MR.MATCHA

MR.MATCHA
Tentang Dewa




Fakultas Ekonomi Orziana. Entahlah, Ara sangat bangga jika menyebutkan nama fakultasnya itu. Hari ini Ara ada mata kuliah perbankan yang cukup membuat otaknya sedikit pecah. Bayangkan saja, dosen killer dengan mata kuliah yang paling Ara hindari. Bagaimana Ara bisa fokus terhadap mata kuliah itu?


Tadinya hari ini Ara berencana untuk langsung pulang, tetapi Dewa ada latihan basket. Dengan terpaksa Ara harus menunggunya, ingat keputusan Dewa selalu mutlak. Dia akan mencoba berbagai cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Melihat Dewa bermain basket Ara senang sekali, Dewa terlihat lebih keren saat mengenakan seragam Basketnya itu. Fyi lebih tepatnya Ara memang suka dengan cowok yang hobi bermain basket.


"Kok dia keren, ya," gumamnya perlahan.


"Ih apaan sih, Ra. Ke1ok lo malah merhatiin dia, sih," lanjut Ara sambil mengalihkan fokus kepada ponselnya lagi.


Setelah selesai bermain, dia menghampiri Ara dan Ara pun memberikan sebotol minuman untuknya. Tanpa sadar kini Ara mengelap keringatnya dengan handuk kecil hingga Ara tersadar dengan apa yang dia lakukan.


"Eh, maaf," ucap Ara yang hendak menghentikan aktivitasnya, namun Dewa menahan lengannya.


"Gapapa, gua seneng, kok," katanya sambil menuntun Ara untuk mengelap keringatnya kembali.


Ara pun hanya mengikuti perintahnya. Lagi-lagi dia tidak bisa berkutik di hadapan pria ini. Ara merutuki kebodohannya ini, kenapa dia tidak bisa pergi saja? Toh baginya ini hanya permainan?


"Udah ini mau kemana?" tanya Dewa sambil menatap Ara.


"Gue mau langsung pulang aja, Kak," jawabnya.


"Yah, jangan dong. Jalan-jalan dulu, yah," pinta Dewa.


"Yaudah, ikut aja," ucap Ara pasrah.


"Yaudah tunggu. Gua ganti baju dulu. Keringetan."


Ara pun hanya mengangguk pelan. Setelah beberapa saat tiba-tiba Rendy menghampiri Ara dengan senyum lebar.


"Pulang bareng, yuk," ajak Rendy.


"Anu, anu gue .... "


"Bareng Dewa?" tanya Rendy sambil menghembuskan napasnya kasar.


"Iya, Ren," kataku sambil mengangguk pelan.


"Lo berubah tau, Ra. Lo lupain gue karena sekarang ada pacar, gitu?"


"Ya gak gitu, gak enak aja gue," ucap Ara perlahan.


"Oh, lo ga enak sama Dewa? Sama gue? Oh gue emang nomor sekian sih, wajah," ucap Rendy miris.


Ara terdiam, dia tidak bermaksud untuk seperti itu Dia dalam keadaan yang sulit. Di satu sisi dia sudah mengiyakan ajakan Dewa dan Di sisi lain Rendy adalah sahabatnya. Ara memiliki rasa tidak enakan.


"Kecewa gue sama lo, Ra," katanya sambil berbalik meninggalkan Ara.


Ara mengusak rambutnya pelan, kenapa dia ada diposisi seperti ini? Tapi dia yakin kalau Rendy bisa dia bujuk nanti. Rendy tidak mungkin akan marah padanya berlama-lama.


"Udah selesai, yuk," ajak Dewa sambil menarik pergelangan tangan Ara.


Ara hanya terdiam karena masih terpaku pada kata-kata Rendy tadi. Dia harus memikirkan cara agar Rendy tidak marah lagi padanya.


"Lu gak apa-apaan, 'kan?" tanya Dewa.


"Gapapa, ayok," kata Ara.


...~ • ~...


