MR.MATCHA

MR.MATCHA
Misi Dewa




Minggu pagi Ara sudah dikagetkan dengan kedatangan Dewa ke rumahnya. Untung orang tuanya belum pulang dari luar kota, kalau mereka ada tentunya pasti Ara akan mendapat ribuan pertanyaan tentang Dewa dan untungnya lagi dia bukan seorang pemalas yang belum mandi pagi hari. Kalau tidak dia sudah malu karena Dewa melihat mukanya yang baru bangun tidur.


Hari ini Dewa mengajak Ara ke rumahnya. Sepi, tidak ada kehidupan di sana. Hanya ada Dewa dan juga satu asisten rumah tangga yang sudah setengah baya. Rumahnya besar, dengan desain modern, tapi sejuk karena banyak tanaman hijau.


Dewa memperkenalkan Ara kepada Bi sari yang sudah lama bersamanya. Bi Sari sangat ramah, dia bilang kalau dirinya lah yang merawat Dewa sedari kecil. Lucu sekali saat Bi Sari memperlihatkan photo masa kecil Dewa kepada Ara.


Setelah itu Dewa mengajak Ara ke taman belakang. Ada berbagai macam binatang di sana. Mungkin Dewa memelihara mereka agar dia tidak merasa kesepian di rumah.


"Rumah lo bagus, Kak. Sejuk juga," puji Ara.


"Ya dulu ayah gua arsitek, jadi rumah ini rancangannya," ucap Dewa.


"Ohhh pantes sihh."


Dewa mengambil kucingnya yang sedang bersembunyi di balik pot bunga. Dewa sangat menyukai binatang, jadi di rumahnya juga terdapat beberapa jenis binatang.


Dewa menghampiri Ara sambil menunjukkan kucingnya.


"Ini anak gua," kata Dewa sambil menciumi kucing berwarna putih dengan bulu lebatnya itu.


"Ihh gemes banget, Kak. Mau gendong," pinta Ara.


Dewa menyerahkan kucingnya kepada Ara. Ara menggendongnya dengan hati-hati, menurutnya kucing milik Dewa sangat lucu, selain bersih, matanya juga berwarna biru. Sama cantiknya dengan mata Dewa.


"Ini namanya siapa?" Tanya Ara.


"Cimol," jawab Dewa sambil terkekeh.


Ara tertawa mendengar jawaban Dewa, bisa-bisanya Dewa menamai kucing cantiknya dengan nama Cimol.


"Bisa-bisanya lo, Kak. Gapapa tapi gemes." Ara pun menciumi kucing itu dengan penuh kasih sayang.


Dewa senang, karena Anak dan Ibu barunya bisa cepat akrab. Dewa melihat kalau sebenarnya Ara adalah orang yang penyayang, tapi galaknya tak tertolong.


"Yah, Mol. Enak jadi lu ya diciumin pacar gua," ucap Dewa sambil mengusak bulu kucingnya.


"Mau dicium juga?" tanya Ara.


Dewa pun mendekatkan wajahnya ke Ara. Senyum jahil pun terpancar dari wajah Ara.


"Merem dong, malu," pinta Ara.


"Yaudah iya merem." Dewa menurut saja demi mendapat ciuman dari gadisnya itu.


Ara pun menahan tawanya perlahan dia mendekatkan Cimol ke arah pipi Dewa dan Cimol langsung menjilat-jilat pipinya. Raga yang merasa pipinya basah membuka matanya, dia pikir mendapat ciuman dari Ara taunya Cimol.


"Ahh Cimoll, gua pikir beneran dapet cium," kesalnya.


"Wlekk, ayokk kita kabur," kata Ara sambil berlari menjauh dari Dewa.


"Awas ya, Ra kalau dapet." Dewa pun mengejar Ara dan akhirnya terjadilah aksi kejar-kejaran.


Dewa dan Ara terlihat begitu senang sambil berlarian dengan penuh tawa. Bi Sari yang sudah lama tidak melihat Dewa tertawa selepas itu sangat senang.


"Akhirnya kamu mendapatkan kembali tawamu toh, Den. Bibi ikut seneng liatnya," gumam Bi sari.


Bi Sari yang tak ingin mengganggu kedua sejoli itu pun langsung kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang mereka.


Dewa masih berusaha mengejar Ara, ternyata Ara ini kecil-kecil cabai rawit, alias dia tidak bisa ditebak kalau se aktif itu.


"Aduhh," kata Dewa sambil memegang lututnya.


Ara menghentikan kakinya, dia langsung menghampiri Dewa dengan panik.


"Kenapaaa??!" tanyanya dengan raut wajah cemas.


Tanpa aba-aba Dewa langsung memeluk gadis itu sampai kehilangan keseimbangan. Mereka pun terjatuh dengan posisi Dewa yang memeluk Ara.


"Ihhh curang," kesal Ara.


"Biarin yang penting dapet. Kalau gua udah dapet sesuatu, susah tuh gua lepasin, jadi cari cara aja buat lepas," ucap Dewa yang masih memeluk Ara.


