My Bestie My Husband

My Bestie My Husband
Misi Pertama



Aku membisikkan Sesuatu di telinga Devan. Kulihat Devan tersenyum sambil mengangguk dan menatapku.


“Aku percaya sama kamu,” bisiknya.


Karena tak tahan kukecup pipi Devan bergantian. Devan melotot ke arahku yang memasang tampang wajah tanpa dosa. Toh, dia suamiku halal juga aku apa-apain.


Aku tersenyum sambil terkikik kecil menatapnya merasa sukses mengisengi Devan.


Menatap muka juteknya malah membuatku gemas dan mencubit mesra kedua pipinya dengan manja.


“Awas cepet tua lo yaa… kalo jutek terus. Ntar kalo kita jalan berdua lalu ada yang komen jalan sama Om-Om Neng? Gimana coba? Emang kamu udah ikhlas aku dikira baby sugar? Awwwh…” jeritku karena Devan malah menjitak kepalaku pelan.


Tidak sakit sih, tapi aku sengaja supaya lebih terasa emosinya.


“Tapi lagi ngetren tuh jadi sugar baby. Aku ikhlas deh jadi sugar dady kamu,” balas Devan dengan senyum nakalnya.


“Gak keren, tau!” ucapku cemberut pura-pura marah kena batunya, kan aku.


Bukannya merayuku, tapi Devan malah tertawa lebar sambil menjulurkan lidahnya.


“Devaaannn…” teriakku kencang sembari memukuli lengannya.


“Aish, ternyata nyonya Devan kalau lagi marah lebih cantik,” Diraihnya tubuhku yang kini rasanya sudah tidak semungil dulu.


Berdiam diri di rumah tanpa banyak aktifitas membuat lemakku menumpuk. Tapi Devan tidak pernah protes, malah sering mengatakan aku seksi.


Beberapa bagian tubuhku akhir-akhir ini memang terlihat mengembang sempurna. seperti adonan donat yang dicampuri fernipan. Mengembang dengan cantik.


Donat sih, semakin mengembang semakin cantik. Nah, kalau aku? Semakin mengembang semakin insecure, walaupun kata Devan masih tetap cantik.


Sebagi wanita mana ada yang mau tubuhnya mengembang.


Hanya kata-kata indah, modus dan gombal suami yang bisa menyemangatinya.


Padahal kalau dilihat di depan cermin, aduh aku kadang malu sendiri. Ingin rasanya menjalankan program diet tapi Devan melarangku dan selalu sukses gagal total.


Devan menaikkanku di atas meja kerjanya, tangannya mulai bergerak lincah tanpa diperintah. Kurasakan sekujur tubuhku bergetar karena ulah Devan.


Dua kancing kemejaku bahkan sudah terbuka entah sejak kapan. Aku tidak menyadarinya.


Tok … tok … tok!


Aktivitas kami terjeda karena suara ketukan pintu.


Aku benar-benar ingin memaki si Freya itu, sudah aku pesan untuk tidak mengganggu kami tapi tidak dihiraukan.


“Sebentar…!” teriak Devan karena kami harus membereskan file-file yang berserakan.


Apalagi posisi kami saat ini benar-benar menguntungkanku untuk mengerjai Devan, tapi semua rusak gara-gara ulah Freya.


Aku membantu Devan membawa berkas tersebut ke sebuah ruangan di balik singgasananya.


“Aku sembunyi di sini saja,” ujarku cemberut.


“Udah ah, gak usah pasang tampang jutek gitu. Ntar aku lanjutin yang tadi.” Devan mengecup keningku dan merapikan kancing bajuku yang terbuka karena ulahnya tadi.


***


Dari balik pintu rahasia aku bisa mendengar sayup-sayup percakapan suamiku dan tamunya. Namun, untuk melihat jelas wajahnya tentu saja aku tidak bisa. Alhasil aku memanfaatkan indera pedengaranku kali ini.


