
Setelah selesai sholat maghrib,semua Camaba kembali kumpul di lapangan. Katanya camping ini akan dilaksanakan selama 3 hari 2 malam.
Seperti yang sudah dijadwalkan, sekarang adalah waktunya makan malam. Ara bingung harus berbuat apa, dia hanya berharap semoga Dewa menepati janjinya untuk membantunya kabur dari makan malam ini.
"Sekarang kalian makan, setelah selesai makan malam, kita akan ada acara games," ucap Alex.
Tiba-tiba seseorang datang dan mengambil alih mik dari Alex.
"Matcha, kamu ikut saya," kata Dewa tegas.
"Loh, kenapa, Dew?" tanya Alex.
"Dia belum gua kasih hukuman, nanti gua lupa," kata Dewa.
"Ya udah, sana," perintah Alex.
Namun Zelda menatap Ara dengan tatapan yang tajam. Tapi Ara tidak mempedulikannya, memangnya dia siapa bisa menatapnya seperti itu. Mereka berdua pun menuju tempat yang tadi siang mereka kunjungi.
"Makasih, Kak udah nepatin janji lo," ucapnya lega.
"Sama-sama. Nih," katanya memberikan konsumsi miliknya dan susu kotak.
"Ini punya lo, Kan? Terus tar lo makan apa?" Tanya Ara.
"Panit banyak makanan, tenang. Udah buruan, tar dicurigain"
Setelah mereka selesai makan malam, Dewa dan Ara kembali ke perkemahan. Sepertinya akan ada acara games malam ini, terlihat ada beberapa orang di depan yang sedang berjoget karena hukuman games. Ara pun ikut bergabung bersama mereka untuk mengikuti games selanjutnya.
"Oke games kali ini bakalan seru banget, saya bakalan pilih 3 orang cewek," kata Zelda.
Semuanya pun hanya mengangguk saja mendengar perkataan Zelda.
"Oke saya tunjuk ya, Beruang, Knalpot, sama kamu Matcha. Kalian ke depan," perintah Zelda.
Entahlah game apa yang akan dia berikan pada mereka bertiga. Kenapa lagi-lagi harus Ara.
"Kita non formal aja ya, gue punya 3 tantangan di sini dan kalian harus lakuin sesuai tantangan yang gue sebutin, paham?" tanyanya.
"Paham," sahut mereka ber-3.
"Beruang, gue tantang lo buat marahin Riska," katanya sambil menunjuk Kak Riska.
Dia pun mengikuti darenya semua bersorak karena terlihat debat mereka sangat sengit. Giliran temanku di sebelah mendapatkan tantangan, yaitu spill salah satu senior lelaki yang dia suka dan ternyata dia memilih Kak Raka, semua bersorak melihatnya. Aku sangat gemetar, maksud dari game ini itu apa sih, gak ada manfaatnya sama sekali dan gak seru juga.
'Aduh tantangan gue apa ya, gimana kalau susah. Oh god help me please.'
"Terakhir, lo matcha," tunjuk Zelda.
Semua tatapan menuju padanya dan jujur itu membuat Ara semakin gugup dan rasa takutku semakin besar.
"Tantangan lo adalah ... Tembak Dewa," ucapnya dengan santai.
'HAH? TEMBAK KAK DEWA? APA DIA GAK SALAH? YAAMPUN GUE HARUS KAYA GIMANA?'
Sebenarnya Zelda melakukannya agar Ara dipermalukan, entah kenapa itu membuatnya puas.
Ara kaget mendengar tantangan yang Zelda berikan. Ara melirik Dewa, sepertinya dia juga sangat terkejut tapi mencoba menutupinya dengan tampang yang sok cool itu.
"Se-sekarang, Kak?" tanyanya perlahan.
"Ya, iyalah cepet sana," perintah Zelda sambil mengarahkan tubuhnya ke arah Dewa.
Jantungnya berdebar tak karuan. Ara tak pernah melakukan hal yang seperti ini sebelumnya. Pacaran saja tidak pernah. Dia akan sangat malu dan tidak punya muka. Apalagi di depan banyak orang seperti ini. Ara berjalan ke Dewa sambil merutukki dirinya sendiri.
'Kenapa tantangan gue kaya gini. Gue harus bilang apa. Gue harus ngomong kaya gimana. Gimana nanti dengan responnya dia. Gue takut.'
Hingga tak terasa Ara sudah sampai di hadapan Dewa yang menatapnya dengan datar. Ara memberanikan diri menatap wajahnya. NO Ara tidak sanggup hingga menundukkan wajahnya kembali. Seluruh badannya seperti bergetar dan Ara hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Rasanya tubuhnya ini dingin tapi ada rasa panasnya.
"Ka-kak Dewa," ucapnya perlahan mulai memberanikan diri untuk berbicara. Sialnya dia disodorkan mik oleh senior, rasanya dia ingin menangis sekarang.
"Hmm?" sahut Dewa.
Mendengar Dewa bicara membuat jantungnya semakin tak karuan. Keringat dingin mulai bercucuran dari tubuhnya, padahal ini adalah malam hari.
"A-Ak-Aku-"
"Aku apa?" tanyanya dingin, itu semakin membuat Ara mati kutu dibuatnya.
"Ak-aku suka sa-sama Kakak," kata Ara sambil menghembuskan napasnya berat.
