
Ara membantu Dewa berbaring di kasurnya. Setelah 2 hari dirawat akhirnya dokter mengizinkannya pulang. Dan selama itu Ara tidak pernah meninggalkan Dewa, dia dan bi Sari selalu di sana, sesekali Rendy pun datang.
Ara juga mengambil izin ke kampus, dia merasa tidak bisa meninggalkan Dewa dalam kondisi seperti itu, karena bagaimana pun dia merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Dewa. Padahal Dewa sudah mengatakan kalau itu bukan salahnya dan menyuruh Ara tetap berangkat ke kampus. Namun Ara tetap teguh pada pendiriannya.
"Mau makan apa? Makan ya? Lo baru pulang jadi harus banyak asupan biar cepet sembuh. Bentar gue ambilin." Ara akan beranjak dari tempatnya, namun Dewa menahan tangannya lembut.
Perlahan Dewa menuntun Ara untuk di ranjangnya, tangannya melingkar di perut rata Ara. Ini membuat jantung Ara berdegup kencang, kenapa pria ini tidak memberi aba-aba setiap akan memperlakukannya dengan manis?
"Di sini aja," gumamnya.
"Lo bisa gak sih, Kak kalau mau kaya gini kasih aba-aba dulu, jantung gue jadi gak aman," omel Ara.
Dewa tersenyum, Ara terlihat lucu jika sedang mengomel. "Masa pacaran masih lo gue? Gak sopan sama pacar!"
Ara menyerngitkan dahinya. "Emang kalau orang pacaran harus ganti nama panggilan gitu?"
"Iyalah yang lebih lembut, lo-gue lo-gue kaya ke temen aja. Pake panggilan sayang dong."
"Saya kamu?"
"Formal banget, emang aku atasan kamu? Aku-kamu aja."
"Aneh banget gak sih kalau gu-"
Ucapannya terhenti karena Dewa memukul punggung tangan Ara pelan.
"Yaudah iya aku kamu iyaa. Ribet banget ternyata pacaran," gerutu Ara.
"Yaudah ayok kita nikah," ajak Dewa dengan menyunggingkan senyumnya.
"Gak usah gila ya kamu, Kak!"
"Jangan panggil Kak. Aku ini pacar kamu bukan Kakak kamu," tegur Dewa lagi.
"Arghtt salah mulu, emang kenapa sih kalau panggil Kak? Kan ada bahkan ya orang udah nikah tapi manggilnya Kakak Adek?"
"Gak mau, yang romantis dikit kek."
"Abang? Mas? Mang?"
"Itu kaya tukang bakso! Kamu gak pinter banget cari panggilan."
"Yaudah maunya dipanggil apa, Sayang?" Tanya Ara melembut.
"Apa-apa? Tadi kamu panggil aku apa?" Dewa melihat wajah Ara dengan senyum mengembang.
"Iya mau dipanggil apa?" Ulang Ara dengan polos.
"Bukan, tadi kamu manggil aku apa? Setelah kalimat itu?"
"Apa? Aku lupa. Emang apaa?"
"Yang tadi kamu bilang masa lupa?" Kesal Dewa.
"Lupa," ucap Ara berbohong. Dia gengsi saja jika harus mengulang perkataannya. Dia tidak terbiasa.
Ara melirik ke Arah Dewa yang kini tertidur. Ara tersenyum dan mengelus rambut Dewa. Kakak tingkat yang terlihat galak, berkharisma, tapi mempunyai sisi clingy jika sedang bersamanya.
Dia tau kenapa Dewa begitu. Bi Sari kemarin sempat bercerita kalau Dewa telah kehilangan sosok ibu dalam dirinya. Selama ini Dewa benar-benar hidup dalam bayang-bayang kelam masa lalunya yang mengharuskan dia hidup sendirian. Meskipun dia ditinggali harta dan kekayaan oleh ayahnya, namun itu tetap tidak membuatnya bahagia. Semenjak bertemu Ara dia menemukan kembali kebahagiaannya. Itu kenapa dia tidak ingin melepaskan Ara.
"Aku sayang kamu," bisik Ara pada telinga Dewa. Dia baru berani bilang setelah Dewa tertidur. Dewa benar, kalau Ara begitu gengsi untuk mengungkapkan sesuatu.
.
.
.
.
