
Hari Sabtu adalah hari yang Ara sukai, di mana dia bisa menikmati waktu tanpa dibayangi oleh tugas dan besok harinya adalah hari Minggu. Meskipun libur, Ara tetap bangun pagi, seperti sekarang, dia baru selesai mandi.
Ara membuka ponselnya, sudah beberapa hari ini Rendy tidak membalas pesannya. Ara jadi takut kalau Rendy kenapa-kenapa. Jadi dia memutuskan untuk ke rumah Rendy yang berada di seberang rumahnya.
Pintunya terkunci, pasti Rendy sedang sendirian di rumah. Karena biasanya jika Tante Citra ada, pintu rumah tidak terkunci. Ara mengetuk pintunya bar-bar.
"Renn main yukkk, Rendyyyy. Hello spadaaaa," teriak Ara.
Setelah beberapa menit, pintu pun terbuka. Menampilkan wajah masam Rendy yang menunjukkan ketidak tertarikannya dengan kehadiran Ara.
"Ngapain?" ketusnya.
"Ih kok lo gitu ngomongnya. Lo gak bales chat gue, main ke rumah gue pun engga," kesal Ara.
Rendy pun masuk ke dalam rumahnya dan duduk di sofa, ya tentu saja Ara mengikuti dan duduk di sebelahnya, Ara memeluk Rendy sambil mengunyel-unyel pipinya.
"Kangen cabatku ini," ucapnya dengan girang.
"Loh dikirain udah lupa kalau punya temen kaya gue," ucap Rendy yang terlihat marah.
"Lo marah ya sama gue? Kenapa? Biasanya juga lo bilang sama gue. Mending lo marah-marah aja deh daripada diem gitu. Gue lebih tenang jadinya."
"Tanya lah sama diri lo sendiri."
"Oke. Ra Rendy kenapa? Gak tau, cuma Rendy yang tau jawabannya. Tuh udahhh katanya gak tau," kata Ara yang bertanya pada dirinya sendiri.
Rendy ingin sekali merutuki gadis yang berada di sampingnya ini. Kenapa Ara tidak peka kalau dia marah karena kedekatannya dengan Dewa.
"Pertama lo gak cerita soal Dewa, kedua lo udah gak punya waktu buat gue, ketiga lo lupain gue." Rendy mendikte semua kesalahan Ara.
Ara terdiam, dia pikir Rendy mungkin benar. Akhir-akhir ini Ara jauh lebih sering menghabiskan waktu dengan Dewa.
"Ren, soal Dewa tuh gue gak pacaran sama dia," jelas Ara.
"Yaudah coba lo jelasin lah, gue kan mana paham," ucap Rendy yang menghadapkan tubuhnya ke arah Ara.
"Nih ya gue kan nembak dia waktu ospek itu, dia anggapnya serius jadi ya gitu."
"Kan lo bisa nolak. Bisa menghindar juga kan?"
"Gak tau, gue ngerasa kaya gak bisa nolak. Lo tau gak sih dia kalau bikin keputusan suka keras kepala dan mutlak gitu. Gue juga gak paham kenapa gue bisa nurut aja."
"Kalau lo di apa-apain gimana?"
"Gak kok dia baik sebenernya, tapi serius gue gak anggap dia pacar."
"Kalau gak anggap pacar, kenapa kemarin sore di isaat lo keliatannya lagi mumet yang lo cari malah Dewa bukan gua? Biasanya lo bilang gua dulu dah," kesal Rendy.
Ara terdiam, dia tidak tau harus menjawabnya. Dia akui kalau itu salah. Bisa-bisanya dia melupakan Rendy dan memilih untuk menghubungi Dewa.
"Yaudah iya, gue ngaku salah. Harusnya gue hubungin lo pertama kali."
"Terus kenapa bisa salah gitu?"
"Itu gue lagi chat sama dia, lo kan gak bales. Karena gue mumet yaudah gak mikir panjang langsung iyain ajakan dia buat jalan. Maaf yaa, gue gak ada maksud buat lupain lo serius," Rajuk Ara.
"Masih kesel gue," ketus Rendy.
"Ren lagian kan gue pernah bilang kalau gue bakalan bilang semisalnya nanti suka sama orang. Gue gak bilang berarti gue gak anggap itu serius."
Rendy terdiam, dia menatap Ara yang mukanya memelas. Sungguh, dia tidak bisa marah pada Ara. Bersama dengan Ara sejak kecil, membuat Rendy tidak tega jika membiarkan Ara sedih.
"Yaudah iya gue maafin, tapi jangan gitu lagi."
Ara tersenyum dan memeluk Rendy lagi, dia tidak bisa kalau dibiarkan oleh Rendy. Rendy salah satu orang yang berharga baginya.
"Nah gitu dong, gue kan gak bisa kalau lo diemin. Aaaa gemesnya cabatku," kata Ara sambil mengeratkan peluknya.