Mereka pun sudah berada di mobil sekarang. Entahlah Dewa akan mengajak Ara kemana, yang pasti Ara memintanya untuk mengantarkannya dulu ke toko buku.


Setelah sampai di toko buku aku pun mulai ke bagian rak novel. Bagi Ara ini adalah surga dunia. Bahkan Ara bisa seharian di toko buku untuk mencari novel yang dia suka.


"Suka banget novel?" tanya Dewa memecahkan keheningan.


"Iya," jawab Ara singkat sembari membaca sinopsis yang tertera di salah satu novel.


"Kenapa?"


Ara menatap Dewa, tatapannya lembut menurut Dewa. Ditambah Ara memang gadis yang cantik. Lebih dari tipe idaman Dewa.


"Karena kebahagian yang gak gue dapetin bisa gue dapet dari novel," ucap Ara sambil menunjukkan novel yang ia pegang.


"Tapi novel gak selamanya bahagia kan isinya? Kadang dibuat konflik juga."


"Novel sama kehidupan itu beda-beda tipis, Kak. Kalau gak ada konflik nanti gak ngena ceritanya," jelas Ara.


"Katanya novel sama kehidupan beda-beda tipis, terus kenapa tadi lu bilang dapetin kebahagiaan lu di novel?" tanyanya lagi.


"Ya di situlah bedanya, Kak. Novel itu fiksi yang kebanyakan bakalan happy ending. Sedangkan hidup? Gue aja gak tau hidup gue bakalan Happy ending atau Sad ending."


"Sama aja, ketika lu baca novel juga lu kan gak tau akhirnya bakalan gimana kalau gak nikmatin alurnya dan baca sampai akhir."


Ara terdiam memikirkan kata-katanya. Benar juga apa yang dibilang Dewa. Kenapa dia tidak berpikir kesana ya?


"Intinya, lu cukup nikmati hidup, ikutin alurnya dan lu bakalan tau akhir dari kisah lu sendiri," katanya sambil mengusap puncak kepala Ara.


Ara pun tersenyum tipis, ternyata Dewa orangnya bisa bijak juga. Ara pikir Dewa hanya bisa memaksakan kehendaknya saja.


...Terkadang aku ingin kehidupan seperti di dalam novel. Yang memiliki kisah dramatis tapi manis dan happy ending. - Tsabita Keona Arabella...


"Udah, kak. Gue ke kasir dulu," ucap Ara.


Ara pun menuju kasir. Antreannya tidak begitu penuh, jadi dia tidak perlu


"Semuanya 320rb, Mba," kata petugas kasir.


"Oke sebentar," ucap Ara sambil mengambil dompet di tasnya.


"Ihh pake uang gue aja,gue ada kok," tolak Ara.


Namun Dewa membawa Totebag nya dan langsung menarik Ara keluar dari toko buku.


"Kak, bentar," ucap Ara sambil mengambil beberapa lembar uang dari dompetnya.


"Udah gak usah, anggap aja itu hadiah dari gua."


"Tapi, kak–"


"Lu itu pacar gua dan gua pingin ngasih sesuatu buat orang yang gue sayang, emang gak boleh?" tanya Dewa.


"Boleh sih. Yaudah, tapi lain kali jangan, ya." Entahlah, Ara seperti sudah terbiasa dianggap pacar oleh Dewa.


Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Ara pun juga tidak tahu akan dibawa kemana. Hingga mereka turun di sebuah tempat yang sangat indah. Curug Cimahi atau lebih tepatnya adalah Air Terjun Pelangi. Tempat wisata yang cukup terkenal di kota Bandung dan kota Cimahi.


Satu persatu anak tangga mereka lewati. Dan mereka juga di sambut oleh monyet-monyet yang berada di pinggiran tangga ini. Sebenarnya Ara takut, ya dia memang sangat penakut dalam beberapa hal.


"Kak, gue takut monyet," ucap Ara yang terus memegang lengan Dewa.


"Ada gua, gak usah takut.


