MR.MATCHA

MR.MATCHA
Si Posesif




Setelah beberapa hari Dewa sudah bisa menjalankan aktivitasnya dengan normal. Seperti sekarang, dia dan Ara sedang berada di cafetaria kampus sambil menggenggam satu sama lain.


"Kak, gue-"


"Yang ... "


"Oh iya aku maksudnya, Kak," cicit Abel.


"Aku berasa tua dipanggil Kakak," protes Dewa.


"Loh kan emang lebih tua dari gu- aku. Udah sih panggil Kakak aja, aku lebih suka manggil kamu Kakak," ucap Ara mutlak.


"Ck iya." Dewa pasrah saja, biarkan gadis itu memanggilnya sesuka hati, karena dia keras kepala.


Ara tersenyum kemenangan, setelah itu mereka melanjutkan mencari meja yang kosong. Mata Ara berbinar saat melihat sekumpulan anak kedokteran di sana, entah kenapa menurutnya mereka sangat cantik dan tampan.


Dewa yang melihat itu langsung merangkul bahu ara sembari menutup matanya dengan tangan. "Matanya jangan nakal, jangan lirik sana-sini."


Ara melepaskan tangan Dewa dari matanya, bibirnya mengerucut karena kesal. Memang kenapa kalau lihat sana-sini? Toh sekarang juga pacarnya Dewa. "Posesif."


"Baru tau aku posesif? Kamu bukan barang yang bisa aku bagi-bagi. Jadi jangan kaya gitu," peringat Dewa sembari menarik tangan Ara untuk duduk di meja pilihannya.


"Padahal mau aku liat sana sini juga tetep ujungnya milih kamu, soalnya kamu suka maksa," cibir Ara sembari melihat-lihat menu.


Dewa gemas sekali melihat gadis itu dan mengacak-acak rambutnya. "Gapapa maksa, kalau gak maksa kamu gak akan ada di samping aku sekarang."


"Aku ada di depan kamu, bukan di samping. Ck, punya pacar kok oon banget," ucap Ara asal.


"Dih berani ngatain?" Tanya Dewa sembari menatap ke arah Ara dengan serius.


"Kamu lupa siapa yang marah-marah di hari pertama kita ketemu dan di hari pertama aku ospek? Itu artinya aku pemberani," ucap Ara.


Benar juga, gadis itu adalah gadis pertama uang tidak mengejar dia. Bahkan begitu cuek di awal, meskipun banyak yang memperingatkan kalau Dewa itu menyeramkan. Akhirnya Dewa memilih menghela napas saja. Gadis itu memang tidak pernah mau mengalah kalau soal argumen.


Ara memilih untuk memesan pasta dan chiken karage, sementara Dewa memilih untuk makan nasi goreng. Setelah pesanan datang, mereka pun makan.


"Hari ini berapa matkul?" Tanya Dewa.


"1 Matkul, soalnya yang satu lagi udah ditarik ke hari kemarin. Kamu berapa matkul, Kak?" Tanya Ara.


"2 matkul, nanti pulangnya tunggu ya. Biar kamu sama aku pulangnya," peringat Dewa.


"Aku bisa pulang sendiri atau sama Rendy, lagian lama tau nungguin. Aku gak suka nunggu," ucap Ara.


"Tungguin, aku gak mau ya kamu kenapa-kenapa," kata Dewa.


"Aku gak akan kenapa-kenapa, Kak. Kakak nih, emang aku anak kecil? Gakk, aku gak mau nungguin. Kaya orang dongo nantinya nungguin sendirian," kesal Ara.


"Pacar temen aku suka nunggu di sana, kenapa kamu gak mau?" Tanya Dewa gemas.


"Aku gak suka nunggu, Kak. Pukul ya?!"


"Aneh, cuma kamudoang cewek yang kaya gitu sama aku. Dikasih makan apa sih, Ra? Udah galak, cerewet, cuek. Aku bucin sama yang lain tau rasa," ucap Dewa asal.


Ara menghela napas. "Yaudah sana lah, lagi pula banyak yang cantik. Mau aku kenalin? Oh atau anak kedokteran yang di sana mau?" Ara berdiri namun Dewa menahannya dan kembali membuatnya duduk. Benar-benar nekad.


