MR.MATCHA

MR.MATCHA
Mata-Mata




Ara menuruni tangga dengan terburu-buru, hari ini dia dan Rendy akan bersepeda. Hal yang mereka sukai sewaktu masih kecil. Ara langsung menuju garasi dan mengeluarkan sepedanya. Sedikit berdebu karena jarang dipakai, akhirnya dia memutuskan untuk mengelap sepedanya dulu.


Kring ... Kring ... Kring


Rendy membunyikan sepedanya, dilihatnya Ara sedang mengelap-ngelap sepeda. Dia jadi teringat bagaimana dulu Ara senang sekali saat Ayahnya membelikan sepeda. Bahkan Ara tidak pernah berubah, masih sama seperti dulu. Lucu.


"Tunggu bentar, ini jarang dipake jadi aja berdebu." Ara dengan fokus membersihkan sepedanya.


"Makanya kita harus sering sepedahan, tar rusak itu sepeda kalau cuma didiemin." Rendy turun dan membantu Ara membersihkan sepedanya.


"Nah gitu kek bantuin, cape tau." Ara terkekeh sembari menyerahkan semua tugasnya pada Rendy.


Rendy pun hanya menggelengkan kepalanya, Ara si anak semata wayang sudah jelas selalu tidak ingin repot dan akhirnya dia yang dikorbankan. Setelah bersih, Rendy membawa sepedanya ke hadapan Ara yanh sedang sibuk memakai lipbalm pada bibirnya.


"Nih udah bersih. Ayok cepet keburu siang," ajak Rendy.


"Ayok!!" Ara pun mengambil sepedanya dan langsung menaikinya. Disusul Rendy yang juga menaiki sepeda miliknya.


Mereka berdua pun berkeliling sambil menikmati udara di pagi ini. Ara tersenyum, baginya ini healing. Setidaknya dia bisa melupakan tentang Dewa untuk sementara waktu. Kemarin, setelah membaca surat dari Dewa, dia hampir seharian menangis dan sesudahnya harus mengompres matanya agar tidak sembab. Cengeng sekali.


"Ra inget gak dulu lo pernah jatuh ke parit pas belajar naik sepeda?" tanya Rendy sambil mengayuh sepedanya agar melaju berdampingan dengan Ara.


"Hahahahaha gila, terus abis itu gue nangis gak mau main sepeda lagi, kan?" Ara tertawa geli saat mengingat masa kecilnya, benar-benar memalukan.


"Iya, tapi besoknya lo belajar sepeda lagi. Kalau dipikir-pikir kita berdua lucu ya waktu kecil. Lo yang selalu ngekorin gue karena takut kalau keluar sendirian, lo yang selalu jadiin gue tameng ketika digangguin ditaman sama anak-anak komplek sebelah," ucap Rendy sambil tersenyum saat mengingatnya.


"Ya gimana, orang gue bareng sama lo terus. Tapi gue beruntung tau punya sahabat kaya lo, dari dulu sampe sekarang. Gue selalu beruntung, karena lo gue selalu ngerasa aman."


Rendy tersenyum saat mendengar penuturan Ara namun ....


"Tapi boong, blekk!" Ara pun menjulurkan lidahnya lalu mengayuh sepedanya kencang sambil tertawa meledek.


Rendy pun tak tinggal diam, dia langsung mengayuh sepedanya kencang dan mengejar Ara. "Awas ya lo, Ra! Kurang ajar!"


"Hahahaha blekk blekkk, ayokk kejar gue kalau bisa!" Teriak Ara yang semakin mengayuh cepat sepedanya.


Mereka saling tertawa dan mengejar, tanpa sadar kalau Dewa memperhatikan mereka dari dalam mobilnya. Sejenak Dewa tersenyum memandang gadisnya yang tertawa lepas seperti tadi. Setidaknya bisa mengobati rasa rindu walau cuma sedikit. Dia benar-benar menepati janjinya untuk selalu menjaga Ara walau dari kejauhan.


...~ • ~...


Ara dan Rendy beristirahat di tempat bubur langganan mereka, rasanya melelahkan bersepeda sambil kejar-kejaran. Ditambah mereka memang jarang sekali bersepeda. Cukup menguras tenaga.


"Bang bubur 2, yang 1 lengkap. Yang satu lagi gak pake kacang, kecap sama kuah karinya banyakin, buburnya setengah porsi, jangan pake seledri." Rendy mendikte pesanan mereka. Dia sudah sangat hafal apa yang Ara suka dan tidak suka. Se-detail itu bahkan tidak hanya soal bubur.


