
Hari ini Ara pergi lebih pagi dari biasanya, dia sengaja karena tidak ingin Rendy atau Dewa menjemputnya. Salah satunya sudah pasti akan cemburu. Semalaman dia tidak bisa tidur, dia terus memikirkan langkah apa yang terbaik untuk dia ambil saat ini. Setelah berkutat dengan pikirannya yang cukup panjang, akhirnya dia memilih untuk menjauh dari Dewa.
Dia takut kedepannya akan semakin rumit, dia tidak mau menyakiti siapa-siapa. Semakin Dewa cepat memahami dan menerima, maka akan semakin baik. Ara melirik ponselnya, beberapa panggilan tak terjawab dari Rendy dan Dewa.Dia menarik napasnya panjang, kenapa sulit berada di posisi seperti ini?
Maudy melirik ke arah Ara, dia sedari tadi memperhatikan temannya itu begitu gusar, sambil sesekali melihat ponselnya. Karena jengah, dia akhirnya menepuk pundak Ara, "Woii, lo kenapa sih?"
Ara mengalihkan pandangannya pada Maudy sambil memajukan bibirnya,"Gue galau."
"Galau kenapa?" tanya Maudy keheranan, mukanya yang seperti itu bukan Ara sekali. Biasanya dia selalu ceria.
"Lo kalau jadi gue bakalan gimana? Misalnya lo lagi deket sama orang, tapi sahabat lo gak suka lo deket sama dia. Sebenernya bisa aja sih lo bodo amat, tapi lo sama sahabat lo ini udah sahabatan dari kecil."
"Bilang aja lo lagi deket sama Kak Dewa, tapi Rendy gak izinin. Gitu, 'kan?" Tepat sasaran, memang tidak sia-sia Ara bicara dengan Maudy.
Ara mengangguk lemas, dia benar-benar dilema hari ini. Tubuhnya terasa cemas, dia juga merasa sedih tapi tidak karuan. Baru kali ini dia merasakan hal seperti itu.
"Menurut gue lo harus pikirin jalan terbaik buat lo saat ini sih. Maksudnya mana yang menurut lo lebih penting. Yang bisa diusahakan sesuai kemampuan lo sekarang. Misalnya lo mau lanjut sama Kak Dewa dan mencoba buat Rendy terima dia. Atau lo berhenti suka dan lo aman-aman aja sama Rendy. Tapi sebelum lo pilih, gue mau tanya, lo udah suka sama Kak Dewa?" tanya Maudy.
"Gue gak tau, Dy. Gue gak bisa mastiin perasaan gue sendiri. Gue cuma seneng aja ada di deket Kak Dewa. Gue juga ngerasa gak bisa ninggalin dia. Tapi, Rendy gak pernah semarah ini sama gue. Gue gak mau putus hubungan cuma gara-gara cowok. Apalagi lo tau gue sama Rendy sedeket apa."
"Tapi kok gue ngerasa kalau Rendy suka sama lo ya, Ra?" Mau berpikir, pasalnya sikap Rendy bukan seperti sahabat di mata Maudy. Ada hal lebih yang terlihat ketika melihat Rendy sedang bersama Ara.
"Ngaco, engga lah. Kita ini emang deket banget, dia juga gitu karena dia bilang gue kan belum pacaran, dan gue harus pastiin perasaan gue dulu. Dia gak mau kalau gue disakitin sama cowok."
Maudy mengangguk paham, "Emm, tapi kalau soal itu dia bener sih. Lo gak bisa asal jatuhin hati karena lo ngerasa seneng di deket dia. Inget, Ra. Perasaan itu ada dua, ada yang menetap dan ada juga yang sementara. Bisa jadi lo cuma suka sesaat aja. Atau bedain, rasa yang lo rasain itu beneran suka, kagum, sayang, cinta, atau gimana? Karena itu beda."
Ara mengangguk perlahan, Maudy benar. Dia saja bahkan tidak bisa membedakan perasaannya sendiri. Tapi yang pasti menjauh dari Dewa sekarang adalah pilihan yang tepat.
.
.
.
.
Ara melangkahkan kakinya keluar dari kelas, namun tiba-tiba saja pergelangan tangannya ditahan oleh seseorang. Rendy, tumben dia menunggu di depan kelas.