Aneh memang, mereka baru pacaran tapi tidak ada romantis-romantisnya. Ara begitu cuek sedangkan Dewa yang posesif dan pemaksa. Mereka malah terlihat seperti kakak beradik daripada sepasang kekasih.


Setelah berperang argumen dengan Dewa tadi pagi, Ara memutuskan untuk menunggu Dewa di perpustakaan sembari mencari beberapa buku untuk referensi tugasnya. Sebenarnya Ara malas sekali jika harus menunggu orang, tapi sayang sekali ternyata pacarnya adalah seorang Dewa Arkan Bagaskara. Mau tidak mau Ara mengikuti kemauan pria itu.


Saking lamanya dia menunggu, ternyata ngantuk juga. Dia hanya berniat menaruh kepala di lengannya, tapi ternyata dia malah ketiduran.


Sudah 30 menit Ara tertidur, tiba-tiba seseorang menghampiri mejanya tanpa berniat membangunkannya. Rendy menggeleng, gadis itu memang ceroboh.


"Gimana gue bisa tenang kalau dia ceroboh banget kaya gini," gumamnya.


Perlahan Rendy mengambil ponsel Ara dan memasukannya ke tas milik gadis itu. Dia juga menutup jendela di belakang Ara karena gadis itu kedinginan dan di luar sedang hujan. Dengan pelan-pelan juga dia menaruh jaketnya ke tubuh Ara. Meskipun Ara kini sudah bersama Dewa, tapi mereka tetap sahabat, kan?


Setelah memastikan Ara aman, dia keluar dari perpustakaan. Dia yakin kalau Ara sedang menunggu Dewa, jadi dia biarkan saja.


Tak selang beberapa lama Dewa datang ke perpustakaan, sedikit tersenyum saat melihat gadisnya itu tertidur lelap. Menurut Dewa, Ara lebih terlihat jinak saat sedang tertidur.


"Kasian, pasti nunggu gua lama ya?" Dewa duduk di samping Ara seraya merapikan helaian rambut gadis itu.


Dewa jadi tida tega membangunkannya. Tapi dia senang bermain di wajah Ara. Seperti menarik pipi atau hidungnya, gemas sekali.


"Emmhhh." Ara mengerjapkan matanya saat sesuatu menarik pipinya.


"Kakak?! Kenapa gak bangunin aku?" Kesal Ara sembari mengumpulkan nyawanya.


"Kamu tidurnya pules banget, gak tega bangunin," jawab Dewa santai.


"Kakak sih lama, jadi aja aku ketiduran," kesal Ara.


"Maaf ya." Dewa mengusap rambut Ara dengan lembut.


Ara hanya mengangguk singkat, sekilas Ara melirik ke arah jaket yang terpasang di tubuhnya. Dia seperti mengenali jaket ini. Dia sudah bisa menebak, ini pasti milik Rendy, wangi pria itu tidak pernah berubah. Tapi kenapa Rendy seperti menjauh darinya ya sekarang?


"Kenapa ngelamun?" Tanya Dewa.


Ara mengambil jaket itu lalu, menggantungkannya di lengan. "Hm? Engga, gak kenapa-kenapa."


"Bohong."


"Beneran yaampun, ini kita gak jadi pulang?" Tanya Ara.


"Jadi, ayok pulang. Tapi nanti dijalan kita makan dulu, kamu pasti belum makan," ucap Dewa mutlak.


"Kalau aku bilang gak mau juga pasti kakak maksa, kan?" Tanya Ara.


"Pinter, kayanya pacar Dewa ini sudah memahami pacarnya sendiri."


"Bukan paham, tapi karena udah sering dipaksa," cibir Ara.


Dewa tertawa mendengar penuturan Ara. Gadis itu memang terlalu jujur dalam mengutarakan apapun. Tapi Dewa menyukainya, dia suka gadis penurut tapi dia juga suka dengan kepribadian Ara yang seperti itu.


Mereka berdua pun keluar dari perpus, tanpa mereka sadari kalau sejak tadi Zelda menatap mereka tak suka. Bagaimana pun dia yang sudah beberapa tahun ini berjuang mendapatkan Dewa, jadi tidak semudah itu Zelda mengalah pada seorang gadis yang menurutnya tidak ada apa-apanya.


"Lo liat aja, siapa yang bakalan dapetin Dewa pada akhirnya. Tinggal tunggu tanggal mainnya aja."