MR.MATCHA

MR.MATCHA
Dewa vs Rendy




Dewa dan Rendy menatap Ara bersamaan, bagaimana gadis bertubuh kecil itu menghabiskan 2 piring pasta dan 1 gelas milkshake? Benar-benar ajaib. Melihatnya saja mereka berdua seperti sudah kenyang.


"Apa, ngapain kalian liatin gue?" tanya Ara saat melihat dua pria yang ada di hadapannya ini dengan kompak memperhatikannya.


"Gak salah makan sebanyak itu?" tanya Dewa.


"Keren, lo emang dabest," ucap Rendy sambil bertepuk tangan.


"Gak, gak salah. Soalnya gue stress dari tadi jagain dua balita yang punya ego tinggi dan gak mau ngalah satu sama lain," ucapnya santai sembari meminum milkshake nya lagi.


Bagaimana tidak, sejak awal mereka memasuki cafe ini, Dewa dan Rendy tidak berhenti bertengkar, selalu saja ada bahan untuk adu mulut. Benar-benar seperti dua balita yang berebut mainan dan masing-masing tidak ada yang mau mengalah.


"Dia duluan," tuduh Dewa.


"Kok gue? Lo duluan anjir, ribet banget dah mending lo balik jangan di sini," kesal Rendy tak terima.


"Ogah, gua nungguin pacar gua dulu," balas Dewa tak mau kalah.


"Pacar pacar, dia bukan pacar lo. Gausah ngimpi, gak usah halu lo—"


"Asdfghjkl bisa gak kalian gak usah debat lagi?! Duduk anteng, diem, gak bisa?!" kesal Ara frustrasi dengan kelakuan kedua pria itu.


"Gak!" ucap mereka berdua berbarengan.


Ara menarik napas panjang, mereka sungguh membuat Ara naik pitam. Tapi dia harus tetap sabar, bagaimana bisa membuat mereka berteman kalau dihadapi oleh emosi.


"Hadehh yaudah daripada gue emosi gue balik sendiri aja, capek," ucap Ara pasrah.


"Jangan, sama gue aja lah. Masa gak bareng, tar bunda lo nyalahin gue kalau lo ilang," kata Rendy.


"Gua juga bisa jagain Ara, gak perlu. Jadi sama gua aja," timpal Dewa.


"Tuh kan berantem lagi," ucap Ara pelan.


"Yaudah gua diem," kata Dewa.


"Mending kalian kenalan. Dewa ini Rendy dan Rendy, ini Dewa," kata Ara.


Rendy dan Dewa pun hanya bersalaman dengan kilat. Lucu sekaligus membuat Ara ingin menjambak mereka berdua.


"Hufftt, susah ya," gumam Ara perlahan.


"Oke-oke gua ngalah. Gua minta maaf sama lu, sebenernya ada yang mau gua bicarain sama lu," ucap Dewa pada Rendy.


Rendy menatap Dewa bingung sementara Ara sudah tau arah pembicaraan ini akan kemana dan dia hanya bisa menepuk dahinya.


'Haduhhh, kenapa harus sekarang sih?' batin Ara.


"Apa?" ketus Rendy.


"To the point, gua suka beneran sama Ara. Gua mau minta izin buat pacaran sama Ara," ucap Dewa serius.


"Serius lo? Lo aja baru kenal Ara, main suka-suka aja," kata Rendy dengan nada ketus.


"Gua serius sama perasaan gua, gua gak ada niat nyakitin Ara. Gua tau kalian dekat, gua gak mau ngerusak itu. Makanya gua izin sama lu bro."


"Gimana gue bisa yakin, gak mungkin lo jatuh cinta dalam waktu sebentar kaya gitu. Gue udah apal banget tampang kaya gini banyak yang deketin Ara dan ujungnya cuma buat main-main aja."


"Gua serius, gua udah jelasin semua ke Ara gimana soal diri gua. Gua janji gak akan nyakitin Ara."


Rendy menatap Ara meminta penjelasan, sementara Ara hanya cengengesan karena dia benar-benar tidak tau harus menjelaskannya bagaimana.


"Apaan izin-izin, lo kira gue bapak lo. Gak ada. Gak usah jadiin Ara mainan dah, gue gak suka dan ga akan biarin itu." Rendy berdiri dan menarik tangan Ara.


"Ayok pulang, Ra," kata Rendy serius.


"Ren, biarin Dewa bicara dulu," ucap Ara sambil menatap Rendy.


"Ra, kita baru baikan."


"Kak, gue pulang dulu ya," pamit Ara yang langsung ditarik oleh Rendy keluar dari cafe.