Ara menatap manik mata Dewa. Terlihat sangat hangat menurutnya. Ntah kenapa dia betah berada di posisi seperti ini. Dewa pun menatap paras cantik Ara. Gadis ini benar-benar membuatnya jatuh hati sejak pertama kali bertemu.


"Ra," panggil Dewa perlahan.


"Apa?"


"Kapan lu anggap gua pacar beneran?" tanya Dewa.


Ara hanya terdiam, jujur saja dia tidak tau harus menjawab pertanyaan Dewa seperti apa. Dia bingung dengan situasi dan posisinya. Sebenarnya juga dia menyukai Dewa, tapi terlalu gengsi untuk mengakuinya. Ya sebenarnya dia adalah orang yang paling gengsi dan sudah mendapat pengakuan dari teman-temannya.


Namun, dugaannya salah. Dewa memegang kedua tangan Ara sambil menatapnya dengan penuh ketulusan.


"Gua sadar, Ra. Awal dari kita itu aneh dan seharusnya gak gitu. Tapi gua bersyukur, karena dari game itu kita jadi bisa sedekat ini." Dewa menjeda ucapannya.


"Ra, gua sayang sama lu. Gua emang orang yang keliatannya player, tapi yang perlu lu tau, baru kali ini gua ngerasa jatuh cinta yang rasanya beda dari sebelumnya."


"Beda gimana?" tanya Ara.


"Gua gak pernah seserius ini sama cewek, gua gak pernah se-takut ini saat kehilangan seseorang, gua gak pernah se-sayang ini sama orang. Gua rasain itu semua saat sama lu," ucapnya jujur.


"Ra, gak seharusnya lu yang nembak gua. Itu bukan tugas lu. Jadi, biar gua aja," ucap Dewa sambil menarik napasnya perlahan.


"Ra, gua suka sama lu. Gua sayang dan bahkan gua cinta sama lu. Gak perlu gua tunjukkin, lu bisa rasain sendiri selama kemarin sama gua. Ra, ayok kita pacaran beneran," pinta Dewa tulus.


"Kak .... "


"Gua gak akan janji untuk apapun itu, gua gak suka berjanji. Gua lebih suka lakuin itu secara spontan dengan cara gua sendiri."


"Gue gak bisa nerima lo gitu aja, Kak."


"Kenapa?"


"Di kehidupan gue bukan cuma gue sendiri. Lo harus dapet izin dari dia juga," ucap Ara.


"Rendy ya?" tanya Dewa dan dihadiahi anggukan kecil dari Ara.


"Dia gak suka gua?"


"Gak, dia cuma gak suka ketika gue sembunyiin sesuatu dari dia. Jadi gue gak bisa jawab ini sekarang. Kalau lo bisa yakinin Rendy, gue kasih jawabannya," ucap Ara.


"Susah ya." Dewa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Jadi?" tanya Ara memastikan.


"Jangan bilang gua Dewa kalau gak bisa lakuin itu demi lu," ucap Dewa.


Ara pun tersenyum, Dewa memang berbeda dari yang lainnya. Dia berharap Rendy dan Dewa bisa menjadi sahabat juga.


"Tungguin gua ya, jangan sama cowok lain," ucap Dewa.


"Cowok lain siapa deh?" tanya Ara heran.


"Yakali aja ada yang ngejar lu, lu punya gua," tekannya.


"Engga, punya Allah," sanggah Ara.


"Arghht, Ra. Berat banget saingan sama Tuhan." Dewa mengusak rambutnya frustrasi.


"Hahahahaha, kenapa sih kaya gitu?" kata Ara sambil tertawa melihat tingkah Dewa.


"Gapapa dah, asal saingannya bukan manusia pasti aman. Lu suka sama gua kan?" tanya Dewa.


"Engga," ucap Ara datar.


"Tapi lu suruh gua cari izin Rendy," protesnya.


"Ya itu tergantung, kalau lo bisa dapetin ya bisa dipertimbangkan," ucap Ara santai.


"Apaan, gak biasa. Masa perasaannya pertimbangan gitu, harus suka lah."


"Ya makanya usaha dulu ya brodi," kata Ara sambil menepuk-nepuk bahu Dewa.


Dewa menurutnya sangat lucu, dia biasanya terlihat cuek, tapi sekarang Ara bisa melihat sisi ke kanak-kanakan Dewa seperti ini.


"Janji bakalan suka ya?" tanyanya lagi.


"Gak suka janji, kata-kata siapa tuh? Mau gue copas ah," goda Ara.


"Ini untung gua suka sama lu, Ra."


"Dih apaan untung suka, berarti kalau gak untung gak suka gitu?"


"Gakk, gak gitu. Suka lah, beneran gak pake untung-untungan," ralat Dewa.


"Jadi yang bener yang mana?"


"Beneran suka, udah ah jangan godain gua mulu."


"Siapa yang godain, kan cuma nanya."


Dewa pun dibuat frustrasi oleh gadisnya ini, tapi Dewa senang karena bisa bicara perasaannya kepada Ara, yang perlu dia lakukan sekarang adalah berusaha untuk mendapatkan hati Ara dan orang-orang disekitarnya.