MR.MATCHA

MR.MATCHA
Ketulusan Dewa




Bi sari datang dengan terburu-buru. Beliau begitu panik saat Ara menghubunginya dengan ponsel Dewa. Bi Sari sudah menganggapnya sebagai putranya sendiri.


"Non, di mana den Dewa?" Tanya Bi Sari saat menemui Ara yang duduk di kursi luar ruangan Dewa.


"Dewa udah melewati masa kritisnya, Bi. Cuma belum sadar dan belum boleh dijenguk dulu. Jadi kita tinggal nunggu kabar dari dokter aja selanjutnya."


"Syukurlah, makasih ya Non sudah bawa den Dewa ke sini. Bibi gak tau apa yang akan terjadi kalau si den telat ditangani."


"Harusnya Ara yang makasih sama kak Dewa, Bi. kak Dewa kaya gini karena berusaha nolongin Ara," cicitnya.


"Sudah, Non. Gak usah dipikirkan, yang penting kalian berdua selamat dan gak apa-apa. Den Dewa sayang sekali sama si, Non. Jadi Bibi berharap si Non jangan menghindar lagi dari den Dewa."


Ara terdiam, dia sadar kalau kemarin telah bersikap tidak adil pada Dewa. Padahal Ara tau kalau Dewa sekarang menjadikannya rumah. Benar-benar merasa sangat bersalah.


Waktu menunjukkan pukul 20.00. Ara menatap Dewa yang terbaring di ranjang rumah sakit. Sudah beberapa jam namun dia belum juga terbangun. Perlahan Ara menghampiri Dewa dan duduk di kursi tepat di samping kanan Dewa. Ditatapnya Dewa lekat-lekat, tidurnya terlihat damai.


Sebenarnya tadi dia ingin menghubungi ibunya Dewa, tapi dia takut karena dia sudah mengetahui asal-usul Dewa yang membenci ibunya. Akhirnya dia menghubungi bi Sari agar segera ke Rumah Sakit.


Ara menggenggam tangan Dewa, lalu menumpukan tangannya di sisi ranjang, perlahan dia menaruh genggaman mereka di pipinya. Berharap kalau Dewa segera bangun.


"Kak, Bangun. Lo jangan kenapa-kenapa, gue gak bisa liat lo kaya gini." Ara mengelus lengan Dewa dengan tangan satunya.


"Kalau lo marah atau kecewa sama gue mending lo lampiasin aja ke gue, jangan hukum gue kaya gini. Janji ya lo bakalan cepet bangun," lirihnya.


Ara terus menggenggam tangan Dewa tanpa melepaskannya, entah sudah berapa lama. Matanya mulai terpejam, hari ini terasa melelahkan. Bahkan Ara belum sempat pulang untuk mengganti bajunya.


Beberapa menit berlalu, Rendy memasuki ruangan inap itu. Dilihatnya Ara sedang tertidur tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Dewa. Rendy sadar kalau mereka saling mencintai dan Dewa benar-benar serius ingin menjaga Ara.


Diambilnya selimut yang tadi dia bawa saat pulang ke rumah lalu memakaikannya pada Ara. Rendy mengelus puncak kepala Ara sambil berbisik, "Maafin gue ya, Ra. Gue udah egois dengan jauhin lo sama orang yang lo sayang."


Setelah itu Rendy melangkahkan kakinya menuju sofa. Dia akan menjaga mereka berdua.


.


.


.


.


Dewa membuka matanya, sedikit meringis karena luka diperutnya yang masih belum mengering. Pandangannya tertuju pada gadis yang kini sedang tertidur pulas sambil menggenggam tangannya.


Tidurnya begitu nyenyak, mungkin dia kelelahan. Matanya terlihat sedikit sembab, mungkin dia menangis kemarin. Dengan lembut Dewa mengelus pipi Ara dengan tangan yang satunya. Dia senang Ara ada di sini. Gadis yang sudah dia rindukan seminggu kebelakang.


"Maaf ya udah bikin lu khawatir," gumannya perlahan.


Ara membuka matanya perlahan, matanya langsung membulat saat melihat Dewa sudah sadar.


"Kakkk, lo udah bangun? Gimana kondisi lo? Ada yang sakit? Apa yang sakit, bilang sama gue. Mau gue panggilin suster atau dokter?" Tanya Ara tanpa jeda, itu membuat Dewa terkekeh. Ara terlihat gemas menurutnya.


"Loh, kok ketawa? Kenapaa? Lo kenapa?" Tanya Ara kebingungan.


"Gemes sih," ucapnya.