Tamu Devan sepertinya menawarkan sesuatu. Namun suamiku tidak berkenan. Kudengar mereka terlibat perdebatan kecil, tapi sejauh ini aku masih belum paham maksudnya. Biarlah nanti Devan pasti menceritakannya.


Ternyata menguping membuatku lelah. Aku pun merebahkan tubuh di Kasur yang ada ruangan rahasia Devan, suasana sejuk membuat kedua netraku menjadi berat dan akhirnya tidak ingat apapun.


Aku terjaga saat Merasa ada benda aneh menyentuh wajahku. Ternyata benda itu milik lelaki yang katanya bucinku – Devan. Sebuah tangan kekar menyentuh area wajahku tanpa jeda.


Aku hanya mengangguk masih malas bersuara. Devan menjajari tubuhku, merebahkan dirinya di Kasur.


“Siapa orang tadi?” tanyaku.


“Dari Wasana group,” jawab Devan dengan tatapan menerawang jauh.


Suaranya terdengar lemas, perlahan ia menceritakan tujuan tamunya tadi.


Tanganku mengepal dan gigiku menggeretak menimbulkan bunyi aneh mendengar permintaan tamu suamiku yang mengajaknya bermain curang.


“Udah tenang saja. Aku menolaknya, kok. Aku tidak ingin menafkahi keluargaku dengan uang haram,” ucap Devan menenangkanku.


Aku tahu apa yang ia pikirkan saat ini. Tanpa diminta kumiringkan tubuhku dan mengulurkan tangan kananku ke perutnya.


Saat ini lelakiku ini benar-benar membutuhkan energi lain untuk tetap semangat. Membuatnya nyaman bersamaku apapun yang sedang ia rasakan.


Karena susahnya susahku juga. Bahagianya bahagiaku. Sedihnya sedihku. Senyumnya senyumku.


Love you my hubby.


You are my future.


***


Devan sengaja merencanakan kepulangan kami lebih malam. Karena hari ini aku harus memiliki beberapa bukti file kecurangan di perusahaannya.


“Akuntan kamu kemana sih, Dev?” keluhku tatkala mendapati angka-angka yang tidak wajar.


“Ada,” jawab Devan singkat.


“Coba sesekali ambil akuntan freeline,” saranku.


Devan hanya menggaruk tengkuknya. Segera kupalingkan pandanganku. Menyaksikan gerakannya menggaruk saja sudah membuatku terpesona.


“Dev, kok gak ada yang sadar sih kalo perusahaan kamu terjadi korupsi. Menurut analisisku ini sudah berlaku sekitar tiga bulan ini,” aku kembali membuka dan menyisihkan beberapa dokumen.


“Tiga bulan ya, De?” Devan menanyakan rentang waktu yang kuucapkan.


“Iya …," sahutnya tanpa semangat.


Devan seolah mengingat sesuatu dan aku kembali membaca file-file tersebut.


Kucatat dan kusendirikan beberapa file yang menurutku mencurigakan.


Aku menatap jendela, matahari sudah tergelincir di ufuk barat. Sinarnya digantikan cahaya bulan.


Akhirnya kami keluar dari ruangan Pak Bos untuk kembali ke apartemen.


Sepi dan gelap, walaupun masih ada seorang OB yang dimintai tolong Devan mengunci seluruh ruangan sebelum ia pulang.


Sebelum kembali ke apartemen Devan mengajakku makan malam di sebuah warung tenda. Menyenangkan. Bukan karena makanan dan tempatnya tetapi karena ada Devan bersamaku.


Sejenak lelakiku itu terlupa dengan masalah yang membelitnya, aku bersyukur walau sebentar tapi senyumnya adalah nyawaku.


Aku takkan sanggup bertahan tanpa melihat senyum tampannya. Senyum yang terkesan cuek terkadang terlihat manis . Namun, sewaktu-waktu berubah menjadi nakal. Bahkan pernah terkesan sangat manja. Namun entah mengapa aku selalu menyukainya.


Senyumnya adalah canduku.


Aish, ternyata aku juga super bucin sama lelaki mantan bestie-ku yang kini jadi masa depanku.


****


Selamat bucin.