucap Derry padaku.
"Telat, Kakak kemana aja dua puluh tahun ini. Aku ama Devan udah ngelakuin banyak hal selama itu," ocehku.
"Emang Devan udah ngapain aja sama kamu?" Derry sudah pasang tampang seram dan serius menatapku dan Devan bergantian.
"Dua puluh tahun Derry, bayangin. Tentu saja kita main bareng. Bobok bareng. Bahkan mandi bareng juga pernah," ucap Devan membelaku.
"Kapan?"pekik Derry kaget.
"Pas Dea umur 4 taun," jawab Devan dengan wajah tanpa dosa.
"Anjir," maki Derry, merasa diphpin sama Devan.
Auto aku dan Devan ngakak sekencang-kencangnya.
Devan tidak salah, selama dua puluh tahun bersama tentunya buka waktu yang singkat. Aku dan Devan bahkan lebih sering bersama dibandingkan Derry yang notabene teman sekelasnya.
Hampir setiap sore, Devan ke rumahku atau sebaliknya aku yang ke rumahnya. Tentu saja, di sana kami bermain, makan sampai mandi sore bersama.
Bahkan Tante Dian, mendandaniku seperti anaknya sendiri. Terkadang aku menggoda Devan, mengatakan bahwa Tante Dian adalah Mamaku. Aku memeluk dan menciumi Tante Dian seenak hatiku.
Jika sudah begitu, Devan akan marah dan mendiamkanku sampai aku membujuknya dengan rayuan mautku.
Astaga, kalau mengingatnya aki jadi malu sendiri. Ternyata, aku ada bakat menggombal sejak kecil.
Sedangkan Devan, ia tidak pernah sekalipun mengucapkan kata-kata gombal dan rayuan. Semua kata-kata yang keluar dari bibirnya lebih banyak perintah dan larangan. Udah kayak Sultan aja.
Begitulah perbedaan kami. Bagai minyak dan air tetapi nyatanya bisa bersatu.
"Awas saja, kalo gue liat elo bikin adik gue nangis atau sedih. Aku bakal jadi orang pertama yang bakal nonjok elo sampai teler," ucap Derry sebelum meninggalkan kami yang tertawa puas karena berhasil mengerjainya.
"Siap, Kakak Ipar. Adik Ipar janji tidak akan membuat Dea tercintamu sedih," ucap Devan membalas Dery.
Aku hanya terkekeh mendengar mereka berdua saling lempar ledekan. Tak kusangka dua cowok pimpinan perusahaan ternama bisa saling ejek tanpa tendeng aling-aling melepas aura kharismatik dan wibawa.
Untung saja, tidak ada karyawan mereka berdua di sini. Coba kalau ada, entah dibuang kemana rasa jaim keduanya.
***
"Met bobok."
Devan mengirim pesan di aplikasi chatku.
"Night."
Aku mengirim balasan padanya.
Luar biasa, selama dua puluh tahun bersahabat dengannya, baru kali ini ia mengirim pesan seromantis malam ini.
Entah karena statusnya yang naik atau karena berusaha memberi perhatian lebih kepada calon istrinya. Masa bodoh, aku tidak mau berpikir terlalu jauh. Bagiku perubahan Devan saat ini, sungguh menguji irama jantungku.
Meskipun hanya sebaris pesan, berdampak tidak biasa. Jantungku benar-benar tidak sanggup berhenti berdetak normal.
Beginikah, rasanya memiliki seseorang yang satu frekuensi. Memiliki satu visi dan misi.
Eh, wait. Aku dan Devan belum saling mengatakan visi dan misi. Namun, rasanya aku sudah sreg dan siap menjadi bagian dari hidupnya.
Menunggu sebulan untuk menjadi Nyonya Devan, rasanya lama sekali.
Betul kata Derry, nyesel. Karena tidak mau memajukan tanggal pernikahan.
Oh my God, andai aku minta dimajukan mau ditaruh dimana mukaku. Tengsin, dong sama Tante Dian dan Om Wisnu.
Masa yang terlihat ngebet banget itu aku. Bagaimana pun, aku ingin terlihat normal dan semua berjalan sewajarnya. Tanpa ada salah satu menyusahkan.
Aku pun menyadari mempersiapkan pernikahan tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Semua butuh persiapan yang matang. Kami butuh mengurus surat-surat, gedung, Undangan, souvenir, chatering dan masih banyak agenda lainnya yang tidak tertulis.
Aku hanya bisa berdoa semoga, rencana kami berjalan sukses dan sesuai harapan. Tidak ada halangan yang memberatkan.
***