
Ara dan Rendy segera pulang ke rumah, namun ternyata orang-orang itu sudah ada di hadapan mereka melalu jalan lain. Ara dan Rendy saling menatap. mereka memutuskan untuk putar balik.
"Ren ayok!" Ara berputar arah. Namun seketika dia menjatuhkan sepedanya. Ada apa ini? Kenapa komplotan mereka bertambah. Ara bingung, sebenarnya apa yang mereka incar dari dirinya dan juga Rendy.
"Ra, diem di sini. Jangan lepas." Rendy menarik Ara untuk pindah ke belakangnya dan menjadi tameng untuk Ara. Jujur Ara sangat takut, sampai-sampai dia memegang baju Rendy dengan kuat.
"Mau apa lo semua?!" Rendy berteriak pada orang-orang itu.
"Serahin cewek yang ada di belakang lu, dengan begitu lu bisa pergi dengan aman," ucap salah satunya sembari mendekat ke arah mereka berdua.
"Ada urusan apa lo sama Ara? Ga akan gua biarin lo semua nyakitin ara," tunjuk Rendy sambil terus menggenggam tangan Ara yang berada di perutnya.
"Haha ini peringatan terakhir buat lu, serahin atau lu juga akan habis!"
Tanpa basa-basi Rendy menghajar pria yang ada di hadapannya itu. Ara spontan menutup matanya dia ketakutan. Namun Rendy masih melindunginya agar tidak ada yang bisa mendekati Ara.
Satu persatu anggota mereka mulai maju melawan Rendy, dia sedikit kewalahan meskipun mempunyai ilmu bela diri, satu lawan empat tidak sebanding. Satu persatu dari mereka tumbang, namun tanpa sadar salah satu dari mereka mengunci pergerakan Rendy dari belakang. Dan yang lainnya memukuli Rendy.
"STOPPP!!!" Ara berteriak dan mencoba membatu Rendy meskipun sambil menangis. Dia mengambil balok yang ada di sekitar sana lalu memukul salah satu dari keempat pria asing itu.
Namun sia-sia, dia ditangkap dan ditodong pisau di lehernya. Ara bergetar, dia semakin takut. Ditambah melihat Rendy yang dipukuli tubuhnya seketika melemah.
"Lepasin gue!! Kalian siapa?!!!" Teriak Ara sambil sambil mencoba berontak.
"Lu gak akan gua habisin kalau lu bisa diem sekarang!" ucap pria itu. Ara semakin gemetar ketika tubuhnya dicengkeram begitu kuat.
Rendy masih dipukuli di sana sementara Ara dipaksa masuk ke dalam mobil. Ara terus berontak, dia takut ditambah dia melihat Rendy yang terus dipukuli meskipun dia masih bisa melawan.
Tiba-tiba cengkeraman pada tubuh Ara melemah, dilihatnya Dewa datang memukul pria asing itu hingga pingsan. Dewa langsung menarik tangan Ara dan membawanya ke mobil.
"Kakk, tolongin Rendy," pinta Ara yang yang terlihat panik sambil mencengkeram lengan Dewa.
Dewa menyuruh Ara masuk ke dalam mobilnya. Wajah gadis itu sudah pucat, dia tidak tega melihat Ara seperti itu. "Iya, lu masuk dulu ya. Kunci dari dalem, jangan keluar. Biar gua yang atasi."
Ara mengikuti ucapan Dewa, dia mengunci pintu mobil sambil terus menggigiti kuku tangannya, lalu dia menutup telinga dan matanya karena tidak bisa melihat baku hantam yang ada di depannya.
Dewa membantu Rendy menghajar para preman itu, satu hal yang Dewa sadari adalah mereka bukan preman biasa. Jelas-jelas mereka komplotan yang sudah dibayar.
Rendy sudah lemah, dia sudah tidak bisa melawan mereka. Dewa kini yang menghadapi mereka.
Bugh ... Bughh ... Bughh
Dewa menghajar mereka habis-habisan, berani-beraninya mereka melukai gadisnya. Dewa tidak akan membiarkan mereka lolos.
"KAKKK!!!" Ara berlari lalu memeluk Dewa yang sudah lemah.