"Makasihhhh," ucap Ara sambil tersenyum. Ara menyandarkan dirinya di lengan Rendy karena kelelahan.


"Cape ya? Jarang gerak sih lo. Nanti lain kali kita sepedahan lagi. Atau tiap minggu kita sepedahan aja." Rendy mengambil selembar kertas di meja itu dan mengipas-ngipaskannya ke arah Ara.


Rendy tersenyum lalu memindahkan bubur yang sudah siap ke depan Ara. "Yauda makan dulu, biar keisi lagi perut lo."


Ara tersenyum dan melihat bubur miliknya, perfect. Tidak ada yang kurang, semuanya sesuai dengan kesukaannya. Rendy memang sahabat terbaik yang mengerti Ara bahkan dari hal kecil sekali pun. Itu kenapa Rendy lebih penting dari siapapun. Dia akan melakukan hal serupa, termasuk melupakan perasaannya pada Dewa.


Sejenak Ara melirik Rendy yang mengaduk buburnya, dia heran kenapa di dunia ini ada pecinta bubur diaduk. Menurut Ara terlihat aneh. Tidak estetik untuk dimakan.


"Ren, kenapa deh itu bubur mesti diaduk gitu?" Tanyanya sambil memakan bubur miliknya dengan rapi.


"Loh, biar rasanya balance. Semuanya kecampur kalau makannya gak diaduk kaya lo gitu mana bisa rasain kenikmatan suatu bubur," jawab Rendy yang langsung melahap buburnya.


"Kalau dicampur gitu malah aneh tau rasanya. Kecapnya jadi gak kerasa, sambelnya juga, kuah karinya ilang. Enakan juga gak diaduk. Pokoknya yang makan bubur diaduk itu aneh."


"Lo yang aneh, makan bubur gak diaduk. Bukan orang Indonesia."


"Loh emang kalau orang Indonesia makan buburnya mesti diaduk? Ngaco, aturan dari mana?" Ara memakan kembali buburnya namun masih menatap Rendy tajam.


"Udah atuh Teteh, Aa. Mau makan buburnya diaduk atau gak diaduk mah sama aja. Semua orag teh punya selera yang berbeda. Yang penting mah belinya sama si mang," sahut si mang tukang bubur yang menyelip diantara obrolan mereka.


"Hahahaha bener tuh mang, ribet emang ini bocah satu." Rendy pun mengacak-ngacak rambut Ara. Ara memang menggemaskan.


Ara terkekeh, dia pun melanjutkan memakan bubur miliknya hingga habis. Perutnya memang belum diisi sejak pagi, makanya sekarang dia merasa cukup energi untuk kembali bersepeda.


Setelah selesai makan dan membayar bubur. Rendy dan Ara kembali melanjutkan berkeliling. Pagi ini cuaca sangat bersahabat, tidak mendung, tidak terlalu cerah juga sehingga enak untuk dinikmati.


Namun seketika Ara terlihat gusar. Rendy sadar akan hal itu. "Kenapa, Ra? Lo kenapa?"


"Ren, lo sadar gak sih kalau motor yang di belakang itu ngikutin kita terus dari tadi," bisiknya.


Rendy melihat sekilas ke belakang sembari terus mengayuh sepedanya. Ara benar, mereka juga sangat mencurigakan.


"Ra, jangan diliatin lagi. Mending kita cepet-cepet pulang. Perasaan gue gak enak," ucap Rendy pelan.


Ara mengangguk, mereka pun langsung mengayuh sepedanya dengan cepat. Namun benar, motor itu mengikuti mereka terus bahkan ikut mempercepat lajunya. Ara takut, orang-orang itu berwajah sangar seperti preman. Namun kenapa mereka mengincar dia dan Rendy yang bahkan tidak membawa apa-apa selain sepeda.


"Ra cepet, mereka masih ngikutin kita." Rendy mulai panik, pasalnya dia takut jika orang-orang itu melukai Ara.


Mereka pun akhirnya bisa menjauh dari para penguntit itu dan melajukan sepedanya melalui jalan tikus yang jarang di lewati banyak orang. Ara dan Rendy menghentikan sepedanya.


"Gila, itu siapa sih? Gue takut, untung aja kita lewat sini," ucap Ara dengan napas yang terpenggal-penggal.


"Gue juga gak tau, kita masih belum aman. Mending kita langsung balik sekarang."


"Cape, tapi yaudah ayok."


Mereka pun kembali mengayuh sepedanya, Ara masih berpikir. Kenapa akhir-akhir ini dia seperti dimata-matai seseorang?