MR.MATCHA

MR.MATCHA
Perhatian Kecil




...Sekecil apapun perhatian yang kamuu berikan, itu membuat jantungku berdebar lebih kencang dari biasanya. - Tsabita Keona Arabella...


...~ • ~...


"Lo harus cerita sama gue, Ra," kata Rendy sambil menyetir mobilnya.


"Cerita apaan?" Tanya Ara yang sebenarnya malas untuk membahas ini.


"Lo kenapa bisa jadi pacar si Dewa itu? Lo gila apa? Kalian baru kenal loh."


"Oh itu, ya kan lo tau gue kemarin malam disuruh nembak dia."


"Lah, kan permainan itu, gak bisa lah lu jadi pacar dia gitu aja," kesal Rendy.


"Gak taulah. Gue juga bingung, Ren. Dan gak usah bahas ini lagi, gue ngantuk mau tidur. Gila gue cape banget gara-gara menghadapi kesialan gue beberapa hari ini."


"Ah lo mah. Lo masih anggap gua sahabat gak sih?" tanya Rendy dengan nada kecewa.


"Ya gue cantik, tau kok. Udah sih gak penting juga" katanya santai.


"Tai lo!"


"Dih gitu, serius gue mumet kalau mikirin itu."


"Cerita sedikit aja, Ra."


"Kok lo kepo, Ren? Gue bakalan berbagi apapun sama lo kalau itu emang penting."


"Ya udah gue tanya, lo suka sama dia?" tanya Rendy menyelidik.


"Gak tau, gue bingung sama perasaan gue sendiri," kataku.


"Nggak lah gila. Gue cuma gatau aja kenapa keputusan yang dia ambil kaya mutlak gtu. Kaya .... "


"Kaya apa?"


"Udah ah gue mau tidur."


Ara mengambil heatset dan memasayang nya. Dia tidak ingin membahas ini lebih lanjut. Dewa Arkan Bagaskara itu dia memang menyulitkan hidup Ara saja. Ospek sudah berakhir dan sekarang dia bisa terbebas dari itu semua. Sementara Rendy masih menggerutu karena Ara membuatnya penasaran. Ara hanya tertawa kecil melihat sahabatnya yang seperti itu. Mereka memang sudah bersahabat sejak kecil, hingga Ara sudah tau bagaimana sikapnya. Jadi tak heran jika Rendy selalu ingin tahu dengan segala sesuaty yang bersangkutan dengan Ara. Apalagi soal paca, karena Ara tidak pernah memperkenalkan pria sebelumnya. Dan kini Mereka pun sudah sampai di depan rumah Ara.


"Mau masuk dulu, Ren?" tanya Ara saat menuruni mobil.


"Gak usah, mau balik gue. Males," katanya dengan nada yang dibuat ketus.


"Lah, kenapa sih lo?Lo marah sama gue kah?"


Namun tanpa sepatah kata lagi, Rendy pergi dan melajukan mobilnya. Ara tahu kalau Rendy sedang kesal padanya, tapi urusan seperti ini bukan hal yang penting baginya, apalagi untuk diceritakan.


'Nanti juga baik lagi, kebiasaan. Marah-marah karena masalah sepele. Rendy ... Rendy.'


...~ • ~...


Setelah selesai mandi, Ara kembali ke kamarnya. Rasanya badan Ara ini remuk semuanya. Dia ingin memejamkan matanya namun tidak bisa. Pikirannya melayang kemana-mana.


Dewa Arkan Bagaskara.


Terbesit namanya saat ini dalam pikiran Ara, entahlah Ara tidak mengerti dengan pria itu. Dewa menyukai dirinya? Rasanya itu tidak mungkin. Mereka pun baru mengenal satu sama lain. Jadi, cukup sulit logikanya untuk mempercayai itu. Lalu, bagaimana dengan dirinya? Apa Ara menyukai Dewa? Bahkan Ara sendiri pun tak tau bagaimana perasaannya sendiri. Logikanya mengatakan tidak, tapi ketika bersamanya seolah semua tidak bisa dihentikan.


Tok ... Tok ... Tok


"Non, ini Bi Asih," panggil Bi Asih dari luar kamar Ara.


"Iya, Bi bentar," sahut Ara sambil mengikat rambutnya dan segera membukakan pintu.


"Kenapa, Bi?" tanya Ara saat membukakan pintu.


"Emm, anu, Non. Ada temennya di bawah, katanya mau ketemu si, Non," kata Bi Asih.


"Temen, Bi? Siapa? Armita? Cantika? Temen SMA aku?" tanya Ara kebingungan.


"Bukan, Non. Itu katanya Den Dewa," kata Bi Asih Ara langsung menepuk dahinya.


'Hah? Dewa? Ngapain sih dia kesini. Mau ngapain coba itu orang?'


"Oh ya udah, makasih, Bi.Ara ke bawah ya," ucap Ara yang langsung ke bawah untuk menemui Dewa.


Dan benar saja, ketika Ara sampai di bawah dia sudah duduk manis di ruang tamu. Pria menyebalkan, tampangnya pun polos saja telah datang malam-malam begini ke rumah anak orang. Untung saja orang tuanya sedang tidak berada di rumah.


"Selamat malam cantik. La—"


"Lo ngapain kesini sih kak? Mau ngapain coba?" Tanya Ara yang memotong pembicaraannya.