Hingga mereka ada di tempat ini. Di sini udaranya begitu sejuk. Ditambah dengan nuansa sore hari yang membuat air terjun itu menjadi berwarna ungu atau warna lainnya yang sangat indah. mereka duduk dengan menghadap ke air terjun, sungguh suasana yang membuat Ara tenang sekali.


"Tempatnya bagus, 'kan?" tanya Dewa.


"Banget," ucap Ara takjub.


"Suka sama tempat ini?"


"Iya, Kak. Gak tau kenapa gue suka sama tempat yang berbau alam kaya gini dan lo tau? Gue suka banget hiking," kata Ara antusias.


"Gue juga suka, hiking bareng pacar asik kayaknya," katanya sambil menggoda Ara.


"Haha, boleh nah. Udah lama juga gue gak hiking, Kak," sahut Ara.


"Jadi udah terbiasa nih di panggil pacar?" tanya nya yang menggoda gadis itu lagi.


"A-apa sih, Kak Dewa mah," kesal Ara dengan mengeluarkan jurus pout andalannya.


"Hehe, canda."


Ara pun hanya bisa menyembunyikan muka merahnya ini. Terbiasa? Ya mungkin saja. Apa benar kalau cinta karena terbiasa itu ada? Ara tidak tahu, yang jelas Ara menikmati suasana di sini sekarang B E R S A M A N Y A.


"Oh iya, gimana keadaan Mama lu? Lagi hamil, kan?"


"Bunda? Baik-baik aja kok. Masih bisa kerja juga."


"Ayah?"


"Gak tau."


"Kenapa?"


"Ayah gue gak tau kemana, dia kerja keluar kota terus. Lagian gue juga gak deket kok sama Ayah."


"Sama, gua juga jauh dari orang tua. Terlebih Mama," katanya.


"Emang Mama Kakak kemana?" tanya Ara.


"Boleh cerita?"


Ara pun hanya menganggukan kepalnya. Mendengarkan cerita adalah kemampuan Ara.


"Semenjak Mama punya selingkuhan, keluarga gua hancur," ucap Dewa perlahan.


"Awalnya keluarga gua baik-baik aja, tapi semenjak selingkuhan Mama datang ke rumah, Papa gua meninggal," lanjutnya.


"Meninggal?"


"Iya, serangan jantung."


"Kenapa selingkuhan Mamanya Kakak datang ke rumah?"


"Dia pingin Mama gua cerai waktu itu dan semenjak itu gua benci sama Mama dan selingkuhannya."


"Tega banget, Kakak sabar ya, Papa kakak pasti udah tenang di sana," kata Ara berusaha menghiburnya.


"Iya, karena gua bakalan pastiin keluarga orang itu bakalan hancur berantakan."


Ara hanya bisa terdiam, karena tak ada seorang pun yang bisa menerima perlakuan setega itu. Apalagi harus sampai kehilangan seseorang yang sangat berarti untuk hidupnya. Ara belum berani untuk memberikan nasehat.


"Ra, lu gak apa-apa, 'kan?" tanya Dewa.


"Gak apa-apa kok," jawab Ara.


"Lu orang pertama yang tau masalah gua setelatem-temen gua."


"Kenapa lo percaya sama gue?"


"Karena lu pacar gua dan gua sayang sama lu. Jadi jangan pernah tinggalin gua ya," katanya sambil membawa Ara ke dalam pelukannya.


Ara terdiam sejenak, aroma tubuh Dewa sangat membuatnya nyaman. Ada yang berbeda dari diri Dewa yang tak mampu dia tebak. Kehidupannya yang ternyata tidak seindah yang Ara pikirkan, membuat Ara terkesan akan kebijakannya dalam menghadapi kehidupan. Kalau Ara menjadi Dewa, belum tentu akan setegar itu.


Dia semakin tidak enak jika harus meninggalkan Dewa. Tapi dia juga tidak bisa terus berada di posisi seperti ini, 'Kan?