MR.MATCHA

MR.MATCHA
Jangan dibaca



Ini pengulangan karena besok mau di lanjut ceritanya



Pagi ini Naya harus bertugas sebagai Ibu rumah tangga. Setelah membuatkan sarapan, dia juga harus mengantarkan Hana ke sekolah karena supir yang mendadak minta cuti selama seminggu. Naya tidak akan tega jika tidak mengizinkannya, jadi dia mengiyakan saja. Lagi pula mengantar Hana tidak repot juga karena satu arah menuju sekolahnya.


Sambil menunggu Hana membereskan sarapannya, Naya bergegas mengambil jaket, kunci dan juga helm. Dia tidak akan menggunakan mobil, menggunakan motor lebih cepat dan lebih efisien.


"Kak nanti pulangnya jemput bisa gak?" Tanya Hana.


"Gak tau, kalau gue pulang sore ya gak bisa," jawab Naya asal.


"Yaudah gue ke sekolah lo, gimana?" Tanya Hana.


"Ck, ngapain? Gak usah ah, lo tinggal naik ojol gak bisa apa takut?" Tanya Naya kesal.


"Isshh, yaudah iya. Galak banget," gerutu Hana sembari melahap kembali sarapannya.


Naya hanya memutar bola matanya malas. Sejujurnya Hana ini tidak muluk-muluk, dia juga anaknya bisa diatur sedikit, tetapi terkadang memang Naya tidak bisa seintens itu bicara dengan Hana. Rasa iri yang kerap kali datang dalam benaknya membuat dia sedikit menjaga jarak dari Hana.


Setelah selesai sarapan dan bersiap, mereka berdua pun keluar dari pintu. Naya mematung saat mendapati sebuah mobil terparkir di depan dengan Raga yang kini tersenyum ke arahnya.


"Kak? Lo ngapain sih??!" Kesal Naya.


"Orang gua mau anterin Hana ke sekolah, iya kan?" Tanya Raga yang kini menatap Hana.


Naya membulatkan matanya menatap Hana yang kini cengegesan. Ternyata kemarin mereka bertukar nomor telepon untuk rencana hari ini. Jadi mereka berdua berkoalisi nih ceritanya. Naya hanya menghela napasnya.


"Bareng gak?" Tanya Raga yang kini bersorak kegirangan dalam hatinya karena membuat Naya tidak berkutik.


Naya meremas ujung jaketnya, dia sebenarnya tidak mau tapi masa iya dia membiarkan Hana sendirian bersama Raga? Dia tidak bisa mempercayakan Hana pada Raga sendirian seperti ini. "Ikut!"


"Good girl! Pilihan yang tepat, ayok!" Ajak Raga dengan senyum sumringah.


Selayaknya pria sejati Raga membukakan pintu untuk Hana di belakang, setelah itu dia membukakan pintu untuk Naya dan menandahkan tangannya di atas agar Naya tidak terbentur. Naya yang melihat itu tertegun, kenapa Raga memperhatikan hal-hal sekecil ini sih?


"Terpesona ya? Ayok masuk," ucap Ragas setengah menggoda saat mendapatkan tatapan aneh dari Naya.


Naya menghela napasnya, tidak akan benar jika meladeni Raga pagi-pagi begini. Dia pun segera masuk ke dalam dan setelah itu Raga juga ikut masuk untuk melajukan mobilnya.


"Kalian udah sarapan?" Tanya Raga.


"Udah, tadi Kak Naya buat nasi goreng enak banget deh. Terus Kak Naya juga buatin buat Kak Raga. Nih, tadi kayanya ketinggalan di meja jadi Hana bawain," ucap Hana sembari mengeluarkan kotak makan dari dalam tasnya.


Naya membulatkan matanya, tadi Hana bilang dia minta dibuatkan bekal ya? Bukan buat Raga, sementara Raga yang tau situasinya mengikuti drama yang dibuat oleh Hana dan menerimanya dengan senang.


"Wahh perhatian banget Kak Naya, makasih Hana udah diingetin. Pasti Kak Naya lupa tuh tadi karena mau cepet-cepet ketemu Kak Raga," ucap Raga seraya menahan tawanya.


"Iya kayanya, Kak," jawab Hana kesenangan.


"Gak usah malu-malu, Nay. Gapapa, gua senang hati kalau lo masakin setiap pagi kaya gini. Gue pasti habisin," jawab Raga tersenyum kemenangan.


Naya mendengus, benar-benar menyebalkan dua orang ini. Selain Hana yang selalu mengganggu ketenangannya, kini bertambah dengan Raga dan parahnya mereka berkoalisi untuk mengerjai Naya pagi-pagi begini.