"Gua gapapa, lu ada yang luka?" Tanya Dewa mencoba memastikan Ara aman meskipun dirinya lah yang sekarang dalam bahaya.
Ara mengangguk dengan air mata yang sudah memenuhi wajah cantiknya. Dengan sigap dia membuka jaketnya lalu mengikatkan di pinggang Dewa agar pendarahannya tidak semakin banyak. "Bisa-bisanya lo nanyain gue ketika lo dalam keadaan gak baik baik aja. Lo harus bertahan ya, Kak."
Rendy melihat itu tak tinggal diam, dengan sekuat tenaga dia mencoba bangkit dan langsung melipat sepeda mereka berdua, memasukannya ke bagasi mobil Dewa.
"Ra, cepet kita bawa dia ke rumah sakit!" Rendy membuka pintu mobil Dewa, lalu berlari untuk membatu Ara memapah Dewa.
"Ren cepet, Kak Dewa bisa kehabisan darah." Tangisnya membuat dia sedikit tercekat. Ara takut, bukan lagi takut karena kejadian ini, tapi takut kehilangan Dewa.
Mereka pun masuk ke dalam mobil, Ara sudah tidak peduli lagi dengan kaos putihnya yang kini berlumuran darah. Dia terus menggenggam tangan Dewa erat. Dewa sedikit tersenyum sebelum dia benar-benar kehilangan kesadarannya. Melihat Ara baik-baik saja itu membuatnya lega meskipun sekarang dia kesakitan.
"Kakk, bangun! KAK DEWA! REN CEPET RENNN GUE TAKUT KAK DEWA KENAPA KENAPA." Ara panik tangisnya kembali pecah. Rendy juga ikut panik dan mempercepat laju mobilnya.
Setengah jam berlalu, akhirnya mereka sampai di depan UGD. Perawat dengan sigap membantu mereka untuk membawa Dewa dengan brankar Dewa ke IGD.
Ara terus menggenggam tangan Dewa sambil mengikuti perawat untuk masuk ke ruangan.
'Kak, bertahan gue mohon. Demi gue, gue gak mau kehilangan lo,' batin Ara.
Suster menghentikan langkah Ara dan Dewa dibawa masuk ke ruangan. "Maaf, Kak. Harap tunggu di luar ya, agar tidak mengganggu saat dokter melakukan tindakan."
"I-iya, Sus." Ara pun mengikuti arahan suster, sebenarnya dia ingin menemani Dewa di dalam namun tidak bisa.
Ara menutup wajah dengan kedua tangannya, lalu dia berjongkok. Semua rasa yang dia rasakan bercampur aduk, dia bahkan tidak bisa berhenti menangis. Rendy datang lalu membantu Ara bangkit. Rendy memeluknya erat, sangat erat. Membiarkan Ara menumpahkan perasaannya.
"Ren gue takut kak Dewa kenapa-kenapa, gue takuttt. Kalau dia gak nolongin gue pasti gak akan kaya gini," lirihnya.
"Ssttt jangan salahin diri lo, lo berdoa aja semoga dia bisa diselamatin dan gak terjadi apa-apa diluar keinginan kita." Rendy mencoba menenangkan Ara sambil mengelus punggung gadis itu. Dia dapat merasakan ketakutan yang sedang Ara hadapi.
Ara melihat ke arah Rendy, dia sampai lupa kalau Rendy juga terluka. Ara menarik tangan Rendy dan membawanya ke UGD.
"Kenapa? Mau kemana?" Tanya Rendy yang mengikuti Ara.
"Ke UGD, luka lo juga harus di obatin. Maaf, karena gue lo jadi kaya gini," kata Ara tanpa menghentikan langkahnya.
"Udah dibilang bukan salah lo, gue gapapa elah."
"Diem, nurut. Gue gak mau berdebat," ucap Ara yang memang sedang tidak ingin berdebat dengan siapapun. Pikirannya sudah berkelana kemana-mana. Dia hanya melakukan yang harus dia lakukan sekarang.
Setelah sampai dia langsung masuk ke ruangan itu dan memanggil suster agar Rendy ditangani. Sementara mereka diobati, Ara mengurus administrasi keduanya.