Setelah beberapa hari menjaga Dewa di rumah sakit, badan Ara terasa remuk. Tadi Dewa menyuruhnya pulang untuk beristirahat. Dewa tidak mau kalau Ara sampai sakit juga karena kelelahan.
"Bunda sama ayah dari gue berangkat sepedaan sampe ngalamin kejadian menakutkan dan pulang setelah jaga Dewa dua hari, masih belum pulang. Mereka lupa kali ya kalau punya anak?" Ara tersenyum miris melihat foto keluarganya di dinding. Rasanya seperti formalitas saja bukan?
Bi Sri masuk dengan membawakan Ara susu hangat. Beliau sudah tau kalau Ara pasti lelah beberapa hari ini kurang tidur.
"Minum dulu atuh neng susunya," ucap Bi Sri lembut.
"Iya, Bi. Makasih ya udah dibawain susu. Oh iya, Bi bunda sama ayah gak ngasih kabar kapan mereka pulang?" Tanya Ara.
"Belum, Non. Tapi kan sudah biasa kalau kerjanya sampai 2 mingguan gak pulang. Si Non kangen ya sama ayah bunda?" Tanya Bi Sri.
"Sedikit." Ara meminum susunya perlahan, benar saja tubuhnya jadi enakan ketika merasakan hangat masuk ke tubuhnya.
"Bibi paham, sini biar bibi kelom biar si non bisa tidur."
Bi Sari pun duduk di ranjang, Ara menaruh kepalanya di pangkuan Bi Sri. Ini biasanya bisa menghilangkan rasa sedih Ara. Bi Sri mengelus rambut Ara dengan lembut, memang Bi Sri lah yang sudah mengurus Ara dari kecil. Jadi beliau sudah menganggap Ara seperti putrinya sendiri.
"Bi, sekarang Ara punya pacar," ucapnya.
"Si Mas yang kemarin bawa pudding coklat itu ya, Non?" Tanya Bi Sri dan Ara pun tersenyum.
"Iya, menurut Bibi dia baik gak orangnya? Atau gimana penilaian bibi ke dia?" Tanya Ara sembari melihat ke Arah Bi Sri.
"Baik, Non. Kelihatan bertanggung jawab juga, yang pasti Bibi liat kalau dia sayang sekali sama Non. Kemarin waktu antar pudingnya dia nunggu sampai beberapa jam di luar. Bibi suruh masuk gak mau."
"Hemm dia sayang sama Ara. Terus dia juga sama kaya Ara kehilangan kasih sayang dari orang tuanya. Bedanya bunda sama ayah masih ada di sini. Kalau Dewa papanya meninggal dan mamanya ninggalin dia," kata Ara.
"Berarti Non harus beruntung, karena masih ada yang jauh lebih tidak beruntung dari Non. Sebenarnya ibu sama bapak itu sayang sama Non, cuma caranya salah. Karena gak ada yang gak sayang sama anaknya sendiri," ucap Bi Sri menasehati Ara sambil terus mengelus rambut Ara.
"Iyakah, Bi? Tapi kenapa gak hubungi Ara lewat ponsel? Apa mereka tau kalau kemarin hampir kemarin kehilangan anaknya? Bahkan bibi coba hubungi aja mereka gak jawab kan, Bi?"
"Gini, kita coba pahami dulu saja kalau mereka sibuk. Kita juga tidak tau pasti bapak dan ibu sesibuk apa. Boleh marah dan kecewa tapi jangan sampai menyakiti diri sendiri dengan kesedihan. Non juga gak boleh terlalu sedih, nanti asmanya kambuh gimana?"
"Iya, Bi. Ara cuma ngerasa kesel aja. Karena Ara sebenernya kangen, pingin kumpul sama mereka. Padahal udah segede gini tapi Ara masih rewel ya?" Ara terkekeh.
"Tidak apa-apa, Non. Itu wajar, lagi pula buat Bibi si Non masih seperti balita yang dulu Bibi timang-timang."
"Ih Bibi Ara udah gede, udah punya pacar juga. Bibi jangan kemana mana dulu ya, tungguin Ara tidur," pinta Ara.
Bi Sri pun tersenyum sambil mengusap rambut Ara. Bi Sri senang bisa mendengarkan keluh kesah anak majikannya itu. Selain karena sudah bersama Ara sejak kecil, beliau juga tidak memiliki anak. Sehingga sayang sekali pada Ara.