Sebenarnya Dewa tidak suka, jika apa yang dia anggap hak milik diambil begitu saja oleh orang lain, meskipun hanya pulang bareng. Tapi dia sadar kalau Rendy dan Ara begitu dekat, bagaimana pun dia harus berusaha mendapatkan restu sahabat dari gadisnya itu.


.


.


.


.


.


Rendy duduk di kursi belajar milik Ara, ya mereka sedang berada di kamar Ara sekarang. Rendy berusaha tenang untuk membicarakan hal ini dengan Ara.


"Lo harus jelasin kalau kata gue mah," ucap Rendy serius.


"Ren, aduh gimana ya gue jelasinnya."


"Apa? Lo suka sama Dewa? Kenapa tadi seolah lo dukung dia buat bicara sama gue?"


Ara terdiam, sebenarnya perasaannya ini masih abu-abu. Tapi ketika bersama Dewa dia merasakan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Senang, bahagia, seperti itu rasanya.


"Kemarin dia bilang kalau dia suka sama gue beneran. Tapi gue bilang gue gak bisa nerima dia gitu aja, karena di hidup gue juga ada lo," jelas Ara sambil memainkan kukunya.


"Lo suka sama dia?" tanya Rendy menyelidik.


"Gue gak tau pasti, tapi rasanya gue bahagia aja kalau deket dia."


"Ra lo gak bisa menyimpulkan sesuatu dari situ aja, lo harus pahami perasaan lo sendiri."


"Ya lo tau sendiri kan gue belum pernah pacaran, gue mana tau soal kaya gituan," ucap Ara sambil mengerucutkan bibirnya.


"Itu kenapa gua bilang lo harus pahami dulu perasaan lo, lagian gue juga gak yakin sama si Dewa itu. Kalau lo dimainin gimana?"


"Tapi dia baik sih, Ren. Gue rasa dia gak setega itu mainin gue," ucap Ara perlahan.


"Darimana lo tau? Cowok kadang cuma penasaran aja, Ra. Setelah dapetin lo terus rasa penasarannya hilang, lo bakalan sakit."


"Tapi lo juga cowok."


"Ya karena gue cowok makanya gua lebih paham soal hal kaya gini."


"Tapi lo apa gak mau mencoba percaya gitu sama kak Dewa?"


"Gak." Rendy sebenarnya sedang emosi karena dia cemburu, tapi bagaimana bisa dia menjelaskannya pada Ara? Gadis itu terus menerus bertanya padanya dan hanya membuatnya semakin panas.


"Gimana lo tau dia tulus kalau gak kasih dia kepercayaan?" Ara berusaha meyakinkan Rendy.


"Gue tanya balik, gimana bisa lo suka sama dia sementara lo aja gak paham sama perasaan lo sendiri? Mau mencoba? Gimana kalau sebelum gue tau dia tulus malah lo yang disakitin? Yang ada gue ngerasa gagal jagain lo, Ra. Lo paham gak maksud gue?"


"Ren, gak ada jaminan gue gak bakalan sakit. Ketika gue coba buat jatuhin hati ke seseorang, tanpa disakitin pasti ada celahnya gue terluka, Ren. Gue cuma mau mencoba buat membalas perasaan orang yang sayang sama gue."


"Ra, hubungan itu bukan buat coba-coba."


"Ren .... "


"Ra, gini deh kalau lo bisa tunjukin Dewa itu serius di depan mata gue, gue gak akan larang lo lagi." Rendy pun keluar dari kamar Ara.


Rendy berusaha menetralkan perasaannya saat ini, dia takut jika melanjutkan pembicaraan ini, dia akan berlaku kasar pada Ara. Iya dia cemburu ketika Ara berusaha membujuknya untuk menerima orang baru di kehidupan Ara, orang yang selalu dan hanya bersamanya setiap hari. Itu sangat sulit baginya, ditambah perasaan sepihak yang dia rasakan.


Ara merenung sejenak, baru kali ini dia melihat Rendy seperti itu. Dia paham jika Rendy marah padanya, tapi tidak dengan sekarang. Amarahnya lain, dia tidak bisa mengetahui pastinya. Seperti ada yang aneh, tapi Ara bingung.


"Arghtt kenapa gue harus di posisi kaya gini coba? Apa gue gak usah sama kak Dewa aja kali ya? Tapi kenapa gue kaya susah juga lepasinnya?"


Ara ingin mengejar Rendy, tapi dia tau kalau Rendy butuh waktu untuk mencerna semuanya. Lagi pula Rendy benar, dia harus memastikan perasaannya agar lebih jelas. Jika itu sudah jelas akan lebih mudah untuk menjelaskan pada Rendy. Sesungguhnya kalau tau perasaan itu serumit ini, Ara memilih untuk tidak menaruh rasa kepada siapapun.