'Apa harus gue bilang ini ya? Gue gak bisa. Gue gak mau bilang, kenapa selalu aku yang terkena sialnya. Ini hal pertama yang gue belun pernah lakuin'
"Jadi pacar aku," lanjutnya dan Ara kembali menghembuskan napasnya.
Dia tidak menjawab. Ara mengadahkan wajahnya memberanikan diri untuk menatap manik mata Dewa. Tapi dia masih terdiam. Jantungnya berdetak semakin kencang, kakinya ini seakan tak berpijak pada bumi.
"Iya, gua mau kok," ucap Dewa.
Semua orang bersorakk, namun pernyataannya sukses membuat Ara membulatkan matanya. Ara kaget, pernyataannya membuat Ara tak bisa berkutik dan tak bisa beranjak dari tempat ini. Ara ingin pingsan tapi tak mampu juga. Bukan karena senang, tapi karena Ara tak mengerti dengan permainan ini. Ara sama sekali tak mengerti. Sementara Zelda semakin kesal dibuatnya, semua itu diluar dugaannya.
"Gua mau jadi pacar lu," katanya sambil menarik Ara untuk disampingnya.
Ara hanya terdiam, Ara bingung dengan semua ini. Ara masih terdiam di samping Dewa, sekilas Ara dapat merasakan harum aroma tubuh Dewa. Hingga dia melepaskan tangan Dewa dari tangannya.
"Oke games selesai, kalian bisa kembali ke tenda masing-masing," kata Kak Alex.
Ara masih menatap Dewa,Ara tidak bisa membaca pikiran orang yang ada di sampingnya ini. Apa yang dia lakukan?Ara kira dia akan berkata tidak. Ini seperti di novel-novel yang sering Ara baca. Tapi rasanya berbeda dan tak bisa dijelaskan.
"Kenapa?" tanya Dewa.
"Gue bingung, lo ngapain sih bilang kaya tadi?" tanya Ara yang masih menatap Dewa dengan tatapan keheranan.
"Gak usah bingung, mulai sekarang gua pacar lu dan lu pacar gua," tegasnya.
"Ta-tapi kan—"
"Udah sana tidur," katanya.
Ara masih terdiam mematung menatap Dewa. Pria ini aneh, lebih aneh dari yang dia pikirkan.
"Ekhmm."
Tiba-tiba suara seorang perempuan mengagetkan mereka berdua. Zelda, dia menatap Ara dan Dewa dengan pandangan yang sangat tajam.
"Balik ke tenda, lo. Ngapain di luar?" tanya Zelda pada Ara
"I-iya, Kak," ucap Ara dengan segan.
"Dew, kita perlu bicara," kata Zelda pada Dewa.
"Bicara apa? Di sini aja." Dewa menatap Zelda dengan datar.
"Ini penting," ucap Zelda meyakinkan.
"Ya udah tunggu bentar."
Ara memilih untuk langsung ke tendanya sekarang, daripada mendengarkan percakapan mereka yang terlihat tegang. Tapi baru beberapa langkah menuju tenda, tiba-tiba Dewa menghampirinya
"Sini, gua anter," katanya sambil memegang kedua bahu Ara dari belakang. Ara tak tau harus apa, jika dia marah dia takut ditandai oleh Zelda. Yang Ara pikirkan Ara bingung kenapa Dewa seperti menganggap ini serius.
Setelah sampai di depan tenda Ara menatap Dewa dan masih berusaha mencerna semuan perlakuanya.
"Kalau lu butuh sesuatu, panggil gua aja. Tenda gua di sebelah kanan lu kok. Gnite," katanya sambil mengacak-ngacak rambu Ara.
Ara memasuki tenda dengan keheranan. Apa yang terjadi barusan? Ara menyatakan perasaan pada Dewa dan dia menerimanya, lalu mereka jadian. Dewa bilang kalau mereka sekarang pacaran, ini kan permainan? Tapi kenapa Ara rasanya tidak bisa menghindarinya tadi. Kenapa Ara malah terdiam mematung saat melihat wajahnya. Ada apa dengan Ara sekarang?
"Apa yang terjadi sama gue sih," gerutunya dan mengacak rambutnya frustrasi.
'Apa ini rasanya kaya di novel-novel. Kok gue malah bingung sih? Biasanya kalau gue baca novel, gue selalu suka adegan kaya itu. Tapi kenapa yang gue rasain malah gak karuan kaya gini sih?!'
Tiba-tiba seseorang membuka sleting tenda Ara perlahan.
"Ini buat lu, gua tau lu lupa bawa selimut, 'kan?"
Ara pun mengambil selimut itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Dipake, ya," ucap Dewa lembut.
"Makasih, Kak."
"Sama-sama, gua gak mau aja pacar gua kedinginan, gnite Ara," katanya spontan sambil menutup kembali sleting tendanya.
Pipi Ara mulai memanas akibat perkataanya. Kenapa Dewa memperlakukannya seperti itu?
"Ya ampun ada apa sama gue?" gumamnya.
Ara tak mungkin menyukai Dewa. Dia meyakinkan diri kalau hanya kaget, ya hanya kaget. Karena ini pertama kalinya Ara merasakan itu. Ara bergegas tidur dan beharap ini adalah mimpi. Hingga nanti pagi saat dia terbangun, dia tak pusing memikirkan kejadian ini