MR.MATCHA

MR.MATCHA
Janji kelingking




"Ekhm." Rendy memasuki ruangan itu, dilihatnya Ara dan Dewa sedang saling menatap dan menggenggam tangan satu sama lain.


Ara langsung melepaskan genggamannya dan ditatap kecewa oleh Dewa. Rendy mengulum senyumnya saat melihat Ara seperti sedang kepergok selingkuh.


"Dasar bucin, gapapa elah lanjutin aja. Gimana keadaan lo?" Rendy bertanya seraya menepuk bahu Dewa pelan.


"Baik, thanks udah bawa gua kesini," ucap Dewa tulus.


"Gua yang harusnya makasih, kalau gak ada lo kemarin mungkin Ara udah dibawa sama orang-orang itu."


"Kenapa bawa Ara? Mereka ngincar Ara? Tapi buat apa?" Tanya Dewa menyelidik.


"Gua gak tau pastinya, tapi mereka minta Ara kemarin. Gua curiga mereka orang bayaran. Tapi buat motifnya belum tau apa," kata Rendy sambil berpikir. Jujur saja semalaman dia memang memikirkan hal ini.


"Udah lu lapor ke polisi? Kalau mereka kali ini gagal, gak menutup kemungkinan bakalan kejadian lagi." Dewa membenarkan posisi duduknya di bantu oleh Ara.


"Tapi gue gak punya musuh deh dan gue gak punya masalah sama orang. Kenapa niat banget nyuruh preman buat culik gue?" Ara tak mengerti, bukan hanya Rendy. Dia pun sempat memikirkan hal ini juga.


"Yaudah mending lu lapor ke polisi dulu, biar mereka yang usut. Dan kita harus saling jagain Ara biar gak ada celah buat mereka ngelakuin hal ini lagi," kata Dewa.


Rendy pun mengangguk. "Btw, sorry ya."


"Sorry buat apaan dah?" Tanya Dewa tak mengerti.


"Sorry udah jauhin lo berdua. Udah larang lo buat ketemu sama Ara. Gua takut aja dia disakitin sama orang, secara dia gak pernah lepas dari gua dan berhubungan sama siapa-siapa. Tapi sekarang gua yakin, kalau lo gak cuma mau mainin perasaan dia," ucap Rendy menyesal.


"Gapapa, gua paham. Lagian cewek kaya gini siapa sih yang gak sayang. Hahaha," goda Dewa setengah bercanda.


"Apasih ah, godain gue mulu," ucap Ara malu-malu.


"Gue izinin kalian berdua, tapi jangan larang Ara buat dekat sama gua. Soalnya gua gak bisa kehilangan sahabat gua."


"Engga, gua paham kedekatan kalian. Gak mungkin gua jauhin kalian. Kalem, gua gak akan ngelakuin itu." Dewa tersenyum sambil melihat Ara yang kini juga tersenyum ke arahnya.


"Jangan sakitin Ara juga, dia orangnya rapuh. Gak bia disakitin sedikit dia bakalan kepikiran terus sedih. Lo harus jagain dia dengan baik," peringat Rendy lagi.


"Gua serius, Ren. Gua sayang sama Ara, gua gak ada niat mainin dia. Gua bener-bener tulus gak ada niat apa-apa. Gua janji, gak akan buat dia nangis. Lu bisa pegang omongan gua."


"Asli ya, gue pegang kata-kata lo. Sekali lo nyakitin Ara sampe buat dia hancur. Lo yang gua habisin," tegas Rendy dan Dewa pun mengangguk.


"Galak banget sih Rendy." Ara memukul lengan Rendy pelan.


Rendy memeluk leher Ara dan menguncinya." Soalnya lo itu ceroboh buat hal apapun, rewel, ngambeknya, cengeng, nekad. Gak bisa kalau gak dijagain."


"Aaaaaa awww sakit-sakit. Iya iya maaf ihhh, jahat banget gue diginiin," Teriak Ara sambil memukul-mukul tangan Rendy yang mengunci lehernya. Ara selalu kalah jika Reny sudah melakukan itu.


Mereka ber-2 pun tertawa melihat tingkah Ara. Sementara Ara senang, orang yang dia sayang dan orang yang dia cintai bisa dekat. Sungguh, Ara tidak ingin kehilangan mereka dalam hidupnya.