"Belum juga ngomong, udah dipotong."


Dengan kesal Ara duduk di sofa dengan membantingkan tubuhnya.


"Ya maaf, mau ngapain?" tanya Ara lagi.


"Pingin liat lu aja. Khawatir sama pacar."


"Ngapain liat gue?"


"Gapapa," lalu dia pindah dan duduk di sebelah Ara.


"Terus kalau lo udah liat gue mau apa?"


"Lah, lo aneh tau gak."


Ara memijat bagian kepalanya, karena rasanya pusing sekali. Sepertinya ini efek kelelahan. Tadi dia akan tidur, tapi matanya tidak bisa diajak kompromi.


"Kecapean ya, Ra? Lu harus minum vitamin, makan yang banyak juga, istirahat yang cukup."


"Biasa aja," ucap Ara dengan datar.


Lalu Dewa mengelus rambut Ara dengan lembut.


"Ya gua tau kok, lu pasti capek. Maaf gua ganggu istirahat lu ya. Gua cuma belum bisa tenang sebelum .... "


"Sebelum apa?" tanya Ara sambil menatap ke arah Dewa.


"Sebelum ngucapin selamat istirahat ke lu," katanya dan otomatis membuat jantung Ara berdebar kencang lagi.


Pipinya memanas dan sepertinya memerah juga. Dewa ini selalu membuatnya hampir jantungan. Kelakuannya yang aneh dan tidak bisa ditebak.


"Ini gua bawain chocolate cake, dimakan ya. Jangan lupa tidur yang cukup. Jangan mikirin gua terus, gua balik ya." katanya sambil melangkah keluar menuju pintu.


"Eh, Kak," panggil Ara sambil terperanjat.


"Apa?" Dewa berbalik dan kembali menatap Ara.


"Makasih ya," ucap Ara sambil tersenyum tipis.


"Sama-sama," katanya yang kembali berjalan keluar pintu dan tak lupa membalas senyuman Ara.


'Ada apa dengan gue. Kenapa jantung gue deg-degan gini. Kenapa gue seneng banget ya dan kenapa gue senyum senyum gak jelas kaya gini? Ya ampun jangan sampe gue baper cuma gara-gara dia care sama gue.'


"Itu pacarnya si Non, ya?" kata Bi Asih yang tiba-tiba datang entah dari kapan.


"Ih, apa sih, Bi. Mana ada pacar Ara. Ngaco nih Bibi," kata Ara sambil tertawa pelan.


"Ganteng tapi non," kata Bi Asih.


"Ah, Bi. Biasa aja dia tuh. Dia itu senior Ara di kampus, udah ah Ara mau ke kamar," katanya sambil berlari menaiki tangga.


Sesampainya di kamar Ara membuka ponselnya dan ternyata ada notif pesan line.


...Chatting line...


...Dewa Arkan....


Dewa Arkan : Jangan lupa istirahat.


Dewa Arkan : Jangan cape-cape.


Dewa Arkan : Makan cakenya ya.


Dewa Arkan : Udah itu tidur.


Dewa Arkan : Kalau udah bangun, kasih tau ya.


^^^Tsabita Arabella : Iya.^^^


Dewa Arkan : Good girl.


"Dewa, kalau lo perhatian terus sama gue gimana gue bisa lepas dari lo? Gimana kalau gue nanti suka sama lo? Gue gak mau itu sampe terjadi," gerutunya.


"Dewa kenapa lo kaya gini sih??"


"Kalau gue baper gimana ya Allah," kata Ara sambil mengacak-acak rambutku frustrasi.


Di rumah ini sepi sekali, orang tuanya belum pulang dari pekerjaan mereka. Ya, memang sudah biasa sih. Tapi tetap saja rasa sepinya tidak berubah. Benar-benar sepi dan membosankan. Ara yang berniat tidur malah semakin tidam bisa tidur.


Karena Ara tak bisa tidur, Ara membuka instagramnya. Ada notif tag dari Dewa. Bisa-bisanya dia melakukan hal itu.


DewaArkan_



♡623.908 likes


DewaArkan_ Dear.


RakaNavvere01  Iya Dear :*


Aditya_Dark Najis! @Rakanavvere01


Lindaayay_12 Ululu Dear, Dew?


Zeldania Hm.


DewaArkan_ Bri6


Ara hanya tertawa saat melihat komentar-komentar itu. Tapi apa? Dia mengetag Ara tepat di anjingnya. Benar-benar super aneh dan menyebalkan.


Kalau di lihat-lihat Dewa itu bukan ganteng, tapi ganteng banget. Satu hal yang bisa Ara cerna adalah, sepertinya Zelda menyukai Dewa. Dan mungkin itu alasannya dia meninggalkannya waktu itu di hutan. Tapi dia terus berusaha untuk positif thinking.


"Tapi kenapa mereka gak jadian aja coba? Kak Zelda itu cantik kok dibandingkan sama gue. Gue gak ngerti atau Kak Zelda itu adalah mantannya Kak Dewa? Kok aku kepo ya sama mereka. Apa hubungan antara mereka?" gumamnya


Semua ini membuatnya bingung, akhirnya dia berusaha untuk menghentikan pemikirannya itu dan lebih memilih untuk bermain game.