MR.MATCHA

MR.MATCHA
Menjauh




Ara sedang mengerjakan tugas, memang sih deadline-nya masih 1 minggu lagi, tapi dia tidak tahan jika membiarkan tugas ditunda-tunda karena pasti akan beranak dan jadinya menumpuk.


Namun tiba-tiba beberapa notif pesan masuk, ternyata dari Dewa. Sejak tadi pagi dia tidak henti-hentinya mengirim pesan. Entah selamat pagi, siang, sore, malam. Tidak lupa juga untuk mengingatkannya makan.


Ara tersenyum kecil, baginya Dewa sangat lucu. Sebenarnya dia tidak tega membiarkan Dewa seperti ini. Tapi kondisinya memang sulit. Dia harus merelakan salah satunya.


Sejenak, Ara berpikir. Perasaan dia ini sebenarnya bagaimana? Tapi jujur saja jauh dari Dewa membuatnya kepikiran dan membuatnya sedikit rindu.


"Ra," panggil seseorang yang tiba-tiba saja masuk ke kamarnya. Siapa lagi kalau bukan Rendy. Ara melirik pria itu sambil tersenyum.


"Ngapain? Tumbenan malem gini lo ke sini?" Tanya Ara.


"Nih, tadi lo buat snap gram katanya mau pempek,jadi gue beliin. Karena gue juga jadi mau." Rendy merapikan beberapa buku dari meja Ara. Dia tahu persis kalau Ara belajar akan sangat berantakan.


"Peka banget, tadi tuh gue liat YouTube. Eh keluar pempek dong gak ada akhlak," kata Ara sambil mengerucutkan bibirnya.


Rendy tertawa, jika Ara sudah ingin sesuatu pasti harus segera terlaksanakan. Pernah suatu hari dia ingin sate yang ada di perbatasan Bandung dan Jakarta. Rendy sampai repot memenuhi keinginannya itu.


"Makan lah." Rendy membuka Styrofoam makanannya dan meletakkannya di depan Ara. Dia juga langsung duduk di depan Ara sembari memakan makanannya.


"Emmm ini enak banget sumpah, pasti lo beli di ujung jalan sana ya?" Tanya Ara yang sedang melahap pempek punyanya.


Rendy mengangguk, tidak salah Ara adalah pecinta kuliner. Dia hafal setiap rasa dari pedangan sepertinya. "Iya, katanya di sana enak. Jadi gue beli di sana."


Ponsel Ara berbunyi lagi, Rendy dan Ara melirik ponsel milik Ara berbarengan. Lagi-lagi tertera nama Dewa di sana. Ara merutuki dirinya sendiri. Dia lupa untuk menyimpan ponselnya. Akhirnya dia memilih mengabaikan pesan dari Dewa dan kembali memakan pempeknya.


"Kenapa gak di buka?" Tanya Rendy dengan nada datar.


"Gapapa, gue emang udah gak balesin dia lagi kok. Udahlah makan aja," jawabnya asal.


"Yakin lo gak akan buka?"


Ara mengangguk santai sambil terus makan, sementara Rendy tersenyum tipis. Ternyata Ara mengikuti apa yang Rendy katakan.


"Besok hangout mau?" Tanya Rendy.


"Mau-mau aja gue mah. Gabut juga, besok cuma 1 matkul. Besok lo kelas berapa matkul?"


"Dua kayanya. Tar lo tunggu aja di kantin, gak lama. Biar gue nanti jemput."


"Yaudah, tar telf aja kalau lo udah balik."


Rendy mengangguk, setelahnya mereka kembali membicarakan hal random sampai tengah malam.


.


.


.


.


Setelah selesai kelas, Ara tidak langsung ke kantin. Dia mengambil beberapa buku untuk dijadikan reverensi tugasnya kali ini. Cukup lama karena buku yang dia cari sangat langka. Untuk saja dia menemukannya


Dewa melihat Ara dari kejauhan, gadis itu sudah menarik perhatiannya ketika memasuki perpustakaan. Terlalu sibuk memilah buku Ara sampai tidak menyadari kehadirannya. Dewa tersenyum, Ara yang cantik membuat hatinya sedikit lega karena melihatnya.


Tiba-tiba ponsel Ara berbunyi, siapa lagi kalau bukan Rendy.


...Rendy Alfarizki...


Udah balik lo? Barusan lagi kuis, jadi baru pegang hp.


Kalau udah kabarin, gue bentar lagi balik.


^^^Iya ini habis dari perpus, mau ke kantin.^^^


^^^Jangan lama-lama loh anjir.^^^


^^^Masa iya gue lumutan nungguin lo!^^^


Iya kalem, tar gue langsung kesana.


