MR.MATCHA

MR.MATCHA
Tersesat




Pagi pun sudah tiba, untuk menghindari makan pagi, Ara pergi ke tempat biasa. Kali ini sendirian, karena semejak kejadian kemarin rasanya dia canggung pada Dewa. Dia tidak peduli jika nantinya dia terkena hukuman. Dia tidak ingin bertemu dengan Dewa.


Entahlah, yang jelas Ara tidakk berani untuk menyapanya. Untung saja tadi shubuh Ara langsung ke mushola jadi Ara tak melihat maupun bertemu dengannya.


"Nih." Seseorang memberikan segelas susu hangat pada Ara. Dewa, orang yang sedang Ara pikirkan kenapa bisa ada di sini?


"Lo?" tanya Ara kaget saat meliha Dewa berdiri di sampingnya.


"Kenapa, kaget?"


Ara hanya terdiam tak menjawabnya. Dia orang aneh, Ara malah bicara dengan orang aneh seperti Dewa.


"Minum, nanti lu sakit, lu kan gak makan Nasi juga," katanya.


Ara pun mengambil segelas susu hangat itu, kebetulan di sini cuacanya sangat dingin. Susu hangat tentunya enak untuk menghangatkan tubuhnya.


"Kak, gue mau nanya." Ara memberanikan diri untuk bertanya pada Dewa.


"Tanya aja, gua mau jawab, kok," katanya simpel.


"Kita ini pacaran boongan aja, 'kan?"


"Beneran, Kok. Ngapain pacaran boongan? Kaya anak tk aja."


"Ta-tapi kan itu cuma permainan, Kak. Kok jadi beneran gini sih?" tanya Ara bingung.


"Ya gapapa, gua jomblo, kok," katanya santai.


"Yakkkk! Bukan masah lo jomblo atau nggak, tapi kan ini gak bisa," kesal Ara.


"Kenapa? Lu ada pacar?"


"Gak ada sih."


"Yaudah kita pacaran."


"Ya-ya tapi gue gak suka sama lo."


"Ya tapi gua yang suka sama lu. Gimana?"


Gila, satu kata yang menggambarkan Dewa Arkan Bagaskara.


"Gak usah canda deh, serius ih," kata sambil memukul lengan Dewa.


"Ya , serius. Ada gitu tampang gua bohong?"


"Yaudah kalau kita pacaran beneran tadi malem, sekarang gue mau kita putus."


"Ya gak bisa, itu sama aja PHP. Lu tukang PHP, ya?"


"Ya tapi kan itu cuma permainan, Dewa Arkan Bagaskara," tegas Ara.


"Udah ya gak usah dibahas. Mulai sekarang jadi pacar yang baik aja buat gua, oke?" ucap Dewa mutlak.


"Lo nyebelin, fix," kataku dan langsung kembali ke perkemahan meninggalkannya.


...~ • ~...


Sekarang mereka sudah di bagi kelompok untuk mencari jejak. Satu kelompok berisikan sepuluh orang camaba dan satu mentor, kebetulan mentor Ara kali ini adalah Zelda. Ya untung saja lah bukan Dewa.


Setelah pembagian kelompok kami langsung memulai mencari jejak. Ara baru tau, jika disini ada hutan yang cukup lebat. mereka terus berjalan untuk mencari bendera yang sudah di letakan oleh panitia.


Tiba-tiba ....


"Eh, Matcha. Itu ada bendera di semak-semak sana sama di belakang pohon," kata Zelda.


Ara belum bisa melihatnya, karena matanya sedikit minus.


"Lo ambil dan cari aja di sana, kita jalan duluan biar gak terlalu lama, nanti lo nyusul," katanya.


"I-iya, Kak," ucap Ara menurut.


Mereka melanjutkan perjalanan, sementara Ara pergi menuju semak-semak itu untuk mencari bendera. Ya ternyata ada satu bendera di sana. Ara pun mengambilnya dan setelah itu langsung menyusul mereka.


Namun, sekarang Ara menghadapi dua jalan. Dan mereka pun sudah tak terlihat.


"Aduh, gue ke kanan atau ke kiri ya. Tapi panahnya ke arah kanan, yaudah deh," gumamnya sambil berjalan ke belokan kanan.


Ara berlari untuk menyusul mereka, tapi mereka masih tak terlihat. Perasaan dia tadi tak begitu lama mengambil benderanya.


"Ini gue yang jalannya lambat atau mereka yang kecepetan, sih," gerutuku.


Sudah jauh sekali Ara melangkahkan kakinya, namun tak kunjung sampai, bahkan tanda panah pun tak ditemuinya. Hari pun sudah mulai gelap, rasa takutnya makin merajarela. Ara takut ada hewan buas di dalam hutan ini.


Karena sudah lelah Ara pun pasrah saja dan duduk di bawah pohon rindang ini. Bayangkan saja, sendirian malam-malam di hutan. Dia sangat ketakutan, dia ingin menangis. Suasananya pun semakin mencekam, dia takut sekali. Hinggak tak terasa mulai menangis.


"Gue mau pulang, gue takut." tangisnya semakin pecah, Ara takut tidak bisa kembali bertemu dengan bunda dan Rendy.


"Harusnya tadi gak usah ikutin apa kata Kak Zelda. Harusnya tadi gue pilih ke kiri aja, kenapa sih gue selalu sial di sini.!" Tangisnya masih menghiasi parah eloknya.


Ara tak tau harus berbuat apa, Ara takut di sini. Ara takut sekali. Namun, Ara tak bisa di sini terus, Ara harus kembali lagi mencari jalan keluar.


