
Ara dan Rendy sedang asik di kantin, tadinya mereka bertiga dengan Maudy, tapi Maudy ada rapat HIMA, jadi hanya mereka berdua yang tersisa.
"Eh, Ren. Lo tau gak sih gue nungguin novel ini tuh dari lama banget gila. Pokoknya pas terbit nanti gue harus langsung beli," ucap Ara antusias memperlihatkan buku yang dia incar.
"Kehidupan lo tuh banyak halu tau gak, Ra. Heran kenapa gue betah temenan sama lo."
"Karena gue cantik lah," ucap Ara pede.
"Btw, tar hangout yuk. Udah lama kita gak eksplor Bandung," ajak Rendy.
Ara mengangguk antusias. Dia senang jika mengajaknya pergi untuk jalan-jalan.
"Ih iya ayok, gue juga kangen kulineran gitu. Butuh liburan juga gak sih, begadang mulu demi tugas.
"Bener, nanti kita jadwalin," ucap Rendy.
"Oke. Oh iya gue mau ke ruang musik. Lo mau ikut?" tanya Ara.
"Boleh tapi lo duluan ya, gua mau ke ruang dekan dulu," katanya.
"Ngapain ke dekan? Ada masalah?"
"Biasalah bisnis, tar gua nyusul."
"Yaudah deh, gue tunggu ya," ucap Ara sambil beranjak dari kursinya dan dihadiahi acungan jempol Rendy.
Ara berjalan menuju ruang musik kampus, ya tadi Ara sudah meminta izin pada Bianca untuk memasuki ruang musik.
Setelah sampai, Ara langsung menuju alat musik kesayangannya. Ya, gitar Ara sangat menyukai alat musik ini. Petikan yang khas dan perpindahan dari chord satu dengan lainnya menjadikan alunan yang indah.
Saat sedang asik, tiba-tiba seseorang memasuki ruangan itu. Dewa, dia seperti peramal yang sudah mengetahui kalau Ara ada di ruangan musik.
"Lagi apa?" tanyanya.
"Gue lagi bosen aja, Kak. Jadi gue kesini. Sama Rendy sih, tapi nanti dia nyusul," jawab Ara.
Dewa duduk di depan Ara sambil mengambil gitar lainnya. Ara tersenyum, dia merasa banyak kesamaan pada dirinya dan juga Dewa. Sama-sama pecinta hewan, sama-sama suka hiking dan sekarang sama-sama menyukai musik.
"Coba nyanyi satu lagu," pintanya.
"Lagu apa?" tanya Ara
"Chord cinta dan rahasia bisa?" tanyanya.
"Bisa," ucap Ara menyanggupi.
Ara dan Dewa mulai memetik gitar mereka perlahan. Rasanya Ara senang sekali bisa memetik senar itu bersama Dewa, teknik yang Dewa kuasai sangat Ara sukai.
Ara pun mulai bernyanyi mengikuti alunan musiknya.
Terakhir kutatap mata indahmu
Di bawah bintang-bintang
Terbelah hatiku
Antara cinta dan rahasia
Kucinta padamu namun kau milik sahabatku
Dilema hatiku
Andai kubisa berkata sejujurnya
Jangan kau pilih dia
Pilihlah aku yang mampu mencintamu lebih dari dia
Bukan kuingin merebutmu dari sahabatku
Namun kau tahu
Cinta tak bisa tak bisa kau salahkan
Tatapan Ara tak pernah lepas dari Dewa. Sesekali dia tersenyum, seolah lagu yang dia nyanyikan memanglah ditujukan untuk Dewa. Rasanya Ara ingin menghentikan waktu sekarang juga. Kini gilirannya untuk bernyanyi, Ara juga penasaran bagaimana dengan suara Dewa.
Kucinta padamu namun kau milik sahabatku
Dilema hatiku
Andai kubisa berkata sejujurnya
Jangan kau pilih dia
Pilihlah aku yang mampu mencintamu lebih dari dia
Bukan kuingin merebutmu dari sahabatku
Namun kau tahu
Cinta tak bisa tak bisa kau salahkan
Rasanya Ara semakin kagum padanya, suaranya sangat indah. Jauh lebih bagus dari apa yang dipikirkannya. Mereka pun mengakhiri permainan gitarnya.
"Kerenn, gue suka cara lo main gitarnya. Nanti ajarin gue ya," pintanya pada Dewa.
"Lu juga kok, jarang ada cewek suka main gitar, kebanyakan lebih suka main piano dibanding gitar," ucapnya.
"Tergantung kitanya sih, Kak. Kalau gue lebih suka main gitar."
"Kenapa suka gitar?" tanyanya.
"Main gitar itu perlu teknik supaya jadi rentetan melodi yang indah. Ya, cuma beberapa orang yang bisa nguasain teknik gitar dan itu menantang kalau buat gue. Kita gak bisa asal petik karena kita harus nguasain beberapa kuncinya," jelas Ara.
"Ya sama kaya lu," katanya.
"Sama apanya?"
"Buka hati lu itu perlu kunci, sama kaya gitar. Lu sulit buat tebak isi hatinya, tapi kalau gua pandai mainin teknik kuncinya, kita bisa indah kaya rentetan melodi."
"Gak usah blushing, bikin gemes aja," katanya sambil mencubit pipi Ara yanh terlihat gemas.