"Aihhh ngagetin aja lo," kesal Ara yang merasa tersentak saat tangannya tiba-tiba dicekal seseorang.
"Ayok pulang, Little Poni ada episode terbaru. lo gak mau nonton?" Rendy mengeluarkan ponselnya dan memperlihatkan episode film kesukaan Ara itu. Matanya langsung berbinar saat mengetahui kalau Rendy tidak berbohong.
"Ayokk, tumbenan lo update. Biasanya gini 'Apasih, Ra kaya anak kecil aja lo nonton film gituan' gitu. Ara menirukan gaya bicara Rendy dan dihadiahi jitakan pada kepalanya.
"Giliran gini dibilang tumben. Ya pingin aja, baru baikan juga. Daripada lo gabut di rumah sendirian. Bunda lo kan pulangnya minggu depan. Mending kita nonton, 'kan?"
"Iya juga, tapi ya tumben aja lo mau. Kaya orang kesambet." Ara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil menatap Rendy keheranan.
"Bacot, ayok balik ajalah. Mumpung gua lagi baik nih, sekalian makan ramen, atau gua beliin Jajangmyeon kesukaan lo mau?" tanya Rendy.
Ara dan Rendy pun langsung keluar dari kampus. Mereka sibuk membicarakan film Avengers yang sebentar lagi akan tayang. Keduanya memiliki hobi yang sama, yaitu menonton bioskop. Tidak heran jika terkadang mereka asik sendiri sampai tidak sadar kalau Dewa memperhatikan mereka dari jauh.
Sebenarnya Dewa ingin menemui Ara, tapi dia sadar sepertinya Ara sedang menghindari dirinya. Dari mulai chat yang tidak dibalas, telfon tidak diangkat, ditambah tadi pagi dia sudah berangkat lebih pagi dari biasanya. Dewa juga tidak ingin membuat Ara dan Rendy bertengkar, sepertinya baru berbaikan. Sebaiknya dia menunggu waktu yang tepat untuk berbicara dengan Ara. Jadi dia akan memberi Ara jeda untuk terlepas dari beban berlebih.
Ara dan Rendy pun memasuki mobil, tak lupa Ara memasang seatbell agar Rendy tidak bawel. Padahal Ara tidak suka menggunakan seatbell, menurut Ara rasanya aneh, seperti diikat. Mereka asik mengobrol sambil memakan cemilan.
"Eh, Ren. Lo tau gak?"
"Tau apa?" Rendy melirik ke arah Ara sekilas.
"Saking dektnya kita, masa Maudy bilang lo suka sama gue. Hahahahaha kan gak mungkin ya. Gue heran deh ada aja yang kaya begini. Padahal jelas-jelas kita sahabatan udah lama." Ara tertawa dan Rendy pun ikut tertawa. Tidak, lebih tepatnya dia terpaksa tertawa.
"Lah kenapa dia bisa mikir gitu? Aneh-aneh aja anjir temen lo hahahaha." Rendy pun tertawa dan setelahnya dia langsung meminum air mineral.
"Gak tau, tapi gue udah bilang gak mungkin lah. Kita emang deket jadi mungkin orang salah paham. Tenang-tenang, lo gak akan diterpa rumor jahat," kata Ara sambil menepuk-nepuk bahu Rendy.
"Betull." Rendy mengacungkan jempolnya, dia kembali fokus menyetir. Sesekali dia menelan salivanya, tenggorokannya terasa tercekat. Dia mulai berpikir, apa orang-orang menyadari ya kalau dia menyukai Ara?
Tapi dia merasa kalau akhir-akhirnya ini dia terlihat begitu agresif dan posesif terhadap Ara. Jujur itu semua di luar kendalinya. Bahkan atas hari ini pun dia sengaja menunggu di depan kelas Ara agar dia tidak bisa bertemu Dewa. Lari dari 1 fakultas ke fakultas lain. Dia benar-benar melakukan itu demi Ara. Dia takut kehilangan Ara, dia sudah membiasakan diri bersama Ara dan membiarkan dia memiliki seorang kekasih perlu waktu yang panjang untuk bisa menerimanya.