My Bestie My Husband

My Bestie My Husband
Janji



Seperti janjiku pada Devan, untuk tetap menunggu di apartemen selama ia bekerja.


Selama itu, kami pun sering bertukar pesan, seperti yang ia ucapkan, bahwa aku diizinkan mengirim pesan kapanpun sesukaku tanpa sungkan, karena ia akan merasa sangat bersalah jika membuatku bosan sendirian di apartemen.


Bukan hanya aku tetapi kadang Devan mengirimiku pesan terlebih dahulu. Entah sekedar menanyakan sedang apa? Sudah makan atau belum? Atau menanyakan ingin dibawakan apa?


Tentu saja aku kembali dibuatnya berbunga-bunga seperti seorang ABG yang baru merasakan cinta kepada kekasihnya.


Sebuah rasa yang tidak pernah aku rasakan. Tahu sendiri, kan bagaimana hubungan kami sebelumnya. Hanya sebatas sahabat, meskipun saling suka tidak ada yang mendahului mengungkapkan perasaan masing-masing.


Kami terlalu sibuk dengan kata jaim dan gengsi. Hingga saat hari di cafe butik.


Ting sebuah notif masuk.


Aku membaca dari Devan. Dengan hati berbunga aku membacanya.


Namun, wajahku mendadak tertunduk membaca pesannya.


Dea sayang, maaf ya hari ini aku pulang telat.


Bunyi pesan Devan yang membuatku terluka.


Baru sejam yang lalu ia memuji dengan video callnya, tapi sekarang sudah berubah. Aku diamkan pesan Devan tanpa membalas.


Perasaannku sudah tidak karuan.


Bayangan Devan bersama seseorang terus membayangiku. Sejak aku berdiam di rumah mendadak aku menjadi baperan.


Berkali-kali kutengok layar monitor ponsel berharap ada pesan baru masuk.


Nihil.


Tidak ada satu pun ada pesan berikutnya. Aku meletakan ponselku begitu saja.


***


Pukul tujuh malam, terdengar suara pintu terbuka.


Aku hanya menoleh sekedarnya kepada Devan, tentu saja karena aku masih dongkol karena keterlambatannya.


Padahal dulu aku malah lebih sering pulang lewat tengah malam saat masih bekerja.


Entahlah aku juga tidak tahu mengapa moodku menjadi aneh sejak menjadi istri rumahan.


Devan tiba-tiba menubruk dan memelukku dengan lemas.


Kuelus rambut dan punggungnya mencoba memahami apa yang terjadi walaupun belum tahu kenapa.


Seketika rasa gengsi akibat pesan Devan terlupakan berganti menjadi rasa penasaran dan khawatir.


Devan menenggelamkan kepalanya di bahuku. Aku merasa ia mulai menyamankan tubuhnya.


“De, gue pinjem bahu elo sebentar.”


Tiba-tiba Devan menyebut dengan elo gue.


Aku hanya menghembuskan napas berat, mencoba menelaah bebannya melalui caranya memanggilku. Sebutan yang sudah lama tidak pernah kami gunakan.


“Gunakan bahu gue semau dan sebanyak elo mau. Gue ikhlas kok. Karena laki gue katanya hari ini pulang telat, jadi elo bisa pake ini!” bisikku mencoba membisikkan kata-kata konyol.


Masa bodoh dengan yang dipikirkan Devan, aku cuma mengeluarkan uneg-uneg yang mengganjal di hati.


Terserah Devan menilai aku seperti apa. Yang penting aku sudah lega.


“Elo tahu gak?” bisik Devan.


“Enggak,” jawabku.


“Diem. Dengerin gue dulu, Dea…!” ucap Devan kesal.


Aku sebenarnya ingin tertawa mendengar ucapan Devan, tapi mana berani aku tertawa di depannya langsung.


Karena aku yakin kondisi dia kali ini tidak sedang baik-baik saja.


Aku hanya merasa ada sesuatu hal buruk menimpanya. Namun, untuk pastinya aku tidak tahu.


“Iya.. iya.. cepetan mumpung laki gue masih di kantor!” ucapku.


Dengan sabar aku menunggu Devan mengatakannya. Kudengar ia menghela napas panjang berkali-kali sampai aku sempat bosan karena terlalu lama menunggu.


“Laki elo abis kehilangan tender 100 milyar,” bisik Devan.


***


Kira-kira gimana perasaan Dea, ya?


Bersambung.