Rendy tersenyum dan membalas pelukan Ara. Sikap Ara yang seperti ini selalu membuatnya senang. Ya, tanpa Ara sadari, Rendy sudah lama menaruh hati padanya, tapi dia sadar kalau Dia dan Ara tidak bisa lebih dari sekedar teman. Jadi, jika tidak bisa memilikinya, Rendy berharap kalau Ara tidak akan pernah pergi dan meng-keep dia selamanya.
"Kenapa gak diangkat?" tanya Rendy.
"Gak ah males, mending temenin gue nonton little poni," ucap Ara.
"Little poni mulu," protes Rendy.
"Cocomellon gimana?" tawar Ara.
"Film bocah semua anjir, yang lain kek."
"Ihhh siapa lagi yang bisa gue ajak nonton kartun selain lo. Ayok lahh, gue gabut," bujuk Ara.
"Yaudah iyaa."
Rendy pun nyalakan TV dan memutar film kartun kesukaan Ara itu. Ara memang selalu terlihat sama, seperti anak kecil. Pantas saja dia tidak ingin mempunyai adik, tentunya dia akan merasa tersaingi.
"Kenapa sih suka film ginian?" kesal Rendy.
"Daripada gue suka film gituan?"
"Gila."
"Kok ngatain? Lagian ya suka aja, ini kan ceritanya tentang persahabatan. Sama kaya kita kan. Jadi gue belajar dari little poni tentang persahabatan. Biar bisa selalu jadi sahabat yang baik buat lo."
Rendy hanya tersenyum getir, ya benar. Mereka memang hanya bisa menjadi sebatas teman dan akan selamanya begitu.
...~ • ~...
Setelah menghabiskan waktu seharian bersama Rendy, Ara pun pulang ke rumah. Dia heran kenapa pintu rumahnya terbuka, padahal sedang tidak ada siapa-siapa di rumah. Perlahan Ara memasuki masuki rumah, dilihatnya Dewa sedang mengecek ponselnya berkali-kali.
"Kak Dewa?" panggil Ara.
"Ra, dari mana aja?" Dewa langsung menghampiri Ara dan memeluk gadis itu dengan erat.
Ara bisa merasakan kalau napas Dewa tidak teratur, jantung yang berdebar dengan kencang dan perasaan khawatir yang dia rasakan.
"Lo kenapa, Kak? Kaya orang panik gitu?" tanya Ara polos.
Dewa melepas pelukannya, ditatapnya Ara lekat-lekat. Gadis ini bodoh atau memang tidak peka? Padahal sudah jelas kalau Dewa mengkhawatirkannya.
"Kenapa gak angkat telfon? Darimana? Sama siapa? Kenapa gak bilang?"
"Yaampun satu-satu. Gak dari mana-mana, seharian gue di rumah Rendy nonton little poni. Ya sama Rendy, sama siapa lagi? Gak angkat telfon soalnya tadi jauh dari hp, gak bilang karena udah biasa kam kalau main sama Rendy?"
"Iya tapi gua khawatir," ucap Dewa jujur.
"Yaudah iya maaf, gue gak tau kalau bakalan buat lo se khawatir ini."
"Jangan diulangi, gua gak suka. Lagian kenapa seharian gitu mainnya?"
"Kepo," ucapnya santai dan duduk di sofa.
Dewa menghampiri Ara dan duduk berlutut di hadapannya. Dewa memegang kedua tangan Ara dan menciuminya. Ara terdiam, Dewa ini bisa tidak memberi aba-aba kalau ingin melakukan hal yang manis?
"Lain kali bilang ya," ucapnya sambil menatap ke arah Ara.
"Jangan gitu lagi," lanjutnya.
"Kalau misalnya lu kenapa-kenapa atau hilang gimana? Gua bisa frustrasi kalau lu gak ada," ucapnya jujur.
Dewa sangat takut kehilangan Ara, dia menjadikan Ara pusat hidupnya. Dia tidak pernah jatuh cinta seperti ini. Di mana rasanya dia tidak pernah mau kehilangannya, di mana dia benar-benar tulus memberikan semuanya dan rela melakukan apapun demi seseorang yang dia sayang.
Ara melihat itu pun tidak tega, Ara tau kehidupan Dewa. Dia takut jika menyakiti Dewa. Ya, Ara mulai menyukai Dewa. Dia mengelak pada Rendy karena takut Rendy marah padanya.
"Iyaa, gue minta maaf. Gue salah, gue gak akan gitu lagi," perlahan Ara mengelus pipi Dewa dengan lembut. Lelaki itu mengangguk, dia senang diperlakukan seperti itu, membuatnya semakin tidak ingin kehilangan Ara.
Apa yang harus Ara lakukan?
Bagaimana membuat Rendy dan Dewa bisa akur dan dia bisa tenang karena tidak menyakiti siapapun. Ara harus memikirkan caranya.