Ara memasang muka kesalnya lalu memukul lengan Dewa. "Bisa-bisanya gombal di saat lo baru sadar kaya gini. Gue khawatir, gue takut lo kenapa- kenapa, Kak."


"Yang bener, yaudah gue panggilin suster yaa? Takut lo kenapa-kenapa, Kak. Ngeri juga sama lukanya, terus mau makan apa? Biar sekalian gue cari ke depan. Bi Sari sama Rendy lagi pulang dulu."


"Gak mau apa-apa Tsabita ..."


"Kak ... Yaudah terserah gue aja ya." Ara beranjak pergi namun Dewa menahan lengannya lembut.


"Kenapa??"


"Gua gak butuh apa-apa, gua cuma butuh lu aja itu udah cukup. Lebih sakit nahan rindu ternyata dari pada nahan lukanya."


"Ihhh serius, Kakk."


"Iyaa serius, gua gapapa. Ululu kasiannya khawatir, mau peluk? Sini-sini gua peluk," ucap Dewa menggoda Ara.


"Diem!! Lagian lo nekad banget kemarin, harusnya lo gak nolongin gue. Ngebahayain nyawa tau gak? Untung gak kenapa-kenapa. Kemarin aja lo sempet kritis karena kehabisan darah. Mana darah lo A rhesus dan gak ada di bank darah jadi ... "


"Jadi apa?" Tanyanya sembari memiringkan wajahnya melihat Ara yang terdiam.


"Jadi gue yang donor darah, kan gue takut jarum suntik. Tapi nyawa lo lebih penting jadi gue beraniin diri." Ara menunjukkan lengannya yang berbalut kasa.


"Maaf yaa, lu jadi harus donorin darah buat gua. Maaf udah bikin khawatir, maaf bikin lu nangis, padahal gua udah janji sama diri sendiri gak akan bikin lu nangis." Dewa menggenggam lembut tangan Ara sembari mengusap punggung tangannya.


"Harusnya gue yang minta maaf karena nolongin gue lo. Jadi kaya gini, Kak. Jangan pernah kaya gitu lagi, gue gak mau lo kaya kemarin. Sebelum lo peduli sama gue, lo harus lebih jauh buat mikirin diri sendiri."


"Justru kalau gua liat lu kenapa-kenapa itu lebih bahaya. Karena gua ngerasa gak berguna karena gak bisa jagain lu."


Ara menatap Dewa dalam, tatapannya memancarkan ketulusan saat bicara seperti itu. Ara mencoba mencari celah kebohongan, namun tidak menemukannya. Ara kembali duduk di kursi dan terus menatap Dewa.


"Tetep aja kalau lo kenapa-kenapa juga gue bakalan ngerasa bersalah. Berapa jahitan tuh, sakit kan?"


"Gakk, malah ada manis-manisnya," ucap Dewa mengusak rambut Ara perlahan.


"Mulai kan ... "


"Berarti darah lu ada di tubuh gua sekarang, wah makin lengket dong."


"Diemm!! Apasih, Kakk!! Bangun dari kritis jadi aneh gini heran."


"Soalnya gua lagi seneng, jadi ya biarin aja."


"Seneng kenapa?"


"Seneng karena lu ada di sini. Kemarin-kemarin gua gak bisa liat lu. Engga deh, gua selalu mastiin lu baik-baik aja setiap pagi dan kemana pun lu pergi."


"Jadi itu sebabnya lo ada pas gue mau diculik kemarin? Jangan bilang kalau lo ngikutin gue sama Rendy dari awal main sepedaan?" Tanya Ara mengintimidasi.


"Kalau iya lu percaya atau gak?" Dewa melipat tangannya di dada lalu menatap Ara.


"Banget, Dewa Arkan Bagaskara adalah orang yang paling nekad demi mencapai keinginannya. Selalu mutlak sama apa yang dia pikirkan."


"Kan udah gua bilang kalau gua bakalan jagain lu dari kejauhan. Gua bakalan selalu stay sampai lu balik ke gua dan gua lakuin itu bukan karena terpaksa. Gua seneng ngelakuinnya buat lu, Ra." Dewa tersenyum manis, sungguh Ara tidak bisa diperlakukan seperti itu karena tidak baik untuk kesehatan jantungnya.


Ara terdiam, kenapa Dewa semanis ini? Dia memperlakukan Ara Like A Queen dan seolah-olah adalah hal yang paling berharga dalam hidupnya. Ara tidak pernah merasakan seperti itu. Apa dia masih harus menjauhi Dewa setelah kejadian ini?