Hanya tersisa Ara dan Dewa di ruangan itu. Ara sedang fokus pada kegiatannya dan Dewa fokus melihat Ara yang sedang fokus menonton film kartun kesayangannya. Dewa heran, gadisnya ini seperti anak kecil, menonton little poni sambil sesekali bernyanyi bersama kuda-kuda kecil imut. Bahkan kuda poni itu kalau lucu dengan Ara.


"Kaya anak kecil, nonton film kartun," sindir Dewa.


"Ya emang ada larangannya gitu nonton little poni? Kan gak ada bacaannya 12 tahun ke bawah. Iri aja orang tua," ucap Ara sambil tetap fokus pada filmnya.


"Ya gak ada, tapi lu udah gede." Dewa menarik idung Ara pelan dan membuat gadis itu cemberut. Hidung Ara itu pesek, kalau ditarik lalu lepas dia tidak punya gantinya.


"Ihhh, Kakkk. Idung keramat gue jangan diapa-apain. Udah tau kecil, cuma satu juga."


"Hahaha pesek ya idungnya? Kasian, idung gua dong mancung."


"Iya deh si paling mancung. Bete ahhh diledekin idungnya. Padahal kata artiker yang gue baca, cewek yang idungnya pesek itu manis.," ucap Ara bangga.


"Cewek idung pesek itu susah napas, nah itu baru bener." Dewa tertawa saat melihat ekspresi kesal Ara. Bahkan gadis itu tidak berbicara satu patah pun lagi.


"Hahahaha, gems banget sih. Gak kuat pingin halalin."


"Diemm jelek!!"


Dewa tertawa, perlahan dia menggenggam tangan Ara lembut lalu menciuminya. " Tapi bagi gua, mau lu pendek, mau pesek atau mancung, mau gemuk atau kurus, gua sayang sama lu."


"Bohong, emang ada ya cowok yang bisa nerima kekurangan cewek? Cowok kan banyak mau, pasti maunya yang perfect."


"Ada gua. Gua juga gak mau yang perfect, gua maunya Tsabita Keona Arabella. Yang pendek terus biar gua peluk dan gandeng terus. Yang pesek terus biar gua bisa tarikin idumg kecilnya biar mancung. Ara ... "


Dewa duduk dan menggenggam kedua tangan Ara, menatapnya lembut seraya mengelus punggung tangan Ara.


"Would you be mine? Mau gak jadi milik gua? Kita lewatin hari sama-sama, buat moment baru bareng-bareng, nikmati kisah cinta sampai kita nemu ujung bahagia?"


"Ini, serius kah?" Tanya Ara ragu.


"Serius, Raa. Emang ada tanda-tanda kalau gua bohong ya? Gue serius. Gua sayang sama lu, bahkan gua bakalan lakuin apapun asalkan lu bisa bahagia. Tapi lebih bagus kalau kita berdua bahagia sama-sama. Soo?"


Ara terdiam sejenak, dia menatap mata Dewa. Bundanya pernah bilang kalau seseorang berbohong bisa terlihat dari sorot matanya. Namun Ara hanya melihat binaran mata Dewa yang menatapnya sungguh-sungguh dan tatapannya berhasil menembus ke dalam benakknya.


Ara pun tersenyum, lalu dia menganggukan kepalanya. "Heem, gua mau. Tapi ... "


Dewa tersenyum lebar karena jawaban Ara meskipun masih menggantung. "Tapi?"


"Tapi gue cuma mau bilang, Kak. Kunci hubungan gue sama siapapun itu kepercayaan. Gue mau lo kasih kepercayaan sama gue, begitu pun gue bakalan ngelakuin hal yang sebaliknya. Tolong jaga kepercayaan gue buat lo selama kita sama-sama. Gue bakalan lakuin hal yang sama dengan jaga kepercayaan lo sama gue," ucap Ara sambil mengacungkan jari kelingkingnya.


Dewa menautkan jarinya pada jari Ara dan perlahan dia pun mengangguk. "Gua janji bakalan jaga kepercayaan lu buat gua. Makasih ya karena lu udah mau terima gua."


Dewa mengelus pipi Ara lembut, menatap gadisnya tersenyum seperti ini membuat jantung Dewa berdebar dengan kuat. Perjuangannya tidak sia-sia. Sekarang Ara menjadi miliknya dan akan selalu seperti itu.