^^^Sip^^^


Ara memasuki kantin kampus tanpa berpaling dari ponselnya, seketika dia kaget karena sosok orang yang ada di hadapannya. Dewa.


"Eh so-sorry, Kak. Emm gue duluan ya." Ara melangkahkan kakinya namun lengannya ditahan oleh Dewa. Ara memejamkan matanya sambil menahan napas. Mampus, apa yang harus dia lakukan sekarang.


"Sampai kapan mau ngehindar dari gua?" Dewa memposisikan Ara di hadapannya. Dia terus menatap gadis yang masih belum mau bicara dengannya.


"Kak ...." Ucapnya lirih.


"Gua paham lu bingung, tapi gua pikir kita bisa selesain sama-sama. Gua gak bisa terus didiemim kaya gini, Ra."


"Kak ... Lepasin, gue lagi gak mau bicara sama lo. Gue lagi gak mau bicara hal berat. Tugas gue banyak, banyak hal juga yang harus gue pikirin. Jadi gue mohon, diem ya?"


"Tapi kita perlu bicara."


"Apa yang mau dibicarain? Dari awal aja ini semua udah salah. Kita cuma terjebak sama perasaan yang entah gimana sebenernya. Datang tiba-tiba, dan kita aja gak tau perasaan itu bakalan menetap sampai kapan."


"Ra, walaupun kita gak tau sampai kapan sekiranya kita udah usaha. Lu nyerah gitu aja karena Rendy? Dan–"


"Dan apa?" Rendy datang dan narik Ara untuk berada di belakangnya.


"Gua beneran sayang sama Ara. Gua serius, gua beneran tulus sayang sama dia. Pingin jagain dia sama seperti yang lu lakuin buat dia."


Ara tertegun mendengar penuturan Dewa. Ada perasaan aneh melihat Dewa seperti itu. Dia benar-benar kalut sekarang dan tidak tau harus berbuat apa.


"Gua gak percaya, jaga kata-kata manis lu buat cewek lain. Jangan Ara." Rendy menari Ara untuk segera pulang, Ara mencoba menahan tangisnya. Dia tidak tau ini perasaan apa, tapi entah kenapa begitu sakit.


Dewa menatap lesu ke arah keduanya. Berharap Ara akan menatapnya sekali saja, namun nihil. Dia tersiksa harus jauh dari Ara. Ara adalah pusat hidupnya sekarang. Bagaimana pun dia harus mencoba lagi untuk meyakinkannya.


Rendy melajukan mobilnya, tidak ada percakapan. Mereka berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Ara sangat sedih, tapi dia tidak mengekspresikannya. Tapi Rendy tau kalau Ara sedang tidak baik-baik saja.


"Ra, are you okay?" Tanya Rendy sambil melirik sekilas ke arah Ara.


Ara mencoba tersenyum. Dia tidak mau membuat Rendy berpikir yang macam-macam. Ini sudah menjadi keputusannya, dia harus terima resikonya.


"Gapapa, gue cuma apa tadi? Pusing, ya gue lagi pusing aja. Banyak banget tugas gue alias semakin beranak pinak," kata Ara sembari terkekeh kecil.


"Boong, lo lagi kepikiran si Dewa itu kan? Tebaknya.


"Engga elah, kan udah gue bilanh kalau gue udah gak balesim dia lagi. Tadi ketemu karena dia ada di kantin dan gue gak sadar. Jangan bahas dia mulu ah, katanya mau ajak hangout."


"Yaudah sekarang mau kemana?" Tanya Rendy.


"Kemana aja deh gue ngikut. Asal jangan ke wakanda aja."


"Jauh bego. Btw gua ada tugas hitungan. Bantuin gua ya, Ra. Lu kan anak ekonomi pasti pinter," bujuk Rendy sambil mengeluarkan cengiran khasnya.


"Tapi kan gak semua hitungan gue pelajarin, main asal bantu-bantuin aja," gerutu Ara.


" Lo pasti bisa, yakin. Nanti pulang hangout gue ke rumah lo." Rendy berkata mutlak. Entah kenapa dia sekarang takut jika tidak bersama Ara. Dia selalu menemui Ara sampai dia tertidur. Sebenarnya dia juga bingung kenapa bisa begitu. Tapi dia tidak ingin Ara bertemu dengan Dewa.


Seperti semalam, sebenarnya Rendy melihat motor Dewa dekat rumah Ara. Itu sebabnya dia datang malam-malam dengan alasan membawa mpek-mpek. Setelah melihat Rendy masuk ke rumah Ara, Dewa langsung meninggalkan rumah Ara.