MR.MATCHA

MR.MATCHA
Matcha Latte




Ara berlari ke sana ke sini, dia senang berjalan-jalam sore hari di sini. Jalanan sekitar Alun-Alun dan Jalan Braga. Banyak badut yang berada di pinggir jalan, tanaman yang tertata rapi, spot photo yang estetik membuat jalanan ini begitu ramai dikunjungi. Rasanya sudah lama dia dan Rendy tidak berjalan-jalan seperti ini. Biasanya mereka akan menghabiskan waktu bersama sampai lupa pulang.


Setelah berkeliling di Jalan Braga, Ara dan Rendy akhirnya memutuskan untuk ke kedai kopi. Minum manis akan membuat hari semakin manis.


"Tumben banget pesennya matcha, setau gue lo paling anti sama matcha," ucap Rendy sembari meminum americano miliknya.


"Gapapa, gue lagi suka aja. Kemarin Maudy bawa boba, dia suka banget sama matcha terus gue cobain dan ternyata enak. Emang gue tuh suka nge-judge sesuatu padahal gue belum tau gimana rasanya."


"Ohh, gitu. Bagus lah, emang gak baik terlalu pilih-pilih." Rendy tersenyum kaku. Lagi-lagi Ara berbohong padanya. Dia tau kalau Dewa lah yang membuatnya menyukai minuman itu. Namun dia tidak ingin membahasnya.


Benar, Ara menyukai matcha karena sedang merindukan Dewa sekarang. Dewa si Mr. Matcha yang pasti dan selalu akan memesan minum ini setiap kali jalan bersama Ara. Ara jadi tersenyum saat mengingat setiap moment besama Dewa.


"Dih, kesambet lo? Senyum-senyum gitu bikin merinding aja Kenapa sih? Lo lagi seneng hari ini?" Rendy tertawa melihat Ara yang tiba-tiba tersenyum, padahal dia tidak tahu kalau diam-diam Ara sedang memikirkan Dewa.


"Engga, gue apasih itu namanya. Keinget aja pas presentasi tadi ada yang nyelipin meme di akhir slidenya. Meme azab karena bertanya saat presentasi. Gila gak sih temen gue?"


"Iya? Parah anjir bisa-bisanya. Gua juga punya temen yang koplaknya sama kaya gitu. Tapi dosen gua killer kebanyakan, jadi gak bisa sebebas itu hahaha."


"Itu matkul dosennya gak killer sih jadi mungkin temen gue berani. Ya gitu lucu aja." Ara tertawa dan kembali meminum minumannya. Sedikit rilex meskipun dia sudah berkali-kali berbohong pada Rendy. Dia tidak suka berbohong, tapi mau tidak mau harus.


"Bunda lo kapan pulang?" Tanya Rendy.


"Gak tau, gue gak ada kepikiran buat nanya. Lebih kaya kebiasa aja sih. Udah terbiasa."


"Gak boleh gitu, apalagi bunda lo sekarang lagi ngandung. Bunda lo juga pasti butuh istirahat dan perhatian dari anaknya. Lo harus lakuin itu, ya?"


"Au deh, gue gak mikirin itu sekarang. Gak usah dipikirin juga," ucap Ara menepuk-nepuk punggung tangan Rendy laku tersenyum.


Di sisi lain, seseorang sedang memperhatikan Ara dan Rendy. Mencoba menyamakan wajah Ara dengan photo yang dia bawa. Seringai kecil muncul dari sudut bibirnya. Ya Ara yang dia cari sudah ada di depan mata.


Perlahan dia merogoh sakunya, menekan nomor yang akan dihubunginya.


"Halo, Boss. Saya sudah menemukan orang yang boss cari." Ucapnya sembari menatap tajam ke arah Ara.


"Posisi di mana?" Tanya seseorang dari seberang sana.


"Jalan Braga di salah satu cafe."


"Pantau dulu, ikuti kemama pun dia pergi dan lapor ke saya. Setelah itu saya akan memberi instruksi selanjutnya." Seseorang dari balik telepon itu tersenyum kecil. Sebentar lagi dia sampai pada tujuannya.


Orang itu menatap photo Ara yang ada digenggamannya, sambil tersenyum licik dia mencoret photo itu dengan spidol merah miliknya.