"Aww. Sakit, kak," protes Ara sembari memegangi pipinya.
"Makanya jadi orang jangan ngegemesin," ungkap Dewa.
"Ya gue emang lucu," ucap Ara kepedean.
"Dih gitu, gue keluar dulu cari minum," katanya sambil mengusap puncak kepala Ara.
"Iya." Ara pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Sambil menunggu Rendy dan juga Dewa, Ara melanjutkan bermain gitar. Namun ....
"Hebat ya, lo. Di biarin malah makin jadi, main kegatelan." ucap seseorang yang tiba-tiba memasuki ruang musik ini.
"Ka-kak Zelda," gumamnya perlahan.
"Seneng diperhatiin Dewa? Udah puas centilnya?"
Arahanya terdiam, karena Ara takut jika ada hal seperti ini terjadi.
"Lu sadar gak sih, lu udah ngerebut Dewa dari gue!" bentaknya pada Ara.
Lagi-lagi Ara hanya terdiam menundukkan kepalanya. Ara ingin sekali membalasnya tapi dia tidak ingin membuat masalah, apalagi dia mahasiswa baru di kampus ini.
"Kalau orang ngomong itu tatap mukanya! Kenapa? Lo takut?" katanya dengan memegang dagu Ara dan memaksanya menatapnya.
"Saya gak bermaksud buat rebut Kak Dewa dari Kakak, emang kakak siapanya kak Dewa?" tanyanya perlahan.
"Berani lo nanya kaya gitu sama gue?"
"Maksud saya gak gitu—"
Plakk ....
Tangganya berhasil mendarat dipipi Ara. Rasanya sakit tapi Ara sungguh tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan menangis pun tidak bisa.
'Kak Dewa, Rendy tolongin gue, gue takut.'
"Inget lo ya, sekali lagi lo godain Dewa, tamparan itu bakalan terus gue kasih ke lo," ancam Zelda.
"Tapi sebelum lu kasih ke cewek gua, lu duluan yang bakalan gue hajar, Zel."
Seseorang menghampiri mereka berdua. Ara terkaget saat Dewa datang dari pintu.
"Dan lu bakalan berurusan sama gua," teriak seseorang dari balik pintu, ya itu Rendy.
"Kalian ngapain sih belain cewek murahan ini?" kesal Zelda.
Rendy menarik tangan Ara dan menyuruhnya agar tetap disampingnya.
"Cewek yang lu bilang murahan ini sahabat gua. Dia punya nama yang cantik dan gak kaya hati lu yang busuk itu. Jangan mentang-mentang lu kakak tingkat, lu bisa seenaknya dah. Pukul gua kalau berani," tantang Rendy.
"Jaga mulut lo ya anak baru, gua gak ada urusan sama lo."
"Jelas ada! Lo berurusan sama Ara berarti lo juga berurusan sama gue."
"Kalau lu gak ada urusan lagi sama cewek gua, mending lu keluar." Kink giliran Dewa yang bersuara.
"Lo kenapa sih, Dew? Lo gak pernah liat perjuangan gue buat lo?" Zelda mulai terisak.
"Zel, keluar," perintahnya lagi.
"Lo kenapa belain cewek ini sih?! Lo sadar gak dia itu cewek murahan, gak cocok sama lo, Dew lo—"
"GUA BILANG KELUAR! JANGAN PERNAH GANGGU PACAR GUA LAGI!" Ara kaget, karena Ara tak pernah melihat Dewa se-marah itu.
Zelda pun keluar dengan terpaksa. Ara melihatnya sedikit kasihan, karena jika Ara di posisinya Ara juga akan merasa tak enak.
"Gapapa 'kan?" tanya Dewa.
"Apaan dah, urus cewek lo jangan gangguin Ara," ucap Rendy.
"Ara cewek gua," ralat Dewa.
"Ck." Rendy berdecak dia ingin sekali menonjok Dewa tapi dia masih menghargai Tasya.
"Ehh udah-udah gue gapapa kok. Jangan malah kalian yang berantem.
"Yaudah ayok kita pulang," kata Rendy sambil menarik lengan Ara dan tak ingin berlama-lama di ruangan itu bersama Dewa.
"Gak, Ara bareng gua, yakan?" Dewa menarik lengan Ara atu lagi.
"Gua, apaan dah lu sokap!" ketus Rendy.
"Elu yang apa-apaan dah, baru dateng juga."
Ara kebingungan, kenapa dia harus terjebak di antara mereka? Merepotkan saja. Dia harus memikirkan cara agar terbebas dari mereka berdua.
"Sama gua." Rendy kembali menarik lengan Ara.
"Gua!" Dewa tak ingin kalah dan kembali menarik lengan Ara yang satunya.
"UDAHH!!" Ara melepaskan lengannya dari mereka. Sungguh, mereka seperti anak kecil yang sedang berebut mainan.
"Gue mau ke cafe, mending kalian berdua ikut gue aja. Kita makan," usul Ara.
"Gak!" ucap mereka berdua berbarengan.
"Aishhh, terserah kalian gue pusing. Gue sendiri aja." Ara mengusak rambutnya frustrasi dia memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua.
"Lu sih," kesal Dewa.
"Lah lo kali," ucap Rendy tak kalah kesal.
Mereka pun berlari mengejar Ara, takut kalau terjadi apa-apa jika dia sendirian.