Di belakang Hana cekikikan melihat kekesalan Kakaknya, tapi niatnya baik kok sebenarnya. Dia hanya ingin Naya memiliki kehidupan yang baik dengan menjalin hubungan bersama Raga karena Hana merasa Raga orang yang baik. Jadi dia tau pasti Raga akan merubah Kakaknya yang sekarang menjadi Kakaknya yang dulu, yang selalu hangat saat berada di rumah.


Hana turun dari mobil setelah menyalami keduanya, saat mobil melaju dia melambaikan tangannya pada kedua Kakaknya. Raga kini menatap Naya yang pandangannya lurus ke depan. Gadis itu memang tidak akan banyak bicara kalau tidak dia yang memulai.


"Muka pagi-pagi itu harusnya full senyum, bukan malah ditekuk kaya gitu," peringat Raga.


"Gimana mau senyum kalau gue terus digangguin sama manusia kaya lo, Kak?" Jawab Naya enteng.


Raga terkekeh, jadi begini ya rasanya memperjuangkan macan. Padahal biasanya wanita suka diperlakukan seperti ini. Menjadi teman bicara, mengantar jemputnya tanpa diminta, tapi Naya berbeda. Membuat Raga semakin tertarik untuk terus mengejar Naya.


"Jangan kaya gitu, Nay. Biasanya kalau benci banget di awal, nantinya kalau pacaran dia yang bucin banget," ucap Raga.


"Emang ada ya gue bilang bakalan pacaran sama lo, Kak?" Tanya Naya tak percaya dengan kata-kata yang terlontar dari bibir Raga. Tentu dia tida akan pernah menyukai Raga. Tidak akan pernah.


"Gua gak bisa jawab, tapi semoga aja nanti waktu yang jawab pertanyaan lo," kata Raga seraya tersenyum ke arah Naya.


Tak selang beberapa lama, mereka sampai di sekolah. Seperti biasa, jika Raga yang datang sudah pasti banyak yang menyapanya sejak dia turun dari mobil sampai saat mereka berjalan di koridor. Tapi saat Naya akan berbelok ke kelasnya, Raga malah menarik pergelangan tangan Naya dan mengajaknya ke kantin.


"Kakk??!"


"Temenin gua makan, gua belum makan karena tadi gak mau telat," ucap Raga.


Naya menghela napas, dia berkali-kali menolak tapi Raga tetap kekeh. Daripada bertengkar di tengah jalan, Naya pasrah saja dan mengikuti Raga duduk di kantin sambil menyantap nasi goreng yang dia buatkan. Ralat : Diberikan secara paksa karena kebohongan Hana.


Tidak ada pembicaraan memang diantara mereka. Raga sibuk makan dan Naya hanya memperhatikan Raga sambil menumpukan pipinya di tangan. Pria itu lapar atau memang menyukai masakannya dia tidak tau, dia tidak peduli juga. Yang dia tau, dia ingin cepat ke kelas karena sudah risih menjadi pusat perhatian di sini.


"Kenapa sih lo bisa suka sama gue, Kak. Heran," gumam Naya tiba-tiba.


"Harusnya gua yang nanya, kenapa lo gak suka sama gua?" Tanya Raga bertanya balik.


"Ck, ya maksudnya lo itu. Ah udahlah."


Naya memutar bola matanya malas, dia sudah pernah bertanya soal ini memang tapi tetap saja aneh. Sementara Raga terkekeh dan menyelesaikan makannya. Entah kenapa Naya sekarang malah memberikan botol minumnya yang dia ambil dari tas pada Raga.


Raga tersenyum lalu menerimanya, jadi Naya begini ya? Diam-diam perhatian karena tadi Raga kebingungan harus membeli minum ke mana soalnya belum ada warung kantin yang buka. Iya, mereka datang kepagian. Ya Naya masih memiliki rasa kemanusiaan saja sebab Naya tau kalau pria yang ada di hadapannya ini tidak membawa air.


"Udah mulai suka ya? Makasih, Nay," ucap Raga setengah menggoda.


Naya menyipitkan matanya, tanpa menjawab Naya memasukan botol dan kotak makan itu ke dalam tasnya setelah itu meninggalkan Raga di kantin. Raga terkekeh melihat wajah kesal Naya, dengan cepat dia langsung menyusul Naya dan mengantarkannya sampai kelas.


Tanpa mereka sadari kalau sedari tadi Devan memperhatikan tingkah mereka berdua sambil terkekeh. Baru kali ini loh dia melihat Raga mengejar wanita sebegininya. Berarti Naya memang bukan wanita sembarangan. Dia harus turun tangan kalau begini untuk melayarkan kapal barunya.