Ara berlari sekencang mungkin, mencoba mencari titik temu untuk kembali ke perkemahan. Ara berlari dengan mengandalkan senter di ponselnya. Ara berlari hingga Ara terjatuh karena tersandung batu. Suasana disini semakin tidak enak. Pikirannha mulai menuju hal yang aneh-aneh, ditambah ada suara burung hantu yang membuat malam ini semakin seram. Ara mencoba bangkit tapi rasanya kakinya ini sakit sekali.


Punggungnya menabrak sesuatu.


"Ara."


Tubuhnya bergetar, ketakutannya sudah memuncak. Bahkan Ara tak sanggup untuk berbalik. Dan akhirnya semua menjadi gelap.


...~ • ~...


Ara membuka matanya perlahan, rasanya berat sekali. Ara kembali mengingat kejadian di hutan. Dan saat ara bisa melihat dengan sempurna spontan Ara memeluk seseorang yang ada di depannya


"Kak Dewa, gue takut. Bawa gue pulang. Gue gak mau di makan harimau," katanya sambil terus memeluk Dewa.


"Lu udah ada di tenda, lu gak usah takut. Ada gua di sini," katanya sambil mengusap-usap punggung Ara.


"Gue takut," ucap perlahan sambil menangis.


Dewa melepaskan pelukannya dan memegang wajah Ara dengan kedua tangannya, mengapus air mata Ara dengan lembut.


"Gak usah nangis lagi, gua gak suka liat cewek gua nangis," katanya.


Ara masih terisak. Semuanya terasa melelahkan baginya.


"Ini, jas almamater lu, tadi acara peresmian mahasiswa baru," ucap Dewa.


Bahkan melihat jasnya saja Ara tak acuh. Ara masih takut dengan kejadian tadi. Dia pikir, dia akan mati dimakan hewan buas di sana.


"Gue tanya, kenapa lu bisa nyasar kaya gitu?" tanyanya.


'Aduh, gua gak mungkin bilang. Kalau sebenernya tadi kak Zelda ninggalin gue.'


"Gu-gue tadi ke semak semak dan gue nyuruh mereka duluan. Tapi gue ketinggalan jauh dan ambil jalan yang salah." Ara berbohong, dia tidak mau menimbulkan masalah lagi, dia sudah cukup kenyang dengan kesialannya.


"Lain kali jangan kaya gitu lagi. Jangan bikin gua khawatir sama lu. Untung gua nemuin lu tadi."


"Jangan nangis lagi, Ra. Gua bakalan jagain lu," lanjutnya lagi sambil menyentuh kaki Ara yang terlihat memar.


"Awww," ringis Ara.


"Kenapa?" tanyanya panik.


"Kaki gue sakit, Kak. Terkilir."


"Berdarah?"


"Terkikir doang kayanya,"


"Yaudah lu istirahat aja, besok pagi juga balik, kok." Dewa membenarkan posisi kaki Ara.


Ara hanya mengangguk tanda persetujuan.


"Good night, Ara." katanya sambil mengelus puncak kepala Ara.


Ara lagi-lagi dibuat terkejut oleh perlakuan pria yang ada di hadapannya ini.


"Apa yang dia lakuin? Apa dia gak sadar akan effect yang akan terjadi sama gue? Jantung gue ya ampun. Pipi gue panas banget kaya kepiting mateng.'


...~ • ~...


Sekarang mereka sudah di depan kampus, ya karena baru saja mereka turun dari bis. Rencananya Ara akan langsung pulang, tapi naik apa? Karena dia tak membawa kendaraan. Ditambah kakinya masih sakit.


"Ra, pulang bareng gua aja, ya," kata Dewa.


Aratak mengiyakan ajakannya, karena tidak enak jika dia pulang bersamanya. Takut terjadi pembicaraan yang tidak enak.


"Kaki lu kan masih sakit, lu juga gak bawa kendaraan, kan?" tanyanya lagi.


Tiba-tiba ...


"Ara! Lo baik-baik aja, 'Kan?" tanya Remdy sambil memeriksa keadaan Ara.


"Gue gapapa, gue cuma keseleo dikit," jawab Ara sambil tertawa kecil.


"Gue kira lo udah dimakan macan," ceplos Rendy.


"Sekata-kata ya lo ngomong gitu," kesal Ara sambil memukulnya.


"Aw- sakit ogeb! Yaudah pulang yuk, gue bawa mobil, gue sembunyiin di depan warung deket kampus." katanya.


Ara lupa bahwa Dewa masih di sini sekarang, tapi Ara malah mengacuhkannya.


"Kak, gue bareng sama Rendy aja, ya. Lagian rumah kita lebih searah. Makasih udah bantuin gue, jangan lupa istirahat," ucapnya pada Dewa.


"Ya udah hati-hati ya, oh iya buat lu." Dewa pun tersenyum lalu menunjuk Rendy dengan pandangan tegasnya.


"Jagain cewek gua," lanjutnya sambil berlalu meninggalkan merreka berdua.


Rendy yang mendengar itu hanya melongo tak percaya. Lalu dia menatap Ara seakan meminta penjelasan. Ara menghembuskan napasnya perlahan. Semuanya semakin rumit, tentunya Rendy akan marah karena mereka dia menyembunyikan sesuatu.


"Nanti gue jelasin," ucap Ara perlahan.


"Gue tunggu penjelasan lo, Ra. Awas aja lu aneh-aneh," kata Rendy dan dihadiahi anggukan dari Ara.


...Aku tak tau awal semua ini dan aku juga tak tau cara mengakhirinya. - Tsabita Keona Arabella...