"Baik, Boss. Akan saya kabari lagi secepatnya." Setelah itu dia memutuskan panggilannya, lalu kembali menatap photo Ara yang ada digenggamannya.


Dewa menitipkan satu bungkus pie coklat dan pudding coklat kesukaan Ara pada Bi Asih. Sudah beberapa jam menunggu Ara pulang tapi dia belum pulang juga. Ada sedikit rasa khawatir, namun dia percaya jika Ara pergi bersama Rendy, dia akan aman.


"Harus banget gua kangen sampai mau gila?" gumam Dewa sambil mengacak-ngacak rambutnya. Dia sangat merindukan gadisnya itu, dia ingin memeluk Ara beberapa saat untuk menghilangkan rasa rindu dan cemasnya.


Saat Dewa akan memasuki mobilnya yang di parkir di depan gerbang rumah Ara, terlihat ada beberapa orang seperti preman yang memantau rumah itu.


"Itu siapa? Dari tadi gak jelas depan rumah Ara." Saat Dewa akan mendekatinya, motor itu pun langsung pergi menjauh dari sana.


"Orang nyasar kayanya." Dewa pun memasuki mobilnya tanpa rasa curiga.


Baru beberapa menit mobil Dewa meninggalkan rumah Ara, Ara dan Rendy pun sampai di depan rumah Ara. Ara turun dari mobil Rendy dengan rasa bahagia.


"Makasih ya udah bikin gue seneng hari ini," ucap Ara tulus sambil tersenyum.


"Makasih juga buat waktu lo, mandi abis itu istirahat. Besok bisa ngebo sampai siang," balas Rendy tersenyum.


"Tau aja gue mau ngebo, lo juga istirahat. Kerjain tugas lo tuh, jangan dipendem mulu, beranak tau rasa," peringat Ara.


"Iya kalem elah, gua bakalan nugas tar malem. Yaudah gua balik."


"Iya buru sana," kata Ara. Rendy pun tersenyum dan langsung melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah.


Ara memasuki rumahnya, terlihat ada bingkisan dan 1 tangkai bunga mawar merah di meja. Ternyata itu pudding dan pie coklat. Ara mengambil surat yang terselip di sana.


Dear, Tsabita Keona Arabella.


Sejauh lu lari, sejauh lu pergi dari gua. Gua bakalan selalu nunggu lu kembali. Gapapa kalau lu sekarang butuh waktu untuk jauh dari gua. Tapi inget, gua akan selalu ada di tempat yang sama. Jangan sedih, jangan nangis, gua gak suka liat lu kaya gitu.


Perasaan gua buat lu ini nyata adanya, bukan cuma sesaat. Yakinin aja dulu diri dan hati lu. Kalau udah yakin bilang sama gua ya? Biar gua kejar lu lagi, berusaha buat genggam tangan lu lagi.


Kalau boleh jujur, gua kangen. Gua mau peluk lu sampai perasaan cemas ini reda. Gua mau peluk lu sampai gua tenang. Tapi gak bisa ya?


Gua, bakalan ada di sini. Jagain lu dari jauh, jangan khawatir. Gua akan selalu baik-baik aja. Jangan lupa di makan pie sama puddingnya. Itu bibi yang buat, gua juga ikut bikin hehe. I love you.


- Dewa Arkan Bagaskara


Setetes air mata jatuh dari pipi Ara. Pertahanannya runtuh, sedari tadi dia mencoba menahan air matanya. Sekarang dia tidak bisa lagi membendungnya. Dia merindukan Dewa, perasaan yang dia tidak yakini ada, namun nyatanya selalu terbayang-bayang.


"Kak ... Maafin gue. Gue jahat banget sama lo ya?" Ara terisak, membaca surat ini membuat hatinya teriris. Jauh lebih sakit dari yang dia duga.


Yaa dia mencintai Dewa, dia memiliki perasaan yang sama seperti yang Dewa Rasakan. Dia sedih harus menjauh dari Dewa. Dia memikirkan beberapa hari ini dan jawabannya tetap sama, dia mencintai Dewa. Tapi bagaimana dia bisa bersama Dewa? Rendy jauh lebih lama bersamanya. Rendy tidak menyukai Dewa.