MR.MATCHA

MR.MATCHA
Tentang Ara




Hari ini, setelah selesai dari kampus Ara memutuskan untuk langsung pulang saja. Karena hari ini badannya ini rasanya pegal sekali lebih tepatnya seperti remuk-remuk.


Dewa juga hari ini tidak bisa mengantarnya pulang karena ada mata kuliah tambahan.


"Assalamualaikum," ucap Ara sambil membuka pintu rumah.


Namun tak ada jawaban, Ara langsung menuju kamarnya. Namun ternyata bunda ada di meja makan.


"Kamu udah pulang sayang?" tanya Kirana.


"Udah, Bund. Ara ke kamar ya, cape banget hari ini jadi mau istirahat." Ara tersenyum lalu berjalan menaiki anak tangga.


Kamar adalah salah satu tempat ternyaman dari tempat mana pun. Kamar juga adalah saksi bisu dan tempat yang sangat magis. Kenapa magis? Karena entah kenapa, jika seseorang berada di dalamnya apalagi sendirian, bisa membuatnya overthinking semalaman tanpa sebab.


...Dewa Arkan....


Dewa Arkan : Cewek


^^^Tsabina Arabella: Oit^^^


Dewa Arkan : Malam ini sibuk gak?


^^^Tsabina Arabella : Sibuk, mau nugas.^^^


Dewa Arkan : Yah tadinya mau ngajak jalan.


^^^Tsabina Arabella : Gak bisa, Kak. Gue males numpuk tugas.^^^


Dewa Arkan : Yaudah deh, lain kali ya cantik. Udah makan kan?


Belum sempat Ara membalas pesannya tiba-tiba terdengar suara ribut dari bawah. Ya, orang tuanya bertengkar kembali. Hal yang paling membuatnya muak. Dia kadang tidak mengerti, kenapa orang tuanya begitu egois dan memikirkan kepentingan mereka sendiri. Padahal di rumah ini ada Ara yang sudah muak dengan semuanya.


"Semua ini salah kamu tau gak!" bentak Kirana.


"Kamu gak pernah ngaca! Kamu juga salah di sini."


"Silakan pergi, tapi inget aja kewajiban kamu buat kasih uang sama Aku dan Ara!"


"Uang aja yang ada di pikiran kamu! Aku itu cape kerja, pulang ke rumah malah disuguhin kaya gini!"


"Kamu gak mikir, mas? Aku juga kerja! Aku ngurus rumah, aku yang didik Ara juga! Kemana kamu selama ini hah!?"


"Aku sibuk kerja! Kenapa kamu gak bisa ngerti!"


"Aku juga sama! Sekiranya perhatiin Ara sedikit aja. Bisa gak kamu? Gak bisa kan?!"


"Kenapa kalian selalu kaya gini, sih. Gue cuma pingin hidup nyaman di rumah. Gue gak mau kalian bertengkar terus gue gak mau." Ara menutup telinganya, kepalanya sudah pusing mendengar kedua orang tuanya saling berteriak.


"Kenapa selalu terjadi pertengkaran kaya gini? Kenapa masih dengan hal yang sama yang mereka ributkan. Ekonomi. Apalagi yang kurang dari ekonomi?"


Ara mengambil ponselnya dan segera menghubungi Dewa. Hanya itu yanh dia pikirkan sekarang.


...Dewa Arkan...


^^^Tsabina Arabella : Tawaran tadi masih berlaku gak, Kak?^^^


Dewa Arkan : Yang mana?


^^^Tsabina Arabella : Jalan.^^^


Dewa Arkan : Katanya banyak tugas.


^^^Tsabina Arabella : Udah beres.^^^


Dewa Arkan : Tunggu di depan, gua berangkat.


^^^Tsabina Arabella : Sip.^^^


Ara menuju ke bawah, lebih baik Ara pergi dari sini. Ara tidak tahan dengan sikap mereka yang terus kekanak-kanakan. Dia benar-benar butuh udara segar.


"Tsabita Keona Arabella, mau kemana kamu?!" suara Allan membuat Ara tersentak.


"Keluar," ucap Ara asal.


"Kalau orang tua ngomong itu dijawab yang bener!" bentak Allan lagi.


"Bukan urusan kalian, sana lanjutin berantemnya. Kalian gak capek 'kan? Kalau Ara sih capek, gak ada yang mikirin perasaan Ara juga." Ara tak acuh sambil keluar dan membantingkan pintu rumah sekencang mungkin.


Ara menarik napasnya sejenak, dia mencoba menetralisir perasaannya. Rasa sesak dan amarah bercampur sampai dia tidak tau mana yang lebih dominan. Tidak ada yang mengerti dirinya, mereka hanya memikirkan ego masing-masing dan tanpa sadar melukai perasaan Ara.


Ara berjalan keluar gerbang, jam menunjukkan pukul 4 sore. Dia tidak peduli, yang dia butuhkan adalah pergi dan menjauh dari sini.


Dewa menghentikan motornya di depan Ara dan memberikan helmnya.


"Nih pake," perintahnya.


Ara pun mengambil helm tanpa sepatah katapun, tapi Dewa sadar kalau gadisnya ini mungkin sedang badmood atau ada dalam masalah.


"Kita mau kemana?" tanya Dewa.


"Kemana aja gue ikut," ucap Ara sambil menaiki motor Dewa.


Dewa yang tidak ingin banyak bertanya dan membuat Ara semakin kesal memilih untuk tidak banyak bertanya. Dewa langsung melajukan motornya.


Tanpa sadar, Rendy melihat itu dari balkon rumahnya. Dia tau kalau Ara sedang penat di rumah, dari raut wajahnya sudah terlihat jelas, meskipun samar-samar dari atas sana. Rendy mengepalkan tangannya, lagi-lagi posisinya tergantikan oleh Dewa.


"Kenapa bukan gue lagi yang lo cari sih, Ra?" gumamnya kecewa.


...~ • ~...


Tentang Rasa Cafe, di sinilah mereka berada. Mereka memilih duduk di balkon dan menikmati suasana sore hari ini. Tempatnya tidak terlalu ramai, jadi sangat pas ditemani Matcha latte kesukaan Dewa dan Milkshake Coklat kesukaan Ara.


"Ada masalah?" tanya Dewa.


"Biasalah," jawab Ara.


"Bunda sama Ayah berantem lagi," ucap Ara perlahan ambil meminum milkshake nya.


"Lagi? Sering emangnya?"


"Iyaa, mereka selalu ribut dari gue kecil, Kak. Entah apa yang mereka ributin. Kebanyakan masalah ekonomi."


"Ekonomi? Keluarga lu berkecukupan, Kok. Apa yang kurang?"


"Gue gak tau, Kak. Gue udah muak sama semua ini, gue capek," kata Ara yang sudah sangat terlihat pasrah.


Dewa menggenggam tangan Ara. Mencoba membuatnya tenang dari rasa kesalnya. Ditatapnya dengan lembut dan Ara pun merasa nyaman dengan situasi itu.


"Gapapa, lu gak harus selalu kuat. It's oke kalau sekarang gak baik-baik aja. Emosi itu emang harus dikeluarin, jangan dipendem terus."


"Lo tau gak? Gue anak mereka satu-satunya yang mereka gak pernah peduli. Itu kenapa waktu itu gue kabur dari rumah."


"Mereka cuma salah cara untuk ngasih kasih sayang sama lu, Ra. Mereka pikir, dengan memenuhi segala kebutuhan lu itu bakalan buat lu bahagia."


"Tapi gue cuma butuh mereka, Kak. Gak butuh yang lain. Gue bahkan jarang minta sesuatu."


Dewa mengelus punggung tangan Ara dengan lembut, gadis yang berada di depannya ini jauh lebih muda darinya, tentunya dia harus lebih dewasa menghadapi Ara.


"Mereka melakukan apa yang mereka anggap benar, sebagai anak lu harus bisa ubah pikiran mereka biar mereka gak kaya gini."


"Gue udah capek, gue udah lakuin segala hal. Tapi gak ada gunanya. Kalau misalnya mereka gak bisa ngasih kasih sayang, Tolong kasih gue kenyamanan. Itu aja."


"Udah ya jangan dipikirin lagi lagi, gua jadi ikut sedih liat lu sedih."


Ara pun mengangguk, meskipun Dewa bukan penasehat yang baik, tapi menurut Ara dia adalah pendengar yang baik.


"Makasih ya, Kak," ucap Ara sambil tersenyum tipis.


"Makasih buat apa?"


"Makasih karena udah dengerin gue, makasih lo udah bikin gue lega sekarang."


"Itu kewajiban gua, gua gak mau orang yang gua sayang sedih. Karena itu bikin gua sedih juga," katanya sambil memegang pipi Ara lembut.


"Kenapa lo peduli sama gue? Gue selalu cuekin lo kan?Gue selalu bikin lo kesel juga."


"Karena gua sayang lu," ucap Dewa spontan.


"Gue juga sayang lo," tanpa sadar Ara mengeluarkan kata-kata itu.


"Apa? Lu bilang apa tadi, Ra?" katanya kepo.


"Ha? Bilang apa?" Ara berusaha mengelak karena kaget.


"Iya tadi lu bilang apa?"


"Apasih gue lupa," elaknya.


"Bilang sekali lagi dong, Ra," katanya sambil merajuk dan itu membuat Ara gemas.


"Ih serius, Kak gue lupa."


"Ya udah deh."


"Ya udah apa?"


"Yaudah gapapa, gua bakalan terus berusaha biar lu suka sama gua dan bisa terima gua jadi pacar seutuhnya."


"Apasiihhhh gausah ngaco," ucap Ara sambil menahan senyumnya, dia tidak tau kenapa pria yang ada di hadapannya ini begitu manis.


"Don't cry, Baby," ucap Dewa pelan.


"Nama gue Ara, Kak bukan baby," ucap Ara menegaskan.


"Ya biarin, kan yang manggil gua."


"Ishh nyebelin dasar." Ara mencubit tangan Dewa pelan.


"Aww, mau dong dicubit Ara lagi," katanya tersenyum jail.


"Apaan sih, Kak," kata Ara mencubitnya lagi lagi dan dia tertawa melihat tingkah Dewa yang jahil itu.


"Nah gitu dong ketawa, tambah manis kan jadinya," goda Dewa.


"Aishhhh Dewa Arkaaaan Bagaskara!"


"Apa Tsabita Keona Arabella? Oh iya nih coba deh," katanya sambil menberikan coklat pada Ara.


"Coklat matcha?"


"Coba deh matcha nya," kata Dewa.


"Gak suka matcha. Rasanya kaya rumput."


"Coba aja dulu.


Ara pun mencobanya, ternyata matcha itu enak. Apalagi coklat matcha. Kok Ara mulai menyukai selera Dewa itu?


"Enak kan?"


"Ara pun mengangguk sambil memakan coklatnya lagi.


"Iya karena matcha dan coklat itu bisa bersatu. Kaya kita, sama-sama punya kekurangan. Tapi kalau disatuin bakalan sempurna. Kaya coklat itu."


"Iya juga, serius baru cobain matcha lagi terus rasanya enak."


"Masih gak suka matcha?" tanya Dewa.


"Suka kok dasar, Mr. Matcha."


"Ya, panggil itu aja. Gua suka panggilan itu."